MAZMUR 88
Teks
Seorang yang percaya berseru siang dan malam kepada Allah yang ia sendiri sebut "Allah keselamatanku", tetapi yang ia rasakan justru sebagai penekan: murka-Nya menindih seperti gelombang, tangan-Nya yang meletakkan dia di liang kubur paling bawah. Ia kehilangan kekuatan, kehilangan sahabat, kehilangan cahaya, dan bertanya apakah orang mati masih bisa memuji Tuhan. Mazmur ini tidak berakhir dengan pujian, tidak berakhir dengan janji, tidak berakhir dengan terang. Kata terakhirnya adalah kegelapan.
Intinya
Mazmur 88 adalah kesaksian bahwa iman perjanjian bisa bertahan tanpa satu pun bukti yang terasa. Heman tidak berhenti berdoa, tetapi ia juga tidak berpura-pura. Ia menuduh Allah, bukan orang lain: "Engkau meletakkan aku," "Engkau menindas aku," "Engkau telah menjauhkanku." Justru di sini teologinya tajam. Ia tidak melarikan diri ke gagasan bahwa Tuhan sedang sibuk di tempat lain atau bahwa penderitaan ini kebetulan. Allah berkuasa atas segalanya, termasuk atas kegelapan yang menimpanya. Dan karena Allah berkuasa, hanya kepada Dia doa masih berarti. Iman di sini bukan perasaan positif, melainkan alamat: ke mana kamu mengarahkan keluhanmu. Heman kehilangan segala hiburan kecuali satu, yaitu bahwa Tuhan masih Tuhan yang berjanji.
Benang Merah
Perjanjian Allah dengan Israel menjanjikan kehadiran, bukan kekebalan. Karena itu Mazmur 88 tidak berada di pinggir Kitab Suci, melainkan di jantungnya: umat perjanjian belajar berbicara kepada Allah bahkan ketika wajah-Nya tersembunyi. Dan pertanyaan-pertanyaan Heman di ayat 11 sampai 13, apakah kasih setia Tuhan diberitakan di dalam kubur, ternyata bukan pertanyaan retoris yang mati. Perjanjian Baru menjawabnya dengan cara yang tak terduga: Yesus Kristus turun ke tempat itu. Ia yang berseru "Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku" mengalami penolakan yang di sini hanya dirasakan, dan menanggungnya sampai habis. Sejak salib, kegelapan bukan lagi negeri yang terlupakan. Ada Seseorang yang pernah tinggal di sana dan keluar lagi.
Cermin
Mazmur ini melindungi Anda dari dua kebohongan. Yang pertama: bahwa doa yang benar selalu berakhir dengan damai di hati. Ada orang yang setiap pagi bangun dengan tubuh yang menyakitkan, dengan anak yang tak juga pulih, dengan pernikahan yang sudah lama sunyi, dan yang diam-diam menyimpulkan bahwa imannya cacat karena tidak menghasilkan sukacita. Mazmur 88 ada di Alkitab supaya Anda tahu: keluhan yang diarahkan kepada Tuhan tetap doa. Kebohongan kedua justru sebaliknya: bahwa kalau Tuhan diam, lebih baik berhenti bicara. Heman tidak berhenti. "Setiap hari aku berseru kepada-Mu." Itu bukan heroisme, itu keputusasaan yang tidak punya tempat lain untuk pergi. Dan keputusasaan semacam itu, aneh sekali, adalah bentuk iman yang paling jujur.
Tokoh Utama
Heman orang Ezrahi bukan pemula. Menurut catatan Tawarikh, dia salah satu pemimpin musik di rumah Tuhan, orang yang tugasnya justru menuntun umat memuji. Dan justru dia yang menulis mazmur tergelap dalam kitab ini. Lanskap batinnya: menderita "sejak masa mudaku," artinya ini bukan krisis sesaat tetapi luka sepanjang hidup. Ia diisolasi dua kali, oleh Allah dan oleh manusia; kenalannya memandangnya sebagai kejijikan, sahabatnya dijauhkan. Yang tersisa hanyalah tangan yang tetap ia tadahkan. Tidak ada pertobatan yang ia sebut, tidak ada pengakuan dosa, tidak ada penjelasan. Ia tidak menyelesaikan teka-tekinya, dan Allah tidak memaksanya. Ada kedewasaan rohani yang berani berhenti di tengah kalimat.
Detail
Perhatikan ayat 11: "Apakah kasih setia-Mu diberitakan di dalam kubur?" Kata Ibrani di balik "kasih setia" adalah hesed, kesetiaan Allah yang terikat pada janji-Nya, kata yang di puluhan mazmur lain menjadi dasar segala penghiburan. Heman memakainya bukan sebagai jaminan, melainkan sebagai argumen. Ia seolah berkata: Tuhan, kesetiaan-Mu tidak ada gunanya bagi orang mati, jadi bertindaklah sekarang, sebelum aku terlalu jauh. Ini doa yang berpegang pada karakter Allah sambil menuntut Allah membuktikannya. Bukan sopan, tetapi teologis sampai ke akar. Orang yang tidak percaya pada hesed tidak akan repot-repot berargumen begitu. Justru karena ia yakin Allah setia, kesunyian-Nya menjadi tak tertahankan.
Teks-Teks Terkait
Ayub berdiri paling dekat: sama-sama menuduh Allah secara langsung, sama-sama tidak mendapat penjelasan, sama-sama tetap berbicara kepada Allah dan bukan tentang Dia. Perbedaannya, Ayub akhirnya bertemu Tuhan dalam badai; Heman tidak, setidaknya tidak di dalam mazmurnya. Kontras yang lebih mengejutkan datang dari Mazmur 89, tetangga langsungnya, yang justru dibuka dengan nyanyian tentang kasih setia Tuhan selama-lamanya. Penyusun kitab Mazmur menempatkan keduanya bersebelahan dengan sengaja. Kegelapan tanpa jawaban dan pujian atas kesetiaan perjanjian bukan dua agama yang berbeda, melainkan dua halaman dalam satu buku doa yang sama. Umat Allah menyanyikan keduanya, kadang di minggu yang sama.
Refleksi
Apa yang berubah dalam cara Anda berdoa jika keluhan yang paling gelap sekalipun ternyata diizinkan masuk ke dalam kitab pujian umat Allah?
Siapa di sekitar Anda yang sedang hidup di Mazmur 88, dan apakah Anda sanggup menemani dia di sana tanpa memaksa dia pindah ke Mazmur 89?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 88
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 88?
Tentang apakah MAZMUR 88?
Apa konteks historis dari MAZMUR 88?
Apa yang MAZMUR 88 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 88 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Psalms 88
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, kadang aku merasa tenggelam, seolah gelombang demi gelombang tak henti menghantamku. Rasanya berat, dan aku tak selalu mengerti mengapa. Namun di tengah semua ini, aku masih memanggil nama-Mu. Dengarkan aku, Tuhan. Jangan berpaling.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
