MATIUS 23:26
Teks Itu
Yesus baru saja menyebut para ahli Taurat dan orang Farisi sebagai orang yang rajin menggosok bagian luar cangkir dan piring, sementara isinya penuh rampasan dan keserakahan. Lalu Ia menajamkan tuduhan itu menjadi perintah: "Kamu, orang-orang Farisi yang buta! Bersihkan dahulu bagian dalam cangkir dan piring, maka bagian luarnya juga bisa menjadi bersih." Perhatikan urutannya. Bukan luar dulu lalu dalam menyusul, melainkan dalam dulu, dan luar akan mengikuti. Dalam satu kalimat pendek Yesus membalik seluruh logika kesalehan yang dibangun di atas penampilan, dan sekaligus memberi jalan keluar: ada perintah "bersihkan", bukan sekadar vonis "kamu kotor".
Inti
Ayat ini menyentuh pertanyaan paling tua dalam agama: dari mana kekudusan datang, dari luar ke dalam atau dari dalam ke luar? Seluruh sistem tahirah Farisi bekerja dari luar; sentuhan, cuci tangan, batas-batas yang dijaga rapi. Yesus tidak menghapus tuntutan kekudusan, Ia memindahkan titik masuknya. Yang najis bukan pertama-tama benda yang kausentuh, melainkan hati yang menggenggam. Dan justru di situ manusia buntu, sebab tidak ada seorang pun yang bisa menyikat bagian dalam dirinya sendiri sampai bersih. Perintah "bersihkan dahulu bagian dalam" karena itu berfungsi seperti seluruh hukum Taurat: ia menyingkap bahwa yang dibutuhkan bukan usaha yang lebih keras, melainkan hati yang baru. Anugerah dimulai persis di titik tempat tuntutan Allah membuat kita kehabisan akal.
Benang Merah
Yehezkiel pernah mendengar janji Allah tentang air yang menahirkan dan hati batu yang diganti hati daging; itu bukan program perbaikan diri, itu tindakan Allah dari dalam. Perintah Yesus di Matius 23:26 berdiri persis di atas janji itu dan menuntut penggenapannya. Yang menarik: beberapa hari setelah kata-kata ini, di ruang atas, Yesus mengangkat cangkir dan berbicara tentang darah perjanjian yang ditumpahkan untuk pengampunan dosa. Cangkir yang di pasal 23 menjadi gambar kemunafikan berubah menjadi tanda pembersihan yang sesungguhnya. Bagian dalam manusia tidak dibersihkan dengan disiplin rohani yang lebih ketat, melainkan oleh darah dan oleh Roh. Perjanjian baru bukan Taurat versi lunak, melainkan Taurat yang akhirnya dituliskan di tempat yang tepat: di dalam.
Cermin
Kita jarang memilih antara kudus dan jahat; kita memilih antara terlihat baik dan menjadi baik, dan pilihan itu datang dalam bentuk kecil. Laporan kerja yang kaubuat sedikit lebih mengilap daripada kenyataannya. Nada suaramu yang berubah lembut begitu ada tamu masuk rumah, padahal lima menit sebelumnya kau membentak anakmu. Pemberian yang kaulakukan dengan tulus, tetapi entah kenapa terasa hambar kalau tidak ada yang tahu. Uang yang kaukelola rapi di atas kertas, sementara di dalam hati ia sudah lama menjadi tuan. Yesus tidak menyuruhmu berhenti mencuci bagian luar; sopan santun, kerapian, kedisiplinan itu baik. Ia hanya menolak membiarkanmu memakai semua itu sebagai tutup. Pertanyaannya sederhana dan tidak nyaman: siapa yang mengenal isi cangkirmu selain Allah?
Profil
Yang mendengar kalimat ini adalah orang-orang yang sangat serius terhadap Allah. Orang Farisi bukan penjahat; mereka adalah gerakan awam yang ingin membawa kekudusan Bait Allah ke dapur setiap rumah, supaya seluruh Israel hidup sebagai umat yang kudus. Aturan mencuci cangkir dan piring lahir dari kerinduan yang tulus, bukan dari kemalasan rohani. Justru itu yang membuat teguran ini begitu tajam bagi telinga pertama: yang dikoreksi bukan orang yang cuek terhadap Allah, melainkan yang paling berusaha. Orang banyak yang berdiri di sekitar Yesus mendengar pemimpin rohani mereka disebut buta, dan itu mengguncang. Sekaligus melegakan, sebab beban berat yang diikatkan di pundak mereka (ayat 4) ternyata bukan ukuran sejati di hadapan Allah.
Detail
Kata "buta" yang Yesus pakai di sini bukan hinaan asal. Ini kelima kalinya dalam pasal ini Ia menyebut mereka buta, dan artinya spesifik: mereka tidak bisa lagi menilai apa yang besar dan apa yang kecil. Mereka menyaring nyamuk dan menelan unta. Kebutaan itu bukan ketidaktahuan, melainkan skala yang rusak. Orang yang tahu banyak tentang Allah bisa kehilangan kemampuan melihat mana yang penting bagi Allah. Dan bahayanya, kebutaan jenis ini tidak terasa; orang buta secara rohani selalu merasa dirinya justru sedang melihat paling jernih. Karena itu Yesus tidak berkata "berusahalah lebih keras" melainkan menyapa mereka sebagai orang buta, sebab yang pertama-tama dibutuhkan bukan tenaga baru, melainkan mata baru.
Pertanyaan
Kalau bagian dalam hanya bisa dibersihkan oleh Allah, mengapa Yesus memerintahkan mereka membersihkannya sendiri? Jangan buru-buru meredakan ketegangan itu. Alkitab memang berulang kali menaruh perintah dan anugerah berdampingan tanpa menjelaskan sambungannya. Yang bisa kita katakan: perintah ini nyata, bukan pura-pura. Ada langkah yang harus kauambil, yaitu berhenti mengurus penampilan dan mulai jujur tentang isi. Tetapi kejujuran itu sendiri sudah merupakan awal dari pekerjaan Allah di dalam dirimu. Yang tidak dijelaskan Yesus adalah di mana persisnya usahamu berakhir dan anugerah-Nya mulai. Mungkin memang tidak bisa dipetakan. Yang jelas, tiga belas ayat kemudian Ia menangis atas Yerusalem dan berkata "kamu tidak mau". Kebutaan pun ternyata punya unsur kemauan.
Refleksi
Bagian mana dari hidupmu yang paling rapi di mata orang lain, dan apa yang sebenarnya tersimpan di dalamnya?
Kalau Allah membersihkan dari dalam ke luar, langkah kejujuran apa yang bisa kauambil minggu ini tanpa memperbaiki dulu penampilanmu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 23:26
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 23:26?
Tentang apakah MATIUS 23:26?
Apa konteks historis dari MATIUS 23:26?
Apa yang MATIUS 23:26 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 23:26 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 23
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Yesus mengucapkan ini tepat setelah berbicara tentang orang yang suka tempat terhormat dan sapaan di pasar: "Siapa yang meninggikan dirinya akan direndahkan, dan siapa yang merendahkan dirinya akan ditinggikan." Perhatikan, Dia tidak melarangmu menjadi besar. Dia hanya memindahkan jalannya. Lewat bawah, lewat melayani. Hari ini, siapa yang bisa kamu layani tanpa seorang pun tahu?
Terima kasih, Yesus, karena Engkau mengajarkan bahwa "yang terbesar di antara kamu haruslah menjadi pelayanmu." Aku bersyukur Engkau sendiri lebih dulu melayani aku, dan untuk setiap orang yang diam-diam merendahkan diri menolongku tanpa mencari pujian.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak berhenti pada penampilan luarku. Engkau berkata, "Bersihkanlah terlebih dahulu bagian dalam cawan," dan itulah yang Engkau kerjakan di hatiku: membersihkan motif yang tersembunyi, bukan sekadar memolesnya. Aku bersyukur Engkau peduli pada apa yang tak dilihat orang lain.
Hai orang-orang buta! Sebab, mana yang lebih besar, persembahan itu atau mazbah yang menguduskan persembahan itu?" Mereka lupa: yang membuat pemberian menjadi kudus bukan nilainya, melainkan Allah yang menerimanya. Kita pun bisa jatuh di situ, lebih bangga pada apa yang kita berikan daripada pada Dia yang layak menerimanya. Coba tanya hatimu hari ini: mana yang lebih besar bagimu?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi