Siapa Yudas Iskariot: Murid yang Menjual Yesus dan Pelajaran dari Kejatuhannya
Pendahuluan
Bayangkan sebuah kotak kayu kecil yang berisi uang. Tidak besar, tidak mengesankan. Di dalamnya ada persembahan dari beberapa perempuan yang mendukung pelayanan Yesus, sedikit uang untuk membeli roti, sedikit lagi untuk diberikan kepada orang miskin di jalan. Kotak itu dipegang oleh seorang murid yang dipercaya oleh sebelas orang lainnya. Setiap hari ia membukanya, menghitung, menutupnya kembali. Dan setiap hari, sedikit demi sedikit, ada yang hilang, tanpa ada yang tahu.
Ketika kita mendengar nama Yudas Iskariot, kita langsung membayangkan ciuman di taman Getsemani. Tetapi malam itu bukan awal kejatuhannya; malam itu hanya panen dari benih yang sudah lama ditanam. Di halaman ini Anda akan menyusuri hidup Yudas dari awal sampai akhir, dengan jujur, dan menemukan mengapa kisahnya bukan sekadar peringatan tentang seorang pengkhianat, melainkan cermin yang tajam bagi hati kita sendiri.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca hidup Yudas bukan dari ciumannya di Getsemani, melainkan dari kotak uang yang dipegangnya bertahun-tahun. Alkitab memberi kita satu petunjuk kecil yang mengerikan: ia seorang pencuri (Yohanes 12:6). Artinya, pengkhianatan besar itu tumbuh dari kompromi-kompromi kecil yang tidak pernah dibawa ke terang. Sudut pandang ini penting karena melindungi kita dari kesimpulan yang menenangkan diri, bahwa Yudas adalah monster khusus yang tidak ada hubungannya dengan kita. Kejatuhannya justru terjadi dengan cara yang paling biasa: perlahan, tersembunyi, sopan di luar. Dan di ujungnya, kita akan melihat perbedaan yang menyelamatkan antara menyesal dan bertobat.
Apa kata Alkitab tentang Yudas Iskariot?
Alkitab tidak banyak bicara tentang Yudas, tetapi setiap kali ia disebut, hampir selalu ada catatan tambahan yang menempel pada namanya. Ketika keempat Injil mendaftarkan kedua belas murid, Yudas selalu disebut terakhir, dengan keterangan "yang mengkhianati Dia". Namanya sendiri sebenarnya nama yang indah. Yudas, atau Yehuda, berarti "pujian" atau "yang dipuji", nama kesukaan orang Yahudi karena mengingatkan pada suku Yehuda, suku raja. Sebutan "Iskariot" paling mungkin berarti "orang dari Keriot", sebuah kota di wilayah Yudea bagian selatan. Kalau benar demikian, ia satu-satunya murid yang bukan orang Galilea, orang luar di tengah kelompok nelayan dari utara.
Yang sering kita lewati adalah ini: Yudas dipilih. Yesus memanggilnya dengan nama, memasukkannya ke dalam lingkaran dua belas, mengutusnya memberitakan Kerajaan, memberinya kuasa atas roh-roh jahat. Selama bertahun-tahun ia mendengar setiap pengajaran, melihat setiap mukjizat, ikut makan dari lima roti yang dibagi untuk lima ribu orang. Tidak ada satu pun catatan bahwa murid-murid lain mencurigainya. Sebaliknya, mereka mempercayakan kas bersama kepadanya.
Tetapi Yesus tahu. Di Kapernaum, setelah banyak orang berbalik meninggalkan-Nya, Yesus berkata bahwa satu di antara kedua belas murid itu adalah Iblis, dan Yohanes menambahkan penjelasan: "Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu." (Yohanes 6:71). Perhatikan waktunya. Ini terjadi jauh sebelum Getsemani. Sudah lama sebelum malam itu, ada sesuatu yang bengkok di dalam hati Yudas, dan Yesus melihatnya, dan Yesus tetap membiarkannya berada di meja yang sama.
Kebengkokan itu diberi nama dengan sangat konkret di Betania. Ketika Maria mencurahkan minyak narwastu yang mahal ke kaki Yesus, Yudas protes bahwa uang sebesar itu seharusnya diberikan kepada orang miskin. Kedengarannya rohani. Kedengarannya peduli. Lalu Yohanes membuka tirainya: "Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya." (Yohanes 12:6). Kata "sering" itu yang menusuk. Bukan sekali dalam keadaan terdesak, melainkan kebiasaan yang dirawat.
Dari situ langkah berikutnya terasa hampir wajar. Yudas pergi kepada imam-imam kepala dan menawarkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: "dan berkata: 'Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?' Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya." (Matius 26:15). Ia tidak menyebut harga. Ia bertanya penawaran. Orang yang sudah terbiasa mengambil sedikit dari kas akhirnya sanggup menjual Gurunya, dan menyerahkan penentuan harganya kepada orang lain.
Puncaknya terjadi di ruang perjamuan. Yesus menyuapkan roti kepadanya, tanda persahabatan yang paling hangat dalam budaya itu, dan justru pada momen itu pintu hati Yudas terbuka lebar bagi kegelapan: "Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia dikuasai Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: 'Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.'" (Yohanes 13:27). Beberapa saat kemudian Yohanes mencatat kalimat yang terasa seperti nubuat tentang jiwa: "Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam."
Dosa yang disembunyikan jarang tinggal kecil.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Kisah pengkhianatan oleh sahabat yang duduk di meja yang sama bukan hal baru dalam Alkitab. Daud pernah mengalaminya. Ada Ahitofel, penasihat yang paling dipercayainya, yang membelot kepada Absalom. Dari luka itu keluar ratapan yang kemudian dipakai Yesus tentang diri-Nya sendiri: "Bahkan sahabatku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku." (Mazmur 41:10).
Kalimat itu perlu dirasakan pelan-pelan. Makan roti bersama, dalam dunia Timur Tengah, adalah ikatan perjanjian. Engkau tidak berbagi meja dengan orang yang hendak kaulukai. "Mengangkat tumit" adalah gambaran kuda yang menendang pemiliknya, atau orang yang menginjak leher lawan yang sudah jatuh. Jadi Mazmur 41 melukiskan luka yang paling khas manusia: dikhianati bukan oleh musuh, melainkan oleh orang yang mengenal rasa masakan kita.
Di ruang atas, Yesus sengaja mengutip mazmur itu. Ia berkata kepada murid-murid-Nya bahwa Ia tahu siapa yang telah dipilih-Nya, tetapi hal ini terjadi supaya genaplah nas: "Orang yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku." (Yohanes 13:18). Dengan kalimat itu Yesus menempatkan diri-Nya di dalam garis panjang penderitaan orang-orang benar, dan sekaligus melampauinya. Daud dikhianati dan kehilangan takhtanya sementara. Yesus dikhianati dan kehilangan nyawa-Nya, supaya kita memperoleh hidup.
Benang merah lain berjalan melalui uang. Tiga puluh uang perak bukan angka sembarangan. Dalam Keluaran 21:32, itu adalah ganti rugi yang harus dibayar bila seekor lembu menanduk seorang hamba sampai mati. Harga seorang budak. Itulah nilai yang diberikan para pemimpin agama kepada Anak Allah. Nabi Zakharia sudah menubuatkan adegan ini dengan getir, ketika gembala yang ditolak menerima upah tiga puluh uang perak dan melemparkannya kembali ke dalam rumah TUHAN. Maka ketika Yudas melempar uang itu ke Bait Suci, ia sedang memerankan sebuah nubuat tanpa menyadarinya.
Dan di sini kita melihat sesuatu yang menakjubkan tentang cara Allah bekerja. Pengkhianatan Yudas adalah kejahatan sejati, dan Yudas bertanggung jawab penuh atasnya. Tetapi kejahatan itu tidak menggagalkan rencana penyelamatan; kejahatan itu justru dipakai untuk menggenapinya. Petrus kemudian berkhotbah bahwa Kitab Suci harus digenapi mengenai Yudas, sekaligus menyebut penyaliban sebagai perbuatan tangan orang-orang durhaka. Dua hal itu berdiri bersama di dalam Alkitab tanpa saling meniadakan.
Salib adalah tempat semua garis bertemu. Di sana ratapan Daud menemukan gemanya yang paling dalam, harga seorang budak menjadi harga penebusan seluruh dunia, dan seorang murid yang menjual Gurunya justru membuka jalan bagi Gurunya untuk membeli kembali umat manusia dengan darah-Nya sendiri.
Inti hidupnya
Ada tiga momen yang menentukan arah hidup Yudas, dan yang menarik, tidak satu pun dari ketiganya adalah ciuman di Getsemani. Ciuman itu hanya tanda tangan di bawah keputusan yang sudah diambil jauh sebelumnya.
Momen pertama adalah pemilihannya menjadi salah satu dari kedua belas murid. Lukas mencatat bahwa Yesus berdoa sepanjang malam sebelum memilih mereka. Jadi Yudas bukan kecelakaan administrasi. Ia mendapat hak istimewa yang diimpikan para nabi: tinggal bersama Mesias, mendengar pengajaran-Nya dari jarak satu meter, diutus dengan kuasa untuk menyembuhkan dan mengusir roh jahat. Yudas pernah melayani. Yudas pernah berkhotbah. Yudas mungkin pernah melihat orang sakit menjadi sehat karena doanya. Dan itulah yang membuat hidupnya begitu mengerikan: hak istimewa rohani, sebesar apa pun, tidak otomatis mengubah hati. Seseorang bisa berdiri sangat dekat dengan Yesus dan tetap tidak menyerahkan hatinya kepada-Nya.
Momen kedua adalah Betania. Rumah itu penuh bau minyak narwastu yang mahal, dan sementara Maria menangis di kaki Yesus, Yudas sedang menghitung. Di titik inilah dua sistem nilai bertabrakan secara terbuka. Maria melihat Yesus dan berpikir, "tidak ada yang terlalu mahal untuk Dia." Yudas melihat Yesus dan berpikir, "seharusnya ada untung yang bisa diambil dari Dia." Dalam bahasa Yohanes, Yudas memang sudah lama memandang pelayanan sebagai peluang, bukan sebagai penyerahan. Ketika protesnya ditolak Yesus di depan semua orang, sesuatu di dalam dirinya pecah. Injil Matius dan Markus menempatkan kesepakatannya dengan imam-imam kepala langsung setelah peristiwa itu. Kekecewaan yang tidak dibawa kepada Tuhan akan dijual kepada pihak lain.
Momen ketiga adalah roti yang disuapkan di ruang atas. Yesus sudah lebih dulu membasuh kaki Yudas, termasuk kaki yang beberapa jam kemudian akan berjalan ke istana Kayafas. Lalu Yesus memberi tanda yang begitu halus sehingga murid-murid lain tidak menangkapnya: sepotong roti yang dicelupkan, diberikan langsung kepada tamu yang paling dihormati. Itu adalah undangan terakhir, kasih yang menawarkan diri dengan tangan terbuka. Dan justru di titik itu Yudas memutuskan untuk menutup pintu. "Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia dikuasai Iblis." (Yohanes 13:27). Kegelapan tidak merebut Yudas dengan kekerasan; kegelapan dipersilakan masuk.
Sisa hidupnya berlangsung cepat. Ciuman di taman, dengan panggilan "Salam Rabi", dan pertanyaan Yesus yang hampir tak tertahankan lembutnya, "Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan cium?" Lalu penyesalan yang datang terlambat, uang yang dikembalikan, para imam yang mencuci tangan, dan akhir yang mengerikan. "Maka ia pun melemparkan uang itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri." (Matius 27:5). Lukas mencatat akibat lanjutannya di tanah itu: "Yudas ini telah membeli sebidang tanah dengan upah kejahatannya, lalu ia jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar." (Kisah Para Rasul 1:18). Tanah itu kemudian disebut Hakal-dama, Tanah Darah. Uang yang dikumpulkan diam-diam dari kotak kecil akhirnya membeli sebuah kuburan.
Yang kita pelajari dari Yudas Iskariot
Pelajaran pertama: kejatuhan hampir selalu bertahap. Tidak ada orang yang bangun pagi dan langsung memutuskan menjual Yesus. Yang ada adalah pengambilan kecil dari kas yang tidak pernah diakui, pikiran yang dipelihara dalam gelap, kekecewaan yang disimpan tanpa pernah diucapkan dalam doa. Yohanes 12:6 memberi tahu kita bahwa Yudas "sering" mengambil uang itu. Dosa yang berulang tanpa pernah dibawa ke terang perlahan membentuk kapasitas baru di dalam diri kita, kapasitas untuk hal yang dulu tak terpikirkan. Karena itu pertanyaan paling mendesak bagi kita bukan, "apakah saya sanggup mengkhianati Yesus?", melainkan, "adakah hal kecil dalam hidup saya yang saya jaga supaya tidak pernah terkena cahaya?"
Pelajaran kedua: kedekatan bukan jaminan. Yudas hidup tiga tahun dalam radius pelukan Yesus. Ia ikut dalam pelayanan, mungkin ikut menyanyi mazmur di jalan menuju Yerusalem, dan tetap binasa. Aktivitas rohani bisa menjadi tempat persembunyian yang paling rapi bagi hati yang belum menyerah. Kita bisa aktif di gereja, hafal ayat, bahkan dipercaya memegang keuangan pelayanan, sementara Kristus belum benar-benar menjadi harta kita. Dekat dengan pelayanan belum berarti dekat dengan Tuhan.
Pelajaran ketiga, dan ini yang paling membebaskan: ada perbedaan besar antara menyesal dan bertobat. Matius 27:3 mengatakan Yudas menyesal. Ia mengakui dengan jelas, "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Itu pengakuan yang secara teologis sangat benar. Tetapi ia membawa pengakuan itu kepada imam-imam kepala, bukan kepada Yesus. Ia mengembalikan uangnya, bukan dirinya. Paulus menjelaskan perbedaan ini dalam 2 Korintus 7:10: "Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan menimbulkan penyesalan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian."
Bandingkan dengan Petrus. Di malam yang sama, Petrus menyangkal Yesus tiga kali dengan kutuk. Dosanya juga besar. Bedanya, Petrus menangis lalu kembali kepada Yesus, dan di pantai Galilea ia menerima sarapan, pertanyaan tentang kasih, dan panggilan baru. Dua orang jatuh; satu berjalan pulang, satu berjalan menjauh. Di situlah kasih karunia menunjukkan wajahnya. Bukan karena dosa Petrus lebih kecil, tetapi karena Petrus membiarkan dirinya ditemukan.
Cermin
Sekarang saya ingin bicara kepada Anda, bukan tentang Yudas lagi.
Adakah "kotak uang" dalam hidup Anda? Bukan harus uang secara harfiah, walaupun bisa jadi memang uang. Mungkin itu laporan pengeluaran kantor yang Anda bulatkan sedikit ke atas. Mungkin itu jam kerja yang Anda catat tapi tidak Anda kerjakan. Mungkin itu tab yang selalu Anda tutup cepat ketika ada yang masuk ke ruangan. Mungkin itu percakapan dengan seseorang yang tidak akan pernah Anda tunjukkan kepada pasangan Anda. Mungkin itu kepahitan terhadap orang tua atau terhadap gereja yang Anda rawat pelan-pelan seperti bara kecil yang tidak pernah Anda padamkan. Yudas mengajarkan bahwa yang membahayakan bukanlah besarnya dosa, melainkan kegelapannya. Apa pun yang Anda jaga supaya tetap tidak diketahui, itulah yang paling berkuasa atas Anda.
Dan kalau Anda hari ini sedang duduk dengan tangan penuh sesal, tolong dengar ini. Yudas tidak binasa karena dosanya terlalu besar untuk diampuni. Ia binasa karena ia membawa penyesalannya ke tempat yang salah. Ia pergi ke imam-imam kepala, dan mereka menjawab dengan dingin, "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!" Itulah jawaban yang selalu diberikan dunia, dan itulah jawaban yang selalu dibisikkan si penuduh: uruslah sendiri, engkau sudah terlalu jauh, tidak ada jalan pulang.
Tetapi ada Satu yang beberapa jam sebelumnya masih menyuapkan roti ke tangan pengkhianat-Nya. Satu yang membasuh kaki yang akan berjalan menjual-Nya. Jika Yudas malam itu berjalan ke arah salib dan berkata, "Tuhan, aku yang melakukannya, kasihanilah aku," saya tidak sanggup membayangkan Yesus menolaknya. Sebab beberapa saat kemudian, dari salib itu juga, seorang perampok yang sekarat menerima janji firdaus hanya dengan satu permohonan.
Menyesal menatap ke belakang; bertobat berjalan pulang.
Ke arah mana kaki Anda menghadap hari ini?
Dijelaskan untuk anak-anak
Kisah Yudas termasuk kisah Alkitab yang paling berat untuk diceritakan kepada anak, karena berakhir dengan kematian yang mengerikan dan tanpa pemulihan. Karena itu jangan mulai dari uang perak atau dari bunuh diri. Mulailah dari persahabatan dan dari hati.
Untuk anak kecil, cukup katakan begini: Yesus punya dua belas sahabat dekat. Salah satunya bernama Yudas. Yudas ikut jalan bersama Yesus, ikut mendengar cerita-cerita Yesus, tapi di dalam hatinya ia lebih mencintai uang daripada mencintai Yesus. Diam-diam ia mengambil uang yang bukan miliknya, dan ia tidak pernah mau mengaku. Lama-lama hatinya jadi keras, sampai akhirnya ia menolong orang-orang jahat menangkap Yesus. Yesus tahu semuanya, dan Yesus tetap baik kepada Yudas sampai malam terakhir. Sedihnya, Yudas tidak mau kembali kepada Yesus untuk minta ampun.
Lalu tutup dengan kabar baik, jangan berhenti di kesedihan: ada murid lain namanya Petrus yang juga melakukan hal buruk pada malam yang sama, tapi ia kembali kepada Yesus dan diampuni. Jadi kalau kita melakukan kesalahan, jalan yang benar adalah lari kepada Yesus, bukan lari dari Yesus.
Tekankan satu kalimat sederhana yang bisa mereka ingat: tidak ada kesalahan yang terlalu besar untuk dibawa kepada Yesus. Untuk pendalaman, tersedia penjelasan khusus sesuai usia, yaitu untuk anak prasekolah (3 sampai 6 tahun) dengan bahasa yang sangat sederhana dan aman, untuk anak sekolah dasar (7 sampai 12 tahun) dengan alur cerita dan penerapan tentang kejujuran, serta untuk remaja (12 tahun ke atas) yang sudah siap membahas pertanyaan sulit seperti kehendak bebas, rencana Allah, dan bahaya hidup dengan dua wajah.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa arti nama Yudas Iskariot?
Yudas adalah bentuk Yunani dari nama Yehuda, yang berarti "pujian" atau "yang dipuji", salah satu nama paling umum dan paling terhormat di antara orang Yahudi pada zaman itu. Sebutan "Iskariot" paling sering dijelaskan sebagai "ish Keriot", yaitu "orang dari Keriot", sebuah kota di Yudea bagian selatan. Jika demikian, Yudas mungkin satu-satunya murid yang bukan berasal dari Galilea. Ada juga usulan lain, misalnya kaitan dengan kata "sicarius" yang berarti penyandang pisau atau pejuang kemerdekaan, tetapi penjelasan tentang asal daerah tetap yang paling banyak diterima.
Mengapa Yudas Iskariot menjual Yesus?
Alkitab memberi dua lapisan penjelasan. Lapisan yang jelas adalah cinta uang: Yohanes 12:6 menyebut Yudas seorang pencuri yang sering mengambil uang dari kas pelayanan, dan Matius 26:15 menunjukkan ia sendiri yang menawarkan diri dan menanyakan harga. Lapisan kedua adalah kekecewaan. Peristiwa di Betania, ketika Yesus membela Maria dan berbicara tentang penguburan-Nya, menghancurkan harapan akan Mesias yang berkuasa secara politik dan menguntungkan. Kecintaan akan uang dan harapan yang salah tentang siapa Yesus seharusnya bertemu di satu hati, dan hasilnya adalah pengkhianatan.
Berapa nilai tiga puluh uang perak pada zaman sekarang?
Tiga puluh uang perak kemungkinan besar adalah tiga puluh syikal atau tetradrakhma, yang secara kasar setara dengan upah kerja sekitar empat bulan bagi seorang pekerja harian pada masa itu. Jadi jumlahnya nyata, tetapi tidak fantastis. Yang lebih penting adalah simbolnya: menurut Keluaran 21:32, tiga puluh syikal perak adalah ganti rugi atas kematian seorang hamba. Dengan kata lain, para imam kepala menilai Yesus seharga seorang budak, dan Yudas menerima harga itu tanpa menawar.
Bagaimana Yudas Iskariot meninggal, apakah ada dua versi yang bertentangan?
Matius 27:5 mengatakan Yudas melemparkan uang itu ke dalam Bait Suci lalu pergi dan menggantung diri. Kisah Para Rasul 1:18 menggambarkan ia jatuh tertelungkup dan perutnya terbelah. Keduanya paling wajar dipahami sebagai dua sisi dari satu peristiwa: Yudas menggantung diri, lalu tubuhnya jatuh, entah karena tali atau dahan yang putus, di tanah berbatu di luar Yerusalem. Lukas juga menulis dari sudut akibat hukum, yaitu bahwa uang kejahatannya akhirnya dipakai untuk membeli tanah itu, meskipun secara teknis para imam yang membelinya.
Apakah Yudas Iskariot bisa diselamatkan seandainya ia bertobat?
Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa dosa Yudas terlalu besar untuk diampuni. Yang dicatat justru bahwa ia menyesal (Matius 27:3) tetapi membawa penyesalannya kepada imam-imam kepala, bukan kepada Yesus. Ia mengembalikan uang, bukan dirinya. Petrus, yang juga menyangkal Yesus malam itu, dipulihkan karena ia kembali. Kesaksian Alkitab tentang akhir Yudas sangat berat, termasuk ucapan Yesus dalam Matius 26:24, tetapi tragedinya bukan ampun yang kurang, melainkan pertobatan yang tidak pernah diarahkan kepada Tuhan.
Apakah Yudas sudah ditakdirkan untuk mengkhianati Yesus?
Alkitab menahan dua kebenaran sekaligus tanpa mengorbankan yang satu demi yang lain. Yesus tahu sejak awal siapa yang akan menyerahkan-Nya (Yohanes 6:71), dan Petrus berkhotbah bahwa nas Kitab Suci harus digenapi mengenai Yudas. Namun Alkitab juga menyebut perbuatan itu kejahatan yang Yudas tanggung sendiri, dan Yesus berkali-kali memberi kesempatan kepadanya, termasuk roti yang disuapkan di ruang atas. Pengetahuan Allah tidak memaksa pilihan Yudas; rencana Allah justru berjalan melalui pilihan bebas yang jahat itu tanpa membenarkannya.
Apakah Yudas ikut Perjamuan Terakhir bersama Yesus?
Yudas jelas hadir di ruang atas, ikut makan, dan bahkan kakinya dibasuh oleh Yesus. Pertanyaannya adalah apakah ia masih ada ketika roti dan cawan perjamuan dibagikan. Yohanes mencatat bahwa Yudas keluar setelah menerima roti yang disuapkan, dan pada waktu itu hari sudah malam. Urutan dalam Lukas memberi kesan ia masih di sana. Para penafsir berbeda pendapat, tetapi maknanya tidak berubah: Yesus memperlakukan pengkhianat-Nya sebagai sahabat semeja sampai detik terakhir.
Apa perbedaan penyesalan Yudas dan pertobatan Petrus?
Keduanya jatuh di malam yang sama dan keduanya merasakan sakit yang dalam. Bedanya terletak pada arah kaki mereka. Yudas pergi kepada para imam, mencari cara melunasi rasa bersalahnya, lalu menghukum dirinya sendiri. Petrus menangis, lalu tetap tinggal bersama saudara-saudaranya, dan akhirnya duduk sarapan dengan Yesus yang bangkit. 2 Korintus 7:10 menyebut yang pertama dukacita dunia yang menghasilkan kematian, dan yang kedua dukacita menurut kehendak Allah yang membawa keselamatan.
Siapa yang menggantikan Yudas sebagai rasul?
Setelah kenaikan Yesus, Petrus berdiri di antara sekitar seratus dua puluh orang dan menjelaskan dari Kitab Mazmur bahwa jabatan pelayanan Yudas harus diisi orang lain. Syaratnya jelas: ia harus orang yang selalu ikut bersama mereka sejak baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat, dan menjadi saksi kebangkitan. Dua nama diajukan, Yusuf yang disebut Barsabas atau Yustus, dan Matias. Setelah berdoa dan membuang undi, undi itu jatuh pada Matias, dan ia digabungkan dengan kesebelas rasul.
Apakah Injil Yudas yang mengatakan Yudas itu pahlawan bisa dipercaya?
Tidak. Naskah yang dikenal sebagai Injil Yudas berasal dari kalangan Gnostik pada abad kedua, jauh lebih muda daripada keempat Injil, dan mengajarkan pandangan yang bertabrakan dengan iman para rasul, misalnya bahwa dunia materi itu jahat dan Yudas sebenarnya membantu Yesus melepaskan diri dari tubuh. Dokumen ini menarik secara sejarah sebagai catatan sebuah aliran kuno, tetapi tidak pernah diterima sebagai kesaksian yang dapat dipercaya tentang Yesus, dan tidak sejalan dengan Kitab Suci.
Mengapa Yesus memilih Yudas jika Ia tahu Yudas akan mengkhianati-Nya?
Karena Yesus tidak pernah membangun kerajaan-Nya dengan cara melindungi diri dari risiko kasih. Ia memilih Yudas, mengutusnya, memberinya kepercayaan, dan memberinya kesempatan yang sama seperti murid-murid lain. Kehadiran Yudas juga menunjukkan bahwa kedekatan lahiriah dengan Yesus tidak otomatis menyelamatkan seseorang, sebuah peringatan yang sangat dibutuhkan gereja di setiap zaman. Dan pada akhirnya, kejahatan Yudas tidak merusak rencana penyelamatan, melainkan dipakai Allah untuk menggenapi apa yang telah lama dinubuatkan.
Apakah ciuman Yudas berarti ia masih memiliki rasa sayang kepada Yesus?
Ciuman di Getsemani adalah tanda yang sudah diatur sebelumnya untuk menunjukkan siapa yang harus ditangkap dalam gelap. Yudas menyapa Yesus dengan "Salam Rabi" lalu mencium Dia, memakai bahasa hormat dan gerak kasih untuk melakukan penyerahan. Justru di situ letak kegelapannya: yang paling manis dipakai untuk yang paling kejam. Jawaban Yesus dalam Lukas 22:48 menelanjangi hal itu dengan lembut, "Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan cium?" Kasih Yesus tetap memanggil namanya sampai akhir.
Sebagai penutup
Kalau kita hanya mengingat Yudas sebagai lelaki dengan ciuman palsu di taman yang gelap, kita akan pulang merasa aman, karena tidak seorang pun dari kita berencana melakukan hal seperti itu. Tetapi kalau kita mengingatnya sebagai lelaki dengan kotak uang di tangannya, yang selama bertahun-tahun mengambil sedikit dan tidak pernah mengaku, maka kisahnya berhenti menjadi sejarah orang lain dan mulai menjadi pertanyaan bagi kita. Kejatuhan besar dibangun dari kompromi-kompromi kecil yang dirawat dalam gelap.
Namun halaman ini tidak berakhir di kotak uang, melainkan di sepotong roti yang disuapkan oleh tangan yang tahu segalanya dan tetap mengulurkan diri. Kasih itu tidak pernah menarik tawarannya lebih dulu. Yang menentukan bukanlah seberapa jauh Anda sudah menyimpang, melainkan ke arah mana Anda berjalan ketika kesadaran itu datang.
Untuk melangkah lebih jauh, bacalah Yohanes 13 secara utuh dalam satu kali duduk, lalu Matius 26 sampai 27, dan akhiri dengan Yohanes 21 tentang pemulihan Petrus. Bacalah keduanya berdampingan, dan biarkan Roh Kudus menunjukkan satu hal kecil dalam hidup Anda yang perlu dibawa keluar ke terang hari ini, bukan besok.
