RATAPAN 1
Teks
Sebuah kota yang dulu ramai sekarang duduk sendirian, seperti perempuan yang kehilangan suaminya, seperti putri raja yang jatuh menjadi budak. Sepanjang pasal ini Yerusalem menangis: jalan-jalannya sepi karena tidak ada lagi perayaan, para pemimpinnya melarikan diri tanpa kekuatan, penduduknya menukar harta demi sepotong roti, dan musuh-musuhnya tertawa. Di tengah tangisan itu ia mengakui bahwa yang menimpanya bukan kebetulan sejarah, melainkan tangan Tuhan atas pemberontakannya sendiri, dan ia berseru: "Lihatlah, ya TUHAN, karena aku dalam kesesakan."
Intinya
Ada satu kalimat yang kembali seperti dentang lonceng: "tidak ada yang menghibur dia" (ayat 2), "Ia tidak memiliki penghibur" (ayat 9), "tetapi tidak seorang pun menghiburnya" (ayat 17), dan lagi di ayat 21. Empat kali. Bukan sekadar keluhan emosional; ini keluhan teologis. Sebab yang membuat penghiburan itu mustahil adalah pengakuan di ayat 5: "TUHAN membuatnya menderita karena banyaknya pelanggarannya." Yang memukul dan yang biasanya menghibur adalah Pribadi yang sama. Itulah kesulitan terdalam pasal ini. Namun perhatikan apa yang tidak dilakukan Yerusalem: ia tidak berpaling dari Tuhan, ia berpaling kepada Tuhan. Doanya diarahkan justru kepada Dia yang tangan-Nya ia rasakan. Iman di sini bukan penjelasan yang rapi; iman adalah tetap berbicara kepada Allah ketika Allah terasa sebagai lawan.
Benang Merah
Ayat 12 tidak lagi berbicara kepada Tuhan, tetapi kepada orang-orang yang lewat: "Apakah ini tidak ada artinya bagimu, hai kamu semua yang lewat di jalan?" Kota yang hancur meminta satu hal saja, bukan uang, bukan pertolongan, tetapi pandangan mata yang berhenti. Seruan itu bergema di Golgota, ketika mereka "yang lewat di jalan" menggeleng-gelengkan kepala sambil mencela Dia yang tergantung di sana (Matius 27:39). Di situ ada Seorang yang ditinggalkan tanpa penghibur, yang menanggung kuk pelanggaran, tetapi bukan pelanggaran-Nya sendiri. Ratapan 1 tidak meramalkan salib secara langsung; ia melukiskan bentuk penderitaan yang kemudian dipakai Allah sebagai jalan-Nya sendiri. Yang di sini diminta oleh kota, kelak dilakukan oleh Allah: Ia berhenti, Ia memandang, Ia masuk ke dalamnya.
Cermin
Kita mengenal kesedihan yang bersih, yang tidak kita sebabkan. Pasal ini bicara tentang kesedihan yang lain: rumah tangga yang runtuh dan Anda tahu bagian mana yang Anda rusak sendiri; kepercayaan di tempat kerja yang hilang karena kelalaian Anda; anak yang menjauh dan Anda ingat kata-kata yang Anda ucapkan. Ratapan yang bercampur rasa bersalah adalah ratapan yang paling sepi, karena kita merasa tidak punya hak untuk menangis. Yerusalem membuktikan sebaliknya. Ia mengaku, "TUHAN itu benar, karena aku telah memberontak terhadap firman-Nya," dan tetap menangis keras di hadapan Tuhan. Pengakuan tidak membatalkan duka. Juga perhatikan siapa Anda dalam ayat 12: mungkin Anda si pejalan yang lewat. Hari ini, kirim pesan kepada satu orang yang sedang berkabung, tanpa nasihat, tanpa ayat, hanya: "Aku tahu, dan aku tidak lupa."
Antar-Teks
Kata "penghibur" yang absen di pasal ini adalah kata yang dipakai Yesaya untuk membuka babak baru: "Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku" (Yesaya 40:1). Jawaban atas Ratapan 1 tidak datang di dalam Ratapan 1; ia datang jauh kemudian, dari mulut Allah sendiri, kepada orang-orang buangan yang sudah lama kehilangan harapan. Dan di tengah kitab ini sendiri, di pasal 3, sesudah ratapan yang lebih pahit lagi, muncul kalimat tentang kasih setia Tuhan yang tidak pernah berakhir dan yang baru setiap pagi. Tetapi urutannya penting: harapan itu tidak diletakkan di pasal 1. Kitab ini menolak mempercepat proses. Ada waktu di mana satu-satunya kalimat yang jujur adalah "hatiku lemah."
Tokoh Utama
Yang berbicara adalah sebuah kota yang menjadi perempuan: janda, budak, tubuh yang ketelanjangannya dilihat orang. Lanskap batinnya terdiri dari tiga hal. Pertama, ingatan: "Yerusalem teringat akan segala harta bendanya, yang ia miliki pada zaman dahulu," dan ingatan itu menyakitkan, bukan menghibur. Kedua, kegelisahan tanpa tempat berhenti: "Ia tinggal di antara bangsa-bangsa, tetapi tidak menemukan tempat istirahat." Ketiga, kejujuran yang mengejutkan: ia tidak menyalahkan Babel, tidak menyalahkan nasib, tidak menyalahkan Tuhan. Namun ada satu Tokoh yang di sepanjang pasal ini tidak mengucapkan sepatah kata pun. Allah disebut, dituduh, diakui benar, dipanggil untuk melihat, tetapi Ia tidak menjawab. Diam-Nya bukan ketiadaan-Nya; tetapi teks membiarkan diam itu tetap diam.
Pertanyaan
Empat kali Yerusalem berkata "Lihatlah, ya TUHAN," dan pasal ini berakhir tanpa satu jawaban. Lebih dari itu, ia berakhir dengan permintaan yang tidak sopan: biarlah musuhku diperlakukan seperti aku diperlakukan. Tidak ada pengampunan bagi Babel di sini, tidak ada penutup yang manis. Mengapa Alkitab memberi ruang bagi doa yang belum matang seperti ini? Mungkin karena Allah lebih tahan terhadap kemarahan kita daripada yang kita duga, dan lebih tidak tahan terhadap kesopanan yang menyembunyikan hati. Apakah doa ini didengar? Kitab ini tidak mengatakannya. Yang kita tahu hanyalah ini: doa itu disimpan, dituliskan, diberi tempat dalam Kitab Suci, dan diberi bentuk yang tertata, dua puluh dua bait menurut urutan abjad. Kesedihan yang berteriak tanpa jawaban tetap dianggap layak dicatat oleh Allah. Untuk sementara, itu sudah cukup banyak.
Refleksi
Kesedihan mana dalam hidup Anda yang belum pernah Anda ucapkan kepada Tuhan karena Anda merasa tidak punya hak menangis atas kesalahan Anda sendiri?
Di mana Anda selama ini menjadi "orang yang lewat di jalan", dan siapa yang menunggu Anda berhenti?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Lamentations 1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti RATAPAN 1?
Tentang apakah RATAPAN 1?
Apa konteks historis dari RATAPAN 1?
Apa yang RATAPAN 1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana RATAPAN 1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Lamentations 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Dia tinggal di antara bangsa-bangsa, dia tidak menemukan tempat perhentian." Yehuda masih hidup, masih bergerak, tetapi tidak ada satu tempat pun yang terasa seperti rumah. Mungkin kamu mengenali rasa itu: sibuk, bertahan, namun batinmu tidak pernah benar-benar duduk. Ratapan tidak buru-buru menghibur. Ia hanya berkata: Tuhan mendengar juga keluhan yang belum punya jawaban.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak pernah seperti para kekasih yang mengkhianati Yerusalem saat ia memanggil. Saat orang yang kuandalkan berbalik pergi, Engkau tetap tinggal. Terima kasih untuk makanan hari ini yang memulihkan hidupku, dan untuk kesetiaan-Mu yang tak pernah menipu.
Yerusalem baru benar-benar mengingat "semua harta yang menjadi miliknya sejak zaman dahulu" justru ketika semuanya sudah hilang. Ingatan indah sering datang paling tajam di hari-hari tergelap kita. Mungkin kamu juga sedang begitu, menghitung yang dulu ada sambil menahan tangis. Tuhan tidak menutup mata dari air mata itu.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak berdiam diri terhadap dosa umat-Mu. Ketika para pahlawanku ditolak dan hidupku terasa diinjak seperti dalam pemerasan anggur, aku belajar bahwa kekuatanku bukan sandaranku. Terima kasih Engkau mengizinkan aku meratap tanpa harus berpura-pura kuat.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
