KIDUNG AGUNG 4
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk remaja (12 tahun ke atas)
Penjelasan
Kidung Agung 4 adalah puisi cinta. Bukan kiasan halus tentang persahabatan, bukan renungan sopan tentang kekaguman rohani, melainkan seorang pengantin lelaki yang berdiri di depan pengantin perempuannya dan menyebut satu per satu apa yang ia lihat.
Gambar-gambarnya terasa aneh bagi kita. "Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang menuruni Gunung Gilead." Bayangkan lereng gunung yang gelap dan bergerak, hitam mengalir ke bawah: itulah rambutnya. Gigi seperti kawanan domba yang baru dicuci dan digunting, semuanya berpasangan, tidak ada yang hilang. Artinya: putih, rapi, lengkap. Bibir seperti tali kirmizi, merah dan jelas. Pelipisnya seperti irisan buah delima di balik cadar, merah muda yang tersembunyi sebagian. Lehernya seperti menara Daud, tegak, bermartabat, tidak rapuh.
Lalu ayat 5 berbicara tentang tubuhnya tanpa berbisik dan tanpa malu. Dan ayat 7 adalah puncaknya: "Engkau cantik seutuhnya, kekasihku. Tidak ada cacat padamu."
Setelah itu nada berubah menjadi undangan. "Datanglah bersamaku dari Lebanon," dari puncak-puncak gunung, dari sarang singa dan bukit macan tutul. Pergilah dari tempat yang berbahaya; datanglah kepadaku. "Engkau telah mencuri hatiku." Bukan dia yang menguasai, justru dia yang tertawan.
Kemudian sebuah gambar penting: "taman yang terkunci, mata air yang terkunci, air mancur yang termeterai." Ia melihat kekasihnya sebagai taman penuh rempah, delima, narwastu, kayu manis, mur. Sebuah taman yang berharga, karena itu terkunci.
Dan di ayat terakhir, akhirnya perempuan itu bersuara. Dia sendiri yang memanggil angin utara dan angin selatan untuk bertiup, supaya aromanya menyebar. Dia sendiri yang berkata: biarlah kekasihku datang ke kebunnya. Kunci itu ada di tangannya, dan dia yang membukanya.
Apa Artinya Ini?
Hal pertama yang harus kita akui: Allah menaruh puisi seperti ini di dalam Alkitab-Nya. Bukan sebagai catatan kaki yang memalukan, tetapi sebagai satu kitab utuh. Kalau kamu tumbuh dengan kesan bahwa iman terutama berarti waspada terhadap tubuh dan hasrat, pasal ini menyanggahnya. Ketertarikan fisik bukan hasil kejatuhan manusia. Ia adalah bagian dari ciptaan yang Allah sebut baik, dan Ia sendiri memberi kata-kata untuk memujinya.
Hal kedua: perhatikan bagaimana pujian itu diucapkan. Lambat. Dengan kata-kata. Ia melihat seorang pribadi, bukan sepotong tubuh untuk dinilai. Ia tidak membandingkannya dengan siapa pun. Ia tidak berkata "kamu hampir sempurna." Ia berkata: tidak ada cacat padamu. Itu bukan hasil penilaian objektif, itu bahasa perjanjian. Begitulah cara berbicara orang yang sudah memilih dan tidak akan mundur.
Bandingkan dengan dunia tempat kamu hidup. Di sana tubuh dinilai dalam setengah detik, digeser, disaring, dibandingkan, dinilai lagi. Kamu tahu rasanya diperiksa dari luar. Kidung Agung 4 memperlihatkan alternatifnya: dilihat oleh satu orang yang berkomitmen, dalam kata-kata, tanpa penonton.
Hal ketiga, dan ini yang sering dilewati: taman itu terkunci. Bukan karena tubuh itu kotor, tetapi karena tubuh itu bernilai. Yang tak berharga dibiarkan terbuka. Dan kunci itu tidak dipegang oleh si lelaki, tidak dipegang oleh tekanan pergaulan, melainkan oleh perempuan itu sendiri. Ayat 16 adalah suaranya: dia yang mengundang. Di dalam Alkitab, seks bukan sesuatu yang diambil, dibujuk, atau diperdagangkan. Ia diberikan, dengan sadar, di tempat yang aman.
Benang Merah
Alkitab berulang kali memakai bahasa pernikahan untuk menggambarkan hubungan Allah dengan umat-Nya. Ia bukan sekadar atasan atau pembuat aturan; Ia mengikatkan diri, Ia setia, Ia cemburu dalam arti yang baik. Dan pada akhirnya Yesus Kristus datang sebagai Mempelai yang mengasihi umat-Nya sampai mati.
Karena itu kalimat "Engkau cantik seutuhnya, tidak ada cacat padamu" memiliki gema yang dalam. Bukan karena umat Allah tanpa dosa. Tetapi karena Mempelai itu memandang mereka melalui kasih-Nya sendiri, dan kasih itu membersihkan apa yang dipandangnya. Yang najis dibuat kudus. Yang terluka dipulihkan.
Dan perhatikan ayat 8: datanglah dari sarang singa, dari bukit macan tutul. Itulah suara Injil dalam bahasa cinta. Keluarlah dari tempat yang membahayakan hidupmu, dan datanglah kepada-Ku.
Untuk Kamu
Tiga hal yang konkret.
Pertama, periksa dengan jujur apa yang kamu izinkan membentuk cara pandangmu terhadap tubuh. Pornografi, akun-akun yang kamu ikuti, cara kamu dan temanmu berbicara tentang orang lain di grup chat. Kidung Agung 4 melatih mata untuk memuji dengan kata-kata; layarmu mungkin melatih mata untuk mengonsumsi. Keduanya tidak bisa berjalan bersamaan lama-lama.
Kedua, kalau kamu sedang menjalin hubungan, tanyakan siapa yang memegang kunci taman itu. Kalau salah satu pihak selalu mendesak dan yang lain selalu bertahan, itu bukan cinta seperti pasal ini, sekalipun terasa romantis. Cinta di sini menunggu sampai diundang.
Ketiga, tantangan yang tidak nyaman. Coba sekali saja memuji seseorang tanpa berbicara tentang penampilannya, dan lakukan itu langsung kepadanya, bukan di belakangnya. Perhatikan betapa sulitnya menemukan kata-kata. Itu menunjukkan seberapa dangkal kita dilatih memandang orang lain.
Dan kalau kamu merasa dirimu justru tidak pernah dilihat, atau pernah dipakai lalu dibuang: bacalah ayat 7 pelan-pelan, dan tahu bahwa Allah tidak berbicara tentang tubuhmu seperti orang yang menilai barang. Ia berbicara seperti Mempelai yang sudah memilih.
Bicarakan Bersama
Siapa yang sebenarnya menentukan apakah tubuhmu "cukup baik", dan sejak kapan kamu menyerahkan hak itu kepada mereka?
Kalau seks di dalam Alkitab adalah sesuatu yang diberikan, bukan diambil, apa yang harus berubah dalam cara kamu dan lingkunganmu berbicara tentang hal itu?
Berdoa Bersama
Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak malu berbicara tentang tubuh, cinta, dan hasrat. Ajarlah aku memandang orang lain seperti Engkau memandang, bukan sebagai barang, melainkan sebagai pribadi yang berharga. Tolong aku menjaga apa yang kudus, dan sembuhkan apa yang sudah terluka. Katakan pada hatiku bahwa aku dilihat dan dikasihi oleh-Mu. Amin.
Pertanyaan tentang KIDUNG AGUNG 4
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah KIDUNG AGUNG 4?
Apa yang dikatakan KIDUNG AGUNG 4?
Apa yang KIDUNG AGUNG 4 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari remaja dari KIDUNG AGUNG 4?
Mengapa KIDUNG AGUNG 4 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Yang ditemukan orang lain
Bangunlah, hai angin utara, dan datanglah, hai angin selatan! Bertiuplah ke atas tamanku, supaya rempah-rempahnya semerbak." Ia memanggil dua angin sekaligus, yang dingin dan yang hangat. Wangi taman baru tercium ketika ada yang bertiup melewatinya. Mungkin hidupmu sedang diterpa angin utara. Beranikah kamu berkata: bertiuplah, asal aromaku sampai kepada-Nya?
Mencari yang cocok untuk anak yang lebih kecil?
Kami juga menyediakan versi khusus untuk balita (usia 3-6) dan usia sekolah dasar (7-12).
Buka di alat Alkitab Anak