Kesetiaan Tuhan di tengah kekeringan
Setia dalam kesulitan
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam 1 Raja-raja 18:38, 1 Raja-raja 17:7, 2 Samuel 21:11 and Lukas 1:30-31.
☀ Momen pagi
Lalu, api TUHAN turun dan melahap kurban bakaran, dan kayu-kayu bakar, dan batu-batu, dan tanah, serta menjilat air yang ada di parit itu.
1 Raja-raja 18:38
Jam 06.45, kopi masih mengepul di meja dapur, dan ponsel menyala dengan satu pesan yang belum kaubalas karena kau belum tahu harus menjawab apa. Hari belum dimulai, tapi keraguan sudah duluan datang.
Gunung Karmel bukan tempat yang nyaman untuk membuktikan sesuatu. Tanahnya berbatu, terbuka, menghadap lembah Yizreel, terlihat dari jauh oleh siapa saja yang lewat. Di situ Elia membangun kembali mezbah Yahweh yang sudah lama dirobohkan, lalu melakukan sesuatu yang aneh: ia menyiram korban itu dengan air, tiga kali, sampai parit di sekelilingnya penuh. Ia menghilangkan setiap kemungkinan bahwa api itu nanti bisa dijelaskan secara wajar.
Di tempat terbuka itu, tanpa ruang untuk trik atau penjelasan lain, api Yahweh turun dan menghabiskan semuanya, termasuk air di parit. Bukan di tempat tersembunyi, tapi di depan seluruh bangsa yang menonton.
Mungkin hari ini kau juga membawa sesuatu yang rasanya terlalu basah untuk bisa terbakar, terlalu rumit untuk bisa berubah. Karmel mengingatkan bahwa Tuhan tidak butuh keadaan yang mudah untuk bertindak. Justru di tempat yang paling terbuka dan paling tidak mungkin, Dia bisa menjawab.
Hari ini
Ambil secarik kertas pagi ini, tuliskan satu hal yang selama ini kausembunyikan atau kauragukan, lalu bacakan tulisan itu dengan suara pelan di ruangan sendirian, seperti doa yang tidak lagi disimpan diam-diam.
✦ Momen siang
Setelah beberapa hari, sungai itu menjadi kering karena tidak ada hujan di tanah itu.
1 Raja-raja 17:7
Bahkan tempat yang Allah tunjuk sendiri bisa mengering.
Elia tidak sembarang memilih Kerit. Firman Tuhan sendiri yang mengarahkannya ke sana, ke sebuah jurang sempit di seberang Sungai Yordan, tempat air mengalir deras di antara bebatuan dan semak-semak tumbuh rimbun di tepinya. Di situ gagak membawa roti dan daging pagi dan petang, dan air sungai cukup untuk diminum. Tempat itu adalah jawaban doa, bukti bahwa Allah memelihara nabi-Nya di tengah kekeringan yang justru Elia sendiri nubuatkan.
Tapi kemudian airnya habis. Bukan karena Allah berubah pikiran, melainkan karena kekeringan yang sama yang membuat Kerit istimewa kini mencapai Kerit juga. Tempat pemeliharaan tidak kebal dari dampak dunia yang sedang kering.
Ini bukan tanda kegagalan Allah. Ini adalah titik balik menuju langkah berikutnya, ke Sarfat, ke seorang janda yang tidak pernah Elia duga. Kadang sumber yang selama ini menopang pekerjaan, hubungan, atau rutinitas kita memang sedang surut, dan itu bukan berarti Allah diam. Itu bisa jadi sinyal untuk bergerak.
Hari ini
Di tengah hari kerja ini, mungkin ada sesuatu yang dulu mengalir lancar bagimu tapi sekarang mulai kering, sebuah pekerjaan, sebuah hubungan, sebuah kebiasaan rohani. Ambil secarik kertas atau buka catatan di ponsel, tuliskan satu hal itu dalam satu kalimat, lalu tuliskan juga satu kalimat doa singkat menanyakan langkah berikutnya.
◐ Momen sore
Ketika Daud diberi tahu apa yang dilakukan Rizpa, anak perempuan Aya, gundik Saul itu,
2 Samuel 21:11
Diberitahukan. Satu kata kecil yang nyaris terlewat, tapi di situlah seluruh kisah ini bertumpu. Tidak ada yang memuji Rizpah saat ia melakukannya. Ia tidak menunggu kabar itu sampai ke istana. Ia hanya duduk di atas batu, bulan demi bulan, dan suatu hari kabar itu sampai juga ke telinga raja.
Tujuh keturunan Saul, termasuk dua anak Rizpah sendiri, diserahkan dan dibunuh karena perjanjian lama yang dilanggar Saul. Mayat mereka dibiarkan tergantung, tanpa dikuburkan, sebuah penghinaan besar pada masa itu. Rizpah menggelar kain kabung di atas batu dan menjaga jasad-jasad itu dari burung di siang hari dan binatang buas di malam hari, sejak awal musim panen sampai hujan turun. Itu bukan hitungan hari, itu hitungan bulan.
Bayangkan biayanya. Bukan hanya dukacita kehilangan anak, tapi dukacita yang dijaga sendirian, di tempat terbuka, tanpa seorang pun datang membantu. Tidak ada yang meringankan jaganya. Tapi justru kegigihannya itulah yang akhirnya mengetuk hati Daud, sampai ia memerintahkan penguburan yang layak bagi Saul, Yonatan, dan ketujuh orang itu.
Mungkin ada vigili yang sedang kaujalani sekarang, sesuatu yang kau jaga sendirian, yang belum terlihat siapa pun, yang terasa sia-sia karena tak ada yang berubah. Kisah Rizpah tidak menjanjikan bahwa penantian itu akan singkat. Tapi ia menunjukkan bahwa jaga yang setia, sekecil apa pun terlihat, bisa sampai ke tempat yang tak kau duga.
Hari ini
Tuliskan satu nama, orang yang sedang berduka atau bergumul dan selama ini hanya kaudoakan diam-diam, lalu kirim satu pesan singkat hari ini yang mengatakan kau mengingat mereka.
☾ Momen sore
Malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut, Maria, karena Allah telah memberikan kasih karunia-Nya kepadamu. Dengarlah, engkau akan mengandung dan melahirkan seorang Anak laki-laki, dan engkau akan menamai-Nya Yesus.
Lukas 1:30-31
Nazaret tidak pernah disebut dalam kitab-kitab nabi, bukan tempat raja-raja singgah atau mukjizat besar terjadi. Kota itu begitu kecil sehingga nama baiknya pun dipertanyakan orang. Di sanalah, pada hari yang biasa, seorang gadis muda sedang menjalani hidupnya yang sederhana, tanpa menyangka bahwa langit sedang membungkuk ke arahnya.
Malaikat itu tidak datang ke istana atau bait suci, tapi ke rumah seorang perempuan muda yang hidupnya belum tercatat di mana pun. Nama yang disebutkan malaikat, Yesus, berarti Yahweh menyelamatkan, sebuah nama yang membawa seluruh sejarah penantian umat-Nya.
Yang berubah bukan hanya hidup Maria, tapi arah seluruh cerita. Ketakutan yang wajar ia rasakan dijawab bukan dengan penjelasan panjang, tapi dengan kabar bahwa ia telah mendapat kasih karunia. Itu cukup baginya untuk berkata ya.
Dari rumah kecil di kota yang hampir tak dikenal itu, mengalirlah nyanyian Maria, kunjungannya ke Elisabet, dan akhirnya kelahiran yang mengubah dunia. Allah ternyata senang memulai dari tempat yang paling tidak disangka orang.
Malam ini mungkin terasa biasa saja, seperti Nazaret sebelum kedatangan malaikat itu. Tapi Allah tidak menunggu tempat yang besar untuk bekerja, Dia memilih yang kecil dan sederhana, termasuk harimu hari ini.
Hari ini
Sebelum tidur, sebutkan dengan suara keras satu hal kecil dari hari ini yang tampaknya tidak berarti, lalu ucapkan terima kasih untuk itu kepada Allah.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
38Lalu, api TUHAN turun dan melahap kurban bakaran, dan kayu-kayu bakar, dan batu-batu, dan tanah, serta menjilat air yang ada di parit itu.
7Setelah beberapa hari, sungai itu menjadi kering karena tidak ada hujan di tanah itu.
11Ketika Daud diberi tahu apa yang dilakukan Rizpa, anak perempuan Aya, gundik Saul itu,
30Malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut, Maria, karena Allah telah memberikan kasih karunia-Nya kepadamu.
31Dengarlah, engkau akan mengandung dan melahirkan seorang Anak laki-laki, dan engkau akan menamai-Nya Yesus.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam