Berdiam Diri · Jumat, Oktober 16, 2026

Percaya Tuhan di tengah penderitaan

Percaya dan berserah

Kemarin 5 menit baca 4 Bagian Alkitab

Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Kisah Para Rasul 7:59-60, Kisah Para Rasul 16:31, Matius 6:28-29 and Mazmur 137:3-4.

☀ Momen pagi

Dan, mereka terus merajam Stefanus yang sedang berseru dan berkata, “Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Kemudian, setelah berlutut, ia berseru dengan suara keras, “Tuhan, jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan, sesudah mengatakannya, ia pun mati.

Kisah Para Rasul 7:59-60

Ada satu kata kecil yang gampang terlewat dalam kisah ini: Yesus digambarkan berdiri, bukan duduk, di sebelah kanan Allah. Hampir di semua bagian Perjanjian Baru, Yesus digambarkan duduk di tempat itu, tanda bahwa pekerjaan-Nya selesai, tanda bahwa Ia beristirahat. Tetapi pada saat Stefanus menatap ke langit, Ia berdiri. Seperti seorang tuan rumah yang bangkit dari kursinya ketika tamu yang dikasihinya pulang.

Stefanus sedang dilempari batu. Wajah-wajah yang marah mengelilinginya, teriakan dan kemarahan menutupi telinganya sendiri. Dalam situasi itu ia tidak menunduk mencari jalan keluar, ia menatap ke atas. Itu bukan gerakan kecil bagi orang yang sedang sekarat; itu pilihan untuk melihat ke arah yang berbeda dari semua yang sedang terjadi padanya.

Kata-kata terakhirnya bukan improvisasi. Ia memanggil nama Tuhan Yesus, lalu berlutut dan memohon ampun bagi orang-orang yang membunuhnya, persis seperti doa Gurunya sendiri di kayu salib. Stefanus mati sambil mengikuti, bukan sambil berteriak sendirian.

Pagi ini mungkin belum ada batu yang dilemparkan ke arahmu, tapi ada hari yang berat menanti, ada rasa lelah yang belum hilang sejak kemarin. Pertanyaannya sama: ke mana matamu akan tertuju lebih dulu, pada beban yang menunggu, atau pada Dia yang berdiri, siap menyambutmu masuk ke dalam hari ini.

Hari ini
Sebelum kamu membuka ponsel atau daftar pekerjaan hari ini, berdirilah sebentar di dekat jendela, tatap langit selama satu menit, dan ucapkan dengan suara pelan, Tuhan Yesus, terimalah pagi ini.

Persembahkan hari ini →

✦ Momen siang

Dan, mereka menjawab, “Percayalah dalam Tuhan Yesus dan kamu akan diselamatkan, kamu dan semua orang yang tinggal di rumahmu.”

Kisah Para Rasul 16:31

Seorang penjaga penjara dipercaya karena satu hal: tahanannya tidak boleh hilang. Reputasinya, bahkan nyawanya sendiri, dipertaruhkan pada ketelitian kerjanya malam itu. Hukum Romawi keras soal ini, kalau tahanan lolos, penjaga yang menanggung akibatnya dengan nyawanya sendiri.

Maka ketika gempa mengguncang penjara Filipi tengah malam, rantai lepas, pintu terbuka, kepala penjara itu terbangun dan melihat satu-satunya hal yang menentukan kariernya, bahkan hidupnya, tampak sudah hancur. Ia menghunus pedang untuk membunuh diri sendiri, lebih baik begitu daripada menanggung hukuman. Tapi Paulus berteriak dari dalam kegelapan, jangan celakakan dirimu, kami semua masih di sini.

Maka ia jatuh gemetar, bukan karena atasan atau hukum Romawi, tapi karena pertanyaan yang jauh lebih dalam dari sekadar pekerjaan yang ia jaga, Tuan-tuan, apa yang harus aku perbuat supaya aku selamat?

Jawabannya bukan daftar perbaikan kinerja, bukan permintaan maaf yang panjang. Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus, maka engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu. Keselamatan itu datang justru di tengah reruntuhan kariernya, bukan setelah ia membereskan semuanya.

Siang ini, di antara target yang belum tercapai dan daftar yang belum selesai, pertanyaan itu masih berlaku. Bukan sudahkah aku cukup becus hari ini, tapi kepada siapa aku percaya hari ini.

Hari ini
Ambil secarik kertas sekarang, tuliskan pertanyaan kepala penjara itu, lalu taruh di meja kerjamu sebagai pengingat sampai jam pulang nanti.

Persembahkan hari ini →

◐ Momen sore

Dan, tentang pakaian, mengapa kamu khawatir? Perhatikan bunga bakung di padang, bagaimana mereka tumbuh, mereka tidak bekerja dan juga tidak memintal, tetapi Aku mengatakan kepadamu bahwa Salomo dalam segala kemuliaannya pun tidak berpakaian seperti salah satu dari bunga-bunga itu.

Matius 6:28-29

Bertumbuh. Satu kata kecil yang gampang terlewat waktu membaca ayat ini cepat-cepat. Bunga bakung itu tidak melakukan apa-apa selain tumbuh. Tidak ada daftar tugas, tidak ada hasil yang bisa ditunjukkan di penghujung hari.

Bunga liar di padang Galilea itu mekar sebentar, warnanya mencolok, lalu layu. Besoknya, bunga yang sudah kering itu dikumpulkan dan dilemparkan ke dalam tungku sebagai bahan bakar, seperti disebut ayat sesudahnya. Jadi bunga ini bukan simbol keindahan abadi. Umurnya pendek, dan ujungnya cuma jadi kayu bakar. Tapi justru bunga yang berakhir di tungku itulah yang Yesus bandingkan dengan kemuliaan Salomo, raja paling makmur dalam sejarah Israel.

Di situ letak yang mengganggu. Bunga ini tidak menghasilkan apa-apa yang bisa ditimbang atau dijual, tidak menenun, tidak bekerja, dan hidupnya singkat tanpa guna jangka panjang, tapi Allah tetap mendandaninya melebihi jubah raja. Nilainya tidak datang dari apa yang dihasilkannya.

Pertanyaan yang muncul dari situ belum selesai begitu saja: kalau hidupmu siang ini terasa sama, lelah mengejar target, merasa berarti hanya kalau produktif, apa artinya dipandang oleh Allah yang mendandani sesuatu yang akan dibakar besok? Ayat ini tidak langsung menjawab, hanya menaruh pertanyaan itu di tanganmu.

Hari ini
Keluarlah sebentar hari ini, cari satu tanaman atau bunga liar yang tumbuh begitu saja tanpa kamu tanam, dan perhatikan selama satu menit penuh tanpa memikirkan apa gunanya.

Persembahkan hari ini →

☾ Momen sore

Sebab, di sana orang-orang yang menawan kita meminta lagu-lagu kepada kita, dan orang-orang yang menyiksa kita bergembira, sambil berkata, “Nyanyikan kami salah satu lagu-lagu Sion.” Bagaimana bisa kita menyanyikan lagu TUHAN di negeri asing?

Mazmur 137:3-4

Ada nyanyian yang macet di tenggorokan, dan itu tidak apa-apa.

Umat Israel duduk di tepi sungai-sungai Babel, jauh dari Yerusalem yang sudah hancur. Mereka adalah tawanan, dibawa paksa ke negeri asing. Lalu para penawan mereka meminta hiburan, menyuruh mereka menyanyikan lagu-lagu Sion, nyanyian pujian yang biasa dinaikkan di depan Bait Allah. Permintaan itu terasa seperti ejekan: nyanyikan sukacitamu untuk kami, sementara kotamu dalam reruntuhan. Maka mereka menggantungkan kecapi di pohon-pohon, dan diam.

Diam itu bukan pemberontakan. Diam itu kejujuran. Mereka bertanya, bagaimana mungkin menyanyikan nyanyian Yahweh di negeri asing, saat hati masih berat oleh kehilangan? Pertanyaan itu sendiri menjadi doa, bahkan ketika tidak ada nada yang keluar.

Mungkin hari ini tidak seberat Babel, tapi ada hari-hari ketika lagu syukur terasa dipaksakan, ketika lelah dan kecewa membuat mulut tidak sanggup bernyanyi riang. Mazmur ini tidak menuntut performa. Ia memberi tempat bagi suara yang diam, bagi kecapi yang untuk sementara digantung dulu. Tuhan menerima kejujuran itu sama seperti Ia menerima pujian yang meluap.

Hari ini
Malam ini, ambil kertas kecil. Tulis satu kata yang mewakili apa yang tidak bisa kaunyanyikan sekarang, kelelahan, kekecewaan, atau kerinduan. Letakkan kertas itu di depanmu, diam satu menit, lalu serahkan dengan sederhana, 'Ini yang tidak bisa kunyanyikan, Tuhan, tapi kuberikan pada-Mu.'

Persembahkan hari ini →

Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)

Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.

Ingin menggali lebih dalam?

Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.

Mulai penelusuran mendalam

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network

Terwujud berkat para mitra kami