Berdiam Diri · Selasa, Oktober 20, 2026

Berani Percaya dan Mengasihi

Percaya dan mengasihi

Hari ini 4 menit baca 4 Bagian Alkitab

Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Lukas 8:24, Lukas 10:27-28, Lukas 10:29 and Lukas 13:33.

☀ Momen pagi

Kemudian, para murid datang kepada Yesus dan membangunkan-Nya sambil berkata, “Guru! Guru! Kita akan binasa!” Lalu, Yesus pun bangun dan membentak angin ribut serta gelombang yang bergelora itu. Angin ribut itu pun berhenti dan danau itu menjadi tenang.

Lukas 8:24

Binasa. Itu kata yang keluar dari mulut para murid, bukan sekadar "kita dalam bahaya" tapi "kita akan mati". Kata yang berat, kata yang dipakai untuk kehancuran total. Bukan keluhan kecil, tapi teriakan orang yang sudah melihat ujung hidupnya.

Mereka ada di Danau Galilea, banyak di antaranya nelayan yang tahu persis bagaimana air itu bisa berubah ganas. Badai datang begitu cepat, perahu mulai terisi air, dan di tengah semua itu Yesus tertidur. Mereka membangunkan-Nya bukan dengan sopan, tapi dengan panik: Guru, Guru, kita akan mati!

Yesus bangun, menghardik angin dan ombak, dan semuanya tenang seketika. Lalu, sebelum murid-murid sempat menarik napas lega, Dia bertanya, di manakah imanmu? Bukan pertanyaan untuk mempermalukan. Lebih seperti seseorang yang menyuruh kita mencari sesuatu yang sebenarnya ada, hanya saja hilang dari pandangan saat badai datang.

Pertanyaan itu tidak langsung dijawab dalam teks. Dibiarkan menggantung, seperti air yang baru saja reda. Mungkin memang begitu cara pertanyaan itu bekerja, tidak untuk segera dijawab, tapi untuk dibawa pulang dan direnungkan sepanjang hari.

Hari ini
Pagi ini, sebelum kesibukan dimulai, ambil selembar kertas kecil. Tulis satu kekhawatiran konkret yang sedang kamu bawa hari ini, lalu di bawahnya tulis satu kalimat jujur, imanku kecil tapi masih ada. Simpan kertas itu di saku atau tas, dan lihat lagi saat siang nanti.

Persembahkan hari ini →

✦ Momen siang

Orang itu menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu, dan dengan segenap akal budimu. Dan, kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.” Yesus berkata kepadanya, “Jawabanmu itu tepat. Lakukanlah itu, maka kamu akan hidup.”

Lukas 10:27-28

Sendok masih di tangan, tapi pikiranmu sudah kembali ke meja kerja. Sebentar lagi jam makan siang selesai, dan daftar tugas menunggu.

Di Lukas 10, seorang ahli Taurat baru saja memberi jawaban yang sempurna. Ia tahu isi hukum Taurat luar kepala: kasihi Allah, kasihi sesama. Yesus meneguhkannya, bahkan menyuruhnya bertindak sesuai jawabannya itu. Tapi di ayat berikutnya, orang ini tidak berhenti di situ. Ia ingin membenarkan dirinya, dan ia mengajukan satu pertanyaan lagi.

Pertanyaan itu kedengarannya sederhana, tapi sebenarnya licik. Ia tidak bertanya bagaimana mengasihi lebih baik. Ia bertanya di mana batasnya. Pada zaman itu, banyak orang memahami perintah mengasihi sesama hanya berlaku untuk sesama bangsa sendiri. Jadi pertanyaan itu sebenarnya mencari garis: siapa yang wajib kutolong, dan siapa yang boleh kulewatkan tanpa rasa bersalah.

Pertanyaan itu masih hidup hari ini, hanya berganti wajah. Rekan kerja yang menyebalkan, orang asing di jalan, kolega dari tim lain yang bukan tanggung jawabmu, semua bisa jatuh di luar lingkaran yang nyaman. Pertanyaannya bukan siapa yang layak kau tolong, tapi siapa yang mau kau anggap bukan urusanmu.

Hari ini
Sebelum makan siangmu selesai, pikirkan satu orang yang selama ini kau anggap bukan tanggung jawabmu di tempat kerja. Kirim satu pesan singkat atau tawarkan bantuan kecil kepadanya sore ini juga.

Persembahkan hari ini →

◐ Momen sore

Akan tetapi, orang itu ingin membenarkan dirinya, maka ia berkata kepada Yesus, “Dan, siapakah sesamaku manusia?”

Lukas 10:29

Pertanyaan yang baik bisa menjadi tameng yang sempurna.

Ahli Taurat ini bukan orang bodoh. Ia tahu jawabannya sendiri, kasihi Allah, kasihi sesamamu, dan Yesus baru saja memujinya karena itu. Tapi Lukas menulis dengan jujur, ia bertanya karena ingin membenarkan dirinya. Bukan karena haus kebenaran, tapi karena ingin menarik garis. Di mana sesama berhenti, di situ kewajibanku berhenti juga.

Dalam tradisi Yahudi, kata sesama memang sudah lama diperdebatkan luasnya, sebagian membatasinya hanya pada sebangsa. Pertanyaan ini bukan pertanyaan naif, ini pertanyaan hukum, pertanyaan tentang batas tanggung jawab. Dan Yesus tidak langsung menjawabnya. Dia malah bercerita, tentang seorang Samaria yang berhenti untuk orang yang bukan bangsanya.

Yang menarik, pertanyaan itu sendiri tidak pernah benar-benar dijawab dengan definisi. Yesus membalikkannya di akhir, siapa yang menjadi sesama, bukan siapa yang layak kusebut sesama. Itu pergeseran kecil yang mengubah segalanya, dari menghitung kewajiban menjadi menjadi sesama bagi orang di depan mata.

Mungkin ada orang dalam hidupmu yang diam-diam sudah kau tempatkan di luar garis, terlalu berbeda, terlalu merepotkan, terlalu jauh dari urusanmu. Pertanyaan itu masih berdiri, menunggu jawabanmu sendiri, bukan jawaban teologis yang rapi.

Hari ini
Tuliskan satu nama orang yang selama ini kau anggap bukan urusanmu, lalu doakan dia dengan menyebut namanya, sekarang juga, sebelum siang ini berlalu.

Persembahkan hari ini →

☾ Momen sore

Akan tetapi, Aku harus melanjutkan perjalanan hari ini, besok, dan lusa karena tidak mungkin seorang nabi mati di luar Yerusalem.

Lukas 13:33

Siapa yang sebenarnya memegang kendali atas harimu, ketika ancaman datang dari orang yang kekuasaannya jauh lebih besar darimu?

Di padang Galilea dan Yudea, rubah bukan binatang besar yang menakutkan seperti singa. Ia kecil, licik, bergerak di malam hari, menyelinap ke kandang ternak dan merusak kebun anggur diam-diam. Orang pada zaman itu tahu persis apa artinya disebut rubah: bukan kekuatan, melainkan tipu daya yang beroperasi dalam gelap.

Ketika Yesus mendengar bahwa Herodes ingin membunuh-Nya, Ia tidak menyebutnya singa atau elang, lambang kuasa sejati. Ia menyebutnya rubah itu. Sebuah sindiran halus, bukan pujian. Herodes punya tahta, tapi caranya bekerja lewat ancaman dan manipulasi, bukan kekuasaan yang berani dan terbuka. Yesus melihat itu dengan jernih, dan tidak gentar.

Malam ini mungkin ada wajah atau nama yang membuatmu was-was, seseorang yang punya pengaruh atas hidupmu dan membuatmu tegang sepanjang hari. Yesus tidak membiarkan rubah itu mengatur jalan-Nya. Ia tetap berjalan menurut waktu yang sudah ditetapkan, hari ini, besok, dan lusa. Itu bukan keberanian yang keras kepala, tapi ketenangan orang yang tahu ke mana Ia sedang menuju.

Hari ini
Tuliskan di kertas kecil nama orang atau situasi yang paling membuatmu tegang hari ini. Lipat kertas itu, letakkan di laci, dan ucapkan dengan suara pelan, 'Aku serahkan ini malam ini.'

Persembahkan hari ini →

Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)

Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.

Ingin menggali lebih dalam?

Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.

Mulai penelusuran mendalam

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network

Terwujud berkat para mitra kami