NAHUM 3
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk usia sekolah dasar (7-12)
Penjelasan
Nahum menulis tentang sebuah kota bernama Niniwe, ibu kota kerajaan Asyur. Asyur adalah negara adidaya pada zaman itu, seperti negara paling kuat di dunia sekarang, hanya jauh lebih kejam. Pasukan mereka menyerbu negeri-negeri lain, membakar rumah, membunuh, dan menyeret orang-orang pergi sebagai tawanan. Israel merasakan itu sendiri.
Pasal 3 dibuka dengan kalimat keras: "Celakalah kota penumpah darah!" Lalu Nahum menggambarkan sesuatu yang belum terjadi, seolah-olah ia sedang melihatnya langsung. Dengarkan saja bunyinya: cambuk berdesing, roda kereta perang berderak, kuda berlari kencang, pedang berkilat. Debu, teriakan, kepanikan. Kali ini bukan Niniwe yang menyerang, melainkan Niniwe yang diserang.
Ayat 4 dan 5 memakai gambaran yang tidak enak. Niniwe disebut seperti perempuan yang cantik dan pandai sihir, yang memikat bangsa-bangsa lalu menipu mereka. Maksudnya begini: dari luar Niniwe kelihatan mengagumkan, kaya, berkilau, dan semua orang ingin berteman dengannya. Tetapi di balik penampilan indah itu ada kebohongan dan kekejaman. Allah berkata bahwa Ia akan menyingkapkan penyamaran itu, seperti topeng yang ditarik lepas, sehingga semua bangsa melihat siapa Niniwe sebenarnya. Itu memalukan, dan memang begitu maksudnya.
Kemudian Nahum bertanya sesuatu yang tajam. Apakah kamu lebih baik daripada Tebe? Tebe adalah kota besar di Mesir, dikelilingi air Sungai Nil, dengan sekutu-sekutu kuat. Kelihatannya tidak mungkin jatuh. Tetapi Tebe jatuh juga, dan yang menaklukkannya justru Asyur sendiri. Nahum seakan berkata: kamu tahu persis bagaimana rasanya kota besar runtuh, karena kamulah yang meruntuhkannya.
Sesudah itu datang gambar demi gambar. Benteng-benteng Niniwe seperti pohon ara yang penuh buah matang: goyang sedikit saja, buahnya jatuh ke mulut orang yang mau memakannya. Pintu gerbang terbuka lebar. Nahum bahkan mengejek: silakan timba air, silakan perbaiki temboknya, injak tanah liat dan buat batu bata baru. Semua itu tidak akan menolong.
Lalu belalang. Niniwe punya pedagang lebih banyak daripada bintang di langit, dan pejabat sebanyak kawanan belalang yang hinggap di tembok waktu dingin. Tetapi begitu matahari terbit, belalang-belalang itu terbang dan tidak ada seorang pun tahu ke mana mereka pergi. Begitulah kekuasaan Niniwe: kelihatan tak terhitung banyaknya, hilang dalam satu pagi. Pasal ini ditutup dengan kalimat pahit: lukamu tidak tersembuhkan, dan semua orang yang mendengar kabar tentangmu akan bertepuk tangan.
Apa Artinya Ini?
Ini bukan bacaan yang manis. Tidak ada gunanya berpura-pura sebaliknya. Alkitab di sini menunjukkan bahwa Allah sungguh-sungguh marah terhadap kekejaman. Bukan marah seperti orang yang sedang bad mood, melainkan marah karena Ia mengasihi orang-orang yang diinjak.
Bayangkan seorang anak yang selama bertahun-tahun dirundung, dan tidak ada satu orang dewasa pun yang membela. Lalu akhirnya ada yang berdiri dan berkata: cukup. Kira-kira seperti itulah ayat 5, ketika Allah berfirman, "Lihatlah, Aku akan menjadi lawanmu."
Bagian yang tetap sulit adalah kalimat terakhir: orang-orang bertepuk tangan atas kejatuhan Niniwe. Apakah Allah senang kalau kota hancur? Aku sendiri tidak punya jawaban yang rapi untuk itu. Yang aku tahu: di kitab Yunus, Allah justru mengampuni Niniwe ketika kota itu bertobat. Jadi Allah bukan haus penghukuman. Tetapi Ia juga tidak akan membiarkan kejahatan berjalan terus selamanya.
Benang Merah
Nahum menunjukkan sesuatu yang tidak nyaman: kejahatan selalu ada harganya. Selalu. Tidak ada yang bisa mengelak, bahkan negara terkuat sekalipun.
Dan di sinilah kabar baik itu masuk. Ketika Yesus Kristus mati di kayu salib, Ia juga disingkapkan di depan semua orang, dipermalukan, ditelanjangi, ditonton banyak orang. Tetapi Ia tidak melakukan satu pun kejahatan yang layak mendapat itu. Ia menanggungnya bagi orang lain, bagi kita. Niniwe menanggung sendiri apa yang pantas mereka terima. Yesus menanggung apa yang tidak pantas Ia terima. Itulah bedanya, dan di situlah kita boleh berlindung.
Untuk Kamu
Ayat 4 berbicara tentang penampilan yang indah di luar tetapi busuk di dalam. Itu bukan hanya soal kota kuno. Kamu bisa saja tampak sopan di depan guru dan orang tua, tetapi di grup chat ikut menertawakan seseorang. Kamu bisa punya "topeng" juga.
Kabar melegakannya: Allah melihat sampai ke dalam, dan Ia tidak menunggu sampai topengmu ditarik lepas dengan paksa. Kamu boleh melepasnya sendiri, hari ini, dalam doa. Ceritakan yang sebenarnya kepada-Nya. Ia sudah tahu, dan Ia tetap mengasihimu.
Dan kalau kamu melihat seseorang diperlakukan tidak adil, ingatlah: Allah tidak diam. Beranikah kamu ikut berkata "cukup"?
Bicarakan Bersama
Menurutmu, mengapa Allah bisa begitu marah? Apakah marah selalu buruk?
Adakah bagian dari dirimu yang kamu sembunyikan dari orang lain? Bagaimana rasanya kalau Allah tetap mengasihimu justru di bagian itu?
Berdoa Bersama
Tuhan, Engkau melihat sampai ke dalam hatiku, juga yang tidak kutunjukkan kepada siapa pun. Terima kasih Engkau tidak berpaling. Tolonglah aku jujur di hadapan-Mu dan berani berpihak pada mereka yang diperlakukan tidak adil. Terima kasih untuk Yesus, yang menanggung malu supaya aku boleh datang kepada-Mu. Amin.
Pertanyaan tentang NAHUM 3
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah NAHUM 3?
Apa yang dikatakan NAHUM 3?
Apa yang NAHUM 3 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari anak-anak dari NAHUM 3?
Mengapa NAHUM 3 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Yang ditemukan orang lain
Niniwe sudah hancur! Siapa yang akan meratapinya? Dari mana aku akan mencari penghibur bagimu?" Kota sebesar itu jatuh, dan tidak ada satu pun yang menangis. Niniwe terlalu lama hidup dari rasa takut orang lain, bukan dari kasih. Tanyakan pada dirimu: kalau hidupmu runtuh hari ini, siapa yang datang duduk di sampingmu?
Niniwe pernah merasa tak tersentuh. Temboknya tebal, gerbangnya berpalang. Lalu terdengar, "Pintu-pintu gerbang negerimu terbuka lebar bagi musuh-musuhmu, api telah melahap palang-palang pintumu." Yang paling kau andalkan justru yang paling cepat habis. Tabungan, jabatan, nama baik, semuanya palang kayu. Coba tanya jujur hari ini: kalau itu terbakar, siapa yang masih menjagamu?
Apakah engkau lebih baik daripada Tebe, yang terletak di tepi Sungai Nil, dikelilingi oleh air?" Niniwe pernah menyaksikan sendiri kota itu runtuh, bahkan oleh tangan mereka. Tapi ingatan cepat luntur ketika kita merasa aman. Tembok airmu hari ini mungkin tabungan, jabatan, atau tubuh yang masih kuat. Jujurlah, apa yang sebenarnya sedang menopangmu?
Para gembalamu tertidur, hai raja Asyur, para bangsawanmu berbaring." Niniwe runtuh bukan cuma karena musuh di gerbang, tetapi karena yang seharusnya berjaga malah lelap. Yang menanggung akibatnya adalah rakyat yang tercerai-berai di gunung, tanpa seorang pun mengumpulkan. Siapa yang Tuhan titipkan untuk kaujaga? Jangan tertidur di sana.
Mencari kelompok usia yang lain?
Kami juga menyediakan versi khusus untuk balita (usia 3-6) dan remaja (12 tahun ke atas).
Buka di alat Alkitab Anak