YEHEZKIEL 30
Teks
Yehezkiel diperintahkan bukan untuk berkhotbah, melainkan untuk meratap: "celakalah hari itu," sebab "hari TUHAN sudah dekat; hari yang berawan, waktu bagi bangsa-bangsa." Pedang datang atas Mesir dan seluruh jaringan sekutunya, Kush, Put, Lud, Libia, dan kekayaan negeri itu diangkut, fondasinya diruntuhkan. Lalu nama demi nama kota disebut seperti daftar korban yang dibacakan pelan-pelan: Memfis, Patros, Soan, Tebe, Sin, Awen, Pi-Beset, Tahpanhes, masing-masing dengan bentuk kehancurannya sendiri. Bagian kedua, bertanggal tahun kesebelas, memberi satu gambar tunggal yang tajam: "Aku telah mematahkan lengan Firaun," lengan yang tidak akan dibebat supaya sembuh, sementara lengan raja Babel dikuatkan dan pedang TUHAN sendiri diletakkan di tangannya.
Inti
Yang dipatahkan di sini bukan terutama tentara Mesir, melainkan sebuah keyakinan: bahwa kekuatan yang cukup besar akhirnya berdiri sendiri. Mesir adalah peradaban tertua yang dikenal Israel, dengan piramida yang sudah kuno ketika Musa lahir, dan justru kepadanya dikatakan "kesombongan dari kekuasaannya akan berkurang." Perhatikan siapa yang bertindak: Aku akan melenyapkan, Aku akan menyalakan api, Aku akan menghancurkan berhala-berhala, Aku akan menguatkan lengan raja Babel. Nebukadnezar bukan pelaku utama; ia pemegang pedang yang diletakkan di tangannya oleh Tuhan. Itu mengganggu, dan memang seharusnya mengganggu. Tetapi tujuannya diucapkan tiga kali, dan itulah kuncinya: "mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN." Penghakiman di sini bukan ledakan amarah buta, melainkan cara Allah memperkenalkan diri kepada dunia yang menyembah patung di Memfis dan menaruh harapan pada lengan Firaun.
Benang Merah
Lengan yang patah dan tidak dibebat adalah gambar yang menuntut lanjutan. Sepanjang Perjanjian Lama, "lengan" adalah bahasa untuk kuasa yang menyelamatkan: dengan lengan yang teracung Allah membawa Israel keluar dari Mesir. Di sini lengan Firaun dipatahkan justru oleh Dia yang dahulu mengalahkan Firaun yang lain, dan pola itu tidak berhenti di Yehezkiel. Yesaya bernubuat tentang lengan TUHAN yang dinyatakan, dan yang dinyatakan itu ternyata seorang Hamba yang lengan-Nya sendiri direntangkan dan dipaku. Di sanalah kekuasaan dunia untuk terakhir kalinya memegang pedang yang diizinkan jatuh ke tangannya, dan justru di titik itu kekuasaannya kehabisan napas. Salib memperlihatkan cara Allah memerintah sejarah: bukan dengan menghindari pedang bangsa-bangsa, melainkan dengan memakainya dan mengalahkannya dari dalam.
Cermin
Pertanyaan yang diajukan pasal ini kepada Anda sederhana dan tidak nyaman: lengan siapa yang Anda pegang ketika perhitungan menjadi serius? Bagi Yehuda itu Mesir; bagi kita biasanya sesuatu yang lebih rapi, saldo tabungan yang membuat tidur nyenyak, nama besar perusahaan tempat Anda bekerja, satu relasi yang "pasti bisa mengurus" kalau terjadi apa-apa, atau tubuh yang sejauh ini selalu sembuh sendiri. Semua itu bukan dosa. Yang berbahaya adalah kalimat diam-diam di belakangnya: selama ini ada, saya aman. Teks ini tidak menghibur Anda dengan mengatakan sandaran itu akan bertahan. Ia mengatakan sandaran itu bisa dipatahkan dan tidak dibebat. Hari ini juga: tuliskan pada secarik kertas satu hal yang membuat Anda merasa aman selain Allah, lalu ucapkan dengan suara keras, "ini pinjaman, bukan fondasi," dan simpan kertas itu di dompet Anda.
Profil
Pendengar pertama nubuat ini bukan orang Mesir. Mereka adalah orang Yehuda buangan di tepi kanal Babel, yang setiap minggu menukar kabar burung dari tanah air. Dan kabar yang paling mereka nantikan adalah kabar tentang tentara Mesir. Firaun sudah bergerak sekali, Babel sempat mengangkat pengepungan atas Yerusalem, dan harapan menyala lagi. Bagi mereka, daftar kota di pasal ini bukan geografi asing, melainkan peta harapan mereka sendiri yang dicoret satu per satu. Menyakitkan pula ini: "hari TUHAN" selalu mereka bayangkan sebagai hari kemenangan atas musuh. Yehezkiel memakai istilah itu untuk hari yang berawan, dan sekutu terakhir merekalah yang jatuh di bawahnya. Mereka harus belajar bahwa Allah tidak berpihak pada strategi mereka, melainkan pada nama-Nya sendiri.
Intertekstual
Tiga gema terdengar jelas. Pertama, Keluaran: api, pedang, berhala yang dihancurkan, dan terutama "di Tahpanhes, siang akan menjadi gelap." Kegelapan atas Mesir adalah tulah kesembilan yang datang kembali, seolah Allah mengulangi tanda tangan-Nya di tempat yang sama. Kedua, para nabi tentang hari TUHAN. Yoel dan Zefanya melukiskan hari itu sebagai hari awan dan kekelaman, dan Amos memperingatkan orang yang merindukannya bahwa hari itu gelap, bukan terang. Yehezkiel memakai palet yang sama. Ketiga, dan paling menegangkan: Yesaya 19 mengakhiri penghukuman atas Mesir dengan janji yang nyaris tak terbayangkan, bahwa Mesir akan disebut umat Allah bersama Asyur dan Israel. Yehezkiel tidak mengucapkan janji itu di sini. Kedua suara itu perlu didengar bersama: penghakiman yang sungguh-sungguh, dan pintu yang toh tidak dikunci.
Konteks
Tanggalnya diberikan dengan teliti: tahun kesebelas, bulan pertama, hari ketujuh, kira-kira April 587 sM, hanya beberapa bulan sebelum Yerusalem jatuh. Firaun Hofra baru saja memimpin ekspedisi ke utara dan mundur kembali; itulah "lengan" yang sudah patah dalam bentuk lampau, sebelum Allah mengumumkan bahwa lengan yang tersisa pun akan dipatahkan. Mesir saat itu adalah kekuatan lama yang bermain politik: mendanai pemberontakan negeri-negeri kecil terhadap Babel, lalu menarik diri ketika biayanya terlalu mahal. Yehuda membayar harga permainan itu. Ungkapan "dari Migdol ke Siene" menyebut ujung utara sampai ujung selatan, seluruh negeri tanpa kecuali. Dan penutupnya menyakitkan bagi telinga buangan: Mesir akan diserakkan di antara bangsa-bangsa, persis kata-kata yang dipakai untuk nasib mereka sendiri.
Refleksi
Jika "hari TUHAN" ternyata bukan hari yang membenarkan pihak saya, melainkan hari yang membongkar sandaran saya, apa yang tersisa dari iman saya?
Yesaya melihat Mesir akhirnya disebut umat Allah; Yehezkiel hanya melihat api dan pedang. Bagaimana saya menahan kedua gambar itu bersama tanpa melunakkan yang satu dengan yang lain?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ezekiel 30
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YEHEZKIEL 30?
Tentang apakah YEHEZKIEL 30?
Apa konteks historis dari YEHEZKIEL 30?
Apa yang YEHEZKIEL 30 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YEHEZKIEL 30 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Ezekiel 30
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, kota-kota yang kelihatan kokoh pun bisa runtuh dalam satu hari. Ajar aku berhenti bersandar pada hal-hal yang kubangun sendiri untuk merasa aman. Saat yang kuandalkan goyah, tolong aku menemukan bahwa Engkau tetap berdiri, dan itu cukup.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
