YESAYA 20
Teks
Pada tahun panglima Asyur merebut Asdod, Tuhan menyuruh Yesaya melakukan sesuatu yang nyaris tak bisa dibayangkan: melepas kain kabung dari pinggangnya dan kasut dari kakinya, lalu berjalan begitu saja, "telanjang dan tanpa alas kaki," selama tiga tahun penuh di tengah orang banyak. Tubuh nabi itu sendiri menjadi papan pengumuman: beginilah nanti raja Asyur menggiring orang Mesir dan Etiopia, muda dan tua, sebagai tawanan yang dipermalukan. Dan ujungnya bukan tentang Mesir sama sekali, melainkan tentang mereka yang menaruh harapan pada Mesir. Penduduk pesisir akan berdiri terpaku dan berkata: "Lihat, seperti inilah yang kita andalkan, tempat kita berlari meminta pertolongan." Nubuat ini tidak berteriak. Ia hanya berjalan lewat, hari demi hari, tanpa sandal, sampai orang mengerti.
Inti
Yang dipertaruhkan di sini bukan nasib Mesir, melainkan letak kepercayaan umat Allah. Yehuda sedang menghitung-hitung: Asyur terlalu kuat, maka carilah sekutu yang lebih kuat lagi di selatan. Perhitungan itu masuk akal secara politik dan justru karena itu berbahaya secara rohani, sebab iman yang paling sulit dikenali sebagai penyembahan berhala adalah iman yang terdengar realistis. Allah tidak membantah strategi Yehuda dengan argumen; Ia membiarkan mereka melihat akhir dari strategi itu, ditelanjangi dan digiring. Kata kuncinya di ayat 5 adalah "pengharapan mereka" dan "kebanggaan mereka": Etiopia jadi tempat berharap, Mesir jadi sumber harga diri. Itulah dua hal yang seharusnya hanya boleh melekat pada Tuhan. Ketika keduanya dipindahkan ke tempat lain, yang runtuh bukan sekadar politik luar negeri, melainkan seluruh dasar hidup.
Benang Merah
Perhatikan satu kata di ayat 3: "hamba-Ku." Allah menyebut Yesaya demikian justru ketika nabi itu berjalan tanpa penutup, kehilangan martabatnya di depan mata kota. Di pasal-pasal berikutnya kata itu akan berkembang menjadi sosok Hamba yang dihina, ditolak, dan dianggap tidak punya keelokan (Yesaya 53). Yesaya menjadi tanda, sebuah gambar hidup dari penghinaan yang akan menimpa orang lain. Yesus Kristus menjadi lebih dari tanda: Ia ditelanjangi bukan untuk memberitakan penghukuman atas bangsa lain, melainkan untuk menanggung penghukuman itu sendiri. Para tentara membagi jubah-Nya, dan Ia tergantung terbuka di hadapan dunia. Jadi ada benang yang nyata di sini: Allah selalu memberitakan penyelamatan lewat tubuh yang dipermalukan, sampai akhirnya tubuh itu adalah tubuh Anak-Nya sendiri.
Cermin
Pertanyaan pasal ini sederhana dan tidak sopan: kalau besok semuanya berantakan, siapa yang pertama kali kau telepon? Bukan siapa yang kau sebut dalam doa di gereja, tetapi nama yang benar-benar muncul di kepala saat surat dari rumah sakit dibuka, saat kontrak kerja tidak diperpanjang, saat anakmu tidak pulang. Mungkin itu tabungan yang kau hitung ulang tiap malam. Mungkin seorang kenalan berpengaruh. Mungkin kepintaranmu sendiri, yang selama ini memang selalu berhasil. Semua itu bisa jadi Mesir: nyata, terhormat, bisa diandalkan sampai suatu titik. Yesaya tidak bilang Mesir itu lemah, ia bilang Mesir akan digiring pergi dengan pantat terbuka. Yang menakutkan bukan kehilangan penolong itu, melainkan menemukan bahwa kau sudah memindahkan seluruh "pengharapan" dan "kebanggaan"-mu ke sana.
Hari ini, tulis di selembar kertas nama yang paling dulu muncul di kepalamu kalau hidupmu goyah besok, lalu ucapkan dengan suara terdengar: "Engkau bukan penyelamatku," dan sebutkan hal itu kepada Tuhan dalam doa sebelum kertasnya kau buang.
Konteks
Tahun 711 sebelum Masehi, kira-kira. Asdod, kota Filistin di pesisir, memberontak terhadap Asyur, dan Sargon mengirim panglimanya untuk meratakan pemberontakan itu. Di belakang pemberontakan ada Mesir, yang saat itu diperintah dinasti dari Etiopia (Kush), kekuatan Afrika yang tampak segar dan menjanjikan. Negeri-negeri kecil di sepanjang pesisir, termasuk Yehuda di bawah Hizkia, harus memilih: tunduk kepada Asyur atau bertaruh pada Mesir. Secara manusiawi Mesir adalah pilihan yang gagah; kereta perangnya banyak, kudanya kuat. Ke dalam ruang perhitungan diplomatik itulah Yesaya masuk bukan dengan dokumen, melainkan dengan tubuhnya. Perlu diingat: bertelanjang kaki dan tanpa pakaian luar adalah pakaian tawanan perang, bukan pakaian orang miskin. Yesaya berjalan-jalan sebagai orang buangan sebelum ada yang dibuang.
Detail
Yang dilepas Yesaya bukan pakaian pestanya, melainkan "kain kabung" dari pinggangnya. Kain kabung, dalam bahasa Ibrani saq, kain kasar dari bulu kambing, adalah pakaian duka dan pertobatan. Artinya Yesaya sudah sedang berkabung sebelum perintah itu datang. Ia sudah berpakaian sebagai orang yang menangisi bangsanya. Lalu Allah berkata: lepaskan juga itu. Ada tahap di mana ratapan pun tidak cukup lagi, di mana bahasa isyarat kesedihan yang sopan harus diganti dengan ketelanjangan yang tidak bisa disalahpahami. Ini mengusik, karena kita suka berhenti di kain kabung: merasa prihatin, menyesal, mengakui bahwa hidup kita tidak beres, sambil tetap tertutup. Allah kadang menuntut lebih dari kesedihan yang berpakaian.
Profil
Bayangkan dirimu penduduk Yerusalem atau pesisir Filistin yang mengenal Yesaya sebagai orang yang biasa bicara dengan raja. Selama tiga tahun kau melihatnya melewati pasar dalam keadaan yang membuat kau ingin menoleh ke arah lain. Di dunia mereka, kehormatan adalah mata uang; ditelanjangi di depan umum bukan sekadar tidak nyaman, itu kematian sosial. Jadi setiap kali mereka melihatnya, mereka merasakan sesuatu yang lebih dari argumen: rasa malu yang menular. Dan mereka mendengar ayat 6 sebagai kalimat mereka sendiri di masa depan, lengkap dengan pertanyaan yang tidak dijawab: "Bagaimana kita dapat melepaskan diri?" Nubuat ini sengaja berhenti di sana, tanpa penawar, supaya pertanyaannya sempat menempel.
Refleksi
Kalau seseorang mengamati ke mana uang, waktu, dan kekhawatiranmu mengalir sebulan terakhir, "Mesir" apa yang akan ia temukan dalam hidupmu?
Yesaya diminta kehilangan kehormatannya demi pesan Allah. Kehormatan mana yang paling kau jaga, dan apa yang akan berubah kalau itu tidak lagi harus kau lindungi?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 20
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 20?
Tentang apakah YESAYA 20?
Apa konteks historis dari YESAYA 20?
Apa yang YESAYA 20 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 20 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Isaiah 20
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Kali ini Allah tidak menyuruh Yesaya berkhotbah. "Pergilah, lepaskan kain kabung dari pinggangmu dan tanggalkan kasut dari kakimu," dan Yesaya melakukannya, berjalan telanjang serta tanpa alas kaki. Tubuhnya sendiri jadi pesan bagi bangsa yang lebih percaya pada Mesir daripada Tuhan. Ketaatan kadang menyentuh harga dirimu, bukan hanya waktumu. Sejauh mana kamu bersedia?
Kalimat mereka terdengar seperti orang yang baru terbangun: "Lihatlah, inilah harapan kita, tempat kita mengungsi untuk mendapatkan pertolongan." Mesir yang mereka andalkan ternyata digiring pergi tanpa daya. Adakah sesuatu dalam hidupmu yang kau sebut "harapan", padahal ia sendiri butuh diselamatkan? Lebih baik tahu sekarang daripada pada hari itu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
