EFESUS 2
Teks
Paulus memulai dengan diagnosis yang tidak menyisakan ruang bernegosiasi: "Dahulu, kamu mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu," berjalan mengikuti jalan dunia dan penguasa kerajaan udara. Lalu datang dua kata yang membelah pasal ini menjadi dua dunia: "Akan tetapi, Allah, yang kaya dengan belas kasih." Justru ketika kita mati, Allah menghidupkan, membangkitkan, dan mendudukkan kita bersama Kristus di tempat surgawi, semuanya oleh anugerah, bukan hasil usaha, supaya tak seorang pun menyombongkan diri. Bagian kedua menerapkan hal itu pada jurang sosial terbesar zaman itu: orang bukan Yahudi yang dahulu "tanpa pengharapan dan tanpa Allah dalam dunia ini" kini dibawa dekat oleh darah Kristus. Tembok permusuhan hancur, dua pihak menjadi satu manusia baru, dan bersama-sama dibangun menjadi tempat tinggal Allah dalam Roh.
Inti
Perhatikan bahwa Paulus tidak menyebut manusia sakit, lemah, atau tersesat setengah jalan. Ia menyebut kita mati. Orang mati tidak bisa memperbaiki diri, tidak bisa mengambil langkah pertama, tidak bisa bekerja sama dengan penyelamatnya. Karena itu keselamatan di pasal ini seluruhnya berupa tindakan Allah: Ia yang menghidupkan, Ia yang membangkitkan, Ia yang mendudukkan. Kata "anugerah" di sini bukan pelengkap sopan, melainkan satu-satunya penjelasan mengapa kita masih ada. Dan menarik: tujuan akhirnya bukan sekadar kelegaan kita, tetapi pameran kemuliaan Allah, "supaya pada masa yang akan datang, Ia boleh menunjukkan kekayaan anugerah-Nya yang tak terukur." Kita menjadi bukti hidup tentang siapa Allah. Karenanya ayat 10 tidak menghapus ayat 8 dan 9: pekerjaan baik bukan harga keselamatan, melainkan bentuk hidup baru yang sudah disiapkan Allah sebelumnya untuk kita jalani. Kita bukan pembuat, kita "buatan Allah."
Benang Merah
Yang dihancurkan Kristus di ayat 14 bukan sekadar prasangka manusia, melainkan tembok yang secara harfiah berdiri di Bait Allah: pagar pemisah yang melarang orang bukan Yahudi masuk lebih jauh, dengan ancaman mati bagi yang melanggar. Paulus menyebutnya "tembok permusuhan yang memisahkan," dan menyatakan bahwa Kristus meruntuhkannya "dalam daging-Nya." Inilah benang merah seluruh Kitab Suci yang ditarik sampai ujungnya: janji kepada Abraham bahwa segala bangsa akan diberkati, bait suci yang menjadi tempat kehadiran Allah, korban yang mendekatkan yang jauh. Semua itu tidak dibuang, melainkan digenapi dalam satu tubuh yang tergantung di salib. Dan perhatikan pergeseran yang terjadi: bait suci tidak lagi berupa batu di Yerusalem, melainkan jemaat yang "sedang dipersatukan bersama dan bertumbuh menjadi Bait Suci dalam Tuhan." Kristus bukan hanya membuka pintu bait itu. Ia sendiri menjadi Batu Penjurunya.
Cermin
Ada kesombongan halus yang bertahan lama setelah kita berhenti percaya bahwa kita menyelamatkan diri sendiri. Bentuknya begini: kita tahu diselamatkan oleh anugerah, tetapi diam-diam merasa dipertahankan oleh kinerja. Karena itu kita gelisah ketika ibadah pagi terlewat, merasa lebih layak setelah minggu pelayanan yang padat, dan menilai orang lain berdasarkan grafik yang kita pakai untuk menilai diri. Pasal ini memotong akar itu: orang mati tidak punya rekam jejak untuk dibanggakan. Tetapi ada cermin kedua yang lebih tidak nyaman. Tembok yang diruntuhkan Kristus punya versi modern di gereja kita: perbedaan suku, kelas ekonomi, cara berpolitik, gaya ibadah. Jika Kristus merobohkannya dengan darah-Nya sendiri, membangunnya kembali bukan sekadar tidak sopan, melainkan melawan salib. Hari ini, tulis satu nama orang di gerejamu yang paling sulit kausebut "sesama warga," lalu doakan namanya dengan suara terdengar.
Detail
Kata "mendudukkan" di ayat 6 mudah terlewat, padahal ia janggal. Paulus bisa berhenti pada "menghidupkan" dan "membangkitkan"; keduanya sudah cukup mengejutkan untuk orang yang baru saja disebut mati. Tetapi ia menambahkan tempat duduk, dan tempat duduk itu bukan di ruang tunggu melainkan "di tempat surgawi dalam Yesus Kristus." Duduk adalah posisi orang yang pekerjaannya selesai dan kedudukannya diakui. Yang duduk di sana secara sah adalah Kristus, dan kita ada di sana hanya karena berada di dalam Dia. Bandingkan dengan ayat 2: dahulu kita "berjalan mengikuti jalan dunia," digiring oleh arus yang tidak kita pilih. Perpindahannya dramatis, dari berjalan tanpa arah di bawah kuasa lain menjadi duduk di tempat yang paling aman di semesta. Dan semua itu ditulis dalam bentuk yang sudah terjadi.
Profil
Pembaca pertama surat ini kemungkinan besar orang bukan Yahudi di kota-kota Asia Kecil, jemaat yang tidak punya sejarah leluhur dengan Allah Israel. Mereka mengenal julukan yang dikutip Paulus: "orang tidak bersunat." Itu bukan istilah netral, melainkan cap sosial yang menempatkan mereka di luar. Maka ketika Paulus menyusun daftar di ayat 12, tanpa Kristus, terpisah dari kewargaan Israel, asing bagi perjanjian, tanpa pengharapan, tanpa Allah, ia sedang menyebut kembali luka yang mereka kenal betul. Justru di situlah kata "sekarang" di ayat 13 mendarat seperti pembebasan. Mereka bukan tamu yang ditoleransi di pinggir jemaat Yahudi. Mereka "anggota-anggota keluarga Allah," dan bahan bangunan dari bait yang sedang didirikan Allah sendiri. Bagi orang yang seumur hidup berdiri di luar pagar, kalimat itu mengubah segalanya.
Konteks
Efesus adalah kota pelabuhan yang kaya, pusat pemujaan Artemis dengan kuil raksasa yang menjadi kebanggaan seluruh wilayah. Agama di sana berarti bangunan megah, kuasa roh, dan jaringan sosial yang menentukan pekerjaan serta status seseorang. Bahasa Paulus tentang "penguasa kerajaan udara" tidak terdengar kiasan di telinga mereka; mereka hidup di dunia yang penuh jimat dan mantra. Surat ini ditulis dari penjara, oleh seorang Yahudi yang justru dipenjara karena tuduhan membawa orang bukan Yahudi terlalu dekat ke Bait Allah. Ironinya tajam: dari balik jeruji, ia menulis tentang tembok yang sudah dirobohkan. Dan ia menawarkan kepada kota kuil itu sebuah bait tanpa marmer, yang dibangun dari manusia hidup, tempat Allah sungguh berdiam "dalam Roh."
Refleksi
Di bagian mana hidupmu masih berjalan seolah kedudukanmu di hadapan Allah bergantung pada hasil usahamu, padahal Paulus mengatakan kamu sudah didudukkan bersama Kristus?
Tembok mana yang kamu rawat, entah dengan diam atau dengan sinisme, yang sebenarnya sudah dihancurkan di salib?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ephesians 2
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti EFESUS 2?
Tentang apakah EFESUS 2?
Apa konteks historis dari EFESUS 2?
Apa yang EFESUS 2 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana EFESUS 2 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Ephesians 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Sebab, melalui Dia, kita berdua memiliki jalan masuk kepada Bapa dalam satu Roh." Perhatikan kata "kita berdua". Yahudi dan bukan Yahudi, yang dulu dipisahkan tembok, kini berdiri di pintu yang sama. Kamu tidak punya jalan masuk yang lebih istimewa daripada orang yang sulit kamu terima itu. Kalian masuk bersama, atau tidak sama sekali.
Bahkan ketika kita mati dalam pelanggaran-pelanggaran kita, Ia menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus." Perhatikan: bukan sakit, bukan lemah, tetapi mati. Orang mati tidak bisa memberi apa-apa, tidak bisa menawar, tidak bisa memperbaiki diri lebih dulu. Jadi kalau hari ini kamu merasa terlalu jauh untuk dijangkau, ingatlah bahwa Allah memulai justru di titik itu.
Bapa, aku ingin mengingat dari mana aku datang. Dulu aku ada di luar, disebut orang asing, tidak punya tempat. Tetapi Engkau tidak membiarkan aku tinggal di sana. Jaga hatiku supaya jangan pernah memandang rendah orang lain yang Kaupanggil juga.
Bapa, ada bagian dalam diriku yang masih merasa asing, seperti tamu yang menunggu diusir. Tapi Engkau menyebutku keluarga. Tolong aku percaya bahwa aku benar-benar punya tempat di rumah-Mu, dan biar aku membuka pintu itu juga bagi orang lain.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
