ZAKHARIA 14
Teks
Pasal ini dibuka dengan gambaran yang membuat perut mual: Yerusalem direbut, rumah-rumah dijarah, perempuan-perempuan diperkosa, separuh penduduk digiring ke pembuangan. Baru setelah itu TUHAN sendiri maju berperang, kaki-Nya berjejak di Bukit Zaitun sampai bukit itu terbelah, dan sejarah berbalik arah. Yang tersisa dari bangsa-bangsa yang dulu menyerang justru datang setiap tahun untuk menyembah Sang Raja, dan pada akhirnya bahkan lonceng kuda pun bertuliskan "Kudus bagi TUHAN!"
Inti
Perhatikan urutannya, karena di situlah letak seluruh bobot teologis pasal ini. Allah tidak menyelamatkan Yerusalem dari kehancuran; Ia menyelamatkannya melalui kehancuran. Ayat 2 mengatakan Allah sendiri yang "mengumpulkan semua bangsa untuk memerangi Yerusalem". Musuh bukan kekuatan liar di luar kendali-Nya; mereka adalah alat di tangan-Nya. Lalu ayat 3: "TUHAN akan maju berperang melawan bangsa-bangsa itu." Allah yang sama yang mendatangkan penyerbu adalah Allah yang menghancurkan penyerbu.
Ini menolak dua penghiburan murahan sekaligus. Yang pertama: bahwa iman melindungi kita dari luka. Yang kedua: bahwa penderitaan berarti Allah sedang absen. Zakharia menolak keduanya. Hari TUHAN bukan hari ketika segalanya nyaman, melainkan hari ketika segalanya menjadi benar, dan jalan menuju ke sana melewati puing.
Benang Merah
Bukit Zaitun bukan detail geografis yang kebetulan. Di sanalah Yesus menangisi Yerusalem, di sanalah Ia berdoa sampai keringat-Nya menetes, dari sanalah Ia naik ke sorga. Zakharia melihat kaki Allah berjejak di bukit itu dan bumi terbelah; Injil menceritakan kaki Anak Allah menuruni bukit itu menuju salib.
Dan ayat 21 menutup dengan kalimat yang terasa akrab: "tidak akan ada lagi pedagang di dalam Bait TUHAN semesta alam." Ketika Yesus membalikkan meja-meja penukar uang, Ia tidak sedang marah spontan. Ia sedang melakukan ayat terakhir Zakharia di depan mata orang banyak, sebagai tanda bahwa hari yang dinubuatkan itu sudah mulai menyingsing dalam diri-Nya.
Cermin
Kalau Anda jujur, bagian mana dari pasal ini yang paling Anda tolak? Saya menduga ayat 2. Karena di situ Allah mengizinkan hal yang tidak seharusnya boleh terjadi pada umat-Nya, dan Anda punya daftar sendiri tentang hal-hal yang tidak seharusnya boleh terjadi: diagnosis itu, pernikahan yang retak itu, anak yang berhenti berdoa, pekerjaan yang hilang di usia lima puluh. Anda percaya, dan Anda tetap kena.
Zakharia tidak menghibur Anda dengan mengatakan bahwa itu tidak apa-apa. Ia mengatakan sesuatu yang lebih keras dan lebih kokoh: bahwa reruntuhan Anda tidak berada di luar jangkauan pemerintahan Allah, dan bahwa Ia tidak berhenti di ayat 2.
Ada cermin kedua, dan ini menyentuh kesombongan. Ayat 20 menulis "Kudus bagi TUHAN!" bukan di jubah imam, melainkan di lonceng kuda, benda paling sepele dan berdebu di kota. Anda mungkin diam-diam membagi hidup Anda menjadi bagian rohani dan bagian sisa: renungan pagi versus rapat anggaran, doa versus cara Anda menawar harga. Zakharia menghapus garis itu. Panci dapur menjadi setara dengan mangkuk mazbah. Tidak ada lagi ruang untuk beribadah dengan baik pada hari Minggu dan berdagang tanpa hati nurani pada hari Senin.
Pertanyaan
Bagaimana kita membaca ayat 12? Daging membusuk sementara orang masih berdiri, mata membusuk dalam rongganya, lidah membusuk dalam mulut. Ini brutal, dan tidak ada gunanya berpura-pura tidak.
Saya tidak akan melunakkannya menjadi kiasan yang aman. Yang bisa saya katakan: bahasa ini adalah kebalikan persis dari ayat 8, air kehidupan yang mengalir terus-menerus, musim panas maupun musim dingin. Menolak sumber hidup berarti tinggal dalam pembusukan, dan Zakharia menolak menggambarkannya dengan sopan. Tetapi perhatikan ayat 16: ada "yang tersisa dari segala bangsa yang pernah datang menyerang Yerusalem", dan mereka menyembah. Penghakiman dalam pasal ini ternyata bukan kata terakhir bahkan bagi musuh. Bagaimana keduanya berpadu, teks ini tidak menjelaskan. Saya pun tidak.
Antarteks
Yehezkiel 47 melihat air mengalir keluar dari Bait Suci, makin dalam, menyembuhkan laut yang mati. Zakharia mengambil gambar yang sama tetapi memindahkan sumbernya: air itu keluar dari Yerusalem sendiri, mengalir ke dua arah, tidak pernah kering. Kota yang di ayat 2 dijarah menjadi mata air bagi dunia.
Dan Wahyu 21 menutup Alkitab dengan gema ayat 9 di pasal ini: "TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi." Bukan raja atas satu bangsa kecil yang babak belur di pinggiran kekaisaran, melainkan atas seluruh bumi, dengan satu nama. Zakharia berdiri di antara reruntuhan dan melihat sejauh itu.
Konteks
Sekitar tahun 500-an sebelum Masehi. Rombongan buangan telah pulang dari Babel, tetapi yang mereka temukan bukan pemulihan melainkan kekecewaan: tembok rusak, ekonomi rapuh, Bait Suci yang baru terasa mengecewakan dibandingkan cerita orang tua mereka. Yehuda bukan kerajaan; ia provinsi kecil di bawah Persia, tanpa raja sendiri, tanpa tentara.
Kepada orang-orang inilah dikatakan bahwa TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi, dan bahwa Mesir, adikuasa purba yang pernah memperbudak mereka, suatu hari akan datang merayakan Hari Raya Pondok Daun di Yerusalem. Pesta itu sendiri adalah peringatan hidup di tenda-tenda rapuh di padang gurun. Bangsa-bangsa akan belajar apa yang Israel pelajari dengan susah payah: keamanan bukan pada tembok, melainkan pada Dia.
Refleksi
Bagian mana dari hidup Anda yang masih Anda anggap "bukan urusan rohani", dan apa jadinya kalau di sana pun tertulis "Kudus bagi TUHAN"?
Ayat 2 dan ayat 3 berasal dari Allah yang sama. Di mana Anda sedang berada sekarang, dan sanggupkah Anda menunggu ayat berikutnya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Zechariah 14
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ZAKHARIA 14?
Tentang apakah ZAKHARIA 14?
Apa konteks historis dari ZAKHARIA 14?
Apa yang ZAKHARIA 14 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ZAKHARIA 14 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Zechariah 14
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Yang paling mengejutkan dari ayat ini bukan kengerian perangnya, melainkan siapa yang memulai: "Aku akan mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yerusalem." Bahkan hari tergelap tidak lepas dari tangan Tuhan. Dan di tengah reruntuhan itu ada janji yang keras kepala: sisa bangsa itu tidak akan dilenyapkan. Mungkin hari ini kamu merasa cuma sisa. Justru di situ Tuhan menaruh masa depan-Nya.
Dulu mereka datang ke Yerusalem membawa pedang. Sekarang mereka datang "untuk menyembah Raja, TUHAN semesta alam." Musuh berubah jadi peziarah. Dan pesta yang dipilih adalah Hari Raya Pondok Daun, perayaan orang yang pernah tinggal di tenda, yang pernah tanpa rumah. Mungkin kamu pun pernah berdiri di sisi yang salah. Kemenangan Tuhan tidak menghabisimu, tapi mengundangmu ikut merayakan.
Bapa, Engkau sanggup meratakan yang tinggi dan mengangkat yang rendah. Aku percaya tanganMu menata segala sesuatu untuk kemuliaanMu. Ajar aku tunduk pada rencanaMu, bahkan ketika bentuk hidupku berubah tak seperti yang kubayangkan.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
