MAZMUR 115:16
Teks
Ada pembagian yang tegas di ayat ini: langit tetap menjadi wilayah TUHAN, sepenuhnya milik-Nya, sementara bumi diserahkan-Nya kepada manusia. "Langit adalah langit milik TUHAN, tetapi bumi telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia." Bukan dibagi rata, bukan pula ditinggalkan; bumi diberikan sebagai pemberian, dan pemberi tetap Pemiliknya. Ayat ini muncul persis setelah berkat di ayat 15, "Kiranya kamu diberkati oleh TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi," sehingga isi berkat itu langsung dijelaskan: kamu diberi tempat, ruang, tanah, kehidupan di bawah kolong langit. Dan sesudahnya menyusul catatan tajam bahwa orang mati tidak lagi memuji TUHAN. Pemberian ini punya batas waktu, dan karenanya punya urgensi.
Inti
Yang dikatakan ayat ini tentang Allah adalah ini: Ia bukan Allah yang menggenggam segalanya sampai manusia tak punya apa-apa untuk dikerjakan, dan bukan pula Allah yang melepas bumi lalu pergi. Ia memberi tanpa kehilangan kepemilikan. Kata "diberikan" di sini bukan kata pinjaman; bumi sungguh-sungguh diserahkan ke tangan manusia untuk dihuni, digarap, diatur. Justru di situ letak sengatannya. Mazmur ini baru saja menertawakan berhala buatan tangan manusia yang bermulut tapi bisu, dan menyimpulkan bahwa pembuatnya menjadi serupa dengan buatannya. Sekarang tangan yang sama diberi bumi. Pertanyaannya bukan apakah kita punya kuasa, melainkan kuasa itu kita pakai untuk membuat apa: sesuatu yang mati dan membuat kita ikut mati rasa, atau kehidupan yang memuji Pemberinya selagi kita masih bisa bersuara.
Benang Merah
Ayat ini mengulang kembali keputusan Allah di halaman pertama Alkitab. Manusia dibentuk dari debu bumi, ditempatkan di taman, diberi mandat untuk mengusahakan dan memelihara. Bumi bukan panggung sementara sambil menunggu jiwa dijemput ke langit; bumi adalah pemberian yang serius. Dan justru karena serius, kegagalan manusia mengelolanya juga serius: tanah yang menyerap darah Habel, kota yang dibangun untuk mengabadikan nama sendiri, tanah perjanjian yang akhirnya dimuntahkan karena ketidakadilan penghuninya.
Di sinilah Kristus masuk bukan sebagai jalan keluar dari bumi, melainkan sebagai Manusia yang akhirnya memegang bumi dengan benar. Ia lahir di dalamnya, bekerja dengan kayu, menyentuh tubuh yang sakit, memberi makan orang lapar. Dan ketika Ia mengajar kita berdoa, arah doanya turun: kehendak Allah jadi di bumi seperti di surga. Pembagian di Mazmur 115:16 tidak dihapus oleh Injil, melainkan dipulihkan tujuannya.
Cermin
Kalau bumi diberikan, maka kalimat "saya tidak bisa berbuat apa-apa" jarang sekali jujur sepenuhnya. Kita memang tidak memegang langit: kita tidak menentukan hasil pemeriksaan dokter, tidak mengatur siapa yang meninggal lebih dulu, tidak mengendalikan apakah anak kita akan tetap percaya. Tetapi bumi ada di tangan kita, dan bumi itu berukuran sangat konkret: uang di rekening, jam-jam yang kita habiskan, cara kita berbicara kepada pasangan setelah hari yang buruk, keputusan kecil di kantor yang tidak akan pernah diperiksa siapa pun.
Godaannya ada di dua arah. Yang pertama adalah kesalehan pasif yang menyerahkan segalanya kepada Tuhan supaya tidak perlu memutuskan apa pun; itu bukan iman, itu penolakan terhadap pemberian. Yang kedua adalah sebaliknya, memperlakukan bumi kecil kita seolah milik mutlak: uang saya, waktu saya, tubuh saya, karier saya, dan Allah dipersilakan mengurus langit-Nya sendiri. Mazmur ini sudah memberi tahu ke mana arah itu bermuara, yaitu menjadi serupa dengan benda mati yang kita buat sendiri: punya mata, tetapi tidak lagi melihat orang di depan kita.
Sore ini, ambil sepuluh menit dan pergilah ke satu tempat yang benar-benar ada di tanganmu: meja kerja, dapur, kamar anak, halaman belakang. Ucapkan dengan suara terdengar, "Ini bagian bumi yang TUHAN berikan kepadaku." Lalu kerjakan satu hal kecil di situ yang sudah lama kamu tunda dan bisa kamu selesaikan sebelum waktu itu habis.
Konteks
Mazmur 115 lahir dari situasi terhina. Ayat 2 membocorkan suasananya: bangsa-bangsa bertanya, "Di mana Allah mereka?" Itu bukan pertanyaan teologis yang sopan, melainkan ejekan kepada bangsa yang kalah, yang tanahnya diinjak dan Baitnya dipermalukan. Di dunia kuno, kekalahan sebuah bangsa berarti kekalahan ilahnya. Kalau bumi kamu diambil orang lain, tidakkah itu bukti bahwa Allahmu tidak sanggup memberi apa-apa?
Justru di tengah kenyataan itu umat menyanyikan bahwa bumi telah diberikan kepada anak-anak manusia. Ini bukan nyanyian pemenang yang aman, melainkan pengakuan orang yang tanahnya rapuh namun tetap percaya kepada Pemberinya. Mazmur ini kemungkinan besar dinyanyikan dalam ibadah bersama, dengan seruan bergilir kepada Israel, kepada rumah Harun, kepada semua yang takut akan TUHAN. Suara jemaat saling menopang ketika keyakinan pribadi mulai goyah.
Detail
Perhatikan kata "anak-anak manusia", secara harfiah anak-anak Adam. Pemazmur tidak menulis "kepada Israel" atau "kepada umat-Ku", padahal seluruh mazmur ini penuh dengan pembagian golongan: Israel, rumah Harun, mereka yang takut akan TUHAN. Persis di ayat ini pintunya dibuka lebar. Bumi tidak diberikan hanya kepada orang percaya. Diberikan kepada manusia, termasuk kepada tetangga yang tidak beriman, termasuk kepada pembuat berhala yang baru saja ditertawakan di ayat-ayat sebelumnya.
Itu berarti tanggung jawab atas bumi adalah tanggung jawab bersama, bukan proyek internal gereja. Rekan kerja yang tidak percaya, pejabat yang korup, pengusaha yang jujur tanpa iman: semuanya memegang bagian dari pemberian yang sama. Dan itu juga berarti kita tidak bisa mundur ke lingkaran rohani sendiri sambil menganggap sisa bumi bukan urusan kita.
Tokoh Utama
Allah dalam mazmur ini digambarkan dengan satu kalimat yang mengganggu sekaligus melegakan: "Allah kami ada di surga, Dia melakukan semua yang disukai-Nya." Ia berdaulat tanpa perlu izin siapa pun. Tetapi apa yang disukai-Nya, ternyata, adalah memberi. Kedaulatan-Nya tidak terwujud sebagai genggaman yang menyesakkan, melainkan sebagai tangan terbuka: Ia mengingat, Ia memberkati, Ia menambahkan, Ia menyerahkan bumi.
Bandingkan dengan berhala di ayat 4 sampai 8. Berhala tidak pernah memberi apa-apa; ia hanya menerima, menuntut perak dan emas dan tenaga tangan manusia, lalu diam. Allah Israel justru sebaliknya. Ia tidak butuh dibuat, Ia yang membuat langit dan bumi, dan Ia sanggup melepaskan sebagian besar dari karya-Nya ke tangan makhluk yang rapuh. Hanya Allah yang benar-benar aman dalam diri-Nya sendiri yang berani memberi sebanyak itu.
Intertekstualitas
Mazmur 8 bergerak di jalur yang sama tetapi dengan nada takjub yang hampir tidak percaya: manusia yang begitu kecil di bawah bulan dan bintang justru dimahkotai dengan kemuliaan dan diberi kuasa atas pekerjaan tangan Allah. Yang di Mazmur 115 disebut sebagai fakta pemberian, di Mazmur 8 dirasakan sebagai keajaiban yang membingungkan. Keduanya saling menerangi: pemberian ini tidak pernah wajar, tidak pernah pantas kita terima.
Kontrasnya muncul di Wahyu, ketika Allah disebut membinasakan mereka yang membinasakan bumi. Pemberian ternyata bukan tanpa pertanggungjawaban. Bumi diserahkan, tetapi tidak dijual; pemilik aslinya suatu saat akan menanyakan apa yang kita lakukan dengan tanah, tubuh, uang, dan kuasa yang sempat ada di tangan kita.
Profil
Pendengar pertama mazmur ini adalah orang-orang yang tahu rasanya kehilangan tanah. Mereka pernah diusir, pernah menyaksikan panen diambil orang lain, pernah membangun rumah yang lalu ditempati penguasa asing. Ketika mereka menyanyikan bahwa bumi telah diberikan kepada anak-anak manusia, mereka tidak sedang menyanyikan kemakmuran, melainkan menolak putus asa.
Yang kita mudah lewatkan: bagi mereka, bumi bukan konsep, melainkan sebidang tanah dengan batas yang bisa disentuh, dengan pohon zaitun yang ditanam kakek dan diwarisi cucu. Karena itu ayat 14, "Kiranya TUHAN menambahkanmu, kamu dan anak-anakmu," terasa langsung berkaitan: pemberian bumi dan kelangsungan keturunan adalah satu paket. Dan mereka menyanyikannya di hadapan bangsa-bangsa yang mengejek, sebagai bentuk perlawanan yang sunyi.
Pertanyaan
Kalau bumi memang diberikan kepada manusia, mengapa Allah tidak turun tangan ketika manusia merusaknya sedemikian rupa? Anak-anak mati karena keputusan orang dewasa. Tanah dikuras habis. Kekuasaan dipakai untuk menindas. Ayat 3 mengatakan Ia melakukan semua yang disukai-Nya, dan ayat 16 mengatakan bumi telah diserahkan-Nya. Dua kalimat itu berdiri berdampingan tanpa penjelasan yang menenangkan.
Saya tidak akan berpura-pura bisa menutup jarak itu. Yang bisa saya katakan: pemberian yang sungguh-sungguh diberikan berarti Allah menanggung risiko disalahgunakan, dan Ia rupanya lebih memilih risiko itu daripada dunia berisi boneka. Tetapi mazmur ini tidak berhenti di sana. Ayat 17 mengingatkan bahwa waktu kita terbatas, dan ayat 18 tetap memilih pujian. Bukan karena semuanya sudah jelas, melainkan karena selagi masih bisa bersuara, diam bukan pilihan.
Refleksi
Bagian bumi mana yang sesungguhnya ada di tanganmu minggu ini, dan sejauh mana kamu memperlakukannya sebagai milikmu sendiri?
Di titik mana kamu memakai bahasa penyerahan kepada Tuhan untuk menghindari keputusan yang sebenarnya menjadi tanggung jawabmu?
Kalau waktumu di bumi memang terbatas seperti kata ayat 17, apa satu hal yang sedang kamu tunda dan seharusnya tidak lagi kamu tunda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 115:16
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 115:16?
Tentang apakah MAZMUR 115:16?
Apa konteks historis dari MAZMUR 115:16?
Apa yang MAZMUR 115:16 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 115:16 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Psalms 115?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi