KIDUNG AGUNG 2
Teks Ini
Sang perempuan menyebut dirinya bunga liar di dataran Saron; kekasihnya menyahut bahwa di antara semua gadis, dia seperti bunga bakung di tengah semak berduri. Ia memuji kekasihnya sebagai pohon apel di hutan yang rindang dan berbuah manis, mengaku dirinya "sakit asmara", lalu memperingatkan putri-putri Yerusalem agar tidak membangkitkan cinta sebelum waktunya. Bagian kedua adalah panggilan sang kekasih di luar dinding rumah: musim dingin sudah lewat, bunga-bunga muncul, tekukur bersuara, "Bangunlah, marilah!" Pasal ditutup dengan pengakuan saling memiliki dan permintaan agar ia datang kembali seperti kijang di bukit-bukit terjal.
Inti
Alkitab tidak malu memasukkan sebuah kitab yang isinya rindu tubuh, aroma, dan suara. Itu sendiri sudah teologi: Allah yang menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan tidak memandang gairah sebagai kecelakaan yang harus ditutup-tutupi, melainkan sebagai karunia yang punya bentuk, waktu, dan batas. Perhatikan bahwa suara perempuan yang paling banyak berbicara di sini; ia memilih, memuji, mengundang, dan menahan. Ayat 7 memberi rambu yang tajam: cinta punya kehendaknya sendiri dan tidak boleh dipaksa bangun. Dan ayat 16 memberi rumusnya: "Kekasihku adalah milikku, dan aku miliknya." Bukan penguasaan sepihak, tetapi penyerahan timbal balik. Kasih yang sehat selalu berbentuk perjanjian, bukan konsumsi.
Benang Merah
Rumusan "milikku, dan aku miliknya" bukan bahasa asing bagi telinga Israel. Itu gema formula perjanjian yang berulang lewat para nabi: Aku akan menjadi Allahmu, dan kamu akan menjadi umat-Ku. Karena itu, jauh sebelum ada tafsir alegoris yang berlebihan, umat Allah sudah mendengar dalam kitab ini nada relasi mereka sendiri dengan Tuhan: dipilih, dinamai indah, diundang keluar. Perhatikan juga bahwa kebun anggur adalah gambar favorit para nabi untuk Israel, dan di ayat 15 ada rubah-rubah kecil yang merusak kebun yang sedang berbunga. Perjanjian Baru melanjutkan pola ini tanpa dipaksakan: Kristus disebut mempelai yang datang menjemput. Dan panggilan-Nya berbunyi persis seperti ayat 10: bangun, keluar, ikut Aku.
Cermin
Ada dua godaan yang saling berlawanan, dan pasal ini menyentuh keduanya. Yang pertama: memaksa cinta bangun sebelum waktunya, entah dengan mendesak seseorang, entah dengan mengisi kesepian lewat layar ponsel pada pukul sebelas malam. Yang kedua: bersembunyi. Perempuan itu dipanggil "merpatiku, di celah-celah bukit batu, di persembunyian di tempat-tempat yang curam" karena ia memang bersembunyi, dan ia diminta menunjukkan wajah dan suaranya. Banyak dari kita menikah bertahun-tahun tanpa pernah lagi terlihat, hanya berkoordinasi soal jadwal anak dan tagihan. Lalu ada rubah-rubah kecil itu: bukan bencana besar, tetapi sindiran halus, ponsel di meja makan, kesibukan yang tak pernah ditanyai. Hari ini, sebutkan satu "rubah kecil" dalam relasi terdekat Anda dengan suara keras di dalam mobil atau kamar, lalu doakan satu kalimat agar Tuhan menangkapnya.
Pertanyaan
Mengapa kitab yang begitu jujur tentang tubuh tidak pernah satu kali pun menyebut nama Allah? Jawaban murahan akan berkata bahwa Allah ada di balik setiap baris. Mungkin benar, tetapi keheningan itu tetap mengganggu. Barangkali justru itu maksudnya: ada wilayah hidup di mana Allah bekerja tanpa disebut, tempat kita tidak perlu merohanikan setiap ciuman dan setiap aroma bunga anggur agar hal itu sah. Sekaligus tetap ada risiko. Cinta tanpa nama Allah gampang menjadi berhala, dan ayat 5 memperlihatkan bahwa gairah bisa membuat orang jatuh sakit. Kitab ini tidak menyelesaikan ketegangan itu untuk kita. Ia hanya menaruh sumpah di ayat 7 sebagai pagar, dan membiarkan sisanya terbuka.
Profil
Bayangkan sebuah desa di perbukitan Yudea, akhir Februari. Hujan musim dingin baru berhenti, lumpur mulai mengering, dan seluruh lereng meledak hijau dengan bunga-bunga liar yang hanya bertahan beberapa minggu. Rumah-rumah berdempet dengan dinding batu, jendela kecil berkisi, dan seorang gadis tidak pernah benar-benar sendirian: ibunya, saudara-saudaranya, tetangga, semua mengawasi. Pernikahan diatur, mahar dinegosiasikan, kehormatan keluarga dipertaruhkan. Dalam dunia itu, seorang pemuda yang melompati bukit-bukit dan mengintip melalui kisi-kisi bukan gambar puitis semata, melainkan tindakan berani yang berisiko. Dan seorang gadis yang berkata "Kekasihku adalah milikku" mengambil suara yang biasanya bukan miliknya. Pendengar pertama pasti tersenyum dan sedikit tertahan napasnya.
Detail
Ayat 4: "panjinya di atasku adalah cinta." Kata yang dipakai, degel, adalah panji militer, bendera yang diangkat satuan tentara di padang gurun agar seluruh pasukan tahu di bawah siapa mereka berdiri. Bayangkan kontrasnya: bahasa perang dipakai untuk sebuah ruangan tempat anggur dan kue kismis dibawa masuk. Perempuan itu tidak berkata bahwa ia dilindungi secara samar; ia berkata bahwa di atas dirinya berkibar bendera, dan nama di bendera itu adalah cinta. Ia berada di bawah kesatuan yang bisa disebut namanya, terlihat oleh semua orang. Dalam masyarakat di mana perempuan mudah menjadi barang tanpa nama, ini adalah pernyataan publik: aku bukan rahasia, aku bukan urusan gelap. Aku berdiri di bawah panji yang berani menyebut dirinya.
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda sedang bersembunyi "di celah-celah bukit batu", dan siapa yang sebenarnya sedang meminta melihat wajah serta mendengar suara Anda?
Apakah Anda pernah memaksa sesuatu bangun sebelum waktunya, dan apa yang akan berubah kalau Anda menghormati sumpah ayat 7 minggu ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Song of Solomon 2
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KIDUNG AGUNG 2?
Tentang apakah KIDUNG AGUNG 2?
Apa konteks historis dari KIDUNG AGUNG 2?
Apa yang KIDUNG AGUNG 2 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KIDUNG AGUNG 2 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Song of Solomon 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Kekasihku milikku, dan aku miliknya; dia menggembalakan domba di antara bunga-bunga bakung." Perhatikan urutannya: dia milikku dulu, baru aku miliknya. Bukan karena egois, tetapi karena hati yang aman selalu mulai dari apa yang sudah diberikan padanya. Apakah kamu masih ragu bahwa kamu dimiliki?
Dia baru saja menyebut dirinya bunga bakung di lembah, seolah berkata, "Aku biasa saja." Lalu kekasihnya menjawab, "Seperti bunga bakung di antara semak berduri, demikianlah kekasihku di antara anak-anak perempuan." Dia tidak membantah kerendahan hatinya, dia justru memakainya untuk memuji. Pernahkah kamu dicintai seperti itu? Begitulah Allah memandangmu.
Jangan kamu membangkitkan atau menggerakkan cinta sampai dia menginginkannya." Yang menarik, kalimat ini justru keluar saat sang mempelai sedang paling bahagia, bersandar pada kekasihnya. Di puncak rasa itu dia berkata: tunggu. Cinta punya waktunya sendiri, dan yang dipaksa mekar lebih cepat biasanya juga lebih cepat hancur. Sabar pun sebuah bentuk kasih.
Dia membawa aku ke rumah pesta anggur, dan panjinya di atasku adalah cinta." Panji itu bendera pasukan, dikibarkan tinggi supaya semua orang melihat milik siapa kau. Kasih-Nya padamu bukan bisikan rahasia yang malu diakui. Kau dibawa masuk, didudukkan, dan diumumkan. Beranikah kau berdiri di bawah bendera itu hari ini?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
