With the Word
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Kejadian 8:11, Matius 20:9-10, Matius 18:22 and Nehemia 8:8.
☀ Momen pagi
Lalu, merpati itu kembali kepadanya pada sore hari, dan lihat, sehelai daun zaitun yang baru terpetik ada di paruhnya. Dengan demikian, Nuh mengetahui bahwa air telah surut dari permukaan bumi.
Kejadian 8:11
Merpati itu nyaris tidak pulang.
Burung merpati tidak bisa hinggap di atas air. Kakinya butuh pijakan yang kering dan hidup, bukan permukaan yang basah dan mengambang. Itu sebabnya ketika Nuh melepaskannya pertama kali, ia kembali dengan paruh kosong, sebab di seluruh bumi belum ada tempat untuk berdiri. Tapi tujuh hari kemudian, merpati itu dilepas lagi, dan kali ini ia pulang membawa daun zaitun yang baru dipetik, tanda bahwa di suatu tempat, jauh dari pandangan Nuh, kehidupan sudah mulai tumbuh lagi.
Mungkin itu sebabnya Kitab Suci berulang kali memilih merpati, bukan gagak yang bisa makan bangkai dan bertahan di mana saja. Merpati hanya tenang kalau ada tempat berpijak yang hidup. Saat Yesus dibaptis di sungai Yordan, Roh Allah turun seperti merpati, dan Ia tidak sekadar lewat, Ia tinggal, menetap di atas-Nya. Bukan burung yang terus berputar mencari, tapi yang akhirnya menemukan rumahnya.
Pagi ini mungkin terasa seperti merpati pertama, terbang di atas hari yang masih tampak seperti air tanpa ujung: jadwal yang padat, kabar yang belum pasti, beban yang belum reda. Tapi ajakan hari ini bukan untuk terbang lebih kencang, melainkan untuk melihat lebih dekat, mencari satu daun hijau kecil yang menunjukkan bahwa kehidupan sedang bertunas di suatu tempat, bahkan hari ini.
Hari ini
Sebelum berangkat beraktivitas, tuliskan satu tanda kecil kehidupan yang kamu temukan pagi ini, entah itu cahaya matahari, pesan singkat dari seseorang, atau napas yang masih bisa kamu tarik, lalu ucapkan syukur untuk itu dengan suara pelan.
✦ Momen siang
Ketika mereka yang dipekerjakan pada jam kesebelas, datang, masing-masing orang menerima 1 dinar. Ketika mereka yang dipekerjakan pertama kali, datang, mereka mengira akan menerima lebih banyak. Namun, mereka masing-masing juga menerima 1 dinar.
Matius 20:9-10
Satu dinar itu kecil, hanya sekeping perak seukuran kuku jempol, dicetak dengan wajah kaisar di satu sisi. Tapi beratnya di tangan seorang buruh harian jauh lebih besar dari ukurannya. Satu dinar adalah upah satu hari kerja, cukup untuk membeli roti bagi keluarganya sampai besok, tidak lebih, tidak kurang. Tidak ada tabungan di balik koin itu, hanya kebutuhan hari itu yang terpenuhi.
Di ladang anggur itu ada yang bekerja sejak pagi, ada yang baru masuk jam lima sore. Semuanya pulang membawa koin yang sama. Yang bekerja sejak subuh menghitung ulang, membandingkan jam kerja mereka dengan jam kerja orang lain, dan merasa dirugikan. Padahal tuan itu memberi tepat seperti yang dijanjikan di pagi hari, satu dinar, cukup untuk satu hari.
Hari ini kamu juga sedang menghitung jam. Berapa banyak yang sudah kamu kerjakan, berapa yang belum, siapa yang kelihatannya mendapat tugas lebih ringan. Perhitungan itu wajar, tapi sering membuat kita lupa bahwa yang kita butuhkan hari ini bukan lebih dari orang lain, melainkan cukup untuk hari ini.
Hari ini
Makan siang ini, berhenti sejenak dari perbandingan itu. Pikirkan satu rekan kerja yang menurutmu mendapat bagian lebih mudah hari ini, lalu kirim pesan singkat yang menyemangati dia, bukan yang menghitung siapa lebih berjasa.
◐ Momen sore
Yesus berkata kepadanya, “Aku tidak mengatakan kepadamu sampai 7 kali tetapi sampai 70 kali 7 kali.
Matius 18:22
Tujuh jari terangkat di depan dada Petrus. Ia baru saja menghitung, merasa sudah sangat murah hati, bahkan berlebihan menurut ukuran biasa: tujuh kali mengampuni saudara yang bersalah. Para rabi biasa mengajarkan tiga kali sebagai batas kesabaran manusia. Tujuh kali sudah jauh melampaui itu, pantas kalau Petrus merasa dirinya murah hati.
Lalu Yesus menjawab dengan angka yang jauh lebih liar: tujuh puluh kali tujuh kali. Angka itu bukan sembarang hiperbola. Ratusan tahun sebelumnya, Lamekh keturunan Kain menyanyikan lagu balas dendam dengan angka yang sama persis, jika Kain dibalas tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat. Lamekh memakai angka itu untuk mengukur kekejaman tanpa batas. Yesus mengambil angka yang sama persis dan membaliknya total, dari daftar dendam menjadi daftar pengampunan.
Angka ini bukan rumus yang bisa dicoret setelah genap empat ratus sembilan puluh kali. Justru di situlah letak yang menggelitik: begitu kau mulai menghitung lagi, kau sudah kembali ke logika lama, logika dendam yang dibalut sopan santun. Yesus tidak memberi batas atas supaya kita berhenti menghitung. Ia memberi angka yang mustahil dihitung supaya kita berhenti menghitung sama sekali.
Barangkali hari ini ada seseorang yang untuk kesekian kalinya mengecewakanmu, rekan kerja yang lagi-lagi lupa janjinya, atau anggota keluarga yang mengulang luka lama. Hitungan dalam dirimu mungkin sudah penuh. Firman ini tidak mengecilkan luka itu. Firman ini mengatakan bahwa pengampunan bukan sekali selesai, melainkan jalan yang harus ditempuh lagi dan lagi, seperti Lamekh menempuh jalan dendamnya lagi dan lagi.
Hari ini
Ambil selembar kertas kecil. Tuliskan nama orang yang paling sering membuatmu ingin berhenti menghitung, lalu tuliskan angka 490 di sebelahnya dan coret angka itu, sebagai tanda kau melepaskan hak untuk menghentikan pengampunan hari ini. Simpan kertas itu di dompetmu sampai besok.
☾ Momen sore
(8-9) Orang-orang Lewi membacakan kitab itu, yaitu Hukum Taurat Allah, dengan jelas, dan memberi keterangan-keterangan sehingga pembacaan itu dapat dimengerti.
Nehemia 8:8
Lampu sudah diredupkan, suara rumah mulai melambat. Inilah saat ketika hari yang tadinya ramai perlahan menemukan jeda.
Di Yerusalem, di depan pintu gerbang air, Ezra berdiri di atas mimbar kayu sejak pagi hingga tengah hari. Ia tidak sekadar membacakan gulungan Taurat, ia berhenti di tengah-tengah, menjelaskan artinya, supaya orang-orang biasa, yang sudah lama tidak mendengar firman itu dibacakan, benar-benar mengerti apa yang mereka dengar. Para Lewi berdiri di antara umat, menerjemahkan dan menguraikan, kalimat demi kalimat.
Itu bukan pembacaan cepat yang lewat begitu saja. Itu kerja yang sabar, memberi makna, menunggu sampai hati orang menangkapnya. Rakyat yang mendengar sampai menangis, sebab firman itu menyentuh sesuatu yang lama tertidur dalam diri mereka.
Mungkin hari ini juga ada firman yang kamu dengar sepintas, lalu lewat begitu saja karena kamu terlalu sibuk untuk berhenti dan mengerti artinya bagi hidupmu. Malam ini bukan waktu untuk informasi baru, tapi waktu untuk memberi makna pada apa yang sudah kamu terima.
Hari ini
Ambil satu kalimat dari bacaan Alkitabmu hari ini, atau dari ayat di atas ini. Bacakan pelan-pelan dengan suara, seolah kamu sedang menjelaskannya kepada dirimu sendiri, sampai kamu benar-benar mengerti apa yang Allah katakan kepadamu malam ini.
Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
11Lalu, merpati itu kembali kepadanya pada sore hari, dan lihat, sehelai daun zaitun yang baru terpetik ada di paruhnya. Dengan demikian, Nuh mengetahui bahwa air telah surut dari permukaan bumi.
9Ketika mereka yang dipekerjakan pada jam kesebelas, datang, masing-masing orang menerima 1 dinar.
10Ketika mereka yang dipekerjakan pertama kali, datang, mereka mengira akan menerima lebih banyak. Namun, mereka masing-masing juga menerima 1 dinar.
22Yesus berkata kepadanya, “Aku tidak mengatakan kepadamu sampai 7 kali tetapi sampai 70 kali 7 kali.
8(8-9) Orang-orang Lewi membacakan kitab itu, yaitu Hukum Taurat Allah, dengan jelas, dan memberi keterangan-keterangan sehingga pembacaan itu dapat dimengerti.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam