YESAYA 6
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk remaja (12 tahun ke atas)
The Explanation
Tahun kematian Raja Uzia adalah tahun kegelapan bagi Yehuda. Uzia memerintah lama, negeri stabil, dan sekarang rajanya mati. Dalam kekosongan itu, Yesaya melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Ia melihat Tuhan duduk di atas takhta, tinggi dan menjulang, dengan ujung jubah-Nya saja sudah memenuhi seluruh Bait Suci. Di sekeliling-Nya ada para serafim, makhluk bersayap enam, yang menutupi wajah mereka sendiri karena kemuliaan itu terlalu besar untuk dipandang langsung, bahkan oleh mereka.
Para serafim berseru bergantian, "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam." Tiga kali kudus, bukan pengulangan kosong, tapi cara bahasa Ibrani menyatakan sesuatu yang paling superlatif. Suara itu begitu dahsyat sampai fondasi bangunan bergetar dan ruangan dipenuhi asap, gambaran kehadiran Allah yang nyata dan mengguncang.
Reaksi Yesaya bukan kekaguman romantis. Ia berteriak, "Celakalah aku! Aku binasa!" Ia sadar dirinya najis bibir, dan bangsanya juga najis bibir, sementara matanya baru saja melihat Sang Raja. Dalam terang kekudusan itu, semua yang biasanya ia anggap cukup baik langsung kelihatan kotor.
Lalu terjadi sesuatu yang mengejutkan. Bukan Yesaya yang harus membersihkan dirinya sendiri. Seorang serafim terbang membawa bara dari mazbah, menyentuh mulutnya, dan berkata bahwa kesalahannya telah dihapuskan, dosanya telah diampuni. Setelah itu barulah Yesaya mendengar Tuhan bertanya, "Siapa yang akan Kuutus?" Dan ia menjawab, "Ini aku. Utuslah aku."
Tapi tugas yang diberikan bukan tugas yang menyenangkan. Yesaya diutus untuk berbicara kepada umat yang justru akan semakin tidak mengerti, semakin keras hati, sampai negeri itu hancur dan sunyi. Ketika ia bertanya "sampai kapan," jawabannya suram: sampai kota-kota runtuh dan tak berpenghuni. Namun di ayat terakhir ada satu kalimat yang menyalakan harapan di tengah reruntuhan, tunggul pohon yang tersisa setelah ditebang itu disebut benih suci.
What Does This Mean?
Pasal ini bukan tentang perasaan spiritual yang menyenangkan. Ini tentang seseorang yang berhadapan langsung dengan siapa Allah sebenarnya, dan yang pertama kali ia rasakan bukan kehangatan, melainkan ketakutan yang jujur. Itu penting untuk kamu dengar, karena banyak gambaran tentang Tuhan hari ini dibuat supaya terasa nyaman, gampang dicerna, tidak mengganggu. Yesaya membuktikan sebaliknya. Semakin dekat kamu dengan kekudusan Allah, semakin jelas kamu melihat dirimu sendiri apa adanya, dan itu bisa terasa menghancurkan.
Tapi perhatikan urutannya. Allah tidak menyuruh Yesaya membersihkan diri dulu baru boleh mendekat. Allah sendiri yang mengirim bara itu, Allah sendiri yang menghapus kesalahan. Pengampunan datang sebelum pengutusan, bukan sesudahnya sebagai hadiah karena sudah cukup baik. Yesaya dipanggil justru setelah ia mengakui bahwa ia tidak layak, bukan setelah ia berhasil memperbaiki diri.
Dan tugas yang diberikan kepadanya tidak dibungkus janji sukses. Firman itu jujur, bahkan keras, bahwa banyak orang akan mendengar tapi tidak mau mengerti. Ini realistis tentang bagaimana kebenaran sering ditolak, bukan karena tidak masuk akal, tapi karena hati orang sudah tertutup lebih dulu.
The Common Thread
Yesaya melihat "Sang Raja, TUHAN semesta alam" dan gemetar karena tidak ada manusia yang bisa memandang kekudusan Allah dan tetap berdiri dengan aman mengandalkan dirinya sendiri. Justru di titik itulah seluruh Kitab Suci bergerak menuju satu jawaban: bagaimana caranya manusia yang najis bisa berdiri di hadapan Allah yang kudus tanpa binasa. Bara dari mazbah yang menyentuh bibir Yesaya adalah gambaran kecil dari jawaban besar itu, penyucian yang datang dari luar diri manusia, bukan hasil usaha sendiri.
Ratusan tahun kemudian, Yesus Kristus datang sebagai jawaban penuh atas pertanyaan itu. Ia tidak hanya menyentuh bibir yang najis, Ia menanggung sendiri seluruh konsekuensi kenajisan itu di kayu salib, supaya siapa pun yang percaya kepada-Nya boleh berdiri di hadapan Allah tanpa harus binasa. Dan tunggul yang tersisa di ayat terakhir, benih suci di tengah kehancuran, adalah gambar tentang bagaimana Allah selalu menyisakan harapan bahkan ketika penghakiman terlihat total. Garis harapan itu terus berlanjut sampai kepada Kristus, yang disebut tunas dari tunggul yang tampaknya sudah mati.
For You
Mungkin kamu sedang dalam masa hidup yang terasa seperti "tahun kematian Uzia" versimu sendiri, sesuatu yang stabil dalam hidupmu baru saja runtuh, dan kamu bingung ke mana harus melihat. Yesaya justru melihat Allah paling jelas bukan pada masa aman, tapi pada masa krisis itu. Jangan buru-buru menutup mata dari Allah ketika hidupmu sedang goyah, justru di situ Ia sering memilih untuk terlihat.
Jujurlah tentang dirimu di hadapan Allah, seperti Yesaya. Jangan datang dengan pura-pura sudah cukup baik. Pengakuan yang jujur, bahkan yang terasa memalukan, adalah pintu masuk menuju pengampunan yang sungguhan, bukan penghalangnya. Dan ketika Allah memanggilmu untuk sesuatu, entah itu berbicara jujur tentang imanmu, bertahan dalam pilihan yang sulit, atau sekadar hidup benar di tengah lingkungan yang tidak peduli, ingatlah bahwa panggilan itu tidak pernah menjanjikan hasil yang mudah. Yesaya tetap taat meski tahu banyak orang tidak akan mendengarkan. Kesetiaan tidak diukur dari seberapa besar hasil yang kelihatan, tapi dari ketaatan pada suara yang memanggil.
Talk About It
Yesaya merasa hancur ketika melihat kekudusan Allah, bukan merasa nyaman. Menurutmu, apakah gambaran tentang Tuhan yang kamu kenal selama ini cenderung terlalu "aman" dan kurang menghadirkan kekudusan-Nya yang sesungguhnya?
Yesaya tetap berkata "utuslah aku" meski tahu tugasnya akan sulit dan hasilnya suram. Apa yang membuatmu ragu untuk berkata hal yang sama kepada Allah dalam hidupmu sekarang?
Praying Together
Tuhan yang kudus, kami sering membuat-Mu terasa kecil dan aman supaya nyaman bagi kami. Ampuni kesombongan itu. Buka mata kami untuk melihat siapa Engkau sebenarnya, dan buka juga mata kami untuk melihat diri kami apa adanya. Terima kasih karena Engkau tidak membiarkan kami hancur dalam ketidaklayakan itu, tapi mengirimkan penyucian melalui Yesus Kristus. Berikan kami keberanian seperti Yesaya, untuk berkata ya kepada-Mu, bahkan ketika jalan di depan terlihat berat. Amin.
Pertanyaan tentang YESAYA 6
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah YESAYA 6?
Apa yang dikatakan YESAYA 6?
Apa yang YESAYA 6 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari remaja dari YESAYA 6?
Mengapa YESAYA 6 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Yang ditemukan orang lain
Menarik, di pasal sebelumnya Yesaya berseru "celakalah" enam kali kepada orang lain. Tapi begitu ia melihat TUHAN, seruan itu berbalik: "Celakalah aku! Sebab, aku binasa, karena aku adalah orang yang tidak bersih bibirnya."
Yang membuka mata Yesaya bukan teguran, melainkan pandangan akan Raja. Semakin dekat kau pada terang, semakin jujur kau tentang dirimu.
Mencari yang cocok untuk anak yang lebih kecil?
Kami juga menyediakan versi khusus untuk balita (usia 3-6) dan usia sekolah dasar (7-12).
Buka di alat Alkitab Anak