Tenang dalam pemeliharaan Bapa
Tenang dan percaya
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Matius 6:26, Amsal 15:1, Pengkhotbah 4:4 and Mazmur 127:2.
☀ Momen pagi
Lihatlah burung-burung di langit yang tidak menabur, tidak menuai, dan tidak mengumpulkan ke dalam lumbung, tetapi Bapa surgawimu memberi mereka makan. Bukankah kamu lebih berharga daripada mereka?
Matius 6:26
Seekor burung gereja tidak menyimpan biji-bijian untuk minggu depan. Ia tidak punya lemari es, tidak punya rekening tabungan, tidak punya rencana lima tahun. Pagi ini ia bangun, mencari makan, dan menemukannya, atau tidak, dan tetap bernyanyi juga. Begitu setiap hari, sepanjang hidupnya yang singkat.
Yesus menunjuk ke burung-burung itu bukan untuk membuat kita malas, tetapi untuk mengendurkan genggaman kita yang terlalu erat pada hari ini.
Hari Senin sering datang dengan daftar panjang di kepala. Pekerjaan yang belum selesai, tagihan, percakapan yang harus dilakukan, kekhawatiran yang belum punya nama. Sebelum kaki menyentuh lantai, pikiran sudah berlari.
Tetapi Bapa yang memberi makan burung pipit juga tahu namamu. Ia tahu apa yang ada di kalendermu hari ini, dan apa yang menekan di dadamu. Engkau jauh lebih berharga bagi-Nya daripada seluruh kawanan burung di langit.
Itu tidak berarti hari ini akan mudah. Itu berarti engkau tidak berjalan sendirian ke dalamnya. Yang memberi makan burung, memberi cukup untuk hari ini juga bagimu.
Mulailah pagi ini dengan tarikan napas yang tenang. Serahkan daftarmu kepada-Nya, satu per satu, lalu melangkahlah.
Persembahkan hari ini →✦ Momen siang
Jawaban yang lembut meredakan kemurkaan, tetapi perkataan yang menyakitkan mendatangkan kemarahan.
Amsal 15:1
Salomo menulis peribahasa ini di istana, di tengah pejabat yang saling menusuk dengan kata-kata halus dan tajam. Ia tahu betul bagaimana satu kalimat bisa meruntuhkan seharian kerja, atau justru menyelamatkannya.
Sekarang jam makan siang. Mungkin ada email tadi pagi yang membuat rahangmu mengeras. Mungkin ada rekan yang bicaranya menyinggung, atau atasan yang menuntut tanpa terima kasih.
Di kepalamu sudah tersusun jawaban tajam. Kata-kata yang benar, yang pantas, yang akan membuatnya diam. Amsal tidak menyangkal bahwa kamu benar. Amsal hanya bertanya: apa buahnya?
Jawaban lembut bukan berarti lemah. Justru sebaliknya, butuh kekuatan besar untuk menahan lidah ketika darah sudah naik. Itu kekuatan yang lahir dari hati yang tenang, hati yang tahu bahwa Tuhan melihat dan Tuhan membela.
Yesus sendiri, ketika difitnah, sering diam. Bukan karena Ia tidak punya jawaban, tapi karena Ia tahu kepada siapa Ia mempercayakan diri-Nya.
Sebelum kamu kembali ke meja kerja, ambil napas. Percakapan sulit yang menantimu sore ini, biarlah dimulai dengan kata yang lembut. Bukan demi orang itu saja, tapi demi hatimu sendiri, supaya tidak ikut terbakar.
Persembahkan hari ini →◐ Momen sore
Kemudian, aku melihat bahwa segala kerja keras dan segala keterampilan kerja adalah kecemburuan orang terhadap sesamanya. Ini pun kesia-siaan dan usaha mengejar angin.
Pengkhotbah 4:4
Bekerja keras adalah kebajikan, begitu kata dunia sekitar kita. Semakin giat, semakin layak. Semakin banyak yang dicapai, semakin bernilai hidup kita. Tetapi Pengkhotbah menaruh pisau di bawah semua itu dan bertanya: apa sebenarnya mesin yang menggerakkan kerja kerasmu?
Iri hati, katanya. Bukan panggilan, bukan cinta, bukan syukur. Melainkan tatapan tetangga. Apa yang ia miliki, apa yang ia capai, bagaimana ia dipandang orang lain.
Itu kata yang keras di tengah hari Senin. Sebab kalau kita jujur, sebagian dari energi kita memang berasal dari sana. Dari perbandingan diam-diam. Dari rasa tertinggal. Dari keinginan supaya orang lain melihat.
Dan Pengkhotbah tidak buru-buru menghibur. Ia menyebutnya kesia-siaan, mengejar angin. Kerja yang lahir dari iri hati tidak akan pernah cukup, karena tetangga akan selalu ada, dan selalu ada yang lebih.
Mungkin siang ini bukan waktunya menambah target, tetapi waktunya berhenti sebentar dan bertanya: untuk siapa aku sebenarnya bekerja? Untuk Tuhan yang telah memanggilku, atau untuk mata yang menilai dari samping?
Jawabannya mungkin tidak nyaman. Tetapi pertanyaan itu sendiri sudah merupakan rahmat.
Persembahkan hari ini →☾ Momen sore
Sia-sia kamu bangun pagi-pagi dan tinggal duduk malam-malam, memakan roti kerja kerasmu, ya, karena Dia mengaruniakan bagi yang dikasihi-Nya saat tidurnya.
Mazmur 127:2
Lampu di ruang tamu sudah diredupkan. Hari Senin ini akhirnya melepaskan pegangannya.
Mungkin ada satu percakapan yang masih berputar di kepalamu. Email yang belum dibalas. Daftar tugas untuk besok yang diam-diam sudah mulai menyusun dirinya sendiri. Pemazmur mengenal perasaan itu, bangun terlalu pagi, tidur terlalu larut, memakan roti yang diperoleh dengan susah payah.
Dan di tengah semua itu, satu kalimat yang lembut: Ia memberikan tidur kepada yang dikasihi-Nya. Bukan sebagai hadiah untuk yang paling produktif. Bukan sebagai upah bagi yang paling rohani. Tidur itu diberikan, cuma-cuma, kepada mereka yang dikasihi-Nya. Dan itu termasuk kamu, malam ini.
Apa yang belum selesai hari ini boleh tetap belum selesai. Dunia tidak berhenti berputar karena kamu berhenti sebentar. Justru sebaliknya, Ia yang menjaga Israel tidak terlelap dan tidak tertidur, sehingga kamu boleh.
Coba letakkan hari ini di tangan-Nya, satu per satu. Yang berhasil, ucapkan syukur. Yang gagal, titipkan pada belas kasihan-Nya. Yang belum jelas, biarkan Ia yang menenun sementara kamu istirahat.
Malam ini kamu tidak perlu menjadi kuat. Kamu hanya perlu menjadi yang dikasihi.
Persembahkan hari ini →Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
26Lihatlah burung-burung di langit yang tidak menabur, tidak menuai, dan tidak mengumpulkan ke dalam lumbung, tetapi Bapa surgawimu memberi mereka makan. Bukankah kamu lebih berharga daripada mereka?
1Jawaban yang lembut meredakan kemurkaan, tetapi perkataan yang menyakitkan mendatangkan kemarahan.
4Kemudian, aku melihat bahwa segala kerja keras dan segala keterampilan kerja adalah kecemburuan orang terhadap sesamanya. Ini pun kesia-siaan dan usaha mengejar angin.
2Sia-sia kamu bangun pagi-pagi dan tinggal duduk malam-malam, memakan roti kerja kerasmu, ya, karena Dia mengaruniakan bagi yang dikasihi-Nya saat tidurnya.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam