LUKAS 16:20
Teksnya
Sesudah menggambarkan seorang kaya yang berpakaian ungu dan linen halus serta berpesta setiap hari, Yesus mengarahkan kamera ke arah lain: ke ambang pintu gerbang rumah itu. Di sana tergeletak seorang miskin, tubuhnya penuh borok, tidak duduk atau berdiri melainkan "berbaringlah", seperti sesuatu yang dilemparkan ke sana. Dan orang ini punya nama: Lazarus.
Inti Teologisnya
Perhatikan ketimpangan yang paling mengganggu dalam ayat ini: si kaya tidak bernama, si miskin bernama. Dalam seluruh perumpamaan yang diceritakan Yesus, hanya di sini satu tokoh diberi nama. Di dunia, yang tercatat adalah orang berpakaian ungu; nama merekalah yang diukir di batu, diingat di pasar, disebut di sinagoge. Tetapi Yesus membalik daftar itu. Nama Lazarus adalah bentuk Yunani dari Eleazar, yang berarti "Allah menolong". Jadi di gerbang rumah kemewahan itu terbaring seorang manusia yang seluruh hidupnya adalah sebuah nama teologis: Allah menolong. Belum ada tanda pertolongan itu, hanya borok dan lapar. Namun anugerah tidak pernah diukur dari apa yang tampak. Allah mengenal orang yang tidak dikenal siapa pun.
Benang Merahnya
Kata "pintu gerbang" bukan detail dekoratif. Dalam hukum Musa, gerbang adalah tempat keadilan ditegakkan dan tempat orang miskin dijumpai; Ulangan berulang kali berbicara tentang orang miskin dan orang asing "di dalam pintu gerbangmu", dan memerintahkan tangan yang terbuka lebar. Artinya: Lazarus bukan kebetulan berbaring di sana. Ia adalah ujian perjanjian yang dikirim Allah ke ambang rumah orang kaya itu setiap pagi. Dan justru di sini benang merah menuju Kristus menjadi tajam. Yesus, yang menceritakan kisah ini, adalah Dia yang menjadi miskin, yang menderita di luar gerbang kota, yang tubuh-Nya dilukai. Allah tidak menolong Lazarus dari kejauhan; Ia masuk ke dalam posisi Lazarus.
Cerminnya
Kita jarang menolak orang miskin; kita hanya tidak melihatnya. Orang kaya dalam kisah ini tidak menendang Lazarus, tidak menghinanya, tidak sekali pun berbicara kepadanya. Ia hanya melewatinya. Itulah dosa yang paling mudah kita lakukan: dosa berjalan cepat. Pikirkan gerbang-gerbang Anda sendiri, pagar kompleks, layar ponsel yang bisa digeser, rekan kerja kontrak yang namanya tidak pernah Anda tanyakan, saudara yang keuangannya berantakan dan yang teleponnya Anda biarkan berdering. Dan jika Anda justru berada di sisi Lazarus, dengan tubuh yang sakit menahun, dengan utang yang tidak selesai, dengan rasa malu yang lengket: ayat ini menyebut nama Anda sebelum menyebut penderitaan Anda. Allah menyebut nama lebih dahulu.
Tokoh Utamanya
Lazarus tidak pernah mengucapkan satu kata pun dalam seluruh kisah ini, bahkan setelah ia mati. Ia tidak berdoa, tidak mengeluh, tidak menuntut, tidak bersaksi. Ia hanya berbaring, berharap remah, dijilat anjing. Yesus juga tidak mengatakan bahwa ia saleh. Ini penting, sebab kalau tidak, kita akan menjadikan kemiskinan sebagai jasa, dan itu hanya membalik logika Farisi tanpa membongkarnya. Yang membenarkan Lazarus bukanlah penderitaannya, melainkan Allah yang mengenal dan mengangkatnya. Lanskap batinnya adalah lanskap seseorang yang sudah kehabisan segalanya kecuali napas: tanpa daya tawar, tanpa kekuatan, tanpa suara. Justru orang seperti inilah yang dalam Injil Lukas terus-menerus menjadi objek belas kasihan Allah. Kerajaan Allah dimasuki dengan tangan kosong.
Profil Pendengarnya
Ayat 14 menyebutkan siapa yang mendengar: orang-orang Farisi yang mencintai uang dan mengejek Yesus. Mereka hidup dalam kerangka berpikir yang rapi: kekayaan adalah tanda berkat, penyakit kulit adalah tanda ketidaklayakan dan kenajisan. Orang dengan tubuh penuh borok tidak boleh masuk ke bait, tidak boleh disentuh, secara sosial ia sudah setengah mati. Bagi mereka, si kaya di ayat 19 adalah bukti perkenanan Allah, dan Lazarus adalah bukti sebaliknya. Maka ketika Yesus memberi nama kepada si penderita borok dan membiarkan si kaya anonim, Ia sedang merobek peta rohani mereka. Kalimat-Nya di ayat 15 sudah memperingatkan: "yang diagung-agungkan di antara manusia adalah sesuatu yang menjijikkan di hadapan Allah."
Gema Kitab Suci
Perjanjian Lama sudah lama menempatkan orang miskin di gerbang sebagai ujian iman umat; para nabi menuduh Israel bukan karena kurang ibadah, melainkan karena ibadah yang berjalan melewati orang lapar. Lazarus adalah tuduhan itu dalam bentuk daging dan borok. Gema kedua terdengar di akhir perumpamaan, ketika Abraham berkata: "Jika saudara-saudaramu tidak mendengarkan Hukum Musa dan kitab para nabi, mereka tidak akan bisa diyakinkan, bahkan oleh seseorang yang bangkit dari antara orang mati." Lukas menulis ini setelah Paskah. Kebangkitan sudah terjadi, dan sebagian orang tetap tidak bergerak. Karena masalahnya bukan kurang bukti, melainkan hati yang sudah memilih gerbang tertutup.
Siapa yang setiap hari terbaring di gerbang hidup Anda, cukup dekat untuk dilihat namun cukup jauh untuk diabaikan, dan apakah Anda tahu namanya?
Jika Allah mengenal Anda dengan nama, bukan dengan jabatan, penghasilan, atau kondisi tubuh Anda, apa yang berubah dari cara Anda menilai diri sendiri hari ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 16:20
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 16:20?
Tentang apakah LUKAS 16:20?
Apa konteks historis dari LUKAS 16:20?
Apa yang LUKAS 16:20 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 16:20 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Luke 16
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Perhatikan bedanya: Lazarus "dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham", sedangkan orang kaya itu "mati dan dikuburkan". Yang satu diantar, yang satu hanya dikubur. Selama hidup Lazarus tergeletak di pintu gerbang tanpa ada yang mengangkatnya. Ternyata Allah sedang menyiapkan tangan yang jauh lebih lembut. Siapa yang mengabaikanmu hari ini tidak menentukan siapa yang menyambutmu nanti.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi