2 KORINTUS 9:15
Teks
Setelah dua bab penuh berbicara tentang uang, jadwal, utusan, dan rasa malu yang mungkin timbul kalau kolekte itu belum siap, Paulus tiba-tiba berhenti menghitung. Ia menutup seluruh urusan administratif itu dengan satu seruan pendek: "Syukur kepada Allah atas pemberian-Nya yang tak terkatakan!" Tidak ada penjelasan, tidak ada rincian, tidak ada kalimat lanjutan yang menerangkan pemberian mana yang dimaksud. Kalimat itu berdiri sendiri seperti napas yang ditarik keras sesudah berlari. Uang yang dikumpulkan jemaat Korintus untuk orang-orang kudus di Yerusalem ternyata bukan titik akhir; titik akhirnya adalah Allah sendiri, yang memberi sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke dalam daftar, tidak bisa ditimbang, dan menurut Paulus bahkan tidak bisa diucapkan dengan tuntas.
Inti
Kata "tak terkatakan" bukan hiasan retoris. Dalam bahasa Yunani, anekdiēgētos berarti tidak dapat diuraikan sampai selesai; bahasa kehabisan bahan sebelum sampai ke ujungnya. Di situlah letak seluruh logika teologis pasal ini. Paulus baru saja berkata bahwa Allah "sanggup melimpahkan semua anugerah" (ayat 8) dan bahwa Ia "menyediakan benih bagi penabur" (ayat 10). Artinya: setiap rupiah yang jemaat berikan pada dasarnya adalah barang pinjaman dari tangan yang lebih dahulu memberi. Kemurahan hati manusia bukan sumber, melainkan gema. Dan gema itu, kalau ditelusuri ke belakang, berakhir pada Karunia yang tidak bisa dihitung, yaitu Allah yang menyerahkan Anak-Nya sendiri. Inilah pola dasar kasih karunia: bukan transaksi antara dua pihak setara, melainkan limpahan dari Satu yang tidak pernah kekurangan kepada mereka yang tidak punya apa-apa untuk ditawarkan.
Benang Merah
Perhatikan bahwa Paulus tidak menyebut apa pemberian itu. Ia tidak perlu, sebab seluruh surat sudah mengatakannya: "Ia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita." Kolekte untuk Yerusalem hanya masuk akal kalau ada peristiwa yang lebih besar di belakangnya. Dan peristiwa itu punya akar panjang. Allah yang menyediakan manna di padang gurun, yang memerintahkan agar sudut ladang tidak dipanen supaya orang miskin bisa memungut, yang mengikat umat-Nya dalam perjanjian bukan karena mereka layak, adalah Allah yang sama. Dari Abraham sampai Kalvari, arah aliran kasih karunia selalu sama: dari atas ke bawah, dari kaya kepada bangkrut. Uang orang Korintus yang berjalan menuju Yudea hanyalah satu tetes kecil yang mengikuti arus utama itu, dan Paulus tahu persis dari mata air mana tetes itu datang.
Cermin
Yang dibongkar ayat ini adalah rasa bangga yang halus, yang muncul justru ketika kita berbuat baik. Anda mentransfer sejumlah uang untuk keluarga yang kesulitan, dan ada sesuatu di dalam yang mulai duduk lebih nyaman, seolah neraca hidup Anda sedikit membaik. Paulus memotong itu bukan dengan teguran, melainkan dengan ucapan syukur: semua yang Anda berikan sebelumnya diberikan kepada Anda. Gaji itu, tenaga itu, kesehatan yang memungkinkan Anda bekerja, bahkan dorongan hati untuk peduli, tak satu pun Anda ciptakan sendiri. Sebaliknya, ayat ini juga menghibur mereka yang merasa pemberiannya terlalu kecil untuk berarti. Ukurannya bukan jumlah Anda, melainkan Karunia yang tak terkatakan itu.
Hari ini, sebelum tidur, sebutkan dengan suara terdengar tiga hal yang Anda terima minggu ini tanpa Anda usahakan, lalu akhiri dengan kalimat Paulus sendiri: "Syukur kepada Allah atas pemberian-Nya yang tak terkatakan."
Profil
Jemaat Korintus hidup di kota pelabuhan yang sibuk, di mana pemberian hampir selalu punya kaitan sosial. Orang kaya mendanai sesuatu, namanya diukir, dan penerima menjadi terikat sebagai klien yang wajib membalas. Ketika Paulus meminta uang untuk orang Yahudi Kristen di Yerusalem, ratusan kilometer jauhnya, ia meminta sesuatu yang aneh menurut logika kota itu: pemberian kepada orang yang tidak akan pernah bisa membalas, dan yang secara budaya bahkan agak asing. Ayat 15 menjawab keanehan itu. Mereka bukan sedang membeli kehormatan; mereka sedang meneruskan pemberian yang sudah lebih dahulu mereka terima secara gratis. Bagi telinga Korintus, itu memutus rantai kewajiban timbal balik dan menggantinya dengan syukur.
Pertanyaan
Kalau pemberian Allah sungguh tak terkatakan, mengapa Paulus tetap begitu sibuk dengan hal-hal yang sangat bisa dikatakan: tanggal, utusan, jumlah, bahkan risiko rasa malu di ayat 4? Bukankah itu terasa turun kelas? Jawaban yang mudah adalah bahwa yang rohani perlu wujud praktis. Tetapi ketegangannya lebih tajam dari itu. Paulus tampaknya tidak keberatan memakai tekanan sosial, kebanggaan, dan perbandingan dengan Makedonia untuk menggerakkan kemurahan hati. Kita boleh jujur mengakui bahwa itu tidak sepenuhnya nyaman. Mungkin justru di situ pelajarannya: kasih karunia bekerja melalui manusia sebagaimana adanya, dengan gengsi dan keraguan kita, tanpa menunggu motif kita bersih sepenuhnya. Allah tidak menunda pekerjaan-Nya sampai hati kita rapi.
Detail
Kata "syukur" di ayat ini bukan kata baru. Ia sudah muncul tiga kali dalam beberapa ayat sebelumnya: pemberian jemaat "membangkitkan ucapan syukur kepada Allah" (ayat 11), dan "melimpahkan ucapan syukur kepada Allah melalui banyak orang" (ayat 12). Jadi ayat 15 bukan penutup yang tiba-tiba, melainkan puncak sebuah rantai. Uang bergerak dari Korintus ke Yerusalem; syukur bergerak dari Yerusalem naik kepada Allah; dan Paulus, yang berdiri di tengah sebagai kurir, ikut menambahkan syukurnya sendiri. Yang menarik: aliran materi berhenti pada manusia, tetapi aliran syukur tidak berhenti sampai mencapai Allah. Itulah sebabnya kolekte sederhana ini akhirnya menjadi liturgi.
Refleksi
Kalau segala sesuatu yang saya beri sesungguhnya lebih dahulu saya terima, apa yang berubah dari cara saya memandang penghasilan dan waktu saya minggu ini?
Kapan terakhir kali saya memberi kepada seseorang yang tidak mungkin membalasnya, dan apa yang saya rasakan saat itu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Corinthians 9:15
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 2 KORINTUS 9:15?
Tentang apakah 2 KORINTUS 9:15?
Apa konteks historis dari 2 KORINTUS 9:15?
Apa yang 2 KORINTUS 9:15 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 2 KORINTUS 9:15 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 2 Corinthians 9
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, terima kasih karena setiap pemberian yang kecil bisa menjadi besar di tangan-Mu. Tolong aku memberi bukan sekadar untuk menutup kekurangan orang lain, tetapi supaya semakin banyak hati yang berterima kasih kepada-Mu. Ajar aku murah hati hari ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak memaksa tangan kami untuk memberi, melainkan melembutkan hati kami lebih dahulu. Syukur untuk sukacita menyiapkan pemberian yang "benar-benar merupakan berkat, bukan sesuatu yang dipaksakan", dan untuk saudara-saudara yang menolong kami menepatinya.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi