YAKOBUS 2:2
Teks
Yakobus melukiskan sebuah adegan yang begitu hidup sehingga kita hampir bisa mencium debunya: dua orang masuk ke ruang pertemuan jemaat pada saat yang hampir bersamaan. Yang satu berkilau, "memakai cincin emas dan pakaian yang mahal"; yang lain masuk sebagai "orang miskin yang berpakaian kotor". Dua tubuh, dua bau, dua kelas sosial, berdiri di ambang pintu yang sama. Yakobus belum mengatakan apa-apa tentang dosa di ayat ini; ia hanya menahan kamera pada momen itu, membiarkan jemaat melihat dirinya sendiri sedang menimbang-nimbang, sedang menghitung dalam hati siapa yang layak disambut lebih hangat. Ayat 2 adalah pintu masuk; seluruh ketegangan pasal ini lahir dari detik-detik ketika mata jemaat menilai dua sosok itu sebelum satu kata pun terucap.
Inti
Yang ditelanjangi Yakobus bukan kelakuan buruk beberapa orang, melainkan cara kita melihat. Sebelum ada kursi yang ditawarkan, sudah ada penilaian; sebelum ada kata, sudah ada peringkat. Dan justru di situ iman diuji, sebab Yakobus baru saja menyebut Yesus sebagai "Tuhan kita yang mulia". Kemuliaan itulah ukuran satu-satunya di ruangan tersebut, dan di hadapan kemuliaan itu cincin emas kehilangan seluruh daya pikatnya. Allah tidak menilai manusia menurut apa yang melekat pada tubuhnya. Ketika jemaat melakukannya, mereka bukan sekadar kurang sopan; mereka sedang memakai standar dunia di ruangan yang seharusnya menjadi cicipan Kerajaan. Anugerah yang menerima kita tanpa pakaian layak menjadi mustahil dipercayai, bila di ruang itu pakaian menentukan tempat duduk.
Benang Merah
Ruang pertemuan yang digambarkan Yakobus bukan gedung megah, melainkan kemungkinan besar sebuah rumah atau balai sederhana dengan beberapa bangku di depan dan lantai kosong di belakang. Di dunia Romawi, tempat duduk adalah bahasa. Di teater, di jamuan makan, di pengadilan, setiap orang tahu barisnya menurut status. Yang dilakukan Yakobus adalah membawa logika itu masuk ke ruang jemaat dan memperlihatkan betapa asingnya ia di sana. Sebab di pusat iman ini berdiri seorang Tuhan yang lahir tanpa tempat, bekerja dengan tangan tukang kayu, dan mati telanjang di kayu salib. Kemuliaan-Nya tidak datang lewat cincin emas. Kalau Allah sendiri memilih jalan turun, maka jemaat yang menyusun peringkat ke atas sedang bergerak berlawanan arah dengan seluruh kisah keselamatan. Itulah sebabnya soal tempat duduk bukan soal sopan santun, melainkan soal Injil.
Cermin
Jangan buru-buru merasa bebas hanya karena gereja kita tidak punya kursi VIP. Penilaian itu tetap bekerja, hanya bahasanya berubah: mobil di parkiran, cara orang menyebut pekerjaannya, aksen, gigi, merek tas, anak yang sekolah di mana. Kita tidak berkata "berdirilah di sana", tetapi kita memberi tiga menit kepada yang satu dan tiga puluh detik kepada yang lain, dan kita menyebutnya kesibukan. Di tempat kerja hal yang sama terjadi ketika kita menghafal nama atasan tetapi tidak nama petugas kebersihan. Yakobus tidak menuduh kita jahat; ia menuduh kita menghitung, dan hitungan itu biasanya berjalan di bawah kesadaran. Hari ini juga: tulislah nama satu orang di jemaatmu yang minggu lalu kamu sapa paling singkat, lalu kirimi dia pesan berisi satu pertanyaan sungguhan tentang hidupnya.
Pertanyaan
Tetapi bukankah wajar bahwa kita lebih nyaman dengan orang yang mirip kita? Yakobus tampaknya menuntut sesuatu yang melawan naluri sosial paling dasar. Dan jujur saja, jemaat-jemaat itu punya alasan praktis: orang kaya bisa menyediakan rumah, melindungi dari tekanan hukum, membiayai bantuan bagi janda. Menyambutnya hangat bukan sekadar kelemahan, itu strategi bertahan hidup. Di situlah teks ini terasa keras. Yakobus tidak menawarkan jalan tengah, tidak berkata "asal niatmu baik". Ia menolak seluruh perhitungan itu, tanpa menjelaskan bagaimana jemaat miskin harus bertahan tanpa donatur. Mungkin memang di situ letak skandalnya: iman kepada Tuhan yang mulia menuntut kita melepaskan jaring pengaman yang paling masuk akal, dan Yakobus membiarkan kita duduk dengan rasa tidak nyaman itu.
Intertekstual
Ketika Samuel disuruh mengurapi raja baru dan terpukau pada anak sulung Isai yang tampak gagah, Allah menegurnya: manusia melihat yang di depan mata, Allah melihat hati. Adegan Yakobus adalah versi jemaat dari teguran itu, hanya saja kini yang berdiri di pintu bukan calon raja melainkan orang berpakaian kotor. Dan Yakobus sendiri menegaskannya beberapa ayat kemudian: "Bukankah Allah telah memilih orang yang miskin di mata dunia untuk menjadi kaya dalam iman dan mewarisi Kerajaan Allah". Perhatikan kata "memilih". Pemilihan Allah bergerak justru ke arah yang diabaikan dunia. Maka menyambut si miskin di ambang pintu bukan kebaikan hati; itu tindakan mengenali seseorang yang sudah lebih dahulu dipilih Allah.
Detail
Dalam bahasa Yunani, "memakai cincin emas" adalah satu kata: chrysodaktylios, harfiah "berjari emas". Kata yang langka, hampir terdengar seperti julukan yang diciptakan sambil lalu, agak sinis. Di Roma, cincin emas adalah tanda golongan berkuda, kelas atas kedua setelah senator, dan orang yang ingin tampak lebih tinggi dari kenyataannya bisa menyewa cincin untuk sehari. Yakobus tidak menyebut orang itu kaya; ia menyebutnya berjari emas. Artinya, yang dilihat jemaat bukan manusia, melainkan kilau di tangannya. Sebutan itu sendiri sudah merupakan kritik: kita mereduksi orang menjadi satu benda yang menempel pada tubuhnya, lalu memperlakukan benda itu, bukan orangnya. Yang kaya pun, ironisnya, tidak pernah benar-benar dilihat.
Refleksi
Kalau seseorang mengamati dua puluh menit pertamamu di gereja minggu lalu, peringkat siapa yang akan ia lihat sedang kamu susun?
Apa yang kamu harapkan diperoleh dari orang-orang yang kamu sambut paling hangat, dan apa yang berubah bila harapan itu kamu lepaskan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang James 2:2
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YAKOBUS 2:2?
Tentang apakah YAKOBUS 2:2?
Apa konteks historis dari YAKOBUS 2:2?
Apa yang YAKOBUS 2:2 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YAKOBUS 2:2 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang James 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bukankah Allah telah memilih orang-orang yang miskin di dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman?" Yakobus menulis ini sesudah bercerita tentang kursi terbaik yang disiapkan untuk orang berpakaian bagus, sementara yang lain disuruh berdiri. Coba lihat, siapa yang kausambut lebih hangat minggu lalu? Allah memilih justru orang yang kaulewati.
Yang menarik, Abraham tidak disebut "hamba Allah" di ayat ini, melainkan "ia disebut sahabat Allah." Sahabat itu lahir dari jalan panjang: percaya, menunggu, lalu melepaskan yang paling dikasihi di atas gunung. Imannya terlihat dari apa yang ia serahkan. Adakah sesuatu yang masih kamu genggam erat, yang sebenarnya sedang Allah pakai untuk mengubah kamu dari sekadar pengikut menjadi sahabat?
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau berterus terang bahwa iman tanpa perbuatan itu tidak berguna. Aku bersyukur untuk teguran yang membangunkan aku hari ini, untuk tangan yang masih bisa menolong, dan untuk orang-orang di dekatku yang membuat imanku nyata.
Pergilah dengan damai, hangatkanlah dirimu dan kenyangkanlah dirimu," terdengar sopan, bahkan rohani. Tetapi orang itu tetap pulang dengan perut kosong dan badan menggigil. Yakobus menaruh cermin di depanmu: berapa kali doamu untuk seseorang menjadi cara halus untuk tidak membuka dompet atau pintu rumahmu? Kasih yang sungguh selalu meninggalkan bekas di tangan.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi