Percaya pada Dia yang menjaga langkahmu
Percaya dan dijaga
Renungan singkat untuk direnungkan dengan tenang, diambil dari bagian Alkitab dalam Mazmur 143:8, Amsal 16:3, Lukas 13:8-9 and Mazmur 121:3-4.
☀ Momen pagi
Biarlah aku mendengarkan kasih setia-Mu pada waktu pagi, karena kepada-Mu aku percaya. Beritahukan aku jalan yang harus kutempuh, karena kepada-Mu aku mengangkat jiwaku.
Mazmur 143:8
Apakah Tuhan benar-benar tahu apa yang menunggu aku hari ini? Pertanyaan itu jarang diucapkan dengan suara keras. Ia muncul di detik-detik antara bunyi alarm dan langkah pertama ke lantai yang dingin, ketika daftar tugas hari Selasa sudah terasa lebih panjang daripada tenaga yang kita punya.
Daud tidak memulai paginya dengan meminta agar bebannya diangkat. Ia meminta satu hal lebih dahulu: agar ia mendengar kasih setia Allah. Bukan penjelasan, bukan jalan pintas, melainkan pengingat sederhana bahwa Allah masih setia kepadanya.
Kasih setia itu tidak berubah oleh isi kalender kita. Rapat yang menegangkan, kelas yang membosankan, pekerjaan rumah yang tidak pernah habis, percakapan yang sudah kita tunda sejak minggu lalu, semuanya berlangsung di dalam pemeliharaan-Nya.
Baru sesudah itu Daud bertanya tentang jalan yang harus ia tempuh. Urutannya penting. Kita cenderung menuntut petunjuk lebih dahulu, sebelum kita percaya kepada hati Allah. Namun arah selalu lebih mudah dipercaya ketika kita mengenal siapa yang memberikannya.
Jadi mulailah hari ini dengan mengangkat jiwamu kepada-Nya, bukan dengan memikul semuanya sendiri. Katakan saja dengan sederhana: aku percaya kepada-Mu, tunjukkanlah langkah berikutnya.
Hari ini tidak menuntut seluruh kekuatanmu sekaligus. Hanya satu langkah, bersama Dia yang sudah lebih dahulu berjalan di depanmu.
Persembahkan hari ini →✦ Momen siang
Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka rencana-rencanamu akan ditegakkan.
Amsal 16:3
Tuhan tidak terkesan oleh panjangnya daftar tugasmu.
Dia melihat hal lain: siapa yang menurutmu memegang kendali sejak pagi ini. Rapat yang bergeser, pesan yang menumpuk, tenggat sore yang mengintai. Semuanya terasa seperti bebanmu sendiri, dan diam-diam kamu memikulnya seolah tidak ada Bapa di atas sana.
Kata yang dipakai dalam ayat ini punya arti yang sangat jasmani: menggulingkan. Seperti batu berat yang digulingkan dari punggungmu ke tempat lain. Bukan diletakkan setengah, lalu diambil kembali dua menit kemudian.
Dan perhatikan, ayat ini tidak menyuruhmu berhenti bekerja. Pekerjaanmu tetap pekerjaanmu. Yang berubah adalah siapa yang menanggung hasilnya. Kamu mengerjakan bagianmu; Dia yang meneguhkan rencananya.
Itu sebabnya setengah hari yang sudah lewat tidak perlu menentukan suasana hatimu untuk setengah hari berikutnya. Kalau paginya kacau, siang ini kamu boleh mulai lagi, dengan tangan yang lebih longgar.
Jadi ambil satu tugas yang paling membuatmu tegang hari ini. Sebutkan namanya dalam hati, lalu katakan kepada Tuhan: ini Kauurus bersamaku. Tidak perlu doa yang panjang. Cukup satu kalimat jujur di antara dua tugas.
Lalu kembalilah bekerja. Bukan sebagai orang yang harus menyelamatkan segalanya, melainkan sebagai orang yang tahu bahwa bebannya sudah digulingkan ke tangan yang jauh lebih kuat.
Persembahkan hari ini →◐ Momen sore
Akan tetapi, tukang kebun itu menjawab, ‘Tuan, berikan pohon itu kesempatan lagi tahun ini untuk berbuah. Biarlah aku menggali tanah di sekitarnya dan memberinya pupuk, mungkin pohon itu akan menghasilkan buah tahun depan. Jika tidak berbuah juga, Tuan bisa menebangnya.’”
Lukas 13:8-9
Tanah di sekeliling akar itu keras dan kering, penuh serat akar tua. Pemilik kebun sudah berjalan ke sana tiga kali, tiga tahun berturut-turut, dan tiga kali pula tangannya kembali kosong. Kapak sudah dekat. Lalu seorang tukang kebun dengan lumpur di lututnya berdiri di antara pohon itu dan pemiliknya.
Yang mengganggu dari perumpamaan ini bukan ancaman penebangan. Yang mengganggu adalah bahwa pohon itu memang benar-benar tidak berbuah. Tuduhannya tidak salah.
Dan tetap ada tahun tambahan. Bukan tahun untuk dibiarkan tenang saja, perhatikan isinya: ada cangkul, ada pupuk, ada tanah yang dibongkar sampai akar terasa. Kasih karunia tidak selalu berarti dibiarkan seperti apa adanya.
Selasa siang, di tengah tumpukan pekerjaan yang mirip seperti minggu lalu, pertanyaan itu terasa tajam. Apa yang sungguh tumbuh dari tiga tahun terakhir hidupku? Bukan apa yang sudah kucapai, melainkan apa yang berbuah bagi orang lain.
Yesus tidak menutup cerita ini. Kita tidak pernah diberi tahu apakah pohon itu akhirnya berbuah. Bagian itu dibiarkan terbuka, mungkin karena bagian itu memang belum selesai.
Hari ini masih tahun tambahan itu. Dan yang berdiri membela pohon itu, dengan tanah di tangan-Nya, adalah Dia yang tahu persis betapa lambatnya kita bertumbuh.
Persembahkan hari ini →☾ Momen sore
Dia takkan membiarkan kakimu goyah, yang menjagamu takkan tertidur. Sebenarnya, Dia yang menjaga Israel, takkan terkantuk ataupun tertidur.
Mazmur 121:3-4
Seorang gembala di Israel kuno tidak pulang ketika matahari terbenam. Ia menuntun kawanannya masuk ke kandang batu, lalu duduk di celah pintunya, tubuhnya sendiri menjadi palang. Sepanjang malam ia terjaga: mendengar gemerisik di lereng, mengawasi bayang-bayang, menahan kantuk sampai fajar menyingsing.
Itulah gambar yang dipakai pemazmur untuk Allah. Bukan pelindung yang jauh dan sibuk, melainkan Penjaga yang duduk di ambang malammu.
Hari ini kamu mungkin sudah cukup terjaga. Pekerjaan yang belum tuntas, pesan yang belum dibalas, anak yang harus diantar besok pagi, percakapan yang masih berputar di kepala. Ada bagian dari hari ini yang tidak bisa kamu selesaikan malam ini, dan itu tidak apa-apa.
Justru di situlah ayat ini mulai bekerja. Kamu boleh tidur, bukan karena semuanya sudah beres, tetapi karena ada Satu yang tidak perlu tidur. Kewaspadaanmu bukanlah yang menahan dunia tetap berputar.
Sebelum matamu terpejam, sebutkan satu hal kecil dari hari ini yang baik. Secangkir minuman hangat, seseorang yang bertanya kabarmu, satu tugas yang akhirnya selesai. Syukur mengubah cara kita meletakkan hari.
Lalu serahkan sisanya. Tuhan, Engkau menjagaku. Aku tidak perlu berjaga atas apa yang sudah Engkau pegang. Tutup matamu dengan tenang. Dia tetap terjaga.
Persembahkan hari ini →Baca perikop ini dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT)
Ketuk sebuah bagian untuk membaca teks lengkapnya di sini.
8Biarlah aku mendengarkan kasih setia-Mu pada waktu pagi, karena kepada-Mu aku percaya. Beritahukan aku jalan yang harus kutempuh, karena kepada-Mu aku mengangkat jiwaku.
3Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka rencana-rencanamu akan ditegakkan.
8Akan tetapi, tukang kebun itu menjawab, ‘Tuan, berikan pohon itu kesempatan lagi tahun ini untuk berbuah. Biarlah aku menggali tanah di sekitarnya dan memberinya pupuk,
9mungkin pohon itu akan menghasilkan buah tahun depan. Jika tidak berbuah juga, Tuan bisa menebangnya.’”
3Dia takkan membiarkan kakimu goyah, yang menjagamu takkan tertidur.
4Sebenarnya, Dia yang menjaga Israel, takkan terkantuk ataupun tertidur.
Ingin menggali lebih dalam?
Untuk setiap ayat dalam renungan ini, Anda bisa memperoleh penjelasan Alkitab yang mendalam beserta konteks, latar belakang, dan penerapannya.
Mulai penelusuran mendalam