YEREMIA 17:5
Nas Ini
"Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya, dan yang hatinya menjauh dari TUHAN." Satu ayat, tiga gerakan: tangan yang berpegang pada sesama manusia, otot yang dipercaya sebagai jaminan, dan hati yang perlahan bergeser menjauh dari Tuhan. Ketiganya bukan tiga dosa terpisah, melainkan satu gerakan tunggal yang dilihat dari tiga sudut. Dan di depannya berdiri sebuah kata yang membuat kita berjengit: terkutuklah. Bukan "kurang bijaksana", bukan "sayang sekali", tetapi kutuk. Yeremia mengucapkannya di tengah nubuat tentang Yehuda yang dosanya terukir seperti dengan "pena besi" pada loh hati mereka, dan tepat sebelum ia membalikkan gambar itu: "Diberkatilah orang yang percaya kepada TUHAN."
Intinya
Yang dibongkar di sini bukan kerja sama antarmanusia, sebab tanpa itu tidak ada keluarga, gereja, atau negara. Yang dibongkar adalah pemindahan beban: menaruh seluruh berat hidup pada sesuatu yang sendirinya rapuh. Kata Ibrani yang dipakai untuk "manusia" di sini, basar, berarti daging, tubuh yang bisa lapar, sakit, dan mati. Mengandalkan daging berarti membangun rumah di atas sesuatu yang sedang membusuk. Dan perhatikan urutannya: hati yang menjauh disebut terakhir, bukan pertama. Kepercayaan yang salah arah bukan hanya akibat dari hati yang dingin; ia juga penyebabnya. Setiap kali kita bersandar pada apa yang tidak dapat menanggung kita, jarak dengan Tuhan bertambah satu langkah. Kutuk itu, kalau begitu, bukan hukuman sewenang-wenang dari luar. Kutuk itu adalah bentuk hidup yang kita pilih sendiri: semak di padang gurun, kering di tengah tanah asin, tidak melihat kebaikan ketika kebaikan datang.
Benang Merah
Kalimat ini menaruh sebuah kutuk di atas kepala orang yang bersandar pada daging, dan di situlah letak masalah kita semua, karena tidak ada seorang pun yang sungguh-sungguh lolos dari daftar itu. Yeremia menawarkan dua kemungkinan hidup, pohon atau semak, tetapi ia tidak memberi kita cara untuk berpindah dari yang satu ke yang lain. Perjanjian Baru memberi jawabannya dengan cara yang mengejutkan: Paulus menulis dalam Galatia 3:13 bahwa Kristus menjadi kutuk bagi kita ketika Ia tergantung pada kayu salib. Yang satu-satunya hatinya tidak pernah menjauh dari Tuhan, yang hidup-Nya persis seperti pohon di tepi air yang tidak berhenti menghasilkan buah, justru Dialah yang mengambil tempat semak kering itu. Ia mati di tanah asin agar kita ditanam di dekat sungai.
Cermin
Dan ada pembalikan kedua yang tak boleh kita lewatkan: keselamatan kita akhirnya datang melalui seorang manusia. Tuhan melarang kita mengandalkan daging, lalu Ia sendiri mengenakan daging. Bedanya bukan bahwa Yesus kurang manusiawi, melainkan bahwa daging-Nya telah melewati kubur dan tidak lagi membusuk. Karena itu bersandar pada-Nya bukan pengecualian dari ayat ini, melainkan pemenuhannya: satu-satunya Manusia yang sekaligus TUHAN, sehingga mengandalkan Dia berarti mengandalkan Tuhan.
Sekarang bawa itu ke hari Senin. Apa yang menenangkanmu ketika kau membayangkan lima tahun ke depan? Angka di rekening. Anak yang akhirnya lulus. Atasan yang menyukaimu. Tubuh yang masih kuat. Reputasi yang terjaga di gereja. Semua itu baik, dan semuanya basar, daging yang bisa lapar, sakit, dan mati. Yang mengerikan dari kutuk itu bukan ledakan, melainkan pengeringan yang tak terasa: kau tetap ke gereja, tetap berdoa, tetapi tidak lagi melihat kebaikan ketika kebaikan datang. Ambil kertas sekarang, tulis satu nama atau satu angka yang paling kau andalkan untuk masa depanmu, lalu ucapkan dengan suara terdengar: "Ini pemberian, bukan fondasiku. Engkaulah pujianku."
Antarteks
Mazmur 1 memakai gambar yang hampir sama, pohon di tepi aliran air melawan hidup yang lenyap seperti debu, tetapi Yeremia mengubah satu hal penting. Mazmur 1 berbicara tentang apa yang direnungkan seseorang; Yeremia berbicara tentang apa yang diandalkan seseorang. Bukan hanya pikiran, tetapi tumpuan berat hidup. Dan di dalam pasal ini sendiri, ayat 13 memberi diagnosis yang paling telanjang: mereka "telah meninggalkan TUHAN, sumber air hidup". Perhatikan logikanya. Semak di padang gurun bukanlah orang yang tidak punya air; ia orang yang punya mata air dan memilih berjalan menjauh darinya. Itulah sebabnya bahasa kutuk terasa keras: bukan Tuhan yang mengeringkan mereka, melainkan mereka sendiri yang berpindah dari tepi sungai ke tanah asin.
Profil
Pendengar pertama Yeremia bukan orang-orang saleh yang sedang mencari inspirasi. Mereka warga Yerusalem di ambang kehancuran, dan pilihan politik mereka sangat nyata: bersekutu dengan Mesir atau tunduk kepada Babel. "Mengandalkan manusia" di telinga mereka berbau kuda, kereta perang, dan perjanjian diplomatik yang ditandatangani di istana. Tambahkan lagi keyakinan yang paling dalam: Bait Allah ada di kota mereka, jadi Tuhan tidak mungkin membiarkan Yerusalem jatuh. Kata "terkutuklah" dan "diberkatilah" adalah bahasa upacara perjanjian, kata-kata yang pernah mereka dengar dibacakan sebagai berkat atas bangsa mereka. Mendengarnya diucapkan di pintu gerbang kota, bukan atas musuh tetapi atas diri mereka sendiri, sama dengan mendengar liturgi keselamatan dibalik menjadi surat panggilan pengadilan.
Tokoh Utama
Yang berbicara di sini adalah Tuhan sendiri, dan Ia tidak berbicara dingin. Beberapa ayat sebelumnya Ia berkata bahwa dalam kemarahan-Nya "api telah terpantik"; beberapa ayat sesudahnya Ia menyebut diri-Nya sumber air hidup yang ditinggalkan. Api dan air, dalam satu tarikan napas. Itulah lanskap batin Allah dalam pasal ini: bukan pemarah yang mudah tersinggung, melainkan Pemberi yang melihat pemberian-Nya ditukar dengan tanah asin. Ia adalah Tuhan yang "menyelidiki hati dan menguji batin", yang tidak dapat ditipu oleh ibadah yang rapi di atas hati yang bersandar ke tempat lain. Dan justru Dia yang mengucapkan kutuk ini adalah Dia yang kemudian datang sendiri, dalam daging, untuk menanggungnya. Kemarahan-Nya nyata; tetapi salib memperlihatkan ke mana akhirnya kemarahan itu diarahkan.
Refleksi
Jika hari ini semua yang kau andalkan selain Tuhan diambil, apa yang tersisa dari imanmu, dan apa yang selama ini kau sebut iman padahal sebenarnya rasa aman?
Yesus menjadi kutuk supaya kau menjadi pohon di tepi air. Di bagian hidup mana kau masih hidup seperti semak, padahal akarmu sudah menyentuh sungai?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Jeremiah 17:5
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YEREMIA 17:5?
Tentang apakah YEREMIA 17:5?
Apa konteks historis dari YEREMIA 17:5?
Apa yang YEREMIA 17:5 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YEREMIA 17:5 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Jeremiah 17
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau melihat apa yang terukir paling dalam di hatiku, dosa yang tertulis "dengan pena besi, dengan mata intan", dan Engkau tidak berpaling. Kau sendiri yang menghapusnya lewat darah Yesus dan memberi aku hati yang baru.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau menanam aku di tepi air dan membiarkan akarku menjangkau sungai-Mu. Saat panas hidup datang, daunku tetap hijau; di tahun kekeringan pun aku tidak berhenti berbuah, sebab sumberku ada pada-Mu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi