1 SAMUEL 9:24
The Text
Juru masak membawa potongan daging yang sudah disisihkan jauh-jauh hari: paha, dengan bagian yang ada di atasnya, dan meletakkannya tepat di depan Saul. Samuel menjelaskan bahwa potongan itu bukan kebetulan jatuh ke piringnya; bagian itu memang sengaja disimpan untuknya, sejak Samuel berkata, "Aku telah mengundang banyak orang." Lalu kalimat penutup yang tenang dan hampir terlalu sederhana: "Sesudah itu, Saul makan bersama Samuel pada hari itu." Seorang pemuda yang pagi tadi masih mencari keledai-keledai ayahnya, yang tidak punya roti lagi di kantongnya, kini duduk di tempat utama di antara tiga puluh undangan, memakan potongan terhormat yang sudah lebih dulu dicadangkan atas namanya sebelum ia tahu namanya sedang disebut.
The Core
Yang paling mengguncang dari ayat ini bukan pengurapan, melainkan waktunya. Daging itu sudah disisihkan sebelum Saul tiba, bahkan sebelum Saul tahu ada yang bernama Samuel di kota itu. TUHAN sudah berbicara sehari sebelumnya, juru masak sudah menerima pesan, dan Saul masih sibuk mencemaskan keledai. Inilah cara Allah bekerja: anugerah selalu lebih dulu sampai daripada orang yang menerimanya. Dan perhatikan jenis potongannya. Paha adalah bagian yang dalam hukum kurban dikhususkan bagi imam (Imamat 7:32-34). Samuel menaruhnya di depan seorang Benyamin yang baru saja berkata bahwa sukunya terkecil. Allah tidak menunggu Saul pantas; Dia menyiapkan meja, memanggil, lalu berkata: makanlah. Pemilihan mendahului prestasi, dan undangan mendahului pengertian.
The Common Thread
Perhatikan urutannya: Allah memilih, lalu Allah mengundang makan, baru sesudah itu datang pengurapan dan firman di batas kota. Meja mendahului mahkota. Pola ini terus berulang sampai ke ujung Alkitab, karena kerajaan Allah selalu berakhir di sebuah perjamuan. Tetapi di sini ada pembalikan yang menusuk. Saul menerima potongan imam; Yesus, Raja yang sejati, duduk di meja-Nya yang terakhir dan tidak menerima bagian terhormat itu. Ia justru menjadi bagian yang disisihkan, tubuh yang dipecah dan diserahkan bagi banyak orang. Saul makan dari kurban; Kristus adalah kurban. Dan kalimat Samuel, "telah disisihkan bagimu," terdengar seperti gema awal dari seluruh karya keselamatan: ada bagian yang dicadangkan atas namamu sebelum kamu lahir, dibayar oleh Dia yang tidak mendapat bagian apa pun selain salib.
The Mirror
Kita hidup seolah tempat kita di meja Allah harus direbut. Kamu bekerja lebih keras supaya dianggap layak; kamu diam-diam membandingkan pelayananmu dengan orang lain; kamu merasa terlalu kecil, terlalu rusak, terlalu Benyamin untuk duduk di tempat utama. Atau sebaliknya: kamu sudah lama duduk di sana dan lupa bahwa dagingnya sudah disisihkan sebelum kamu datang. Saul masuk ke ruangan itu tanpa roti di kantongnya dan tanpa pemberian untuk nabi, dan tetap mendapat potongan terbaik. Itu persis posisi kita di hadapan Kristus. Yang tersisa bukan usaha membuktikan diri, melainkan satu perintah sederhana dari Samuel: "Makanlah." Hari ini, kirim satu pesan kepada seseorang yang jarang diundang siapa pun, dan ajak dia makan bersamamu minggu ini. Sebutkan hari dan jamnya.
The Question
Kalau anugerah sudah disiapkan begitu rapi, mengapa akhirnya Saul tetap jatuh? Allah menyisihkan potongan imam baginya, memberinya Roh, memberinya kerajaan, dan beberapa pasal kemudian menolaknya. Teks ini tidak memberi kita jalan keluar yang nyaman. Pemilihan tidak menghapus tanggung jawab, dan kemurahan yang diterima tidak otomatis membentuk hati yang taat. Saul duduk di tempat utama, tetapi tidak pernah benar-benar belajar mendengar. Kita boleh gentar di sini. Perjamuan bukan jaminan magis; ia adalah undangan yang menuntut jawaban seumur hidup. Dan justru karena itu kisah Saul mendorong kita keluar dari dirinya, mencari Raja yang tidak akan gagal, yang ketaatan-Nya menopang meja ketika ketaatan kita goyah.
The Profile
Pembaca pertama kitab ini tahu bagaimana cerita Saul berakhir: di Gilboa, di tangan sendiri, dengan Israel kalah. Mereka membaca adegan makan ini dengan rasa pahit yang tidak kita punya. Bagi mereka, potongan paha di depan Saul bukan sekadar kehormatan; itu bukti bahwa Allah sungguh memberi Israel apa yang mereka minta, dan memberinya dengan murah hati. Tidak ada yang bisa berkata Allah pelit atau setengah hati terhadap raja pilihan ini. Bangsa yang kemudian dibuang ke Babel membaca ini dan mengerti: kegagalan kerajaan bukan karena Allah kurang memberi. Allah menyisihkan yang terbaik. Manusialah yang menyia-nyiakannya. Dan di balik kepahitan itu tumbuh kerinduan akan seorang raja yang layak menduduki tempat utama.
Context
Kita berada di masa peralihan yang canggung: hakim-hakim sudah habis, raja belum ada, Filistin menekan dari barat dengan keunggulan besi dan garnisun. Samuel adalah tokoh terakhir dari dunia lama, hakim sekaligus nabi sekaligus pemimpin kurban. Peristiwa ini terjadi di bukit pengorbanan sebuah kota kecil di tanah Zuf, pada hari raya kurban di mana tiga puluh undangan menunggu sampai Samuel datang memberkati, karena tanpa dia tidak ada yang boleh mulai makan. Dalam budaya itu, tempat duduk dan potongan daging adalah bahasa kekuasaan yang dibaca semua orang. Menempatkan seorang pemuda asing dari suku terkecil di tempat utama adalah pernyataan politik yang mengejutkan. Tiga puluh pasang mata melihatnya, dan tak seorang pun tahu alasannya.
Reflection
Bagian apa dalam hidupmu yang sebenarnya sudah "disisihkan" bagimu sebelum kamu memintanya, dan kapan terakhir kali kamu mengucap syukur untuk itu dengan sadar?
Saul menerima tempat utama tetapi tidak pernah belajar mendengar. Di mana dalam hidupmu kamu menikmati pemberian Allah sambil menghindari suara-Nya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Samuel 9:24
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 SAMUEL 9:24?
Tentang apakah 1 SAMUEL 9:24?
Apa konteks historis dari 1 SAMUEL 9:24?
Apa yang 1 SAMUEL 9:24 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 SAMUEL 9:24 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Samuel 9
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Saul sudah siap pulang. Keledai tidak ketemu, tenaga habis, lebih baik berhenti. Lalu hambanya, yang bahkan tidak disebut namanya, berkata: "Mari kita pergi ke sana, mungkin dia dapat memberitahukan kepada kita jalan yang harus kita tempuh." Satu usulan kecil, dan hari itu Saul bertemu Samuel. Siapa suara kecil di sekitarmu yang selama ini kamu abaikan?
Saul keluar rumah hanya untuk mencari keledai yang hilang. Tiga hari ia sibuk dengan itu. Lalu Samuel berkata, "jangan mengkhawatirkannya sebab keledai-keledai itu sudah ditemukan," dan langsung berbicara tentang takhta Israel.
Kadang hatimu penuh oleh hal kecil yang hilang, sementara Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar. Apa "keledai" yang masih kamu cari hari ini?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi