Teguh dalam rencana Tuhan
Kepercayaan dan doa
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Roma 8:31, Amsal 19:21, Amos 8:11 and Mazmur 141:2.
☀ Momen pagi
Jadi, apa yang akan kita katakan tentang semua ini? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang dapat melawan kita?
Roma 8:31
Uap kopi masih mengambang di atas cangkir, dan langkah pertama hari ini belum benar-benar diambil.
Di kepala, barisan hari sudah berbaris rapi: rapat pagi, tugas yang menumpuk sejak kemarin, satu orang yang sulit dihadapi, satu keputusan yang belum jelas arahnya. Semua itu bisa terasa seperti pasukan yang menunggu di depan pintu, siap menghadangmu begitu kau keluar rumah.
Firman pagi ini tidak menyingkirkan daftar itu. Firman ini menaruh sesuatu yang lebih besar di sampingnya, sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah punya jawaban: jika Allah ada di pihakmu, siapa yang bisa benar-benar melawanmu?
Ini bukan jaminan bahwa hari akan mudah. Rapat tetap rapat, tugas tetap menumpuk, orang yang sulit tetap sulit. Tapi Allah tidak berdiri di seberang meja menghitung kesalahanmu atau menunggu kau gagal. Dia berdiri di pihakmu, sebelum kau membuka pintu, sebelum kau menjawab pesan pertama, sebelum kau tahu bagaimana hari ini akan berjalan.
Hari ini
Sebelum membuka ponsel atau memulai pekerjaan pertama hari ini, tuliskan di secarik kertas satu hal atau satu orang yang terasa seperti lawan bagimu pagi ini. Lalu ucapkan pelan, sebelum kau melangkah keluar, 'Allah ada di pihakku dalam hal ini.'
✦ Momen siang
Banyak rancangan dalam hati manusia, tetapi maksud TUHAN yang akan bertahan.
Amsal 19:21
Kalau agenda hari ini sudah tersusun rapi di kalender, rasanya seperti hari itu sudah aman. Jadwal meeting, target yang harus selesai sebelum jam pulang, daftar tugas yang sudah dicentang satu per satu, semua terasa terkendali. Tapi baru saja jam makan siang tiba, dan mungkin sudah ada dua rencana yang buyar duluan.
Amsal ini tidak menolak perencanaan. Membuat rencana itu baik, bahkan bijaksana. Tapi ayat ini menaruh rencana kita di tempat yang benar, bukan sebagai penentu, melainkan sebagai usaha manusia yang tetap berada di bawah kendali Tuhan. Berapa banyak rencana ada di dalam hati manusia, tapi yang berdiri pada akhirnya adalah keputusan Yahweh.
Di tengah hari kerja yang penuh jadwal, ini bukan kabar yang membuat kita pasrah tanpa usaha. Ini kabar yang melegakan. Kalau rapat tadi molor, kalau email penting belum terbalas, kalau rencana sore ini harus berubah, itu bukan tanda semuanya kacau. Itu tanda bahwa Tuhan masih memegang hari ini, bahkan ketika daftar tugas kita berantakan.
Jadi saat makan siang ini, boleh jadi waktu yang tepat untuk melepaskan genggaman erat pada rencana sendiri, dan menaruhnya kembali di tangan yang lebih besar.
Hari ini
Ambil kertas kecil atau buka catatan di ponsel. Tuliskan satu rencana hari ini yang sudah meleset atau kemungkinan akan meleset. Di bawahnya tulis satu kalimat pendek, 'Tuhan, Engkau yang mengatur,' lalu ucapkan kalimat itu pelan sebelum kembali bekerja.
◐ Momen sore
“Lihatlah, saatnya akan datang,” kata firman Tuhan ALLAH, “bahwa Aku akan mengirim kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan roti dan bukan kehausan akan air, tetapi kelaparan akan mendengarkan firman TUHAN.
Amos 8:11
Ketika kekeringan panjang melanda tanah kering, lumbung menjadi kosong, sumur diukur airnya sendok demi sendok, dan orang-orang berdiri berjam-jam menunggu jatah yang makin sedikit. Itu bukan lapar biasa. Itu lapar yang membuat tubuh lemah dan pikiran hanya sanggup memikirkan satu hal: mana makanan, mana air.
Amos berbicara tentang kelaparan yang lain, yang jauh lebih menakutkan bagi bangsa yang mengenal Yahweh. Bukan kelaparan roti, tapi kelaparan mendengar firman-Nya. Sebuah bangsa yang selama ini menutup telinga akhirnya dibiarkan hidup dalam sunyi, dan sunyi itu bukan damai, melainkan hukuman.
Hari ini kita tidak kekurangan kata. Ponsel penuh notifikasi, berita mengalir tanpa henti, grup percakapan tidak pernah benar-benar tutup. Tapi banyaknya kata belum tentu berarti kita mendengar firman Tuhan. Bisa jadi di tengah semua bunyi itu, suara-Nya justru yang paling jarang benar-benar sampai.
Pertanyaannya menggantung, tidak selesai begitu saja: jangan-jangan sore ini pun sudah menjadi ladang kering itu, dan kita belum sadar betapa laparnya kita. Bukan karena Tuhan pergi, tapi karena kita terlalu sibuk mengisi telinga dengan hal lain.
Amos tidak memberi jalan keluar yang mudah. Ia hanya membiarkan kata-kata itu menggantung sebagai peringatan, sekaligus undangan untuk berhenti sejenak dan bertanya kapan terakhir kali firman-Nya benar-benar didengar, bukan sekadar dilewati.
Hari ini
Sore ini, matikan notifikasi ponsel selama sepuluh menit, ambil Alkitab fisik atau aplikasinya dalam keadaan sunyi, lalu bacalah satu perikop pendek dengan suara pelan sampai selesai.
☾ Momen sore
Kiranya doaku ditetapkan sebagai dupa di hadapan-Mu, dan tanganku yang terangkat sebagai persembahan pada waktu petang.
Mazmur 141:2
Daud menutup hari yang penuh ancaman dengan mengangkat kedua tangannya, seolah tubuhnya sendiri menjadi mezbah tempat ia membawa doa. Ia tidak punya domba untuk dikurbankan, tidak punya dupa yang harum, hanya kata-kata yang keluar dari mulutnya yang lelah. Namun ia percaya bahwa doa yang sederhana itu naik ke hadapan Allah sama sungguhnya seperti asap kurban di bait suci.
Hari Kamis ini mungkin sudah menuntut banyak dari Anda: rapat yang tidak selesai, pekerjaan yang menumpuk, percakapan yang menguras hati. Sekarang, saat lampu-lampu mulai diredupkan, Anda bisa melakukan apa yang dilakukan Daud. Anda tidak perlu kata-kata yang indah atau doa yang panjang.
Angkat tangan Anda, bukan sebagai gerakan kosong, tetapi sebagai tanda bahwa Anda menyerahkan seluruh hari ini, yang baik dan yang berat, kepada Allah yang menerima doa sesederhana napas. Ia tidak menuntut Anda tampil sempurna di hadapan-Nya. Ia hanya menantikan hati yang jujur, terangkat kepada-Nya di penghujung hari.
Biarkan malam ini menjadi mezbah kecil Anda, tempat kelelahan dan syukur dibakar bersama menjadi persembahan yang harum bagi-Nya.
Hari ini
Sekarang, duduklah sebentar, angkat kedua tangan Anda seperti Daud, dan ucapkan dengan suara pelan, Tuhan, terimalah hari ini sebagai persembahanku kepada-Mu.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
31Jadi, apa yang akan kita katakan tentang semua ini? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang dapat melawan kita?
21Banyak rancangan dalam hati manusia, tetapi maksud TUHAN yang akan bertahan.
11“Lihatlah, saatnya akan datang,” kata firman Tuhan ALLAH, “bahwa Aku akan mengirim kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan roti dan bukan kehausan akan air, tetapi kelaparan akan mendengarkan firman TUHAN.
2Kiranya doaku ditetapkan sebagai dupa di hadapan-Mu, dan tanganku yang terangkat sebagai persembahan pada waktu petang.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam