Percaya dan taat meski ragu
Percaya dan taat
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam 2 Raja-raja 5:13, Lukas 17:17-18, Habakuk 2:2-3 and Hakim-Hakim 6:11.
☀ Momen pagi
Namun, pegawai-pegawainya mendekati dan berkata kepadanya, serta berkata, “Bapakku, jika nabi itu mengatakan hal-hal yang sukar kepadamu, apakah engkau tidak akan melakukannya? Bahkan, terlebih lagi dia hanya mengatakan kepadamu untuk mandi dan engkau akan menjadi tahir.”
2 Raja-raja 5:13
Perhatikan sapaan yang dipakai hamba-hamba Naaman: "Bapakku." Mereka adalah bawahannya, orang-orang yang biasanya diam saja di hadapan seorang panglima perang. Tapi justru merekalah yang berani menegur, dan mereka melakukannya dengan sapaan hangat, bukan nada menggurui. Detail kecil ini menunjukkan sesuatu: kadang orang yang paling dekat dengan kita, yang paling kecil posisinya, melihat apa yang kita sendiri tidak lihat.
Naaman datang ke rumah Elisa dengan kereta, kuda, perak, dan emas, membawa surat dari raja Aram. Ia mengharapkan sesuatu yang megah, mungkin sang nabi keluar, meletakkan tangan di atas kulitnya yang berkusta, menyebut nama Tuhannya dengan suara keras. Sebaliknya, Elisa bahkan tidak keluar rumah. Ia hanya mengirim pesan lewat utusan: pergi, mandi tujuh kali di sungai Yordan. Naaman marah. Perintah itu terlalu sederhana untuk seorang panglima, dan sungai itu terlalu biasa dibanding sungai-sungai di negerinya sendiri.
Di titik itulah hamba-hambanya melihat lebih jernih daripada dia. Mereka tahu, kalau nabi menyuruh sesuatu yang besar, tuan mereka pasti akan melakukannya tanpa pikir panjang. Lalu mengapa menolak yang kecil? Tanda dari Allah di sini bukan kemegahan, tapi kesediaan untuk taat pada hal sederhana yang terasa kurang pantas.
Pagi ini mungkin harimu juga dimulai dengan hal-hal kecil yang terasa tidak sepadan dengan masalah besar yang kamu bawa. Jangan buru-buru mencari yang spektakuler. Tuhan kerap bekerja lewat langkah sederhana yang nyaris kita lewatkan karena dianggap remeh.
Hari ini
Sebelum kamu memulai pekerjaan utama hari ini, selesaikan satu hal kecil yang sudah lama kamu tunda, balas satu pesan yang belum terjawab atau rapikan satu sudut mejamu, dan lakukan itu sebagai langkah ketaatan, bukan sekadar rutinitas.
✦ Momen siang
Kemudian, Yesus berkata kepada orang itu, “Bukankah ada sepuluh orang yang telah ditahirkan? Di manakah sembilan orang yang lain? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?
Lukas 17:17-18
Orang asing. Itu kata yang dipakai Yesus untuk orang yang justru kembali. Bukan kata pujian dalam budaya waktu itu, tapi kata jarak. Orang Samaria itu sudah asing karena kustanya, dan asing lagi karena asal-usulnya. Dua kali di luar lingkaran. Tapi dialah satu-satunya yang berbalik.
Sepuluh orang kusta berseru minta kasihan, dan Yesus menyuruh mereka pergi menunjukkan diri ke imam, sesuai aturan Taurat. Di tengah jalan, saat mereka berjalan, mereka tahir. Sembilan terus berjalan ke imam, melakukan persis apa yang diperintahkan. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi hanya satu yang berhenti, melihat dirinya sendiri, lalu berbalik arah dan sujud memuliakan Allah di kaki Yesus.
Pertanyaan Yesus, 'di mana yang sembilan', bukan keluhan kecil. Itu menunjukkan bahwa bagi Dia, mukjizat yang diterima dan ucapan syukur yang kembali adalah dua hal yang berbeda. Sembuh bisa terjadi tanpa pernah bertemu lagi dengan Sang Penyembuh.
Siang ini, di tengah pekerjaan yang terus berjalan, mudah untuk jadi seperti sembilan itu. Terus bergerak ke tugas berikutnya tanpa pernah berhenti dan berbalik.
Hari ini
Berhentilah sepuluh menit. Sebutkan satu hal konkret yang sudah kamu terima hari ini, entah kesehatan, pekerjaan, atau kabar baik, lalu ucapkan syukur itu dengan suara, bukan hanya dalam hati.
◐ Momen sore
Lalu, TUHAN menjawabku, kata-Nya, “Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirlah di atas loh-loh, supaya mereka yang membacanya dapat berlari. Sebab, penglihatan itu masih menanti waktu yang ditentukan, itu akan segera menuju kesudahannya dan tidak akan berdusta. Meski terlambat, nantikanlah itu. Sebab, itu sungguh-sungguh akan datang, itu tidak akan ditunda-tunda.
Habakuk 2:2-3
Sudah berapa lama kamu menunggu jawaban yang tak kunjung datang, sampai diam-diam kamu mulai curiga bahwa Tuhan tidak lagi peduli?
Habakuk bertanya itu lebih dulu. Dia nabi yang hidup di Yehuda ketika kekerasan dan ketidakadilan merajalela, dan dia sudah berteriak kepada Tuhan tanpa mendapat jawaban yang jelas. Lalu dia naik ke menara pengintaian, pos penjaga di tembok kota, untuk berdiri dan menunggu, siap menerima teguran sekalipun, asal dia mendapat jawaban.
Jawaban Tuhan datang, tapi bukan penyelesaian instan. Dia menyuruh Habakuk menuliskan penglihatan itu besar-besar di atas lempengan, cukup jelas sehingga pembawa berita yang berlari cepat pun bisa membacanya sambil lewat. Ini bukan catatan pribadi untuk disimpan diam-diam, ini pengumuman yang harus terbaca dari kejauhan.
Lalu ditambahkan satu kalimat yang berat: penglihatan itu punya waktunya sendiri, dan meski terasa lambat, ia tidak akan meleset, tidak akan terlambat. Menunggu di sini bukan pasrah menunggu nasib, tapi menunggu aktif, dengan mata terbuka di pos jaga.
Mungkin kamu sedang di posmu sendiri sore ini, menunggu kabar dari dokter, keputusan atasan, atau pemulihan yang tak kunjung tiba. Teks ini tidak menjanjikan kecepatan, tapi memberi perintah: tuliskan, buat jelas, jangan biarkan harapanmu menguap jadi kabut.
Hari ini
Ambil kertas atau catatan di ponselmu sekarang, tuliskan satu kalimat jujur tentang apa yang sedang kamu nanti-nantikan dari Tuhan, lalu tempelkan atau simpan di tempat yang pasti kamu lihat lagi sebelum hari ini berakhir.
☾ Momen sore
Malaikat TUHAN datang dan duduk di bawah pohon Tarbantin di Ofra milik Yoas, orang Abiezer. Gideon, anaknya, sedang mengirik gandum di tempat pemerasan anggur agar tersembunyi dari orang Midian.
Hakim-Hakim 6:11
Gideon tidak berdiri di lantai pengirikan yang terbuka di atas bukit, tempat angin bisa meniup sekam pergi dengan mudah. Dia berjongkok di dalam tempat pemerasan anggur yang sempit, memukul-mukul gandum sedikit demi sedikit, sambil terus menoleh ke belakang. Orang Midian bisa datang kapan saja dan merampas semua yang dia punya. Jadi dia bekerja dalam takut, bersembunyi, melakukan yang perlu dilakukan dengan cara yang serba terbatas.
Di tempat itulah, bukan di tempat yang gagah atau terbuka, Malaikat Yahweh datang dan duduk. Bukan menunggu Gideon berani dulu, bukan menunggu dia keluar dari persembunyiannya. Tuhan mendatanginya tepat di tempat dia merasa kecil dan takut.
Malam ini mungkin terasa seperti itu bagimu. Bukan hari yang gagah, mungkin hari yang dijalani dengan was-was, dengan tenaga yang dihemat, dengan pekerjaan yang dikerjakan sambil menoleh ke belakang. Itu tidak membuatmu kurang layak didatangi Tuhan.
Gideon belum tahu apa-apa tentang dirinya sendiri saat itu. Dia hanya sedang mengirik gandum di tempat yang salah karena takut. Tapi justru di situ panggilan dimulai.
Hari ini
Sebutkan satu hal hari ini yang kamu kerjakan sambil sembunyi-sembunyi karena takut atau lelah, lalu ucapkan dengan suara pelan, 'Tuhan, Engkau tahu aku di sini,' sebelum kamu menutup hari ini.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
13Namun, pegawai-pegawainya mendekati dan berkata kepadanya, serta berkata, “Bapakku, jika nabi itu mengatakan hal-hal yang sukar kepadamu, apakah engkau tidak akan melakukannya? Bahkan, terlebih lagi dia hanya mengatakan kepadamu untuk mandi dan engkau akan menjadi tahir.”
17Kemudian, Yesus berkata kepada orang itu, “Bukankah ada sepuluh orang yang telah ditahirkan? Di manakah sembilan orang yang lain?
18Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?
2Lalu, TUHAN menjawabku, kata-Nya, “Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirlah di atas loh-loh, supaya mereka yang membacanya dapat berlari.
3Sebab, penglihatan itu masih menanti waktu yang ditentukan, itu akan segera menuju kesudahannya dan tidak akan berdusta. Meski terlambat, nantikanlah itu. Sebab, itu sungguh-sungguh akan datang, itu tidak akan ditunda-tunda.
11Malaikat TUHAN datang dan duduk di bawah pohon Tarbantin di Ofra milik Yoas, orang Abiezer. Gideon, anaknya, sedang mengirik gandum di tempat pemerasan anggur agar tersembunyi dari orang Midian.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam