Tuhan bertanya, hati kita menjawab
Jujur di hadapan Tuhan
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Nehemia 1:4, Daniel 9:19, Kejadian 3:9 and Markus 10:51.
☀ Momen pagi
Ketika aku mendengar perkataan ini, aku duduk dan menangis, dan berkabung selama berhari-hari. Aku berpuasa dan berdoa di hadapan Allah semesta langit.
Nehemia 1:4
Debu perjalanan masih menempel di jubah Hanani ketika ia berdiri di depan saudaranya di istana Susan. Ia baru datang dari Yehuda, dan kabar yang dibawanya berat, tembok Yerusalem runtuh, pintu gerbangnya habis terbakar, dan orang-orang yang tinggal di sana hidup dalam kesusahan dan aib.
Nehemia bukan orang sembarangan. Ia juru minuman raja, jabatan yang mempercayakan hidupnya sendiri, mencicipi anggur sebelum raja meminumnya, tinggal dekat kekuasaan, aman dari reruntuhan jauh di sana. Tapi kabar itu menembus jarak itu. Ia duduk, menangis, berkabung berhari-hari, berpuasa dan berdoa di hadapan Allah semesta langit.
Yang menarik, ia tidak langsung menyusun rencana atau meminta izin raja. Ia dulu duduk lama dengan dukanya di hadapan Tuhan. Bukan sikap pasif, tapi sikap yang tahu ke mana beban itu harus dibawa lebih dulu sebelum tangan mulai bekerja.
Hari ini hari Tuhan, hari jemaat berkumpul untuk menyembah dan beristirahat dari segala yang menekan. Mungkin ada kabar yang juga menembus dirimu minggu ini, sesuatu yang runtuh, seseorang yang terluka, sebuah berita yang belum sempat kau taruh di hadapan Allah. Nehemia mengajarkan bahwa duka yang dibawa masuk dalam doa bukan tanda lemah iman, tapi awal dari langkah yang benar.
Hari ini
Sebelum berangkat ke ibadah hari ini, ambil selembar kertas kecil dan tuliskan satu kabar atau beban yang membebani hatimu minggu ini. Bawa kertas itu, dan saat jemaat berdoa bersama, sebutkan itu dalam hati sebagai doamu sendiri di hadapan Allah.
✦ Momen siang
Ya Tuhan, dengarlah! Ya Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah. Demi nama-Mu, ya Allahku, janganlah menunda-nunda, sebab nama-Mu diserukan atas kota-Mu dan umat-Mu.’”
Daniel 9:19
Apakah pantas aku berdoa untuk dosa yang bukan aku yang melakukannya?
Daniel bukan orang jahat. Ia dikenal sebagai orang yang setia, bahkan disebut sejajar dengan Nuh dan Ayub. Tetapi ketika ia membaca kitab Yeremia dan menyadari bahwa masa pembuangan hampir genap, ia tidak berdoa sebagai penonton yang bersih. Ia berlutut dan berkata, kami telah berdosa. Bukan mereka, bukan nenek moyang kami saja, tapi kami. Ia memasukkan dirinya ke dalam dosa umatnya, meski secara pribadi ia tidak melakukan penyembahan berhala atau pemberontakan yang dituduhkan.
Itulah yang membuat doa ini begitu berani. Daniel tidak menuntut Allah karena kebaikannya sendiri. Ia memohon karena nama Allah sendiri dipertaruhkan, karena kota dan umat itu disebut dengan nama-Nya. Doa ini bukan tentang pantas atau tidak pantas, tapi tentang milik siapa kita.
Hari Minggu adalah hari jemaat berkumpul, bukan sekumpulan orang saleh yang terpisah-pisah, tapi satu tubuh yang berbagi kegagalan dan kebutuhan yang sama. Ketika kita duduk di antara orang-orang yang mungkin sedang berjuang, bertengkar, atau jauh dari Tuhan, doa Daniel mengajak kita berkata kami, bukan mereka.
Hari ini
Sore ini, sebelum atau sesudah ibadah, tuliskan satu nama gereja atau komunitas orang percaya yang engkau kenal sedang lemah atau terpecah. Doakan dengan kata-kata Daniel, Tuhan, dengarlah, ampunilah, dengarkan dan bertindaklah, demi nama-Mu sendiri.
◐ Momen sore
Namun, TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berkata kepadanya, “Di manakah kamu?”
Kejadian 3:9
Adam sudah bersembunyi di antara pohon-pohon, dengan daun ara yang dijahit kasar menutupi tubuhnya, ketika suara itu terdengar berjalan di taman pada waktu petang. Ia tahu suara itu. Ia biasa mendengarnya setiap hari.
Pertanyaan itu aneh kalau dipikir. Yahweh Allah, yang menciptakan langit dan bumi, yang tahu segala sesuatu, bertanya di mana manusia itu berada. Ini bukan pertanyaan orang yang mencari informasi. Ini pertanyaan yang membuka ruang, memberi kesempatan untuk menjawab, untuk keluar dari persembunyian. Allah tidak berteriak menuduh. Ia memanggil, seperti orang tua memanggil anak yang bersembunyi karena takut.
Adam menjawab dengan alasan, lalu menuduh Hawa, lalu Hawa menuduh ular. Tidak ada yang langsung berkata, ya, aku di sini, aku bersalah. Pertanyaan sederhana itu justru menyingkapkan betapa manusia lebih suka bersembunyi daripada dilihat, bahkan oleh Allah yang mengasihinya.
Pertanyaan itu belum selesai bergema. Hari Minggu ini, ketika jemaat berkumpul, memuji, dan berdoa bersama, pertanyaan itu masih berlaku. Bukan karena Allah tidak tahu di mana kita, tapi karena Ia ingin kita berhenti bersembunyi di balik kesibukan rohani, di balik wajah yang tersenyum di gereja sementara hati menyimpan sesuatu yang belum dibawa keluar.
Hari ini
Duduklah sebentar dengan tenang, dan jawab pertanyaan itu dengan jujur dalam hati, bukan dengan alasan siap pakai. Tuliskan satu kalimat singkat di kertas atau di ponsel yang menjawab, "Aku sedang di sini, dalam keadaan begini," tanpa membelokkannya ke orang lain.
☾ Momen sore
Yesus berkata kepadanya, “Apa yang kamu ingin Aku lakukan bagimu?” Orang buta itu menjawab, “Rabi, biarlah aku bisa melihat.”
Markus 10:51
Sepanjang hari, seorang buta bernama Bartimeus duduk di pinggir jalan menuju Yerikho, dengan jubahnya dibentangkan di tanah sebagai alas sekaligus tempat menampung uang dari orang yang lewat. Itulah cara hidupnya: menunggu, mendengar langkah kaki, berharap ada yang berhenti. Ia tidak bisa melihat wajah orang, tapi telinganya tajam mengenali keramaian yang berbeda dari biasanya.
Ketika ia dengar Yesus sedang lewat, ia berteriak sekuat tenaga. Orang banyak menyuruhnya diam, mungkin karena ia dianggap mengganggu, mungkin karena mereka pikir Yesus terlalu penting untuk berhenti bagi seorang pengemis. Tapi Yesus berhenti. Ia memanggil Bartimeus mendekat.
Di sinilah pertanyaan itu muncul, dan itu mengejutkan. Yesus bisa saja langsung menyembuhkan tanpa bertanya apa-apa, Ia tahu persis apa yang Bartimeus butuhkan. Tapi Ia bertanya lebih dulu, dan pertanyaan itu memaksa Bartimeus mengucapkan sendiri apa yang paling ia inginkan, bukan sekadar menerima belas kasihan yang datang begitu saja.
Hari ini umat berkumpul untuk beribadah, saling memanggil satu sama lain seperti orang banyak yang akhirnya berkata kepada Bartimeus, bangkitlah, Ia memanggil engkau. Panggilan Yesus sering diteruskan lewat orang-orang di sekitar kita.
Malam ini, sebelum tidur, bayangkan Yesus bertanya hal yang sama kepadamu. Jangan buru-buru memberi jawaban yang sopan atau umum.
Hari ini
Duduklah sebentar dalam diam, lalu ucapkan dengan suara pelan satu hal yang paling engkau inginkan dari Tuhan malam ini, sesuatu yang spesifik, bukan permintaan umum.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
4Ketika aku mendengar perkataan ini, aku duduk dan menangis, dan berkabung selama berhari-hari. Aku berpuasa dan berdoa di hadapan Allah semesta langit.
19Ya Tuhan, dengarlah! Ya Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah. Demi nama-Mu, ya Allahku, janganlah menunda-nunda, sebab nama-Mu diserukan atas kota-Mu dan umat-Mu.’”
9Namun, TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berkata kepadanya, “Di manakah kamu?”
51Yesus berkata kepadanya, “Apa yang kamu ingin Aku lakukan bagimu?” Orang buta itu menjawab, “Rabi, biarlah aku bisa melihat.”
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam