Dikelilingi kasih setia Tuhan
Kasih yang menyertai
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Mazmur 5:12, Amsal 18:21, Yesaya 30:18 and Mazmur 139:9-10.
☀ Momen pagi
(5-13) Sebab, Engkau yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau mengelilingi mereka dengan kemurahan-Mu layaknya perisai.
Mazmur 5:12
Perhatikan urutan katanya. Pemazmur tidak menulis 'Engkau memberinya perisai', tetapi 'Engkau mengelilinginya dengan perkenanan seperti perisai.' Perisai pada zaman itu dipegang di satu tangan, menghadang serangan dari depan saja. Tapi kata yang dipilih di sini adalah 'mengelilingi', bukan 'menghadang'. Perkenanan Tuhan tidak hanya menutupi bagian yang rentan, melainkan membungkus seluruh diri, dari segala penjuru, termasuk sisi yang bahkan tidak sempat engkau lihat datangnya ancaman.
Hari ini hari Rabu yang biasa. Ada rapat, tugas, deadline, mungkin percakapan yang belum tentu mudah. Sebagian bahaya hari ini datang dari depan, kelihatan jelas di agenda. Tapi sebagian lain datang dari arah yang tak terduga, kata orang yang menusuk tanpa sengaja, pikiran cemas yang muncul tiba-tiba di tengah kesibukan.
Kabar baiknya, keamanan yang dijanjikan bukan tentang seberapa jauh engkau bisa membaca arah datangnya masalah. Keamanan itu tentang siapa yang mengelilingimu. Tuhan tidak berdiri di satu sisi menunggu serangan, Dia melingkupi, dari depan, belakang, kiri, kanan, bahkan dari atas hari yang belum engkau jalani.
Itu bukan alasan untuk ceroboh, tapi alasan untuk berjalan dengan bahu yang tidak kaku sepanjang pagi ini.
Hari ini
Sebelum membuka ponsel atau memulai aktivitas pertama hari ini, letakkan kedua telapak tanganmu di dada seolah memegang sebuah perisai, lalu ucapkan Mazmur 5:12 dengan suara pelan sebagai doa pembuka harimu.
✦ Momen siang
Hidup dan mati ada dalam kuasa lidah, dan mereka yang mengasihinya akan memakan buahnya.
Amsal 18:21
Sudah berapa kalimat yang kamu lontarkan sejak pagi tadi, dan berapa banyak dari kalimat itu sebenarnya menikam, bukan menolong?
Di tengah hari kerja, mulut jarang beristirahat. Rapat, chat grup, telepon klien, sindiran ke rekan kerja yang lambat, keluhan tentang atasan. Semua keluar begitu cepat, seolah kata-kata itu gratis dan tidak berbekas. Amsal berkata sebaliknya. Lidah menyimpan kuasa hidup dan mati. Bukan kiasan kosong, tapi kenyataan yang kita alami setiap hari, sebuah pujian bisa menegakkan orang yang hampir menyerah, sebuah komentar sinis bisa merobohkan orang yang sedang bertahan.
Yang menarik, ayat ini tidak hanya bicara tentang orang lain mendengar kita. Ia bicara tentang siapa yang mencintai lidahnya, siapa yang menikmati kekuatan berkata-kata sampai lupa memikirkan buahnya. Ada orang yang gemar berkomentar tajam karena merasa itu membuatnya terlihat cerdas atau berkuasa, padahal ia sedang menanam benih yang nanti dituainya sendiri.
Di jam istirahat ini, coba ingat satu kalimat yang kamu ucapkan pagi ini. Apakah itu memberi hidup atau justru menguras hidup orang lain?
Hari ini
Sebelum kembali bekerja, kirim satu pesan singkat kepada rekan kerja atau anggota keluarga, isinya satu kalimat penyemangat yang tulus, bukan basa-basi. Lakukan sekarang, sebelum kesibukan sore menelan niat itu.
◐ Momen sore
Oleh karena itu, TUHAN menanti-nanti untuk memberikan kasih karunia-Nya kepadamu. Dia berdiri untuk menyayangi kamu. Sebab, TUHAN adalah Allah yang adil. Diberkatilah semua orang yang menantikan Dia.
Yesaya 30:18
Menanti. Kata itu biasa kita pakai untuk diri sendiri, seolah hanya kitalah yang harus bersabar sementara Tuhan berdiam diri di atas sana. Tapi ayat ini membalikkan semuanya: Yahweh sendiri yang menanti, supaya Ia bisa bermurah hati kepadamu. Bukan Ia yang lambat, bukan Ia yang menahan-nahan tanpa alasan. Ia menanti, dengan sengaja, seperti seseorang yang menyimpan waktu yang tepat untuk memberi yang paling berarti.
Ini mengganggu kalau dipikir lebih dalam. Kenapa harus menanti? Kalau Ia mau bermurah hati, kenapa tidak sekarang juga? Teks ini tidak langsung menjawab itu. Ia hanya menegaskan bahwa penantian-Nya bukan kekejaman, melainkan bagian dari keadilan-Nya sendiri. Ada waktu yang Ia tahu, yang belum kita pahami sepenuhnya.
Siang ini mungkin engkau juga sedang menanti sesuatu yang belum kunjung datang. Jawaban yang tertunda, pemulihan yang tak kunjung tiba, doa yang seperti menggantung di udara tanpa balasan. Rasanya seperti Tuhan diam. Tapi ayat ini berkata sebaliknya, Ia sedang bergerak menuju saat yang tepat untuk bermurah hati kepadamu.
Yang diminta darimu bukan menyerah pada kecurigaan bahwa Ia lupa, melainkan menjadi salah satu dari mereka yang disebut berbahagia karena menantikan Dia sendiri, bukan sekadar menantikan jawaban yang engkau inginkan.
Hari ini
Ambil ponselmu, buka aplikasi catatan, dan tuliskan satu hal yang paling sedang engkau tunggu dari Tuhan hari ini. Setelah itu, baca ulang kalimat itu perlahan dan katakan dengan suara pelan, aku menantikan Engkau, bukan hanya jawaban-Mu.
☾ Momen sore
Jika aku mengambil sayap-sayap fajar, dan diam di bagian laut paling ujung, di sana pun tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
Mazmur 139:9-10
Bayangkan angin pagi yang mengangkat sayap seekor burung laut, membawanya jauh ke ujung samudra yang paling terpencil, tempat tak ada peta, tak ada lampu rumah yang dikenal, hanya deburan ombak dan garis langit yang kabur. Tempat yang sunyi, bahkan agak menakutkan, karena begitu jauh dari segala yang biasa.
Hari Rabu ini mungkin sudah membawamu ke tempat-tempatmu sendiri yang jauh, rapat yang melelahkan, pikiran yang melayang ke masalah yang belum selesai, atau sekadar rasa lelah yang menumpuk sejak pagi. Rasanya seperti berada di ujung sesuatu, jauh dari ketenangan.
Tapi pemazmur menulis bahwa sejauh mana pun ia terbang, sejauh mana pun ia menyingkir, tangan Tuhan tetap ada di sana, menuntun dan memegangnya. Bukan karena ia hebat mencari, tapi karena Tuhan sudah lebih dulu hadir di sana.
Malam ini, engkau tidak perlu menjelaskan kepada Tuhan seberapa jauh pikiranmu melayang hari ini. Dia sudah ada di ujung itu, menunggu dengan tangan terbuka, bukan dengan pertanyaan.
Hari ini
Duduklah sebentar di dekat jendela atau di luar rumah, pandang langit malam selama satu menit, dan ucapkan pelan, 'Bahkan di sini, tangan-Mu memegangku.' Biarkan kalimat itu menjadi penutup harimu.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
12(5-13) Sebab, Engkau yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau mengelilingi mereka dengan kemurahan-Mu layaknya perisai.
21Hidup dan mati ada dalam kuasa lidah, dan mereka yang mengasihinya akan memakan buahnya.
18Oleh karena itu, TUHAN menanti-nanti untuk memberikan kasih karunia-Nya kepadamu. Dia berdiri untuk menyayangi kamu. Sebab, TUHAN adalah Allah yang adil. Diberkatilah semua orang yang menantikan Dia.
9Jika aku mengambil sayap-sayap fajar, dan diam di bagian laut paling ujung,
10di sana pun tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam