WAHYU 7:9
Teks
Setelah daftar dua belas suku yang dihitung satu per satu, angka demi angka, Yohanes mengalihkan pandangannya dan melihat sesuatu yang justru tidak bisa dihitung: "sejumlah besar manusia yang tidak dapat dihitung jumlahnya, dari semua negara dan suku dan bangsa dan bahasa." Mereka berdiri, bukan bersujud, di depan takhta dan di hadapan Anak Domba. Pakaian mereka jubah putih, tangan mereka memegang dahan-dahan palem. Tidak ada kata tentang penderitaan di ayat ini, tidak ada keluhan, tidak ada barisan yang tertinggal. Hanya sebuah kerumunan raksasa yang berdiri tegak di tempat yang paling mustahil bagi manusia berdosa: tepat di hadapan takhta Allah, dan tetap hidup.
Inti
Ayat ini adalah jawaban akhir atas sebuah pertanyaan yang sudah terbuka sejak Kejadian 12: apakah janji kepada Abraham, bahwa melalui dia semua kaum di bumi diberkati, benar-benar akan terpenuhi? Yohanes melihat jawabannya dalam bentuk yang tidak bisa dibantah. Perjanjian Allah tidak berhenti pada dua belas suku; ia meledak keluar menembus setiap bahasa dan bangsa. Dan perhatikan bahwa keselamatan itu digambarkan sebagai posisi tubuh: mereka berdiri di hadapan takhta. Di seluruh Alkitab, berdiri di hadapan Allah yang kudus adalah hal yang membunuh manusia. Yang membuat perbedaan bukanlah mutu rohani mereka, melainkan Anak Domba yang berdiri bersama mereka di pusat penglihatan itu. Anugerah di sini bukan konsep; anugerah adalah satu-satunya alasan mengapa kerumunan itu masih bernapas.
Benang Merah
Dahan-dahan palem itu bukan hiasan. Israel melambai-lambaikan palem pada Hari Raya Pondok Daun, pesta panen ketika umat tinggal di gubuk-gubuk darurat untuk mengingat bahwa mereka pernah menjadi pengembara yang dipelihara Allah di padang gurun. Kerumunan ini berdiri seperti umat yang baru saja selesai berjalan melewati padang gurun sejarah. Dan ketika Yesus masuk ke Yerusalem, orang banyak menyambut-Nya dengan dahan palem juga, menyangka Ia datang untuk mengusir Roma. Mereka salah menebak jalannya, tetapi tidak salah menebak akhirnya. Jalan menuju takhta ternyata lewat salib, dan panen yang dirayakan di sini adalah panen Anak Domba yang disembelih. Dari Abraham, lewat Keluaran, lewat Golgota, menuju kerumunan tanpa nomor ini: satu garis, satu rencana, satu Juruselamat.
Cermin
Ada kecenderungan halus dalam diri kita untuk lebih menyukai pasal 7 ayat 4 daripada ayat 9. Angka 144.000 terasa aman: terhitung, terdaftar, jelas siapa di dalam dan siapa di luar. Kita melakukannya dengan gereja kita sendiri, dengan aliran kita, dengan daftar mental tentang orang-orang yang menurut kita "beres" imannya. Lalu Yohanes memperlihatkan kerumunan yang tidak bisa dihitung, dari bahasa-bahasa yang tidak kita mengerti, dengan kebiasaan ibadah yang mungkin membuat kita gelisah, dan semuanya memakai jubah yang sama putihnya dengan jubah kita. Tidak ada satu pun yang berdiri di sana karena rekam jejaknya. Sebutkan hari ini, dengan suara terdengar, satu nama orang percaya yang selama ini Anda anggap kurang rohani dari Anda, lalu ucapkan: "Dia akan berdiri di sana bersamaku."
Detail
"Tidak dapat dihitung jumlahnya." Dalam dunia Alkitab, menghitung adalah tindakan kuasa; sensus dilakukan untuk pajak dan untuk wajib militer. Pasal ini baru saja menghitung dengan sangat rapi, dua belas kali dua belas ribu, barisan tentara Allah yang tertata. Lalu hitungan itu runtuh. Bukan karena Allah kehilangan jejak, melainkan karena ada janji tua yang sedang digenapi: keturunan Abraham akan seperti bintang di langit, tidak terbilang. Yang terdengar oleh Yohanes adalah angka; yang terlihat olehnya adalah lautan manusia. Keduanya kelompok yang sama, dilihat dari dua sisi. Allah mengenal setiap orang satu per satu, dan sekaligus kemurahan-Nya jauh melampaui kapasitas aritmatika kita. Anugerah selalu lebih besar daripada perhitungan kita tentang anugerah.
Tokoh Utama
Di tengah penglihatan ini berdiri Anak Domba, dan kata itu seharusnya tetap terasa ganjil. Bukan Singa, bukan Raja, bukan Hakim, melainkan binatang kurban yang lehernya pernah terbuka. Seluruh kerumunan itu memandang kepada Dia, dan seluruh keberanian mereka untuk berdiri tegak bersumber dari luka-Nya. Inilah potret Allah yang paling mengejutkan dalam seluruh Kitab Suci: kuasa tertinggi di alam semesta berbentuk pengorbanan diri. Takhta dan Anak Domba disebut dalam satu tarikan napas, seakan tidak mungkin lagi memisahkan pemerintahan Allah dari penyerahan diri-Nya. Jika Anda ingin tahu seperti apa watak Allah ketika Ia memerintah, lihatlah siapa yang berdiri di pusat takhta itu, dan lihatlah bekas-bekas di tubuh-Nya.
Pertanyaan
Jika kerumunan itu benar-benar tak terhitung, mengapa jalan masuknya begitu sempit, dan mengapa dunia yang kita lihat tampak jauh lebih banyak menolak daripada menerima? Yohanes tidak memberi statistik penghiburan. Ia hanya diperlihatkan hasil akhirnya, bukan persentasenya. Ayat 14 bahkan memperjelas bahwa kerumunan ini keluar dari "penganiayaan besar", artinya mereka tidak sampai ke sana tanpa luka. Kita tidak diberi hak untuk menghitung siapa yang selamat, dan juga tidak diberi izin untuk berputus asa tentang jumlahnya. Yang diberikan kepada kita adalah penglihatan ini, untuk dipegang justru ketika angka-angka di sekitar kita terlihat suram, dan untuk membuat kita tetap bersaksi kepada tetangga yang bahasanya berbeda dari bahasa kita.
Refleksi
Jika Anda membayangkan diri berdiri dalam kerumunan itu, siapa yang Anda harapkan berdiri di sebelah Anda, dan siapa yang membuat Anda kaget bila ternyata ada di sana?
Di bagian mana hidup Anda saat ini Anda masih mencoba "menghitung" kelayakan diri sendiri di hadapan Allah, padahal jubah putih itu diberikan, bukan diperoleh?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Revelation 7:9
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti WAHYU 7:9?
Tentang apakah WAHYU 7:9?
Apa konteks historis dari WAHYU 7:9?
Apa yang WAHYU 7:9 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana WAHYU 7:9 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Revelation 7
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak melupakan mereka yang berjubah putih itu. Pertanyaan tua-tua itu, "Siapakah mereka yang mengenakan jubah putih ini dan dari manakah mereka datang?", mengingatkanku bahwa setiap orang yang bertahan dalam iman dikenal dan dihargai di hadapan takhta-Mu.
Mereka tidak akan lapar lagi, tidak juga haus lagi; matahari tidak akan menimpa mereka, atau panas terik apa pun." Perhatikan, yang dijanjikan persis hal-hal yang pernah mereka alami. Allah tidak menghapus ingatanmu, Dia menyembuhkan tepat di titik yang paling perih. Apa yang sedang membakarmu hari ini? Di situlah janji itu menyebut namamu.
Perhatikan dari mana malaikat itu datang: "naik dari arah matahari terbit." Dari sisi fajar, bukan dari kegelapan. Dan ia datang membawa meterai, bukan pedang. Sebelum bumi disentuh kerusakan, Allah lebih dulu menandai milik-Nya. Mungkin hari ini kamu merasa badai sudah dekat. Tapi tanda di dahimu sudah lebih dulu ada.
Dari suku Yehuda, dua belas ribu orang yang dimeteraikan; dari suku Ruben, dua belas ribu orang; dari suku Gad, dua belas ribu orang." Daftar yang terasa kering, tetapi lihatlah: jumlahnya sama rata. Tidak ada suku yang lebih diperhitungkan. Allah tidak menyegel kerumunan tanpa nama, Dia menyegel kelompok yang Dia hitung satu per satu. Termasuk kamu, dari suku mana pun kamu datang.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi