YOHANES 1:1
Teks
Sebelum ada apa pun yang bisa diberi nama, sudah ada Firman. Yohanes membuka Injilnya bukan dengan silsilah, bukan dengan palungan, melainkan dengan tiga pernyataan yang ditumpuk seperti tiga batu fondasi: Firman itu sudah ada pada mulanya, Firman itu berada bersama Allah, dan Firman itu adalah Allah. Tidak ada penjelasan, tidak ada argumen, tidak ada permintaan maaf atas keberanian kalimat itu. Hanya pernyataan yang dijatuhkan begitu saja, dan pembaca dibiarkan berdiri di depannya, seperti orang yang tiba-tiba berdiri di tepi jurang dan harus memutuskan apakah ia akan melihat ke bawah.
Inti
Perhatikan ketegangan yang sengaja dibiarkan Yohanes: Firman itu bersama Allah, dan Firman itu adalah Allah. Kalimat pertama memisahkan, kalimat kedua menyatukan. Bahasa Yunani memakai kata logos, yang berarti firman, ucapan, nalar, tatanan yang memberi bentuk pada segala sesuatu. Bagi orang Yahudi, itu mengingatkan pada suara Allah yang menciptakan; bagi orang Yunani, pada prinsip yang menata alam semesta. Yohanes mengambil kata itu dan melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh keduanya: ia menjadikannya Pribadi. Artinya, di dalam diri Allah sendiri sudah ada relasi sebelum ada dunia yang bisa dikasihi-Nya. Allah bukan kesendirian yang kemudian mencari teman. Kasih bukan sesuatu yang Ia pelajari; kasih adalah siapa Dia, sejak sebelum "mulanya".
Benang Merah
"Pada mulanya" adalah dua kata pertama Alkitab. Yohanes jelas sedang menulis ulang halaman pembuka Kejadian, tetapi ia mundur satu langkah lebih jauh: sebelum langit dan bumi diciptakan, Firman sudah ada. Dan ketika Kejadian mengatakan Allah berfirman lalu terang jadi, Yohanes membuka tirainya: Firman itu bukan sekadar getaran suara, melainkan Dia yang tiga belas ayat kemudian disebut "telah menjadi daging dan tinggal di antara kita." Inilah benang yang menegang di sepanjang Kitab Suci. Suara yang menciptakan, suara yang memanggil Abraham, suara yang bergemuruh di Sinai, ternyata punya wajah. Dan wajah itu, pada akhirnya, adalah wajah seorang tukang kayu dari Nazaret yang tidak dikenali oleh dunia yang dibuat-Nya sendiri.
Cermin
Ayat ini tidak menyuruh Anda melakukan apa pun, dan justru di situ ia menelanjangi kita. Kita terbiasa membaca Alkitab sambil bertanya: apa yang harus saya kerjakan hari ini? Yohanes 1:1 menolak menjawab. Ia hanya memaksa kita berdiri diam di hadapan sesuatu yang jauh lebih tua daripada masalah kita. Anda bangun pagi dengan daftar tugas, cicilan yang belum lunas, anak yang sulit diajak bicara, tubuh yang mulai mengkhianati usia. Semua itu nyata. Tetapi tidak satu pun dari itu ada "pada mulanya". Ada yang menenangkan sekaligus merendahkan dalam kesadaran ini: hidup Anda bukan pusat cerita, tetapi Dia yang menjadi pusat cerita justru memilih masuk ke dalam hidup Anda. Mana yang lebih sulit Anda percayai?
Antarteks
Dua tempat layak dibaca berdampingan dengan ayat ini. Yang pertama Kejadian 1, di mana Allah menciptakan melalui firman-Nya; Yohanes mengambil pola itu dan mengatakan di ayat 3 bahwa "Segala sesuatu diciptakan melalui Dia." Firman yang dulu terdengar kini punya nama. Yang kedua adalah akhir prolog ini sendiri, ayat 18: "Tidak seorang pun pernah melihat Allah, tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, menyatakan-Nya." Yohanes membuka dengan Allah yang tak terjangkau dan menutup dengan Allah yang tersingkap. Kalimat "di pangkuan Bapa" mengulang kedekatan yang sudah diucapkan di ayat 1, tetapi kali ini dengan kehangatan tubuh, bukan hanya kategori keberadaan.
Konteks
Injil ini kemungkinan ditulis puluhan tahun setelah salib, di dunia yang berbicara Yunani dan berpikir Yunani, di mana jemaat Kristen mulai berhadapan dengan pertanyaan tajam dari dua arah. Dari sinagoge datang tuduhan: kalian menyembah manusia. Dari pasar filsafat datang cemooh: mustahil yang ilahi mengotori diri dengan daging. Yohanes tidak berkelit dari keduanya. Ia justru memulai dengan pernyataan paling keras yang bisa dibayangkan, lalu membiarkannya menghantam kedua sisi sekaligus. Kalimat ini bukan hasil spekulasi ruang kelas; ini pengakuan iman yang lahir dari orang-orang yang pernah makan roti bersama Yesus, melihat Dia mati, dan tetap bersikeras bahwa mereka telah melihat Allah.
Pertanyaan
Bagaimana mungkin Firman itu berada bersama Allah dan sekaligus adalah Allah? Setiap usaha menjelaskannya cenderung merusak salah satu sisinya. Tekankan kebersamaan, maka Anda mendapat dua allah. Tekankan kesatuan, maka "bersama-sama dengan Allah" kehilangan arti. Gereja bergumul berabad-abad dengan kalimat ini dan pada akhirnya tidak menjelaskannya, melainkan menjaganya, memasang pagar agar tak seorang pun memotong salah satu sisi. Barangkali itulah yang diminta ayat ini dari kita: bukan pemahaman yang tuntas, melainkan kesediaan untuk berdiri di depan sesuatu yang lebih besar daripada kapasitas kita, tanpa terburu-buru menyederhanakannya. Ada bentuk kesalehan yang justru terletak dalam diam. Bukan diam karena tidak peduli, tetapi diam seperti orang yang menyadari ia sedang berdiri di tempat kudus.
Refleksi
Kapan terakhir kali Anda membaca Alkitab tanpa langsung mencari penerapan praktis, dan sekadar membiarkan diri terdiam di hadapan siapa Allah itu?
Jika Allah sudah lengkap dalam relasi kasih sebelum dunia ada, apa artinya bahwa Ia tetap memilih menciptakan Anda dan mendatangi Anda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 1:1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 1:1?
Tentang apakah YOHANES 1:1?
Apa konteks historis dari YOHANES 1:1?
Apa yang YOHANES 1:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 1:1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, Engkau sudah melihat aku jauh sebelum aku menyadarinya. Di tempat sepi yang tak seorang pun tahu, mata-Mu ada di sana. Terima kasih karena aku tidak perlu menjelaskan diriku pada-Mu. Engkau sudah mengenalku, dan Engkau tetap memanggilku.
Yang lahir bukan dari darah, bukan dari keinginan tubuh, bukan pula dari keinginan manusia, melainkan dari Allah."
Statusmu sebagai anak Allah tidak diwarisi dari orang tua yang saleh, dan tidak dihasilkan oleh tekadmu sendiri. Itu kelahiran yang hanya bisa Allah kerjakan. Melegakan, bukan? Yang paling menentukan hidupmu justru bukan pekerjaanmu.
Aku sendiri tidak mengenal Dia," kata Yohanes. Nabi terbesar itu pun butuh ditunjukkan. Dan tandanya bukan suara megah, melainkan Roh yang "turun dan tinggal di atas-Nya". Tinggal, bukan sekadar singgah. Yesus bukan tempat Roh mampir sebentar. Dan kalau kamu ada di dalam Dia, Roh itu tidak sedang mencari pintu keluar dari hidupmu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi