LUKAS 7
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk remaja (12 tahun ke atas)
The Explanation
Lukas 7 bergerak seperti empat sorotan lampu yang diarahkan ke wajah-wajah yang sangat berbeda, dan semuanya berakhir pada satu pertanyaan: siapa sebenarnya Yesus?
Adegan pertama terjadi di Kapernaum. Seorang perwira Romawi, pejabat militer dari bangsa penjajah, punya budak yang sedang sakit parah dan hampir mati. Perhatikan detail kecil itu: budak. Di dunia Romawi, budak adalah properti, bisa diganti. Tapi perwira ini menghargainya dan berusaha menyelamatkan nyawanya. Ia mengutus tua-tua Yahudi, dan mereka membela dia dengan argumen yang sangat manusiawi: "Orang ini layak mendapat pertolongan-Mu, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun sinagoge bagi kita." Layak. Ia sudah berinvestasi, jadi ia berhak.
Lalu perwira itu sendiri mengirim pesan yang justru membantah semua itu: "aku tidak layak menerima-Mu di rumahku." Ia tidak menawar dengan prestasinya. Ia hanya bicara soal otoritas: aku juga hidup di bawah perintah, dan perintahku dijalankan. Ucapkan sepatah kata saja, itu cukup. Yesus heran, dan kata Yunani di baliknya berarti benar-benar terkejut. "Bahkan di antara orang Israel pun Aku belum pernah menemukan iman sebesar ini." Iman terbesar dalam Injil ini ditemukan pada seorang tentara asing yang merasa dirinya tidak layak.
Adegan kedua, di gerbang kota Nain. Sebuah arak-arakan pemakaman keluar, seorang anak tunggal dari seorang ibu yang sudah janda. Tanpa suami, tanpa anak: perempuan ini kehilangan bukan hanya anaknya, tapi juga seluruh masa depannya. Tidak ada yang meminta apa pun kepada Yesus. Tidak ada permohonan, tidak ada iman yang diucapkan. Lukas hanya menulis bahwa Tuhan melihat perempuan itu dan berbelaskasihan. Lalu Ia menyentuh tandu jenazah, sesuatu yang membuat orang Yahudi menjadi najis, dan berkata, "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" Orang itu duduk dan mulai berbicara. Reaksi orang banyak bukan tepuk tangan, tapi rasa takut. Mereka tahu mereka sedang berdiri di dekat sesuatu yang jauh lebih besar dari diri mereka.
Adegan ketiga mungkin yang paling mengejutkan. Yohanes Pembaptis, orang yang dulu menunjuk kepada Yesus, sekarang mengirim pertanyaan dari kejauhan: "Engkaukah yang akan datang itu? Atau, haruskah kami menantikan yang lain?" Nabi terbesar itu ragu. Yesus tidak menegurnya. Ia hanya menyuruh murid-murid Yohanes melaporkan apa yang mereka lihat dan dengar: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Itu kutipan dari Yesaya. Jawabannya adalah: lihat apa yang sedang terjadi. Lalu Yesus menambahkan kalimat yang menohok: "berbahagialah ia yang tidak tersandung oleh-Ku." Yesus tahu Dia bukan Mesias yang orang harapkan.
Kemudian Yesus melukiskan generasi-Nya seperti anak-anak yang duduk di pasar dan tidak mau ikut permainan apa pun. Yohanes datang dengan hidup keras, disebut kerasukan setan. Yesus datang makan dan minum bersama orang berdosa, disebut rakus dan pemabuk. Masalahnya bukan bukti yang kurang. Masalahnya adalah hati yang sudah memutuskan untuk menolak.
Adegan terakhir: rumah Simon orang Farisi. Seorang perempuan yang dikenal sebagai pendosa masuk tanpa diundang, menangis di kaki Yesus, membasuh kaki-Nya dengan air matanya, mengeringkannya dengan rambutnya, mengurapinya dengan minyak wangi mahal. Di depan umum. Rambut terurai di depan pria asing saja sudah memalukan. Simon menghitung dalam hati: kalau Yesus benar seorang nabi, Ia tentu tahu siapa perempuan ini. Yesus tahu, dan Ia juga tahu isi kepala Simon. Ia bercerita tentang dua orang yang berutang, 500 dinar dan 50 dinar, keduanya dibebaskan. Siapa yang lebih mengasihi? Simon menjawab benar dan sekaligus menjatuhkan dirinya sendiri. Lalu Yesus membandingkan tuan rumah yang tidak memberi air, tidak memberi ciuman salam, tidak memberi minyak, dengan perempuan yang memberi segalanya. Dan Ia mengucapkan kata-kata yang membuat seluruh ruangan gaduh: "Dosamu sudah diampuni." Siapa Orang ini sehingga Ia dapat mengampuni dosa?
What Does This Mean?
Ada satu kata yang muncul dua kali di pasal ini: layak. Tua-tua Yahudi berkata perwira itu layak. Perwira itu sendiri berkata ia tidak layak. Yang menarik: Yesus datang bukan karena penilaian pertama, tapi karena yang kedua. Iman, di pasal ini, bukan rasa percaya diri bahwa kita sudah cukup baik. Iman justru adalah tahu bahwa kita tidak cukup, dan tetap datang.
Bandingkan Simon dan perempuan itu. Simon tidak jahat. Ia mengundang Yesus makan, ia religius, ia rapi. Tapi ia tidak merasa berutang apa-apa, jadi ia juga tidak mengasihi apa-apa. "Orang yang sedikit diampuni, sedikit pula mengasihi." Ini kalimat paling tidak nyaman dalam pasal ini, terutama bagi kita yang tumbuh di gereja. Bahaya terbesar bukan hidup terlalu liar. Bahaya terbesar adalah hidup cukup bersih sehingga merasa tidak butuh diampuni, dan akhirnya mengenal Yesus tanpa pernah mengasihi-Nya.
Dan Yohanes: perhatikan bahwa keraguan tidak membuatnya dibuang. Ia bertanya, dan Yesus menjawab dengan bukti, bukan dengan rasa bersalah. Beberapa hari sebelumnya Yesus bahkan menyebutnya yang terbesar di antara semua yang dilahirkan perempuan. Ternyata orang bisa sungguh percaya dan sungguh bergumul pada waktu yang sama.
The Common Thread
Kalimat yang diucapkan orang-orang di Nain adalah kunci seluruh pasal: "Allah telah melawat umat-Nya." Sepanjang Perjanjian Lama, Israel menunggu Allah datang sendiri, bukan lewat wakil. Nabi-nabi berjanji akan ada masa ketika mata yang buta terbuka dan telinga yang tuli mendengar. Ketika murid-murid Yohanes bertanya, Yesus tidak menjawab dengan gelar. Ia menunjuk pada daftar itu dan berkata: sedang terjadi sekarang. Nubuat sedang bergerak di depan mata kalian.
Puncaknya di rumah Simon. Menyembuhkan orang sakit bisa dilakukan nabi. Membangkitkan orang mati pun pernah terjadi lewat Elia. Tapi mengampuni dosa? Itu hanya hak Allah, karena setiap dosa akhirnya adalah dosa terhadap Dia. Ketika Yesus berkata "Dosamu sudah diampuni," Ia tidak sedang menyampaikan pesan dari Allah. Ia sedang bertindak sebagai Allah. Pertanyaan tamu-tamu itu, "Siapakah Orang ini?", adalah pertanyaan yang ingin Lukas tinggalkan di kepala kita, sampai kita tiba di salib dan mengerti berapa harga pengampunan yang diucapkan begitu tenang di meja makan itu.
For You
Kamu hidup di dunia yang terus-menerus menilai kelayakanmu. Nilai, jumlah pengikut, penampilan, seberapa cepat kamu tahu mau jadi apa. Bahkan iman gampang berubah jadi rapor: cukup rajin, cukup suci, cukup pantas. Lukas 7 memotong logika itu. Dua orang di pasal ini mendapat pujian tertinggi dari Yesus, dan keduanya datang tanpa satu pun argumen tentang diri mereka. Satu berkata "aku tidak layak." Satu tidak berkata apa-apa, hanya menangis.
Jadi periksa ini dengan jujur: apakah kamu lebih mirip Simon atau perempuan itu? Simon ada di ruangan yang sama dengan Yesus, secara teknis semuanya benar, tapi hatinya dingin dan sibuk menilai orang lain. Kalau ibadah membuatmu bosan dan doa terasa seperti kewajiban, mungkin masalahnya bukan kurang semangat, tapi karena kamu belum pernah sungguh-sungguh melihat betapa besar utang yang sudah dihapus.
Dan kalau kamu sedang seperti Yohanes, percaya tapi bertanya-tanya apakah semua ini benar, ketahuilah bahwa Yesus tidak takut pada pertanyaanmu. Ajukan saja. Lalu lakukan apa yang Ia sarankan: lihat dan dengar. Perhatikan apa yang Allah kerjakan dalam hidup orang-orang di sekitarmu, dalam Kitab Suci, dalam dirimu sendiri. Iman jarang tumbuh dari perasaan yang meledak. Lebih sering ia tumbuh dari memperhatikan dengan sabar.
Satu tantangan yang serius: tulis dengan jujur, hanya untuk dirimu sendiri, satu hal yang paling ingin kamu sembunyikan dari Allah. Lalu bawa itu kepada Dia dalam doa, tanpa membela diri, tanpa menjelaskan bahwa sebenarnya keadaannya rumit. Perempuan di rumah Simon tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membela dirinya. Ia hanya menangis di kaki Yesus. Dan ia pulang dengan damai.
Talk About It
Yesus berkata, "orang yang sedikit diampuni, sedikit pula mengasihi." Menurutmu, apakah tumbuh di lingkungan Kristen bisa membuat seseorang lebih sulit mengasihi Yesus? Bagaimana dengan dirimu sendiri?
Yohanes Pembaptis, yang paling yakin tentang Yesus, akhirnya bertanya apakah Yesus benar Mesias. Apa pertanyaan atau keraguan yang selama ini kamu simpan tapi belum pernah kamu ucapkan kepada siapa pun?
Praying Together
Tuhan Yesus, aku tidak datang dengan daftar alasan mengapa aku layak. Aku datang seperti perwira itu: cukup ucapkan sepatah kata saja. Tunjukkan kepadaku sebesar apa utang yang Engkau hapus, supaya hatiku tidak dingin. Terimalah pertanyaan-pertanyaanku, dan jangan biarkan aku tersandung oleh-Mu. Katakan juga kepadaku: dosamu sudah diampuni, pergilah dengan damai. Amin.
Pertanyaan tentang LUKAS 7
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah LUKAS 7?
Apa yang dikatakan LUKAS 7?
Apa yang LUKAS 7 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari remaja dari LUKAS 7?
Mengapa LUKAS 7 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Yang ditemukan orang lain
Ketika orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka mendapati hamba itu sudah sembuh." Tidak ada yang melihat saat kesembuhan itu terjadi. Yesus tidak datang ke rumah itu, tidak menyentuh siapa pun. Dia hanya berkata, dan di tempat lain hidup seseorang berubah. Apa yang kamu doakan hari ini mungkin sudah dikerjakan-Nya, jauh sebelum kamu sempat melihatnya.
Lihat, Dia orang yang rakus dan pemabuk, sahabat para pengumpul pajak dan orang-orang berdosa!" Kalimat itu dilempar sebagai hinaan, dan Yesus tidak pernah repot membantahnya. Dia rela namanya kotor asal meja-Nya tetap terbuka. Pertanyaannya untukmu: apakah hidupmu masih cukup dekat dengan orang berdosa sampai orang mulai bergosip yang sama?
Mencari yang cocok untuk anak yang lebih kecil?
Kami juga menyediakan versi khusus untuk balita (usia 3-6) dan usia sekolah dasar (7-12).
Buka di alat Alkitab Anak