Penjelasan Alkitab

LUKAS 7:38

Alkitab

Nas Itu

Di ruang makan seorang Farisi, di tengah percakapan para tamu yang bersandar di meja, seorang perempuan yang di kota itu dikenal sebagai "perempuan berdosa" menyelinap masuk dan berdiri di belakang Yesus, dekat kaki-Nya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia menangis sampai air matanya jatuh membasahi kaki Yesus, lalu mengurai rambutnya, sesuatu yang tidak dilakukan perempuan terhormat di depan umum, dan memakainya sebagai kain pengering. Sesudah itu ia mencium kaki Yesus berulang-ulang dan menuangkan minyak wangi dari botol pualam yang sengaja ia beli. Seluruh isi hatinya diucapkan lewat tubuh: air mata, rambut, bibir, minyak. Lukas menuliskannya dalam satu ayat panjang yang terasa seperti gerakan lambat, seolah kamera berhenti lama di kaki Yesus dan tidak mau beralih.

Intinya

Yang terjadi di kaki Yesus adalah pengakuan dosa tanpa kata dan penyembahan tanpa izin. Perempuan ini tidak menunggu sampai ia pantas; ia datang justru karena ia tahu ia tidak pantas. Dan di situlah letak kejutan teologisnya: ia tidak melakukan satu pun ritual pemurnian, tidak membawa korban ke Bait Allah, tidak menemui imam. Ia membawa dirinya kepada satu Pribadi, dan itu cukup. Nanti Yesus sendiri yang menyimpulkan apa yang sudah lebih dulu terjadi di hati perempuan itu: "Dosamu sudah diampuni." Artinya, tindakan di ayat 38 bukan usaha membeli pengampunan dengan minyak seharga upah berbulan-bulan, melainkan luapan orang yang sudah merasakan bahwa di hadapan Yesus utangnya dihapus. Kasih yang besar bukan syarat pengampunan, melainkan bukti bahwa pengampunan itu sudah menyentuhnya. Injil selalu bergerak ke arah ini: anugerah lebih dulu, air mata menyusul.

Benang Merah

Minyak wangi dalam Perjanjian Lama bukan sekadar parfum. Dengan minyak, raja dilantik, imam ditahbiskan, nabi ditandai. "Mesias" sendiri berarti Yang Diurapi. Maka ada ironi kudus di sini: bukan imam besar, bukan Sanhedrin, bukan tua-tua Israel yang mengurapi Yesus, melainkan seorang perempuan yang namanya pun tidak dicatat, dan bukan di kepala melainkan di kaki. Israel menantikan Yang Diurapi; ketika Ia datang, yang mengenali-Nya justru orang yang paling tidak diperhitungkan. Dan perhatikan ke mana perempuan itu membawa dosanya. Bukan ke Bait Allah, bukan ke mezbah, melainkan ke kaki seorang Manusia yang sedang bersandar di meja makan. Seluruh sistem korban bergerak menuju satu Pribadi, dan di ruang makan Simon, Pribadi itu sedang duduk.

Cermin

Ada dua cara membaca ayat ini dan keduanya menyakitkan. Kalau Anda memimpin kelompok kecil, mengajar, melayani bertahun-tahun, kemungkinan besar Anda lebih mirip Simon: tuan rumah yang sopan, tidak mencuri, tidak berzina, dan karena itu diam-diam merasa pengampunan yang Anda terima berukuran kecil. Kasih Anda pun ikut mengecil, dan itu kelihatan di rumah, pada nada suara Anda kepada pasangan, pada perhitungan Anda soal siapa yang pantas dibantu. Cara kedua: Anda tahu persis dosa mana yang membuat Anda tidak berani berlutut, dan Anda menunggu sampai cukup bersih. Perempuan ini tidak menunggu. Malam ini, sebelum tidur, berlututlah di lantai kamar Anda, sebutkan dengan suara terdengar satu dosa yang paling Anda sembunyikan, lalu bacakan keras-keras kalimat Yesus di ayat 48 atas diri Anda sendiri.

Detail

Perhatikan urutannya. Perempuan itu membeli minyak wangi lebih dulu; itu bagian yang direncanakan. Air mata tidak direncanakan. Ia datang untuk mengurapi, lalu tangisnya jatuh duluan dan membasahi kaki Yesus, dan tiba-tiba ia harus berimprovisasi. Tidak ada baskom, tidak ada handuk, sebab Simon memang tidak menyediakan air pembasuh kaki bagi tamunya. Maka rambutnya yang menjadi kain. Rencananya rusak oleh air matanya sendiri, dan justru kerusakan rencana itulah yang membuat penyembahannya nyata. Ibadah yang paling jujur sering kali bukan yang tertata rapi, melainkan yang bocor: kata-kata yang macet, doa yang berhenti di tengah, tubuh yang mengkhianati ketenangan yang sedang kita pura-purakan.

Pertanyaan

Ayat 47 mengganggu: "dosanya yang banyak itu sudah diampuni sebab ia menunjukkan kasih yang besar." Terdengar seperti kasih membeli pengampunan. Tetapi tiga ayat kemudian Yesus berkata, "Imanmu telah menyelamatkanmu." Perumpamaan di ayat 41 sampai 43 memutuskan perkara: yang lebih mengasihi adalah yang lebih dulu utangnya dihapus. Jadi kasih itu bukti, bukan harga. Yang tetap tidak enak adalah sisi lainnya. Apakah orang yang hidupnya relatif tertib memang ditakdirkan mengasihi setengah hati? Yesus tidak berkata Simon sedikit berdosa; Ia berkata Simon sedikit diampuni, dan itu karena Simon merasa hanya sedikit yang perlu diampuni. Ukuran kasih kita ternyata ditentukan oleh kejujuran kita tentang utang kita.

Konteks

Perjamuan seorang Farisi bukan acara tertutup. Tamu bersandar miring di dipan rendah, bertumpu pada siku kiri, kaki terjulur ke belakang, dan orang luar boleh masuk berdiri di pinggir untuk menonton dan mendengar diskusi. Itu sebabnya perempuan ini bisa berada persis di belakang kaki Yesus. Di kota kecil, reputasinya diketahui semua orang; sebutan "perempuan berdosa" kemungkinan besar berarti pelacur. Mengurai rambut di depan laki-laki adalah tindakan yang di mata orang terhormat nyaris tidak senonoh. Simon, sebagai tuan rumah, sudah lebih dulu melewatkan tiga keramahan dasar: air, ciuman salam, minyak. Dan ingat kalimat yang baru saja diucapkan Yesus di ayat 34: "sahabat para pengumpul pajak dan orang-orang berdosa." Adegan ini membuktikan tuduhan itu benar, dan justru di situlah Injil.

Refleksi

Kalau Anda harus menyebut angka utang Anda dalam perumpamaan itu, lima ratus atau lima puluh, mana yang spontan Anda pilih, dan apa yang jawaban itu ungkapkan tentang seberapa dalam Anda merasa diampuni?

Di mana dalam hidup Anda sopan santun rohani sudah menggantikan kasih yang berantakan tetapi sungguh-sungguh seperti perempuan ini?

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 7:38

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti LUKAS 7:38?
Di ruang makan seorang Farisi, di tengah percakapan para tamu yang bersandar di meja, seorang perempuan yang di kota itu dikenal sebagai "perempuan berdosa" menyelinap masuk dan berdiri di belakang Yesus, dekat kaki-Nya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Tentang apakah LUKAS 7:38?
Yang terjadi di kaki Yesus adalah pengakuan dosa tanpa kata dan penyembahan tanpa izin. Perempuan ini tidak menunggu sampai ia pantas; ia datang justru karena ia tahu ia tidak pantas. Dan di situlah letak kejutan teologisnya: ia tidak melakukan satu pun ritual pemurnian, tidak membawa korban ke Bait Allah, tidak menemui imam.
Apa konteks historis dari LUKAS 7:38?
Minyak wangi dalam Perjanjian Lama bukan sekadar parfum. Dengan minyak, raja dilantik, imam ditahbiskan, nabi ditandai. "Mesias" sendiri berarti Yang Diurapi. Maka ada ironi kudus di sini: bukan imam besar, bukan Sanhedrin, bukan tua-tua Israel yang mengurapi Yesus, melainkan seorang perempuan yang namanya pun tidak dicatat, dan bukan di kepala melainkan di kaki.
Apa yang LUKAS 7:38 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Ada dua cara membaca ayat ini dan keduanya menyakitkan. Kalau Anda memimpin kelompok kecil, mengajar, melayani bertahun-tahun, kemungkinan besar Anda lebih mirip Simon: tuan rumah yang sopan, tidak mencuri, tidak berzina, dan karena itu diam-diam merasa pengampunan yang Anda terima berukuran kecil.
Bagaimana LUKAS 7:38 masih relevan hari ini?
Perhatikan urutannya. Perempuan itu membeli minyak wangi lebih dulu; itu bagian yang direncanakan. Air mata tidak direncanakan. Ia datang untuk mengurapi, lalu tangisnya jatuh duluan dan membasahi kaki Yesus, dan tiba-tiba ia harus berimprovisasi. Tidak ada baskom, tidak ada handuk, sebab Simon memang tidak menyediakan air pembasuh kaki bagi tamunya.
Terwujud berkat para mitra kami

Yang dibagikan komunitas tentang Luke 7

Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.

Doa Editorial pada ayat 37

Tuhan, seperti perempuan yang datang membawa apa yang paling berharga miliknya, aku pun datang dengan tangan yang tidak bersih. Aku sering merasa tidak pantas mendekat. Tapi Engkau tidak mengusirku. Terima kasih sudah menerima aku apa adanya.

Doa Editorial pada ayat 11

Tuhan, Engkau melihat perempuan itu di tengah iring-iringan duka, dan hati-Mu tergerak sebelum ia sempat meminta. Lihatlah juga aku hari ini. Ada hal-hal dalam hidupku yang terasa sudah mati, dan aku lelah berharap. Datanglah, sentuh, dan bangkitkan.

Wawasan Editorial pada ayat 34

Lihat, Dia orang yang rakus dan pemabuk, sahabat para pengumpul pajak dan orang-orang berdosa!" Kalimat itu dilempar sebagai hinaan, dan Yesus tidak pernah repot membantahnya. Dia rela namanya kotor asal meja-Nya tetap terbuka. Pertanyaannya untukmu: apakah hidupmu masih cukup dekat dengan orang berdosa sampai orang mulai bergosip yang sama?

Syukur Editorial pada ayat 25

Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak menilai hamba-Mu dari pakaian mewah atau kehidupan yang nyaman. Yohanes Pembaptis tidak berjubah halus, tidak tinggal di istana, namun Engkau memuliakannya. Ajar kami menghargai apa yang Kauhargai, bukan yang dielukan dunia.

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi

Penafian: Faith.network menggunakan model bahasa otomatis untuk menyusun penjelasan Alkitab. Meskipun kami berupaya menjaga ketepatan teologis, perangkat lunak ini dapat membuat kesalahan. Gunakanlah sebagai pelengkap, bukan pengganti, bagi penelaahan Alkitab pribadi Anda dan kehidupan bersama dalam persekutuan gereja.

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network

Perusahaan?