Setia memikul panggilan Tuhan
Taat dalam panggilan
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Markus 15:21, Kejadian 18:19, Markus 4:39 and Kisah Para Rasul 7:55.
☀ Momen pagi
Mereka memaksa orang yang sedang lewat, Simon orang Kirene, ayah dari Aleksander dan Rufus yang datang dari desa, untuk memikul salib-Nya.
Markus 15:21
Markus tidak membiarkan nama itu lewat begitu saja. Ia menyebut Simon sebagai bapak Aleksander dan Rufus, dua nama yang rupanya dikenal oleh jemaat mula-mula ketika Injil ini ditulis. Artinya satu pagi yang sama sekali tidak direncanakan Simon, mengubah namanya menjadi nama yang disebut dalam jemaat bertahun-tahun kemudian.
Simon datang dari luar kota, mungkin baru tiba untuk merayakan Paskah di Yerusalem. Ia bukan murid, bukan pengikut, hanya seorang yang sedang berjalan. Tentara Roma punya hak memaksa siapa saja yang mereka temui untuk membawa beban sejauh satu mil, dan hari itu giliran Simon yang dipilih. Bukan karena ia menawarkan diri, tapi karena ia kebetulan lewat di jalan itu, pada waktu yang salah, atau mungkin justru tepat.
Ia tidak sempat bertanya, tidak sempat menolak. Tangannya yang tadinya kosong tiba-tiba memikul kayu salib Yesus, kayu yang berat dan memalukan untuk dipikul di depan orang banyak. Harinya yang biasa berubah total hanya karena ia berdiri di tempat yang salah pada saat yang tepat.
Hari ini hari Tuhan, hari jemaat berkumpul untuk menyembah. Mungkin rencana hari ini sudah tersusun rapi di kepala, tapi Simon mengingatkan bahwa Kristus kadang masuk justru lewat jalan yang tidak direncanakan, lewat sesuatu yang memaksa kita berhenti sejenak dan ikut memikul sesuatu yang bukan milik kita sendiri.
Hari ini
Sebelum berangkat untuk beribadah hari ini, tuliskan nama satu orang yang sedang memikul beban berat, lalu kirim pesan singkat yang mengatakan engkau akan mendoakannya sepanjang hari ini.
✦ Momen siang
Sebab Aku telah mengenalnya, dia akan memerintahkan kepada anak-anaknya dan seisi rumahnya sesudah dia untuk hidup sesuai jalan TUHAN dengan melakukan kebenaran dan keadilan sehingga TUHAN akan memberikan kepada Abraham apa yang telah dijanjikan-Nya kepadanya.”
Kejadian 18:19
Tenda itu berdiri terbuka di bawah pohon-pohon besar di Mamre, pada jam paling panas siang hari, ketika kebanyakan orang berteduh dan berhenti bekerja. Tiga orang asing berdiri di depan Abraham, dan dalam hitungan menit ia sudah berlari, meminta air dibawa untuk membasuh kaki mereka, menyuruh Sara membuat roti di atas batu panas, memilih anak lembu terbaik untuk disembelih. Begitulah cara seorang pengembara menyambut tamu, cepat, murah hati, tanpa banyak bertanya siapa mereka sebenarnya.
Setelah makan, ketika rombongan itu berjalan memandang ke arah Sodom, Yahweh bertanya pada diri-Nya sendiri apakah Ia akan menyembunyikan dari Abraham apa yang hendak dilakukan-Nya terhadap kota itu. Ini bukan pertanyaan kecil. Abraham hanyalah seorang pengembara dengan ternak dan tenda, bukan raja, bukan imam besar. Namun Allah memilih untuk tidak diam, untuk membuka rencana-Nya kepada orang ini.
Alasannya tertulis jelas, karena Allah telah mengenal Abraham, supaya ia mengajar anak-anaknya dan seisi rumahnya berjalan di jalan Yahweh, melakukan apa yang benar dan adil. Mengenal di sini bukan sekadar tahu nama. Ini kedekatan yang membuat Allah percaya, dan percaya itu diikuti dengan keterbukaan.
Pagi ini jemaat berkumpul, bukan sebagai orang asing bagi Allah, tetapi sebagai mereka yang sudah dikenal dan diajak masuk dalam apa yang Dia kerjakan di dunia.
Hari ini
Sepulang dari ibadah hari ini, duduklah diam sepuluh menit, dan sebutkan dengan suara keras nama satu orang yang kerinduannya akan keselamatan membebanimu, seperti Abraham kelak menyebut nama Sodom di hadapan Yahweh.
◐ Momen sore
Kemudian, Yesus bangun dan menegur angin itu dengan keras, lalu berkata kepada laut, “Tenang! Diamlah!” Lalu, angin itu berhenti dan menjadi sangat tenang.
Markus 4:39
Selepas ibadah pagi tadi, mungkin kamu sedang duduk di ruang keluarga, piring makan siang belum dicuci, dan pikiranmu melayang ke satu kabar yang belum kamu tahu bagaimana menanggungnya. Suasana rumah tenang, tapi dadamu tidak.
Murid-murid yang ada di perahu itu bukan orang baru di danau. Beberapa dari mereka nelayan, hafal setiap angin Galilea. Tapi badai itu membuat mereka yakin akan tenggelam, sementara Yesus tidur di buritan, kepala-Nya di atas bantal. Mereka membangunkan-Nya dengan tuduhan, bukan permohonan: seolah Dia tidak peduli mereka binasa.
Kata yang dipakai saat Yesus menegur angin itu, dalam bahasa aslinya, sama dengan kata yang dipakai saat Dia menegur roh jahat. Ini bukan Dia menenangkan cuaca seperti berdoa minta hujan reda. Ini Dia memerintah kekacauan seperti seorang yang berkuasa atas apa yang paling liar di ciptaan.
Semua murid melihat keajaiban itu dengan mata kepala sendiri, dan laut yang tadi mengamuk kini diam seketika. Tapi yang mereka bawa pulang bukan ketenangan, melainkan ketakutan yang baru, dan pertanyaan yang tidak langsung terjawab: siapa sebenarnya Dia ini? Melihat tanda ternyata tidak otomatis membuat orang mengenal siapa yang melakukannya.
Mungkin hari ini badaimu belum reda, dan pertanyaan itu masih menggantung di udara untukmu juga. Tanda ini tidak selalu memberi jawaban cepat, tapi ia memaksa kita berhenti sejenak dan benar-benar melihat siapa yang duduk di perahu bersama kita.
Hari ini
Ambil secarik kertas, tuliskan satu hal yang sedang mengguncangmu hari ini, lalu ucapkan dengan suara keras kepada Yesus, bukan sebagai mantra tapi sebagai doa, 'Diam, tenanglah,' dan selipkan kertas itu di antara halaman Alkitabmu.
☾ Momen sore
Akan tetapi, Stefanus yang dipenuhi oleh Roh Kudus menatap ke langit dan melihat kemuliaan Allah, dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.
Kisah Para Rasul 7:55
Stefanus berdiri di hadapan Mahkamah Agama. Wajah-wajah di sekelilingnya merah padam, tangan-tangan sudah menggenggam batu. Dalam ruangan yang penuh kebencian itu, ada satu gerakan kecil yang diceritakan Lukas dengan sangat hati-hati: Stefanus menatap ke langit.
Kata yang dipakai bukan sekadar melirik sekilas. Ini tatapan yang tertuju, mata yang berpaling dari wajah-wajah marah di depannya kepada sesuatu yang jauh lebih besar. Di tengah tuduhan palsu dan amarah orang banyak, matanya naik.
Yang dilihatnya mengubah segalanya. Biasanya Alkitab menggambarkan Yesus duduk di sebelah kanan Allah, tanda karya-Nya selesai. Tapi di sini Dia berdiri, seolah bangkit untuk menyambut Stefanus yang sebentar lagi akan datang kepada-Nya. Harga yang dibayar Stefanus adalah nyawanya sendiri, tetapi yang ia terima adalah pemandangan surga terbuka.
Hari Minggu ini, setelah berkumpul bersama umat Tuhan, mungkin pikiranmu masih penuh dengan wajah-wajah dan suara-suara hari ini, yang menyenangkan maupun yang melelahkan. Stefanus mengajarkan bahwa mata kita bisa dipindahkan, dari apa yang menekan kepada Kristus yang sedang menyambut.
Hari ini
Malam ini, sebelum tidur, berdirilah sejenak di dekat jendela atau di luar rumah dan tataplah langit selama satu menit penuh. Jangan terburu-buru. Ucapkan pelan, Aku menyerahkan hari ini kepada-Mu, Tuhan Yesus, dan biarkan mata hatimu naik seperti mata Stefanus.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
21Mereka memaksa orang yang sedang lewat, Simon orang Kirene, ayah dari Aleksander dan Rufus yang datang dari desa, untuk memikul salib-Nya.
19Sebab Aku telah mengenalnya, dia akan memerintahkan kepada anak-anaknya dan seisi rumahnya sesudah dia untuk hidup sesuai jalan TUHAN dengan melakukan kebenaran dan keadilan sehingga TUHAN akan memberikan kepada Abraham apa yang telah dijanjikan-Nya kepadanya.”
39Kemudian, Yesus bangun dan menegur angin itu dengan keras, lalu berkata kepada laut, “Tenang! Diamlah!” Lalu, angin itu berhenti dan menjadi sangat tenang.
55Akan tetapi, Stefanus yang dipenuhi oleh Roh Kudus menatap ke langit dan melihat kemuliaan Allah, dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam