Allah yang mencari yang hilang
Dicari dan dipulihkan
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Yehezkiel 37:11, Lukas 15:4-5, Kejadian 18:17-18 and Lukas 15:20.
☀ Momen pagi
Kemudian, Dia berfirman kepadaku, “Anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh keturunan Israel. Dengarlah, mereka berkata, ‘Tulang-tulang kami telah mengering dan pengharapan kami sudah lenyap. Kami benar-benar sudah lenyap.’
Yehezkiel 37:11
Perhatikan dua kata kecil di tengah ayat ini: mereka berkata. Tuhan tidak sedang menjatuhkan penilaian dari luar tentang umat-Nya, Dia mengulang persis kalimat yang sudah lama berputar di antara orang-orang buangan itu sendiri, kalimat yang mereka ucapkan pelan-pelan satu sama lain. Sebelum berbicara tentang tulang yang kering, Tuhan dulu mendengarkan rintihan mereka.
Yehezkiel berdiri di tengah orang Israel yang dibuang ke Babel, setelah Yerusalem jatuh dan Bait Suci hancur. Tanah, kota, dan masa depan mereka terasa lenyap sekaligus. Lembah penuh tulang kering yang dilihatnya dalam penglihatan itu bukan sekadar gambaran seram, itu cermin dari apa yang mereka rasakan sendiri: kering, tanpa harap, terputus total.
Bawa kalimat itu ke pagi ini, Sabtu yang mestinya tenang. Mungkin ada bagian dalam hidupmu yang mulai terasa seperti tulang kering itu, hubungan yang membeku, rencana yang mandek, harapan yang sudah lama kau kubur diam-diam. Firman ini tidak ditulis untuk hari yang baik-baik saja, tapi justru untuk hari seperti itu.
Kata Ibrani untuk napas, angin, dan Roh dalam kisah ini sama: ruach. Tuhan yang memanggil angin dari empat penjuru untuk meniupkan hidup ke tulang-tulang itu adalah Tuhan yang sama yang mengirim Roh-Nya ke tempat yang paling mati sekalipun.
Hari ini
Sebelum sarapan pagi ini, tuliskan satu kalimat yang selama ini kau ucapkan diam-diam tentang sesuatu yang terasa mati dalam hidupmu, lalu bacakan kalimat itu keras-keras sebagai doa kepada Tuhan.
✦ Momen siang
“Siapakah di antara kamu yang jika memiliki 100 ekor domba, dan kehilangan seekor, tidak akan meninggalkan 99 ekor lainnya di padang belantara untuk pergi mencari yang tersesat itu sampai ia menemukannya? Dan, ketika ia menemukannya, ia akan menggendong domba itu di atas bahunya dan sangat bersukacita.
Lukas 15:4-5
Seekor domba dewasa bisa berbobot tiga puluh sampai empat puluh kilogram. Bayangkan menggendongnya sejauh perjalanan pulang, di jalan berbatu, dalam gelap, setelah berjam-jam mencari lewat celah-celah bukit. Itulah yang dilakukan gembala dalam kisah ini, bukan menuntun domba yang hilang dengan tongkat, melainkan mengangkatnya, memikulnya di pundak, karena domba yang ketakutan atau terluka biasanya sudah tidak bisa berjalan sendiri.
Detail yang sering terlewat: gembala ini meninggalkan sembilan puluh sembilan domba lainnya begitu saja di padang belantara, tempat serigala dan pencuri berkeliaran. Itu bukan keputusan yang aman. Ia mempertaruhkan yang banyak untuk mencari yang satu, seolah yang satu itu sama berharganya dengan seluruh kawanan.
Yesus menceritakan ini kepada orang-orang yang menganggap diri sudah aman di dalam kawanan, sambil memandang rendah mereka yang dianggap tersesat. Ceritanya berbalik pada para pendengarnya, dan pada kita juga: siapa hari ini yang kamu anggap sudah terlalu jauh untuk dicari? Seorang teman yang berhenti datang ke gereja, saudara yang menjauh sejak pertemuan keluarga terakhir, tetangga yang sudah lama tidak menyapa.
Ketika gembala itu pulang, ia tidak menyimpan sukacitanya sendirian. Ia memanggil tetangga dan sahabatnya untuk merayakannya bersama. Sukacita karena satu orang ditemukan bukan urusan pribadi, itu layak dirayakan bersama-sama, di ruang tamu, bukan hanya disimpan di dalam hati.
Hari ini
Sabtu ini, sebelum hari berlalu, sebutkan nama satu orang yang belakangan ini menghilang dari kabar, entah karena sibuk atau menjauh, lalu kirim pesan singkat untuk menyapa dan menanyakan kabarnya.
◐ Momen sore
TUHAN berkata, “Apakah Aku harus merahasiakan kepada Abraham tentang apa yang akan Aku lakukan, sedangkan Abraham pasti akan menjadi bangsa yang besar dan berkuasa, dan melaluinya seluruh bangsa di bumi akan diberkati?
Kejadian 18:17-18
Pertanyaan ini tidak diucapkan kepada Abraham. Ayat ini menaruh kita di tempat yang aneh, mendengar Allah bertanya kepada diri-Nya sendiri, sebelum satu kata pun disampaikan kepada manusia. Urutan katanya penting: Yahweh dulu bermonolog, baru kemudian berbicara.
Konteksnya: tiga tamu datang, siang yang terik di bawah pohon-pohon Mamre, Abraham menyediakan makan bagi mereka. Setelah makan, dua dari mereka berjalan menuju Sodom, sementara Yahweh tinggal. Di sanalah pertanyaan itu muncul. Sebelum Sodom dan Gomora dihancurkan, Allah menimbang, akankah Ia menyembunyikan rencana-Nya dari Abraham, atau membukanya.
Ini bukan pertanyaan retoris yang ringan. Ini pertanyaan tentang keintiman, tentang siapa yang layak diberi tahu sebelum sesuatu terjadi. Jawabannya, yang menyusul segera, mengejutkan. Allah memilih membuka. Bukan karena Abraham berhak, tapi karena ada hubungan yang sudah terjalin panjang antara mereka.
Yang lebih mengganggu, begitu Abraham tahu, ia tidak diam menerima. Ia berdiri di hadapan Allah dan mulai menawar, mempertanyakan keadilan-Nya, memohon demi orang-orang yang mungkin masih benar di kota itu. Pertanyaan Allah membuka pintu bagi manusia untuk berbicara balik, bukan hanya menerima kabar.
Bacaan ini tidak segera memberi jawaban nyaman. Ia meninggalkan kita dengan pertanyaan sendiri, apakah aku orang yang diajak bicara oleh Allah tentang apa yang akan terjadi, atau orang yang hanya mendengar kabar setelah semuanya selesai.
Hari ini
Sore ini, tuliskan satu nama orang atau satu situasi yang sedang engkau khawatirkan di secarik kertas, lalu duduk dan doakan dengan kata-kata yang jelas dan spesifik, seperti Abraham berbicara kepada Allah tentang Sodom.
☾ Momen sore
Maka, berdirilah ia dan pergi kepada ayahnya. Akan tetapi, ketika anak itu masih sangat jauh, ayahnya melihat dia dan dengan penuh belas kasihan, ayahnya itu berlari lalu memeluk dan menciumnya.
Lukas 15:20
Apakah aku masih pantas kembali setelah semua yang kulakukan? Pertanyaan itu sering muncul justru di malam hari, ketika rumah sudah sepi dan tidak ada lagi yang mengalihkan perhatian dari suara hati sendiri.
Yang mudah terlewat dari cerita ini bukan si anak yang pulang, melainkan si bapa yang berlari. Pada zaman itu, seorang bapa yang dihormati tidak berlari. Berlari berarti menyingsingkan jubah, memperlihatkan kaki, kehilangan wibawa di depan seluruh kampung. Tapi Bapa ini tidak peduli pada pandangan orang. Dia sudah melihat anaknya dari jauh, artinya Dia sudah lama menunggu, matanya sudah biasa memandang ke arah jalan itu setiap sore.
Di sinilah cerita ini masih berbalik ke arah pembaca hari ini. Bukan seberapa jauh kamu merasa sudah pergi yang menentukan sambutan itu, tapi seberapa Bapa itu sudah menunggu. Dia tidak menunggu permintaan maaf selesai diucapkan dulu. Dia berlari sebelum kata-kata itu keluar.
Akhiri hari Sabtu ini dengan pulang seperti itu, tanpa menunda, tanpa menyusun kalimat yang sempurna dulu.
Hari ini
Malam ini, sebelum tidur, ucapkan dengan suara pelan kepada Tuhan satu hal yang selama ini kamu tunda untuk kau akui, tanpa embel-embel penjelasan panjang, cukup katakan apa adanya dan berhenti di situ.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
11Kemudian, Dia berfirman kepadaku, “Anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh keturunan Israel. Dengarlah, mereka berkata, ‘Tulang-tulang kami telah mengering dan pengharapan kami sudah lenyap. Kami benar-benar sudah lenyap.’
4“Siapakah di antara kamu yang jika memiliki 100 ekor domba, dan kehilangan seekor, tidak akan meninggalkan 99 ekor lainnya di padang belantara untuk pergi mencari yang tersesat itu sampai ia menemukannya?
5Dan, ketika ia menemukannya, ia akan menggendong domba itu di atas bahunya dan sangat bersukacita.
17TUHAN berkata, “Apakah Aku harus merahasiakan kepada Abraham tentang apa yang akan Aku lakukan,
18sedangkan Abraham pasti akan menjadi bangsa yang besar dan berkuasa, dan melaluinya seluruh bangsa di bumi akan diberkati?
20Maka, berdirilah ia dan pergi kepada ayahnya. Akan tetapi, ketika anak itu masih sangat jauh, ayahnya melihat dia dan dengan penuh belas kasihan, ayahnya itu berlari lalu memeluk dan menciumnya.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam