NAHUM 3
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk remaja (12 tahun ke atas)
Penjelasan
Nahum 3 bukan bacaan yang enak. Kalau kamu merasa ngilu waktu membacanya, itu bukan tanda kamu kurang beriman. Itu tanda kamu masih punya hati.
Nabi Nahum berbicara tentang Niniwe, ibu kota Asyur, kekuatan super pada zamannya. Bayangkan sebuah negara yang mesin perangnya tak tertandingi, yang kekayaannya datang dari menjarah bangsa lain, yang membangun reputasinya dengan teror. Ayat pertama menamainya tanpa sopan-sopan: "Celakalah kota penumpah darah! Seluruhnya kebohongan belaka, penuh dengan rampasan, yang mangsanya tidak pernah lolos!"
Lalu Nahum melakukan sesuatu yang mengejutkan secara sastra: ia memutar suara. Kamu mendengar cambuk, roda kereta yang berderak, kuda menderap, pedang berkilat. Dan kemudian keheningan yang mengerikan: tumpukan tubuh, begitu banyak sehingga orang tersandung pada mayat-mayat. Ini bukan kemenangan Niniwe. Ini kejatuhannya. Kekerasan yang selama ini mereka ekspor kini kembali ke halaman rumah sendiri.
Ayat 4 sampai 7 memakai gambaran yang keras: Niniwe disebut perempuan sundal yang cantik dan pandai sihir, yang memperdaya bangsa-bangsa. Kota itu tidak hanya menaklukkan dengan tentara, tetapi juga menjual mimpi: ikutlah kami, tunduklah, dan kamu akan aman dan kaya. Propaganda. Dan Tuhan berkata: "Lihatlah, Aku akan menjadi lawanmu." Lalu Ia menggambarkan bagaimana Niniwe akan dipertontonkan dan dipermalukan di depan bangsa-bangsa.
Jujur saja: gambaran mempermalukan seorang perempuan di depan umum terasa mengganggu bagi kita, dan seharusnya begitu. Yang perlu kamu tahu, inilah tepatnya yang biasa dilakukan tentara Asyur kepada kota-kota yang mereka rebut. Nahum memakai bahasa mereka sendiri dan mengarahkannya kembali. Yang dipermalukan bukan seorang perempuan, melainkan sebuah imperium yang telanjang tanpa kemuliaan begitu topengnya dilepas.
Ayat 8 sampai 10 adalah argumen sejarah. Tebe, kota besar di Sungai Nil, dilindungi air dan didukung Kush, Mesir, Put dan Libia. Tak tertembus, katanya. Toh jatuh. Dan Nahum tidak menyensor kengeriannya: anak-anak diremukkan kepalanya di ujung setiap jalan, pembesar-pembesar diundi seperti barang rampasan. Itu dilakukan oleh Asyur sendiri. Nahum berkata: kamu tahu persis apa yang akan terjadi, karena kamu pernah melakukannya.
Sisa pasal ini adalah rentetan gambaran kesia-siaan. Kubu pertahanan seperti pohon ara yang matang; digoyang sedikit, buahnya jatuh ke mulut orang. Gerbang terbuka lebar. Nahum menyuruh mereka bersiap: timbalah air, pijaklah tanah liat, buatlah batu bata lebih banyak. Perintah yang nadanya hampir sarkastis, karena api tetap akan melalap. Pedagang-pedagang mereka tak terhitung seperti bintang, tetapi seperti belalang mereka mengembangkan sayap lalu terbang begitu matahari terbit. Para pemimpin tertidur. Dan ayat terakhir: "Tidak ada kesembuhan untuk lukamu." Orang-orang yang mendengar akan bertepuk tangan, "sebab siapakah yang tidak tertimpa kejahatanmu yang terus-menerus itu?"
Apa Artinya Ini?
Pesan pasal ini sederhana dan tajam: kekuasaan yang dibangun atas kekerasan dan kebohongan punya tanggal kedaluwarsa. Selalu.
Kita hidup di dunia yang sering terasa seperti dijalankan oleh orang-orang yang tidak pernah dituntut pertanggungjawaban. Yang paling keras berteriak menang. Yang paling tega maju paling cepat. Yang punya uang menulis narasinya. Dan kalau kamu jujur, kadang kamu berpikir: apakah ada yang memperhatikan? Apakah ada keadilan, atau hanya siapa kuat dia menang?
Nahum 3 menjawab: ada yang memperhatikan. Dan Ia bukan pengamat netral. "Aku akan menjadi lawanmu," kata Tuhan semesta alam. Ini bukan Allah yang mudah marah karena tersinggung. Ini Allah yang tidak sanggup diam ketika anak-anak diremukkan di jalanan.
Bagi orang-orang yang tertindas Asyur selama puluhan tahun, pasal ini bukan kekejaman. Ini kabar baik. Tepuk tangan di ayat 19 adalah tepuk tangan para korban.
Tetapi jangan cepat-cepat menaruh diri di pihak korban. Pertanyaan ayat 8 juga berlaku untukmu dan aku: "Apakah kamu lebih baik daripada Tebe?" Tidak ada yang punya jaminan. Bukan negara, bukan gereja, bukan reputasimu, bukan rencana hidupmu. Kubu pertahanan yang paling kita percayai bisa jatuh seperti buah ara matang.
Benang Merah
Nahum tidak berakhir dengan pengharapan bagi Niniwe. Tidak ada kesembuhan untuk luka itu. Dan justru di titik itu kamu merasakan betapa besar apa yang terjadi di Golgota.
Karena di sana Yesus Kristus berdiri di tempat yang menurut Nahum tidak punya jalan keluar. Ia dipertontonkan di depan umum. Ia ditelanjangi di depan bangsa-bangsa. Ia menjadi tontonan, dan orang menggelengkan kepala. Hukuman yang seharusnya jatuh atas kota-kota penumpah darah, atas kita dengan segala kebohongan dan kekerasan halus kita, jatuh atas Dia yang tidak bersalah.
Salib tidak membatalkan Nahum 3. Salib menegaskannya. Dosa memang seberat itu. Tuhan memang tidak berkompromi dengan kejahatan. Tetapi salib membuka pintu yang di Nahum masih tertutup: ada kesembuhan untuk luka, karena Yesus mengambil luka itu ke dalam tubuh-Nya.
Untuk Kamu
Dua hal.
Pertama, kalau kamu pernah menjadi korban, kalau ada orang yang memakai kekuasaannya atas dirimu dan tidak pernah mempertanggungjawabkannya, Nahum 3 adalah izin untuk berkata bahwa itu memang salah. Tuhan tidak menyuruhmu berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Ia sendiri berkata: Aku akan menjadi lawan orang yang seperti itu. Kamu tidak harus membalas, justru karena Ia serius menangani keadilan.
Kedua, dan ini lebih tidak nyaman: periksa kubu-kubumu. Apa yang membuatmu merasa aman? Prestasi, penampilan, jumlah pengikut, lingkaran pertemanan yang tepat? Nahum berkata semua itu bisa terbang seperti belalang begitu matahari terbit. Bukan untuk membuatmu takut, tetapi supaya kamu meletakkan hidupmu pada sesuatu yang tidak jatuh.
Dan perhatikan juga kekuasaan kecil yang kamu pegang. Kata-kata di grup chat, sikapmu terhadap orang yang lebih lemah di kelas, cara kamu memakai pengetahuan tentang orang lain. Niniwe tidak menjadi Niniwe dalam sehari.
Bicarakan Bersama
Di mana dalam duniamu, atau dalam dirimu sendiri, kamu melihat kekuasaan yang dipakai untuk melukai orang, dan apa yang menghalangimu untuk menyebutnya secara jujur?
"Apakah kamu lebih baik daripada Tebe?" Apa "kubu pertahanan" yang paling kamu andalkan, dan apa yang terjadi pada imanmu kalau kubu itu runtuh?
Berdoa Bersama
Tuhan, Engkau melihat apa yang manusia lakukan kepada manusia, dan Engkau tidak diam. Terima kasih bahwa Engkau serius soal keadilan, juga ketika aku lelah menunggu. Periksalah hatiku, tunjukkan di mana aku memakai kekuasaanku untuk melukai. Dan ajarlah aku bersandar pada Yesus Kristus, yang mengambil hukuman yang tidak Ia layak terima, supaya ada kesembuhan untuk lukaku. Amin.
Pertanyaan tentang NAHUM 3
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah NAHUM 3?
Apa yang dikatakan NAHUM 3?
Apa yang NAHUM 3 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari remaja dari NAHUM 3?
Mengapa NAHUM 3 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Yang ditemukan orang lain
Niniwe sudah hancur! Siapa yang akan meratapinya? Dari mana aku akan mencari penghibur bagimu?" Kota sebesar itu jatuh, dan tidak ada satu pun yang menangis. Niniwe terlalu lama hidup dari rasa takut orang lain, bukan dari kasih. Tanyakan pada dirimu: kalau hidupmu runtuh hari ini, siapa yang datang duduk di sampingmu?
Niniwe pernah merasa tak tersentuh. Temboknya tebal, gerbangnya berpalang. Lalu terdengar, "Pintu-pintu gerbang negerimu terbuka lebar bagi musuh-musuhmu, api telah melahap palang-palang pintumu." Yang paling kau andalkan justru yang paling cepat habis. Tabungan, jabatan, nama baik, semuanya palang kayu. Coba tanya jujur hari ini: kalau itu terbakar, siapa yang masih menjagamu?
Apakah engkau lebih baik daripada Tebe, yang terletak di tepi Sungai Nil, dikelilingi oleh air?" Niniwe pernah menyaksikan sendiri kota itu runtuh, bahkan oleh tangan mereka. Tapi ingatan cepat luntur ketika kita merasa aman. Tembok airmu hari ini mungkin tabungan, jabatan, atau tubuh yang masih kuat. Jujurlah, apa yang sebenarnya sedang menopangmu?
Para gembalamu tertidur, hai raja Asyur, para bangsawanmu berbaring." Niniwe runtuh bukan cuma karena musuh di gerbang, tetapi karena yang seharusnya berjaga malah lelap. Yang menanggung akibatnya adalah rakyat yang tercerai-berai di gunung, tanpa seorang pun mengumpulkan. Siapa yang Tuhan titipkan untuk kaujaga? Jangan tertidur di sana.
Mencari yang cocok untuk anak yang lebih kecil?
Kami juga menyediakan versi khusus untuk balita (usia 3-6) dan usia sekolah dasar (7-12).
Buka di alat Alkitab Anak