1 KORINTUS 14:1
Teks
Satu kalimat, dua perintah, satu prioritas. Paulus menyuruh jemaat Korintus mengejar kasih, dan pada saat yang sama sungguh-sungguh menginginkan karunia-karunia rohani, dengan satu karunia yang disebut lebih dulu daripada yang lain: "terutama supaya kamu dapat bernubuat." Tidak ada pilihan antara kasih atau karunia, seolah orang rohani harus memilih salah satu; keduanya dikejar bersama, tetapi tidak sejajar. Kasih adalah lapangan tempat semua karunia dimainkan, dan di dalam lapangan itu Paulus menunjuk ke arah yang jelas: pakailah yang paling berguna bagi orang lain. Ayat ini berdiri tepat setelah pasal tentang kasih dan tepat sebelum pembahasan panjang tentang bahasa lidah, jadi fungsinya seperti engsel yang menghubungkan keindahan kasih dengan praktik kebaktian yang kacau.
Inti
Dua kata kerja di ayat ini bukan kata kerja yang santai. Kata yang diterjemahkan "kejarlah" adalah diōkō, kata yang dipakai untuk memburu buruan atau mengejar orang yang melarikan diri; kasih bukan suasana hati yang kebetulan hinggap, melainkan sesuatu yang dikejar sampai napas habis. Dan "inginkanlah dengan sungguh-sungguh" memakai kata yang satu akar dengan iri hati: hasrat yang panas, yang biasanya merusak, di sini diarahkan ke tujuan yang benar. Inilah inti teologisnya: Allah tidak memadamkan hasrat manusia, Ia membelokkannya. Roh Kudus tidak memberi karunia sebagai lencana kerohanian pribadi, melainkan sebagai alat kerja bagi sesama, sebab menurut ayat 3 bernubuat berarti berbicara kepada manusia "untuk membangun, nasihat, dan penghiburan." Ukuran kerohanian di sini bukan intensitas pengalamanmu, melainkan apakah ada orang lain yang berdiri lebih tegak karenanya.
Benang Merah
Nubuat dalam Alkitab selalu punya arah yang sama: Allah yang berbicara kepada umat-Nya, bukan umat yang berspekulasi tentang Allah. Dari Musa yang berharap seluruh umat menjadi nabi, sampai Yoel yang menubuatkan Roh dicurahkan atas semua orang, garis itu bermuara pada Pentakosta. Yang di Perjanjian Lama tersimpan pada segelintir orang pilihan kini dibagikan kepada seluruh jemaat; itulah sebabnya Paulus dapat berkata di ayat 31 "kamu semua dapat bernubuat satu demi satu." Dan isi dari suara itu bukan ramalan masa depan, melainkan Kristus yang membangun tubuh-Nya lewat mulut anggota-anggota-Nya sendiri. Kasih yang dikejar di ayat 1 bukan kasih umum, melainkan kasih yang bentuknya sudah ditentukan oleh salib: mengutamakan yang lain, bahkan ketika pengalaman rohani sendiri terasa jauh lebih memuaskan.
Cermin
Ayat ini menyentuh sesuatu yang jarang kita akui: kita suka kerohanian yang terasa enak bagi diri sendiri. Saat teduh yang membuat tenang, lagu yang membuat merinding, pelayanan yang membuat dipandang. Semua itu tidak salah, tetapi Paulus menggeser timbangannya. Pertanyaannya bukan "apakah aku tersentuh," melainkan "apakah ada orang yang dibangun." Di kantor itu berarti memilih berkata jujur yang menguatkan rekan yang sedang jatuh, bukan hanya aman diam. Di rumah itu berarti kata-kata kepada pasangan atau anak yang membangun, bukan sindiran yang membuat mereka mengecil. Dalam soal uang dan waktu: karunia yang tidak dipakai bagi orang lain sama saja dengan modal yang diparkir. Hari ini, kirimkan satu pesan kepada satu orang yang kamu tahu sedang lelah, berisi satu kalimat penguatan yang konkret tentang apa yang Allah kerjakan dalam dirinya. Lima menit, selesai.
Intertekstualitas
Bacalah ayat ini bersama akhir pasal 12, di mana Paulus menutup daftar karunia dengan janji menunjukkan "jalan yang lebih utama lagi," lalu seluruh pasal 13 menjelaskan jalan itu: kasih. Ayat 14:1 adalah kesimpulan praktisnya, dan itulah mengapa ia tidak boleh dibaca terlepas dari keduanya. Bandingkan juga dengan ayat 19 dalam pasal yang sama: "aku lebih baik berbicara lima kata dengan pikiranku supaya aku juga dapat mengajar orang lain, daripada sepuluh ribu kata dalam bahasa lidah." Perbandingan lima berbanding sepuluh ribu itu hampir lucu, dan memang dimaksudkan begitu. Paulus bukan anti-pengalaman; ia sendiri berbahasa lidah lebih banyak dari mereka semua. Ia hanya menolak kerohanian yang tidak meninggalkan apa pun di tangan orang lain.
Detail
Perhatikan kata "terutama." Paulus tidak berkata "hanya," dan tidak berkata "jangan." Ia memberi peringkat, bukan larangan. Itu jauh lebih sulit diterima daripada larangan, sebab larangan bisa dipatuhi tanpa berpikir, sedangkan peringkat menuntut pertimbangan setiap kali. Setiap kali kamu membuka mulut dalam pertemuan jemaat, atau menulis renungan, atau memilih bagaimana mengisi sepuluh menit yang tersedia, kata "terutama" itu berdiri di sampingmu dan bertanya: ini membangun siapa? Jemaat Korintus ingin aturan hitam putih; Paulus memberi mereka prioritas dan menuntut kedewasaan untuk menerapkannya. Di ayat 20 ia menyebutnya dengan jelas: "dalam pemikiranmu jadilah dewasa." Kedewasaan rohani bukan tahu mana yang terlarang, melainkan tahu mana yang lebih berguna.
Pertanyaan
Lalu, apakah karunia bernubuat masih ada, dan bolehkah kita menginginkannya? Sebagian orang Kristen yakin karunia itu berhenti pada zaman rasul; sebagian lain mengklaimnya setiap minggu dengan cara yang membuat kita ngeri. Teks ini tidak menyelesaikan perdebatan itu, dan saya tidak akan berpura-pura bisa. Tetapi ia memberi satu tes yang tidak bisa dihindari siapa pun: menurut ayat 3, nubuat membangun, menasihati, menghibur. Jika yang kamu sebut suara Allah membuat orang kerdil, takut, atau bergantung padamu, itu bukan nubuat, apa pun namanya. Dan jika kamu yakin karunia itu sudah berhenti, pertanyaannya tetap berlaku: siapa yang kemarin menjadi lebih kuat karena kata-katamu? Perintah "kejarlah kasih" tidak pernah ditarik kembali.
Refleksi
Kapan terakhir kali kamu memilih melakukan sesuatu yang rohani justru karena berguna bagi orang lain, bukan karena memuaskan dirimu sendiri?
Jika seseorang menilai kerohanianmu dari tiga kata di ayat 3, membangun, menasihati, menghibur, apa yang akan ia temukan dalam percakapanmu minggu ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Corinthians 14:1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 KORINTUS 14:1?
Tentang apakah 1 KORINTUS 14:1?
Apa konteks historis dari 1 KORINTUS 14:1?
Apa yang 1 KORINTUS 14:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 KORINTUS 14:1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Corinthians 14
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena "ada begitu banyak ragam bahasa di dunia ini, dan tidak ada satu pun yang tanpa arti." Setiap kata yang kuucapkan dan kudengar hari ini membawa makna. Terima kasih untuk suara yang bisa dimengerti, untuk percakapan yang menghubungkan hati kami satu sama lain.
Sebab, orang yang berbicara dalam bahasa lidah, tidak berbicara kepada manusia, melainkan kepada Allah karena tidak ada seorang pun yang mengerti." Paulus sedang menertibkan ibadah di Korintus, tapi ada hal lembut di sini: Allah mendengar bahasa yang tak dimengerti siapa pun. Doamu yang paling berantakan, yang tak bisa kaujelaskan kepada sahabat terdekat, sampai juga kepada-Nya.
Tuhan, Engkau berbicara dengan banyak cara, kadang lewat suara yang asing bagiku. Ampuni aku kalau hatiku keras dan telingaku tertutup. Lembutkan aku hari ini, supaya aku sungguh mendengar dan tidak hanya sibuk dengan suaraku sendiri.
Ukuran kerohanian di Korintus bukan seberapa keras suaramu bernubuat, melainkan apakah kamu mau tunduk. "Jika seseorang berpikir bahwa ia adalah seorang nabi atau orang rohani, ia harus mengakui bahwa hal-hal yang aku tuliskan kepadamu adalah perintah Tuhan." Coba tanya dirimu: bagian Firman mana yang kamu anggap "tidak berlaku untukku"? Di situlah kerohanianmu sedang diuji.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi