Berdiam Diri · Jumat, September 18, 2026

Iman yang menenangkan hati gelisah

Iman dan ketenangan

Hari ini 5 menit baca 4 Bagian Alkitab

Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam 1 Samuel 2:1, Lukas 10:41-42, Lukas 8:25 and Yohanes 4:28-29.

☀ Momen pagi

Berdoalah Hana, katanya, “Hatiku bergembira karena TUHAN, ditinggikanlah tandukku oleh TUHAN. Mulutku mencemooh musuh-musuhku, sebab aku bersukacita atas keselamatan-Mu.

1 Samuel 2:1

Hana baru saja melepaskan tangannya dari anak yang ia nanti-nantikan bertahun-tahun. Samuel, anak yang lahir setelah tahun-tahun mandul dan diejek, kini ia titipkan pada Imam Eli untuk melayani di rumah Tuhan di Silo. Ia menepati nujinya, tapi jalan pulang pasti terasa sepi tanpa suara anak kecil itu.

Justru di sanalah, dengan tangan yang kosong itu, Hana bernyanyi. Bukan lagu sedih, tapi lagu yang meluap. Ia mulai dari sukacitanya sendiri, lalu naik menjadi pengakuan besar tentang siapa Allah itu: Dia yang membalikkan keadaan, merendahkan yang kuat, mengangkat yang lemah, memberi makan yang lapar. Nyanyian pribadi seorang perempuan berubah menjadi lagu tentang seluruh dunia yang Tuhan atur ulang.

Ratusan tahun kemudian, Maria akan menggumamkan kata-kata yang sangat mirip ketika mengandung Yesus. Kata-kata Hana ternyata cukup luas untuk dipakai orang lain yang juga merasa kecil di hadapan panggilan besar.

Pagi ini mungkin engkau merasa berangkat dengan tangan yang juga terasa kosong, entah karena hasil yang belum kelihatan, atau beban yang belum selesai. Nyanyian Hana memberi kata untuk itu: sukacita tidak menunggu keadaan selesai dulu, ia bisa dimulai dari mengenal siapa yang memegang keadaan itu.

Hari ini
Sebelum melangkah keluar rumah hari ini, ambil kertas kecil, tuliskan satu hal yang membuatmu merasa lemah atau kurang, lalu ucapkan keras-keras satu kalimat: hatiku bersukacita karena Yahweh.

Persembahkan hari ini →

✦ Momen siang

Akan tetapi, Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, kamu khawatir dan memusingkan diri dengan banyak hal. Hanya satu hal yang penting. Maria sudah memilih bagian yang lebih baik, dan bagiannya itu tidak akan pernah diambil darinya.”

Lukas 10:41-42

Semakin banyak yang kau kerjakan, semakin kau dianggap berharga. Begitu logika yang kita pakai setiap hari, dan Marta hidup dalam logika itu, sibuk di dapur, menyiapkan meja, menjamu tamu terhormat dengan benar. Tapi Yesus tidak memuji kesibukannya. Dia menyebut nama Marta dua kali, lembut tapi tegas, lalu menunjuk pada satu hal yang hilang dari dirinya, bukan dari pekerjaannya.

Yang disorot bukan pelayanannya, melayani tamu adalah kewajiban yang mulia dalam budaya itu. Yang disorot adalah keadaan hatinya, yang dalam teks aslinya digambarkan sebagai ditarik ke banyak arah sekaligus, gelisah, terganggu. Marta ada di ruangan yang sama dengan Yesus, tapi pikirannya tersebar ke seribu tugas lain.

Itulah yang sering terjadi di tengah hari kerja seperti ini. Tubuh berhenti sebentar untuk makan, tapi kepala masih berlari mengejar rapat berikutnya, pesan yang belum dibalas, target yang belum tercapai. Kita duduk, tapi tidak benar-benar berhenti.

Maria memilih satu hal: duduk, mendengar, hadir penuh pada satu momen. Bukan karena pekerjaan Marta tidak penting, tapi karena ada bagian yang tidak boleh dikalahkan oleh kesibukan, yaitu perhatian yang utuh kepada Kristus. Itu bagian yang tidak akan direbut, kata Yesus sendiri.

Hari ini
Hari ini, di tengah jam kerja, coba satu hal ini: letakkan ponsel di laci atau balik posisinya selama sepuluh menit penuh saat makan siangmu, tanpa scroll, tanpa membalas pesan, dan gunakan waktu itu hanya untuk makan dengan tenang dan menyadari kehadiran Tuhan di ruangan itu.

Persembahkan hari ini →

◐ Momen sore

Dan, Dia berkata kepada mereka, “Di manakah imanmu?” Mereka menjadi ketakutan dan heran sambil berkata satu kepada yang lain, “Siapakah Orang ini? Ia bahkan memberi perintah kepada angin dan air, dan mereka mematuhi-Nya.”

Lukas 8:25

Satu kata kecil itu: mana. Bukan mengapa, bukan kapan, tapi mana, seolah iman itu benda yang tadi ada di saku dan sekarang harus dicari-cari.

Murid-murid itu bukan orang baru. Mereka nelayan, tahu benar bagaimana rasanya danau Galilea saat angin turun tiba-tiba dari bukit-bukit sekitarnya dan mengubah air tenang jadi perahu yang nyaris tenggelam. Mereka sudah melihat Yesus menyembuhkan, mengusir setan, mengajar dengan wibawa. Tapi di tengah gelombang, semua itu seakan tidak ada gunanya. Mereka membangunkan-Nya bukan dengan permintaan sopan, tapi dengan teriakan panik: kita akan binasa.

Dan Yesus menenangkan badai itu lebih dulu, baru bertanya. Bukan sebelum menolong, sesudahnya. Pertanyaan itu tidak datang untuk menahan pertolongan sampai iman mereka cukup. Pertolongan sudah turun. Pertanyaannya justru menyingkap sesuatu yang lain: bahwa iman itu, seperti kata Yunani di baliknya, bukan sekadar percaya bahwa Yesus itu ada, tapi mempercayakan diri kepada-Nya saat air masuk ke perahu.

Pertanyaan ini tidak langsung dijawab. Murid-murid malah bertanya balik, siapa sebenarnya orang ini. Kadang begitu juga cara kerja pertanyaan Tuhan, Ia tidak selalu memberi jawaban rapi, Ia membuka ruang untuk kita berhenti dan melihat lebih jujur ke dalam diri sendiri.

Hari ini
Ambil satu hal yang membuatmu was-was sore ini, seremeh atau seberat apa pun. Tuliskan dalam satu kalimat pendek, lalu tanyakan pada dirimu sendiri persis dengan kata itu, ada di mana imanku dalam hal ini, dan tulis jawabannya apa adanya, tanpa buru-buru mencari yang terdengar rohani.

Persembahkan hari ini →

☾ Momen sore

Kemudian, perempuan itu meninggalkan kendi airnya dan pergi ke kota serta berkata kepada orang-orang di sana, “Mari, lihatlah ada Seseorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kulakukan. Mungkinkah Dia Mesias itu?”

Yohanes 4:28-29

Botol minum yang kamu isi pagi ini masih ada di meja kerja, hampir penuh, karena harimu terlalu penuh untuk sempat minum darinya. Begitu banyak yang harus diselesaikan, sampai hal paling sederhana pun tertinggal.

Perempuan di Yohanes 4 datang ke perigi membawa tempayan, wadah tanah yang berat, untuk tugas yang harus diulang setiap hari tanpa henti. Ia datang pada tengah hari, waktu yang tidak biasa untuk mengambil air, mungkin karena ia ingin sendirian, jauh dari tatapan orang yang tahu tentang lima suaminya. Air itu penting, tapi tempayan itu juga simbol rutinitas yang tidak pernah selesai, hari yang terus menuntut diisi ulang.

Lalu Yesus berbicara padanya, bukan tentang air sumur, tapi tentang air yang tidak akan membuat haus lagi. Dan yang terjadi berikutnya luar biasa: perempuan itu meninggalkan tempayannya. Barang yang tadinya alasan ia datang, kini tidak lagi ia pedulikan. Ia lari ke kota, bukan untuk menyembunyikan dirinya lagi, tapi untuk memberitakan apa yang baru ditemukannya.

Malam ini, mungkin ada tempayan yang kamu bawa sepanjang hari, tugas yang belum selesai, kekhawatiran yang terus diulang, rasa lelah yang menuntut diisi lagi besok. Perempuan itu mengajarkan bahwa ada saatnya kita boleh meletakkannya, bukan karena sudah beres, tapi karena ada yang lebih besar yang sudah menemui kita hari ini.

Hari ini
Ambil selembar kertas kecil, tuliskan satu hal yang paling menguras energimu hari ini, lipat kertas itu, dan letakkan di bawah lampu meja sebagai tanda kau menyerahkannya kepada Tuhan malam ini sebelum tidur.

Persembahkan hari ini →

Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)

Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.

Ingin menggali lebih dalam?

Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.

Mulai penelusuran mendalam

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network

Terwujud berkat para mitra kami