ULANGAN 14:25
Teks Itu
Ada seorang petani yang tinggal jauh di utara, di lereng Naftali, dan jarak ke tempat ibadah terlalu panjang untuk memikul karung gandum dan menuntun sapi sulungnya. Maka Tuhan memberi jalan: "kamu harus menjual panenmu itu dan bawalah uang itu ke tempat yang telah TUHAN, Allahmu, pilih." Persepuluhan itu diubah bentuknya, dari hasil ladang menjadi uang, supaya perjalanan tetap mungkin dan perjumpaan dengan Tuhan tidak dibatalkan oleh geografi. Uang itu bukan tujuan; di ayat berikutnya uang itu dibelanjakan kembali menjadi makanan dan sukacita di hadapan Tuhan. Satu ayat pendek, teknis, hampir seperti catatan administratif, tetapi di dalamnya tersimpan kelembutan hukum Tuhan terhadap orang yang tinggal jauh.
Inti
Yang mengejutkan dari ayat ini bukan aturannya, melainkan asumsinya: Tuhan tidak ingin ada orang yang gagal datang. Ia tahu di mana umat-Nya tinggal, tahu berapa jauh jalan itu, tahu bahwa gerobak bisa rusak dan buah anggur bisa membusuk di perjalanan. Maka Ia sendiri yang menyediakan cara agar bentuk persembahan boleh berubah, sementara arah persembahan tetap sama: ke tempat yang Ia pilih. Di sini terlihat watak Allah perjanjian. Ia menuntut, ya, tetapi tuntutan-Nya tidak pernah dilepaskan dari kesediaan-Nya menanggung kesulitan orang yang dituntut. Kesucian dalam pasal ini bukan beban yang ditumpuk di punggung orang lemah; kesucian adalah cara hidup umat yang disebut "anak-anak TUHAN, Allahmu" dan dijaga agar tetap bisa mendekat.
Benang Merah
Perhatikan bahwa seluruh pasal ini berputar di sekitar satu titik: "tempat yang telah TUHAN, Allahmu, pilih." Bukan tempat yang dipilih manusia, bukan bukit terdekat yang praktis, melainkan satu tempat yang Tuhan tunjuk untuk menegakkan nama-Nya. Sepanjang Perjanjian Lama tempat itu punya alamat: Silo, lalu Yerusalem, lalu Bait Suci. Lalu datang Seorang yang berkata bahwa Bait Allah itu adalah tubuh-Nya sendiri, dan kepada perempuan Samaria yang bertanya tentang gunung mana yang benar, Ia menjawab bahwa saatnya datang ketika penyembahan tidak lagi terikat pada satu gunung (Yohanes 4:21-24). Kristus adalah tempat yang dipilih Allah untuk menegakkan nama-Nya. Semua yang tinggal jauh, dan itu berarti kita semua, sekarang punya alamat untuk dituju.
Cermin
Ayat ini menyentuh alasan-alasan kita yang paling terhormat untuk tidak datang. Jaraknya terlalu jauh. Jadwalnya tidak memungkinkan. Musim ini terlalu sibuk, anak masih kecil, pekerjaan menuntut akhir pekan, tubuh sudah lelah. Tuhan tidak menyangkal bahwa jarak itu nyata; Ia justru mengakuinya lebih dahulu daripada kita. Tetapi Ia tidak menawarkan pembebasan dari pertemuan, hanya perubahan bentuk. Persepuluhan tetap dibawa, hanya wujudnya berbeda. Dan di situ pertanyaannya menjadi tajam bagi kita: ketika Tuhan memudahkan sesuatu, apakah kita memakai kemudahan itu untuk tetap datang, atau untuk akhirnya tidak datang sama sekali? Uang di kantong lebih ringan daripada karung gandum, tetapi juga lebih mudah dibelanjakan untuk hal lain di tengah jalan.
Konteks
Kita berada di dataran Moab, di seberang Sungai Yordan, mendengarkan Musa berbicara kepada generasi yang belum pernah menyeberang. Mereka akan masuk ke negeri yang luas, dan itulah masalah baru yang tidak pernah mereka hadapi di padang gurun: di gurun, Kemah Suci selalu berada di tengah perkemahan, beberapa ratus meter dari pintu tenda siapa pun. Di Kanaan, keluarga akan tersebar puluhan bahkan ratusan kilometer dari tempat ibadah pusat. Ekonomi mereka pun berubah: dari umat yang makan manna menjadi petani dengan ladang, kebun anggun, kawanan, dan panen tahunan. Hukum di pasal 14 menyiapkan mereka untuk transisi itu, agar kemakmuran dan kepemilikan tanah tidak diam-diam menggantikan Tuhan sebagai pusat hidup mereka.
Detail
Kata yang perlu diperhatikan adalah "uang". Dalam bahasa Ibrani, kata itu adalah kesef, yang berarti perak, logam yang ditimbang. Dan inilah yang menarik: perak dalam Taurat adalah bahan penebusan. Dengan perak orang menebus anak sulung, dengan perak orang menebus milik yang sudah dikuduskan. Di sini hasil panen yang sudah menjadi milik Tuhan "ditebus" menjadi perak agar bisa dibawa, lalu di tempat itu perak itu ditukar kembali menjadi sapi, domba, anggur. Perak bukan tujuan akhir, hanya jembatan. Dan bertahun-tahun kemudian Petrus akan menulis bahwa kita ditebus bukan dengan perak atau emas, melainkan dengan darah Kristus yang mahal (1 Petrus 1:18-19). Jembatan perak menunjuk kepada penebusan yang tidak bisa ditimbang.
Tokoh Utama
Tokoh utama ayat ini adalah Tuhan sendiri, dan yang mencolok pada-Nya di sini adalah perhatian pada hal-hal kecil. Allah yang membelah laut dan menggulingkan Mesir ternyata juga Allah yang memikirkan berat karung di punggung seorang petani. Ia berbicara tentang jarak, tentang panen, tentang uang, tentang apa yang "diingini hatimu" di ayat berikutnya. Ini bukan Allah yang menuntut dari kejauhan lalu berbalik pergi. Ia memberkati, lalu mengatur agar berkat itu tidak menjadi beban yang memisahkan. Dan sikap ini konsisten dengan seluruh kesaksian Alkitab tentang diri-Nya: Ia turun, Ia menyesuaikan diri dengan keterbatasan kita, Ia mengambil bentuk yang bisa kita jangkau. Inkarnasi tidak dimulai di Betlehem; wataknya sudah terlihat di sini.
Antar Teks
Bandingkan ayat ini dengan cerita Yesus mengusir para penukar uang dari Bait Allah, dan sesuatu menjadi jelas. Orang-orang yang berjualan di pelataran itu sebenarnya berdiri di atas ayat ini: mereka menyediakan sapi, domba, dan burung merpati bagi peziarah yang datang dari jauh dengan uang di kantong. Sistemnya sah. Yang rusak adalah hatinya. Apa yang dimaksudkan Tuhan sebagai kemudahan untuk mendekat telah berubah menjadi mesin keuntungan yang menghalangi orang mendekat. Itulah bahaya abadi dari setiap sarana ibadah: mimbar, musik, gedung, organisasi. Semuanya perak, semuanya jembatan. Dan setiap jembatan bisa dijadikan tempat tinggal, sampai orang lupa bahwa jembatan dibuat untuk dilewati, bukan didiami.
Profil
Bayangkan Anda petani di Galilea, tiga hari perjalanan dari Yerusalem. Anda mendengar ayat ini dan yang Anda dengar pertama-tama adalah kelegaan: saya tidak harus menggiring anak sapi sulung selama tiga hari. Tetapi Anda juga mendengar sesuatu yang lain, sesuatu yang mungkin lolos dari kita. Anda mendengar bahwa Anda diperhitungkan. Anda yang tinggal di pinggiran, jauh dari pusat, bukan warga kelas dua dalam perjanjian ini. Hukum ini ditulis dengan Anda dalam pikiran. Di dunia kuno, jarak dari pusat kekuasaan berarti jarak dari perlindungan dan dari hak. Tetapi Allah Israel menyusun aturan-Nya justru agar yang jauh tetap bisa duduk makan dan bersukacita di hadapan-Nya bersama seisi rumahnya.
Pertanyaan
Ada pertanyaan yang tidak nyaman di sini: kalau bentuk persembahan boleh diubah, mengapa tempatnya tidak? Tuhan mengizinkan gandum menjadi uang, tetapi Ia tidak mengizinkan Yerusalem menjadi bukit di dekat rumah. Sarana fleksibel, arah tidak. Dan saya kira di situ kita sering keliru hari ini. Kita berpikir bahwa karena Kristus telah menggenapi tempat itu, maka segalanya menjadi cair dan pribadi, bahwa saya bisa menyembah di mana saja dengan cara apa saja. Tetapi "di mana saja" dalam Perjanjian Baru bukan berarti "sendiri saja". Yesus adalah tempat yang dipilih Allah, dan mendekat kepada-Nya berarti bergabung dengan tubuh-Nya, dengan orang Lewi, orang asing, janda, dan yatim piatu yang disebut di akhir pasal ini. Kemudahan yang diberikan Tuhan tidak pernah dimaksudkan untuk membuat kita sendirian.
Refleksi
Apa "jarak" yang paling nyata dalam hidup Anda saat ini terhadap Tuhan, dan bentuk apa yang mungkin Tuhan izinkan berubah agar Anda tetap bisa datang?
Sarana ibadah mana dalam hidup Anda yang sudah berubah dari jembatan menjadi tempat tinggal, sesuatu yang Anda pelihara tetapi tidak lagi Anda lewati menuju Kristus?
Ayat 26 berbicara tentang makan dan bersukacita di hadapan Tuhan bersama seisi rumah. Kapan terakhir kali ibadah Anda terasa seperti pesta, dan siapa yang seharusnya duduk di meja itu bersama Anda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Deuteronomy 14:25
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ULANGAN 14:25?
Tentang apakah ULANGAN 14:25?
Apa konteks historis dari ULANGAN 14:25?
Apa yang ULANGAN 14:25 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ULANGAN 14:25 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Deuteronomy 14
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, ajar aku memberi bagian pertama dari yang Kauberikan, bukan sisanya. Lewat hal sederhana seperti pekerjaan, uang, dan makanan di meja, aku ingin belajar menghormati Engkau setiap hari dan ingat bahwa semuanya berasal dari tangan-Mu.
Bapa, di daftar panjang yang terasa asing itu, aku melihat Engkau peduli bahkan pada hal kecil dalam hidup umat-Mu. Ajari aku peka memilih apa yang kubiarkan masuk ke dalam hatiku, dan percaya bahwa aturan-Mu lahir dari kasih, bukan dari keinginan mengekang.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi