MAZMUR 68:19
Teks
Di tengah sebuah mazmur yang penuh derap kereta perang, gunung-gunung yang cemburu, dan raja-raja yang lari terbirit-birit, tiba-tiba muncul satu kalimat yang nyaris berbisik: "Pujilah Tuhan, yang setiap hari menanggung kita. Allah adalah keselamatan kita." Setelah arak-arakan kemenangan di ayat sebelumnya, "Engkau telah naik ke tempat yang tinggi, Engkau telah membawa tawanan yang tertawan," pujian itu justru berbelok ke sesuatu yang jauh lebih sunyi: Allah yang sama, yang mengguncang bumi di Sinai, adalah Allah yang memanggul umat-Nya hari demi hari. Lalu berhenti. "Sela." Sebuah jeda musik, mungkin sebuah jeda napas. Seolah penyair sendiri tidak sanggup langsung melanjutkan setelah mengucapkan kalimat sebesar itu.
Inti
Ada dua gambar Allah yang biasanya kita simpan di laci terpisah. Yang satu: Allah yang berkendara di atas awan, yang suara-Nya dahsyat, yang di hadapan-Nya orang fasik lenyap seperti asap. Yang lain: Allah yang membungkuk dan mengangkat beban kita ke atas bahu-Nya. Ayat ini menolak memisahkan keduanya. Kata yang dipakai untuk "menanggung" adalah amas dalam bahasa Ibrani, kata yang biasa dipakai untuk memuati punggung keledai atau bahu seorang pekerja. Bukan metafora yang halus; ini kata tentang beban yang berat dan nyata.
Dan perhatikan ritmenya: setiap hari. Bukan sekali di Laut Teberau, bukan sekali di puncak Sinai. Keselamatan di sini bukan hanya peristiwa besar yang dirayakan dengan tamborin, melainkan sesuatu yang terjadi diam-diam, pagi demi pagi, tanpa saksi. Pertanyaannya yang tidak enak: berapa banyak hari yang kita lewati tanpa menyadari siapa yang sebenarnya sedang memikul kita?
Benang Merah
Paulus mengutip ayat 18 dari mazmur ini ketika ia menulis kepada jemaat di Efesus tentang Kristus yang naik ke tempat tinggi dan memberi karunia kepada manusia. Ia melihat arak-arakan kemenangan Allah dalam mazmur ini sebagai bayangan dari kenaikan Kristus. Tetapi justru ayat berikutnya, ayat kita, memberi arah pada kemenangan itu. Sang Pemenang tidak naik untuk menjauh; Ia naik untuk terus memikul. Dan pola itu sudah lebih dulu tertulis dalam mazmur ini sendiri: Allah yang menyerakkan raja-raja adalah "Ayah bagi anak-anak yatim, Pembela bagi para janda." Bukan dua sisi yang bertentangan, melainkan satu gerak yang sama. Salib dan takhta bukan dua bab berbeda dalam cerita ini. Yang memanggul kayu adalah yang memanggul kita.
Cermin
Kita hidup dengan asumsi diam-diam bahwa kita yang menanggung. Menanggung keluarga, menanggung cicilan, menanggung nama baik, menanggung anak yang tidak lagi mau bicara, menanggung tubuh yang mulai berkhianat. Dan asumsi itu punya harga: kelelahan yang tidak bisa dijelaskan, kemarahan pendek pada orang yang paling dekat, doa yang berubah menjadi laporan tugas. Ayat ini tidak menyuruh Anda berhenti bekerja. Ia hanya menggeser siapa yang berdiri di bawah beban itu. Bahkan hari ini, yang tampaknya biasa saja, Anda sedang dipikul.
Lakukan ini sebelum hari ini berakhir: ambil kertas, tulis satu beban konkret yang Anda pikul minggu ini, satu kalimat saja, lalu ucapkan dengan suara keras, "Engkau yang setiap hari menanggung aku, tanggunglah ini." Lalu diam satu menit. Jangan tambahkan apa pun.
Tokoh Utama
Allah dalam mazmur ini sulit dijinakkan. Ia mengguncang bumi, Ia menghancurkan kepala musuh-musuh-Nya, Ia berkendara melintasi langit dengan ribuan kereta. Bahasa yang keras, bahkan mengganggu bagi telinga modern. Namun penyair menempatkan di jantung gambaran itu sebuah tindakan yang lembut sampai hampir tidak terlihat: memuati punggung sendiri dengan berat umat-Nya. Yang menarik, Ia menerima persembahan "bahkan dari yang memberontak." Allah ini tidak hanya memikul orang-orang yang pantas dipikul. Lanskap batin-Nya, sejauh mazmur ini membiarkan kita mengintip, adalah kekuatan yang memilih membungkuk. Kuasa yang tidak perlu membuktikan diri dengan menjauh. Dan barangkali di situ letak keagungan yang sesungguhnya: bukan pada kereta-kereta itu, melainkan pada bahu itu.
Konteks
Mazmur 68 kemungkinan besar dinyanyikan dalam arak-arakan menuju tempat kudus, mungkin ketika tabut Allah dibawa naik ke Sion. Ayat 25 sampai 28 melukiskan barisannya: penyanyi di depan, pemain kecapi menyusul, para dara dengan tamborin di tengah, lalu wakil-wakil suku, dari Benyamin yang bungsu sampai Naftali di utara. Sebuah negara kecil yang merayakan bahwa Allahnya bertakhta. Latar belakang teologisnya adalah perjalanan padang belantara: Sinai, hujan lebat, tanah yang dipulihkan. Israel adalah bangsa yang identitasnya lahir dari perjalanan panjang di gurun, di mana bertahan hidup sehari saja adalah mukjizat. Dalam konteks itu, "setiap hari" bukan bahasa kiasan. Itu manna. Itu ingatan kolektif tentang perut yang kenyang tanpa lumbung.
Profil
Bayangkan Anda berdiri di barisan itu. Anda seorang petani dari Zebulon, atau seorang janda yang datang dari desa dua hari perjalanan. Anda mendengar tentang raja-raja yang lari dan jarahan yang dibagi, dan itu memang menggetarkan. Tetapi kalimat yang membuat dada Anda sesak adalah yang ini, karena Anda tahu persis apa artinya dipikul: musim kering tahun lalu, anak yang selamat dari demam, suami yang tidak pulang dari perang. Pendengar pertama tidak mendengar teologi abstrak; mereka mendengar biografi mereka sendiri. Dan mereka mendengarnya sambil berjalan, di tengah keramaian, dengan tamborin berdentum, lalu tiba-tiba: "Sela." Berhenti. Musik ditahan. Kadang yang paling besar hanya bisa ditampung oleh keheningan.
Refleksi
Kalau Anda menghitung mundur tujuh hari terakhir, di titik mana sebenarnya Anda sedang dipikul tanpa Anda sadari?
Apa yang berubah dalam cara Anda berdoa jika keselamatan bukan hanya sesuatu yang sudah terjadi, tetapi sesuatu yang sedang terjadi hari ini juga?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 68:19
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 68:19?
Tentang apakah MAZMUR 68:19?
Apa konteks historis dari MAZMUR 68:19?
Apa yang MAZMUR 68:19 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 68:19 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Psalms 68?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi