RATAPAN 2
Teks Ini
Pasal ini melukiskan runtuhnya Yerusalem bukan sebagai kecelakaan sejarah, melainkan sebagai pekerjaan tangan Tuhan sendiri: Dia menelan, merobohkan, menolak mazbah-Nya, meninggalkan tempat kudus-Nya, bahkan membuat Sion "melupakan perayaan dan hari Sabat." Lalu kamera turun dari tembok ke jalanan: anak-anak pingsan di pangkuan ibu mereka, tua-tua duduk membisu dengan debu di kepala, nabi-nabi tanpa penglihatan. Penyair sendiri hancur, matanya sembap, hatinya "ditumpahkan ke tanah." Ia tidak sanggup menghibur, maka ia melakukan satu hal yang tersisa: ia menyuruh tembok itu menangis siang dan malam, dan ia berseru, "Lihatlah, ya TUHAN, dan perhatikanlah!"
Inti
Teologi pasal ini keras dan jujur: murka Allah itu nyata, terarah, dan bukan kehilangan kendali. Ayat 17 menolak semua tafsir yang mengatakan ini kebetulan atau nasib buruk: "TUHAN telah melakukan apa yang Dia rencanakan. Dia telah menggenapi firman-Nya, yang Dia perintahkan pada zaman dahulu." Artinya, penghancuran ini adalah kesetiaan Allah pada perkataan-Nya sendiri, janji perjanjian yang punya dua sisi. Yang mengguncang bukan bahwa Allah menghukum, melainkan bahwa Dia menghukum milik-Nya sendiri, bait-Nya, kota-Nya, "tumpuan kaki-Nya." Apakah Allah bisa menghancurkan tempat di mana Dia berjanji hadir? Pasal ini menjawab ya. Dan dengan itu ia merobek ilusi bahwa kesalehan simbolis bisa mengikat Allah pada sebuah gedung. Kekudusan bukan jaminan keamanan; ia justru yang membuat dosa tak bisa dibiarkan.
Benang Merah
Perhatikan apa yang tidak terjadi di pasal ini: tidak ada penyelesaian. Ratapan berhenti di ayat 22 tanpa pemulihan, tanpa "tetapi." Itu bukan cacat, itu kejujuran. Dan di situlah benang merah tertarik jauh ke depan. Sebab apa yang terjadi di Yerusalem, murka yang mencurah tanpa belas kasihan atas kota yang disebut "kesempurnaan dari keindahan," terjadi sekali lagi di luar tembok kota yang sama, di atas seorang yang tidak bersalah. Orang-orang yang lewat di Golgota juga "menggeleng-gelengkan kepala," persis seperti ayat 15. Yesus Kristus berdiri di tempat Sion yang terbuang, dan seruan-Nya, "Mengapa Engkau meninggalkan Aku," adalah gema dari ayat 7: Tuhan meninggalkan tempat kudus-Nya. Bedanya: di sana murka itu habis, dan tempat kudus yang baru tidak bisa dirobohkan lagi.
Cermin
Ada sesuatu dalam diri kita yang menolak Allah seperti ini. Kita lebih suka Allah yang dapat diprediksi, yang imbalannya sepadan dengan usaha kita: rajin berdoa, karier aman; setia ke gereja, anak baik-baik saja. Lalu datang diagnosis, PHK, pernikahan yang retak, anak yang pergi, dan kita bertanya seperti ayat 13: "Siapa yang dapat menyembuhkanmu?" Pasal ini tidak memberi kita penjelasan rapi. Yang diberikannya adalah izin untuk berduka dengan suara keras di hadapan Allah, bukan di belakang punggung-Nya. "Curahkan hatimu seperti air di hadapan Tuhan." Perhatikan: di hadapan Tuhan, bukan kepada teman, bukan ke media sosial. Malam ini, sebelum tidur, tuliskan dalam satu kalimat hal paling pahit yang sedang kamu bawa, lalu bacakan kalimat itu keras-keras kepada Allah, tanpa menambahkan penghiburan apa pun di belakangnya.
Profil
Pendengar pertama adalah orang-orang yang selamat, yang berkumpul di reruntuhan atau di pembuangan, mungkin pada peringatan tahunan jatuhnya bait suci. Mereka tidak membaca ini sebagai sejarah; mereka mencium baunya. Mereka pernah ikut mempercayai nabi-nabi yang berkata semuanya akan baik-baik saja, dan ayat 14 menuduh para nabi itu tepat di wajah: "Mereka tidak menyingkapkan kesalahanmu." Bagi mereka, kalimat yang paling mengerikan bukan soal tembok yang roboh, melainkan "Hukum Taurat tidak ada lagi" dan tidak ada penglihatan dari TUHAN. Allah membisu. Mereka mendengar pasal ini sebagai satu-satunya suara yang masih berani menyebut nama Tuhan di tengah kesunyian itu, dan karena itu pasal ini justru menolong: ratapan yang diucapkan bersama lebih bisa ditanggung daripada diam sendirian.
Tokoh Utama
Tokoh utama pasal ini adalah Tuhan, dan Ia digambarkan dengan kata kerja yang membuat kita gelisah: menelan, merobohkan, membakar, menolak, meninggalkan, membantai. Tetapi perhatikan ayat 8: "Dia merentangkan tali pengukur." Tali pengukur adalah alat tukang bangunan. Allah merobohkan dengan presisi seorang arsitek, bukan dengan amarah buta. Ini bukan ledakan emosi, ini keputusan. Dan justru itu yang lebih sulit sekaligus lebih bisa dipercaya: Allah yang marah secara terukur adalah Allah yang masih bisa diajak bicara. Penyair tahu itu. Karena itu di ayat 20 ia tidak lari dari Allah, melainkan menarik lengan baju-Nya: "Lihatlah, ya TUHAN, dan perhatikanlah!" Hanya kepada Allah yang bertindak dengan sengaja orang bisa mengajukan protes.
Detail
Ayat 6 menyimpan satu kalimat yang mudah terlewat: "Dia merusak kemah-Nya seolah-olah itu sebuah kebun." Bandingkan dengan sebuah pondok di kebun yang dibongkar selesai musim panen, dibiarkan rubuh, tidak ada yang menangisinya. Bait Allah, pusat dunia bagi Israel, diperlakukan seperti gubuk ranting. Dan kalimat berikutnya menusuk lebih dalam: Allah "membuat Sion melupakan perayaan dan hari Sabat." Bukan hanya gedungnya yang hilang, tetapi ritme hidup bersama Allah, kalender yang mengatur waktu mereka, hari-hari di mana umat belajar bahwa mereka dikasihi. Lalu di ayat 7 musuh "membuat kegaduhan di bait TUHAN seperti pada hari perayaan," dan di ayat 22 kengerian datang "seperti pada hari perayaan." Perayaan tetap ada, suaranya tetap ada, tetapi isinya terbalik seluruhnya.
Di mana dalam hidupmu kamu diam-diam berharap bahwa kesetiaan beragamamu akan melindungimu dari penderitaan, dan apa yang terjadi pada imanmu ketika perlindungan itu tidak datang?
Ratapan ini berakhir tanpa jawaban. Sanggupkah kamu berdoa tanpa buru-buru menutupnya dengan kalimat yang menenangkan, dan apa yang membuatmu takut untuk melakukannya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Lamentations 2
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti RATAPAN 2?
Tentang apakah RATAPAN 2?
Apa konteks historis dari RATAPAN 2?
Apa yang RATAPAN 2 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana RATAPAN 2 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Lamentations 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Lihatlah, ya TUHAN, dan perhatikanlah kepada siapa Engkau telah melakukan hal ini." Doa ini tidak dirapikan dulu. Yeremia justru mengangkat hal paling mengerikan, ibu-ibu yang kelaparan sampai memakan anak mereka, ke hadapan Allah. Ia tidak menjelaskan, ia hanya memaksa Tuhan melihat. Mungkin imanmu hari ini bukan berarti punya jawaban, melainkan berani membawa yang tak tertanggung itu kepada-Nya, apa adanya.
Di manakah gandum dan anggur?" tanya anak-anak itu kepada ibu mereka, lalu nyawa mereka tercurah ke pangkuan ibu mereka. Pangkuan yang dulu tempat ditimang, kini tempat melepas. Ada kepedihan ketika kita dicari oleh orang yang kita kasihi, tapi tangan kita kosong. Ratapan tidak menutupi itu. Ia membawanya kepada Allah apa adanya.
Mereka bersorak-sorai di dalam Rumah TUHAN, seperti pada hari raya." Suara sorak yang sama, tetapi mulut yang salah. Musuh berpesta di tempat yang dulu penuh pujian. Dan yang paling menyakitkan: Tuhan sendiri yang menyerahkannya. Pernahkah kamu kehilangan sesuatu yang kaukira terlalu kudus untuk hilang?
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak pernah menganggap ibadah kami sebagai hal sepele. Saat kubaca bahwa perayaan dan Sabat dilupakan di Sion, aku bersyukur hari ini pintu ibadah masih terbuka bagiku, dan Engkau memberi kami Raja dan Imam yang tidak pernah Kautolak.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
