YESAYA 57
Teks
Nabi membuka dengan kematian yang tak dilihat siapa pun: orang benar binasa, "tetapi tidak seorang pun menaruhnya di dalam hatinya," dan justru kematian itu adalah perlindungan, sebab ia "masuk ke dalam kedamaian." Lalu suara Tuhan berbalik ke arah yang lain, kepada bangsa yang menyembah di bawah pohon rimbun, mengorbankan anak-anak di lembah, menata tempat tidurnya di gunung tinggi, mengirim utusan sampai ke ujung dunia demi rasa aman yang tak pernah datang. Berhala mereka akan diterbangkan angin. Namun pasal ini tidak berakhir di sana: Dia yang "mendiami kekekalan" mengaku juga bersemayam "bersama orang yang hancur hati dan rendah hati," dan berjanji menyembuhkan, menuntun, memberi damai bagi yang jauh dan yang dekat. Untuk orang fasik, tidak ada damai.
Inti
Di sini Allah menyebutkan dua alamat tempat tinggal-Nya, dan keduanya mengejutkan. Yang pertama sudah kita duga: tempat tinggi dan kudus, kekekalan, nama yang tak tersentuh. Yang kedua meruntuhkan semua logika keagamaan kita: hati yang remuk. Bukan hati yang kuat, bukan yang berprestasi rohani, bukan yang sibuk membawa persembahan minuman ke lembah, melainkan hati yang sudah habis. Perhatikan bahwa ini diucapkan tepat setelah daftar dosa yang paling menjijikkan dalam kitab Yesaya. Allah tidak mengubah standar-Nya; Dia menyatakan ke mana kekudusan-Nya bergerak. Kekudusan yang sejati tidak menjauh dari yang kotor, melainkan mendekat untuk menyembuhkan. Dan damai sejahtera, di pasal ini, bukan hasil pencapaian atau pencarian yang melelahkan, melainkan sesuatu yang diciptakan Tuhan sendiri: "Aku akan menyembuhkannya." Kesibukan religius justru membuat kita letih tanpa pernah berkata, "Ini sia-sia!"
Benang Merah
Ayat 19 mengucapkan damai dua kali, "bagi mereka yang jauh dan yang dekat." Kalimat itu tidak berhenti di Yesaya. Paulus mengambilnya di Efesus 2 untuk menjelaskan apa yang terjadi di kayu salib: Kristus datang memberitakan damai kepada yang jauh dan yang dekat, dan dinding pemisah itu runtuh. Yesaya sudah membuka pintu yang lebih lebar daripada yang bisa ditanggung Israel saat itu. Dan perhatikan pola ganjil di ayat 1: orang benar binasa, tak seorang pun mengerti, padahal kematian itu justru penyelamatan. Beberapa pasal kemudian pola itu mengeras menjadi seorang Hamba yang dibunuh tanpa dipahami siapa pun. Yesaya 57 memberi kita cetakannya; Golgota mengisinya. Allah yang bersemayam bersama hati yang remuk akhirnya datang dengan tubuh yang diremukkan.
Cermin
Ayat 10 adalah ayat yang paling menusuk saya, dan mungkin juga Anda: "Kamu lelah karena perjalananmu yang jauh, tetapi kamu tidak berkata, 'Ini sia-sia!'" Ada kelelahan yang kita pelihara karena mengakuinya berarti mengakui bahwa arahnya salah. Anda mengirim "utusan" ke tempat jauh: lamaran kerja ke-tujuh belas yang Anda harap akhirnya membuat ayah Anda bangga, unggahan yang Anda cek berkali-kali malam itu, tabungan yang harus mencapai angka tertentu sebelum Anda merasa aman, pelayanan gereja yang Anda tak berani lepaskan karena tanpa itu Anda tidak tahu siapa diri Anda. Lalu ayat 11: "Terhadap siapakah kamu takut dan khawatir?" Berhala hampir selalu lahir dari rasa takut, bukan dari kejahatan yang gagah. Hari ini, tuliskan di secarik kertas satu hal yang membuat Anda lelah namun tak berani sebut sia-sia, dan katakan dengan suara keras: "Ini sia-sia," lalu diamlah satu menit di hadapan Tuhan.
Pertanyaan
Ayat 21 menutup pintu dengan bunyi keras: "Tidak ada damai sejahtera bagi orang fasik." Bagaimana kalimat itu berdiri di samping ayat 19 yang menawarkan damai kepada yang jauh dan yang dekat? Godaannya adalah melunakkan salah satu sisi. Tetapi teks ini tidak memberi kita jalan keluar yang nyaman. Gambarannya bukan hukuman dari luar, melainkan keadaan dari dalam: laut yang berombak, "yang tidak dapat tenang." Damai ditolak bukan karena Allah kikir, tetapi karena hati yang terus "berpaling ke jalan yang dipilih hatinya" (ayat 17) tidak punya tempat untuk menampung damai itu. Apakah pintu itu tertutup selamanya? Yesaya tidak menjawab. Ia hanya berkata: hari ini masih ada tawaran, dan mengeraskan hati bukan hal netral.
Intertekstualitas
Mazmur 51 berdiri sangat dekat: "hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina." Daud, setelah dosa yang tak bisa ditutupi, menemukan bahwa satu-satunya korban yang tersisa baginya adalah kehancurannya sendiri, dan itu ternyata cukup. Yesaya 57:15 mengangkat pengalaman pribadi itu menjadi pernyataan tentang tempat tinggal Allah. Kontrasnya justru di ayat 12: "Aku akan menyatakan kebenaranmu dan pekerjaan-pekerjaanmu, tetapi semuanya itu tidak akan memberikan manfaat bagimu." Kebenaran yang kita produksi sendiri dibongkar; kehancuran yang kita akui diterima. Itulah jarak antara agama dan Injil, sudah tergambar tujuh abad sebelum Paulus menuliskannya.
Detail
Kata "tempat tidur" muncul tiga kali dan bergerak dengan licik. Ayat 2: orang yang jalannya lurus "akan mendapat peristirahatan di tempat tidur mereka," gambar kematian sebagai tempat berbaring yang tenang. Ayat 7: bangsa itu "menata tempat tidurmu" di gunung tinggi, tempat tidur pelacuran ibadah. Ayat 8: mereka membukanya, menaikinya, memperluasnya. Dua jenis pembaringan, dua jenis istirahat. Yang satu diberikan, yang lain dibangun sendiri dan harus terus diperluas karena tidak pernah cukup. Ini bukan sekadar permainan kata; inilah diagnosis pasal ini. Kita semua mencari tempat berbaring. Pertanyaannya hanya apakah kita menerimanya dari Tuhan atau menatanya sendiri di gunung yang harus kita daki setiap hari.
Refleksi
Perjalanan mana dalam hidup saya yang sudah lama membuat lelah, tetapi belum pernah saya sebut sia-sia di hadapan Tuhan?
Jika Allah bersemayam bersama hati yang remuk, bagian diri saya yang mana yang paling saya sembunyikan justru karena ia hancur?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 57
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 57?
Tentang apakah YESAYA 57?
Apa konteks historis dari YESAYA 57?
Apa yang YESAYA 57 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 57 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Isaiah 57?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi