ROMA 1
Teks
"Aku tidak malu akan Injil." Kalimat ini dijatuhkan Paulus di tengah surat pembukanya kepada jemaat di ibu kota kekaisaran, kota yang mengukur segala sesuatu dari kemegahan, kekuasaan, dan status. Ia memperkenalkan diri sebagai hamba, menegaskan bahwa Injil sudah dijanjikan sejak lama melalui para nabi, lalu berbicara panjang tentang manusia yang mengenal Allah namun menolak memuliakan-Nya, sehingga Allah "menyerahkan mereka" pada apa yang mereka pilih sendiri.
Inti
Ada dua penyataan di pasal ini yang berjalan berdampingan, dan keduanya harus didengar bersama. Ayat 17: "kebenaran Allah dinyatakan." Ayat 18: "murka Allah dinyatakan." Kata kerjanya sama. Injil bukan sekadar undangan yang hangat; ia adalah pembongkaran. Ia menyingkapkan siapa Allah sebenarnya, dan justru dalam terang itu tampak siapa kita. Yang mengejutkan adalah urutan Paulus: kebenaran dulu, baru murka. Ia tidak memulai dari ancaman, melainkan dari anugerah. Namun anugerah itu tidak mungkin dipahami tanpa mengerti bahwa ada yang sungguh-sungguh salah, sesuatu yang lebih dalam daripada perilaku buruk, yaitu penolakan untuk bersyukur, penolakan untuk memuliakan Allah sebagai Allah.
Benang Merah
Paulus membingkai Injil sebagai sesuatu yang "telah Allah janjikan sebelumnya melalui nabi-nabi-Nya." Ia tidak sedang mengumumkan sesuatu yang baru; ia sedang menunjukkan penggenapan. Yesus, "menurut daging lahir dari keturunan Daud," menghubungkan pasal ini dengan janji kerajaan yang tidak berkesudahan. Namun ada sesuatu yang lebih tua lagi bergema di sini: kejatuhan di Kejadian 3. Manusia yang "mengetahui Allah" tetapi ingin menjadi seperti Allah, yang menukar Sang Pencipta dengan ciptaan, itu adalah kisah Adam yang diulang setiap generasi. Injil tentang Anak Allah, yang "dinyatakan sebagai Anak Allah yang berkuasa" melalui kebangkitan, adalah jawaban terhadap pola tua itu: manusia baru yang tidak menukar kemuliaan Allah dengan apa pun.
Cermin
Bacalah lagi ayat 21 dengan lambat. Bukan ateisme yang Paulus soroti di sini, melainkan sesuatu yang jauh lebih halus: mengenal Allah namun tidak memuliakan-Nya, tidak bersyukur kepada-Nya. Pertanyaannya menusuk. Berapa banyak dari hari ini kita jalani sebagai orang yang tahu tentang Allah tetapi tidak sungguh-sungguh mengucap syukur? Berapa sering pekerjaan, keluarga, tubuh, waktu kita perlakukan seolah semuanya milik kita untuk diatur? Paulus tidak sedang menunjuk orang lain; ia sedang menunjukkan mekanisme hati manusia. Dan "Allah menyerahkan mereka" itu mengerikan justru karena bukan hukuman dari luar, melainkan Allah membiarkan kita menjadi apa yang kita kejar. Itu bentuk penghakiman yang paling tenang, dan paling menakutkan.
Intertekstual
"Orang benar akan hidup oleh imannya" (ayat 17) dikutip dari Habakuk 2:4. Habakuk berbicara di tengah reruntuhan, ketika yang jahat tampak menang dan yang setia harus bertahan hanya dengan berpegang pada Allah. Paulus mengangkat kalimat itu dan menjadikannya jantung Injil: hidup, bukan sebagai imbalan atas prestasi, melainkan sebagai buah dari kepercayaan. Lalu bandingkan ayat 23, "menukar kemuliaan Allah yang tidak fana," dengan Mazmur 106:20, yang menggambarkan Israel di Sinai menukar kemuliaan Allah dengan patung anak lembu. Paulus sedang mengatakan: apa yang dilakukan bangsa-bangsa lain, Israel pun pernah lakukan. Tidak ada yang berdiri di luar lingkaran ini. Itu sebabnya di pasal 3 nanti ia akan mengatakan semua orang berdosa.
Sang Tokoh Utama
Yang berbicara di pasal ini adalah Paulus, tetapi yang bertindak adalah Allah. Perhatikan kata kerja-Nya: Allah menjanjikan, menunjukkan, menyatakan, menyerahkan. Ini bukan Allah yang pasif menunggu manusia memutuskan. Ini Allah yang aktif, yang kemuliaan-Nya sudah terpampang "sejak penciptaan dunia," yang murkanya bukan ledakan emosi tetapi tindakan yang terukur dan adil. Namun perhatikan juga bagaimana Paulus memulai: "Anugerah bagimu dan damai sejahtera." Allah yang murka di ayat 18 adalah Allah yang sama yang menyapa dengan damai di ayat 7. Di sinilah misteri yang harus dibiarkan berdiri: kekudusan dan kasih bukan dua sisi Allah yang bertentangan; keduanya mengalir dari inti yang sama. Kita cenderung memilih salah satunya. Paulus menolak pilihan itu.
Profil
Jemaat di Roma adalah campuran orang Yahudi dan bukan Yahudi, hidup di jantung kekaisaran yang menyembah banyak dewa dan menuhankan Kaisar. Kata "Injil" (kabar baik) sendiri adalah istilah politis; itulah kata yang dipakai untuk pengumuman kemenangan Kaisar atau kelahiran pewarisnya. Ketika Paulus menyebut Yesus sebagai "Anak Allah yang berkuasa" dan "Tuhan kita," ia memakai gelar-gelar yang biasa disematkan pada Kaisar. Bagi telinga Romawi, ini bukan bahasa keagamaan yang aman; ini pernyataan berani. Dan ketika Paulus berbicara tentang manusia yang "menukar kemuliaan Allah" dengan gambaran binatang, para pembaca pertama pasti membayangkan kuil-kuil di kota mereka sendiri. Injil masuk ke dalam dunia yang sudah penuh dengan tuhan-tuhan lain, dan mengklaim sesuatu yang mutlak. Itu berbahaya dulu. Itu masih berbahaya sekarang.
Refleksi
Di mana dalam hidupku aku mengenal Allah tetapi tidak sungguh-sungguh memuliakan-Nya atau bersyukur kepada-Nya, dan apa yang menggantikan tempat-Nya di sana?
Bagaimana kalimat "Allah menyerahkan mereka" mengubah cara aku memandang keinginan-keinginan yang selama ini aku pikir tidak berbahaya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 1?
Tentang apakah ROMA 1?
Apa konteks historis dari ROMA 1?
Apa yang ROMA 1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memanggil Paulus menjadi "hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul, dan dikhususkan untuk Injil Allah." Aku bersyukur Engkau juga memanggil namaku, memberiku tempat untuk melayani dan kabar baik yang boleh kubagikan hari ini.
Bapa, ada bagian dalam diriku yang ingin memilih jalanku sendiri, walau aku tahu ujungnya kosong. Jangan biarkan aku berjalan sendirian ke sana. Pegang hatiku, bersihkan keinginanku, dan ajar aku mencintai apa yang Engkau cintai.
Menukar." Kata itu yang menusuk. Paulus menulis bahwa manusia "menukar kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambar yang menyerupai manusia yang fana." Bukan kehilangan karena lalai, tapi pertukaran yang dipilih. Kita lebih suka yang bisa digenggam, diatur, disimpan di saku. Allah yang hidup terlalu besar untuk dikendalikan. Apa yang kamu tukar minggu ini?
Tuhan, bacaan ini tidak mudah bagiku. Daripada memakainya untuk menunjuk orang lain, tolong aku memeriksa hatiku sendiri lebih dulu. Ajari aku hidup kudus tanpa kehilangan kasih, dan jaga aku tetap rendah hati di hadapan-Mu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
