KIDUNG AGUNG 5:6
Teks
Pintu akhirnya terbuka, dan yang berdiri di baliknya hanyalah udara malam. "Aku membukakan pintu bagi kekasihku, tetapi kekasihku telah berbalik, dan pergi!" Perempuan itu terlambat sesaat, hanya sesaat, cukup lama untuk berdebat dengan dirinya sendiri soal jubah yang sudah ditanggalkan dan kaki yang sudah dibasuh. Lalu tinggallah gagang pintu yang licin oleh mur, tangan yang gemetar, dan lorong yang kosong. Ia mencari, ia memanggil; kota itu diam. Ayat ini adalah titik balik seluruh pasal: dari kemesraan yang meluap di ayat pertama, di mana sang kekasih memanggil sahabat-sahabatnya untuk "Mabuklah dengan cinta!", menuju kesunyian yang mendadak dan menyakitkan, lengkap dengan pukulan para penjaga di ayat berikutnya.
Inti
Kitab ini menolak menjual cinta sebagai barang yang bisa dikendalikan. Di dunia kuno, cinta memang sering diperlakukan seperti transaksi: mas kawin dibayar, perjanjian ditandatangani, tubuh diserahkan. Tetapi di sini, pada saat perempuan itu akhirnya siap, yang dicintainya sudah berbalik. Tidak ada hukuman, tidak ada penjelasan, hanya kepergian. Itu jujur secara menakutkan, dan justru karena itu ayat ini menyentuh sesuatu yang lebih dalam daripada kisah dua kekasih. Kasih yang sejati, entah antara manusia atau antara Allah dan umat-Nya, tidak pernah menjadi milik yang bisa disimpan di laci. Ia diberikan, dan karena diberikan, ia bisa juga dirindukan sampai perih. Penundaan setengah menit di ayat 3 bukan dosa besar; tetapi ia menunjukkan betapa mudahnya kenyamanan menang atas kerinduan, dan betapa mahal harganya.
Benang Merah
Ada pola yang berulang sepanjang Kitab Suci: Allah mendekat, umat menunda, lalu tinggal kerinduan yang membakar. Israel di padang gurun, para nabi yang berseru ke telinga yang berat, dan akhirnya Yesus sendiri yang berkata bahwa Ia rindu mengumpulkan Yerusalem seperti induk ayam mengumpulkan anaknya, tetapi mereka tidak mau. Kepergian sang kekasih di ayat 6 bukan hukuman yang kekal; perhatikan bahwa perempuan itu tidak menyerah, ia mencari sampai babak belur. Dan justru pencarian itulah yang melahirkan pujian paling indah dalam pasal ini, ayat 10 sampai 16. Ini bukan alegori paksa, melainkan pola nyata: kerinduan yang tak terpenuhi sering kali mengajar hati mengenali siapa yang dicintainya. Salib adalah tempat pola itu dibalik; di sana justru Yang Dicintai tidak berbalik pergi.
Cermin
Anda mengenal jubah itu. Bukan jubah, tentu, tetapi selimut pukul sebelas malam, layar ponsel yang lebih ringan daripada percakapan sulit dengan pasangan, jadwal yang penuh sehingga panggilan telepon dari ibu Anda tunda sampai besok, dan besok tidak pernah datang dalam bentuk yang sama. Kita jarang menolak dengan tegas; kita hanya menunda, dengan alasan yang terdengar masuk akal, bahkan sopan. "Aku sudah membasuh kakiku." Lalu suatu hari pintu dibuka dan lorong sudah kosong: anak yang sudah pindah, teman yang berhenti mengajak, dan hidup rohani yang dulu hangat kini terasa seperti kota yang diam. Teks ini tidak menakut-nakuti; ia hanya jujur soal harga penundaan. Hari ini juga, buka pintu untuk satu orang yang panggilannya sudah lama Anda tunda: telepon dia sekarang, bukan nanti malam.
Profil
Pendengar pertama Kitab ini adalah orang-orang yang tahu persis bunyi pintu rumah desa: palang kayu, lubang kecil untuk tangan, dan malam yang sepenuhnya gelap karena tidak ada lampu jalan. Mereka juga tahu bahwa seorang perempuan yang berkeliaran di kota pada malam hari sedang bermain dengan reputasinya, bahkan keselamatannya, seperti yang segera dibuktikan para penjaga di ayat 7. Ketika kitab ini dibacakan, mungkin pada perayaan, telinga mereka menangkap sesuatu yang mengejutkan: perempuan inilah yang bersuara, yang bertindak, yang mencari, sementara sang lelaki menghilang. Dalam budaya di mana laki-laki mengejar dan perempuan menunggu, ini adalah pembalikan yang berani. Dan Israel, umat yang sepanjang sejarah digambarkan para nabi sebagai mempelai, pasti merasakan tusukannya.
Detail
Perhatikan kalimat yang mudah terlewat: "Jiwaku menghilang ketika dia berbicara." Kata Ibrani di baliknya, nefesh, tidak berarti "jiwa" sebagai bagian rohani yang terpisah dari tubuh, melainkan diri yang hidup, napas, tenggorokan, pusat kerinduan seseorang. Jadi yang terjadi bukan kesedihan yang sopan, melainkan sesuatu seperti napas yang terenggut keluar dari dada. Dan penyebabnya bukan kepergian itu sendiri, melainkan suaranya: ketika dia berbicara. Ingatan akan suara di balik pintu, "Bukakanlah bagiku, dindaku, sayangku, merpatiku," itulah yang menghancurkan. Kita semua tahu efek itu. Bukan foto yang membuat kita runtuh, melainkan rekaman suara yang tanpa sengaja terputar. Ayat ini menangkap kesetiaan tubuh terhadap kasih yang datang terlambat kita sambut.
Konteks
Malam di sebuah kota Israel kuno: rumah-rumah batu berhimpitan, pintu diperkuat palang kayu, dan mur yang mahal itu masih menetes dari jari perempuan yang baru saja bangkit dari tempat tidurnya. Mur bukan parfum sembarangan; ia diimpor, harganya mahal, dipakai untuk pengantin dan juga untuk jenazah. Sang kekasih tampaknya meninggalkannya di gagang pintu, tanda kehadiran yang tertinggal setelah orangnya pergi. Di luar, kota bukan tempat netral. Ada tembok, ada penjaga, ada aturan tak tertulis tentang siapa yang boleh berjalan di mana dan pada jam berapa. Perempuan yang keluar mencari kekasihnya melanggar semua itu, dan ia membayarnya. Kitab ini menempatkan kasih bukan di taman ideal, melainkan di jalanan yang berbahaya.
Refleksi
Jubah apa yang sedang Anda pakai sebagai alasan, yang sebenarnya hanya menutupi keengganan untuk bangkit?
Kapan terakhir kali kerinduan kepada Allah terasa seperti kehilangan, bukan sekadar kewajiban rohani, dan apa yang Anda lakukan dengan rasa itu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Song of Solomon 5:6
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KIDUNG AGUNG 5:6?
Tentang apakah KIDUNG AGUNG 5:6?
Apa konteks historis dari KIDUNG AGUNG 5:6?
Apa yang KIDUNG AGUNG 5:6 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KIDUNG AGUNG 5:6 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Song of Solomon 5
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Perhatikan kapan pujian ini keluar: setelah dia terlambat membuka pintu, setelah kekasihnya pergi, setelah dia dilukai penjaga kota. Justru di situ dia berkata, "Penampilannya seperti Lebanon, terpilih seperti pohon-pohon aras." Cinta yang sejati masih sanggup memuji dalam kehilangan. Bagaimana kamu berbicara tentang Dia saat Dia terasa jauh?
Perhatikan di mana pujian ini diucapkan. Mempelai perempuan baru saja dicari-cari kekasihnya, dilukai para penjaga, dan tetap belum menemukannya. Dalam keadaan itu ia berkata, "Inilah kekasihku, inilah sahabatku." Bukan hanya kekasih, tapi sahabat. Bisakah kamu memuji Dia saat Dia terasa jauh?
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau melihat aku saat aku dilukai dan selendangku diambil, seperti mempelai perempuan yang dicari-cari kekasihnya di jalan-jalan kota. Kerinduan yang berdarah pun tidak Kaupandang sia-sia. Engkau tetap layak untuk dicari, meski jalan menuju Engkau terasa perih.
Tuhan, ada saat aku menunda membuka pintu, padahal Engkau sudah mengulurkan tangan-Mu. Getarkan lagi hatiku seperti dulu. Jangan biarkan aku terlalu lama diam di balik pintu yang kututup sendiri, sebab aku rindu pada-Mu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi