Penjelasan Alkitab

2 TAWARIKH 29:1

Alkitab

Teks

Satu ayat, dan hampir seluruhnya berupa angka dan nama. Hizkia naik takhta pada usia dua puluh lima tahun, memerintah dua puluh sembilan tahun di Yerusalem, dan ibunya bernama Abia, anak perempuan Zakharia. Tidak ada penilaian, belum ada pujian, belum ada kritik. Baru pada ayat berikutnya penulis Tawarikh membuka mulutnya soal karakter: "Dia melakukan apa yang benar di mata TUHAN." Tetapi di ayat pertama ini kita hanya diberi kerangka: seorang pemuda, sebuah kota, sebuah nama perempuan, dan rentang waktu yang belum diisi apa-apa. Sebuah hidup yang baru saja dimulai, dicatat sebelum kita tahu bagaimana akhirnya. Begitulah kitab ini membuka kisah salah satu raja terbaik Yehuda: dengan tenang, hampir datar, seperti orang yang menarik napas sebelum berbicara.

Inti

Yang membuat ayat ini bergetar adalah apa yang tidak tertulis di dalamnya. Hizkia berusia dua puluh lima, artinya ia lahir ketika ayahnya, Ahas, masih remaja, dan ia tumbuh besar justru di tahun-tahun ketika pintu-pintu Bait Allah ditutup dan pelita-pelita dipadamkan. Ia dibesarkan dalam rumah di mana ibadah kepada TUHAN sengaja dimatikan. Dan toh ia menjadi orang yang pada bulan pertama tahun pertama membuka kembali pintu-pintu itu. Ayat ini, dengan segala kekeringannya, memuat sebuah pengakuan diam-diam tentang Allah: bahwa Ia sanggup membangkitkan kesetiaan dari tempat yang paling tidak menjanjikan. Anugerah tidak diwariskan seperti takhta; ia diberikan. Kita tidak diberi tahu bagaimana Hizkia sampai di sana, siapa yang mengajarnya, kapan hatinya berbalik. Teks membiarkan itu gelap, dan mungkin itu memang bagian dari pesannya.

Benang Merah

Ayat seperti ini gampang dilewati, padahal justru di sini kitab Tawarikh sedang menjaga sebuah garis. Setiap kali penulis menyebut usia raja, lama pemerintahannya, dan nama ibunya, ia sedang menandai satu mata rantai lagi dalam keturunan Daud, garis yang lewat tangan-tangan rapuh terus dijaga Allah sampai lahirlah Anak Daud yang sejati. Hizkia bukan penyelamat; ia hanya raja yang membuka pintu. Tetapi apa yang ia lakukan sesudah ayat ini, membersihkan yang najis, menegakkan kembali ibadah, mempersembahkan darah "untuk membuat pendamaian atas seluruh Israel", adalah bayangan dari pekerjaan yang jauh lebih besar dan tidak perlu diulang setiap generasi. Setiap pembaharuan dalam Perjanjian Lama selalu punya tanggal kedaluwarsa. Itulah sebabnya kita masih menunggu, sampai Seorang datang yang tidak hanya memperbaiki Bait Allah, tetapi menjadi Bait Allah.

Cermin

Ada dua hal yang ayat ini sentuh dalam diri kita, dan keduanya terasa. Yang pertama: kita cenderung percaya bahwa masa lalu keluarga menentukan segalanya. Ayah yang tidak beriman, rumah yang dingin secara rohani, kebiasaan yang diwarisi tanpa pernah dipilih. Hizkia tumbuh di rumah Ahas dan tetap menjadi orang yang membuka pintu. Itu tidak berarti luka masa kecil tidak nyata; itu berarti luka bukan kata terakhir. Yang kedua: kita sering menunda pembaharuan sampai keadaan terasa siap. Hizkia tidak menunggu tahun kelima. Bulan pertama, tahun pertama. Dan yang mengejutkan, ayat 1 tidak menyebut ayahnya sama sekali; hanya ibunya. Hari ini, tulislah di selembar kertas nama orang yang paling membentuk hidup rohani Anda, letakkan kertas itu di meja Anda, dan sebutkan namanya dalam doa syukur dengan suara keras.

Detail

Nama ibu itu: Abia. Dalam bahasa Ibrani, Abiyah berarti "bapaku adalah YAHWEH". Bayangkan seorang perempuan dengan nama itu hidup sebagai istri Ahas, raja yang menutup pintu-pintu serambi Bait Allah dan memadamkan pelita-pelitanya. Namanya sendiri menjadi semacam protes yang ia bawa setiap hari. Kita tidak diberi tahu apa-apa lagi tentang dia, tidak satu kata pun tentang apa yang ia ajarkan kepada anaknya. Penulis Tawarikh hanya menyebut nama dan nama ayahnya, lalu diam. Tetapi diam itu tidak kosong. Mungkin di dalam nama seorang perempuan yang hampir tak dikenal itu tersimpan jawaban atas pertanyaan yang paling menarik dalam pasal ini: dari mana Hizkia belajar bahwa TUHAN adalah Bapa yang layak dicari kembali?

Tokoh Utama

Dua puluh lima tahun. Cukup muda untuk masih ingat pintu-pintu Bait Allah yang tertutup sepanjang masa kecilnya, cukup dewasa untuk tahu apa harganya membukanya kembali. Yang paling mengesankan dari Hizkia dalam pasal ini bukan energinya, melainkan cara ia berbicara: "nenek moyang kita telah bertindak tidak setia." Kita, bukan mereka. Ia tidak berdiri di atas dosa ayahnya untuk menghakimi; ia berdiri di dalamnya dan bertobat dari tempat itu. Seorang raja baru punya banyak alasan untuk mendahulukan tembok, pasukan, dan pajak. Hizkia mendahulukan pintu. Ada urgensi di dalam dirinya yang sulit dijelaskan hanya dengan kesalehan, semacam kesadaran bahwa waktu bangsanya hampir habis. Dan ternyata ia benar.

Intertekstual

Bacalah pasal sebelumnya, dan ayat ini terasa seperti fajar setelah malam yang panjang: Ahas menutup, menajiskan, membuang perkakas kudus, dan mati tanpa penyesalan. Penulis Tawarikh sengaja meletakkan dua raja itu berdampingan tanpa komentar, seolah bertanya kepada kita: bagaimana mungkin? Di Perjanjian Baru, Paulus menyinggung hal yang mirip ketika ia mengingatkan Timotius akan iman yang lebih dahulu hidup dalam nenek dan ibunya. Bukan bukti bahwa iman turun otomatis lewat garis keturunan, sebab kita justru sedang membaca kisah seorang anak yang menyimpang dari ayahnya, tetapi petunjuk bahwa Allah sering bekerja lewat orang-orang yang namanya nyaris tidak tercatat. Satu nama perempuan dalam daftar angka. Itu saja yang kita dapat, dan itu ternyata cukup.

Refleksi

Pintu mana dalam hidup Anda yang sudah lama tertutup, bukan karena Anda memutuskan menutupnya, melainkan karena Anda mewarisinya begitu?

Jika hidup Anda dicatat seperti ayat ini, hanya usia, tempat, dan nama orang yang membentuk Anda, apa yang belum diisi dan siapa yang sedang menunggu Anda mengisinya?

Selami lebih dalam 2 Chronicles

Buku pilihan yang menggali kitab Alkitab ini lebih dalam.

Tafsiran Alkitab Masa Kini 1: Kejadian - Ester

Donald Guthrie & J. A. Motyer (ed.)

Bagian 2 Tawarikh dalam jilid ini memberi penjelasan pasal demi pasal yang ringkas namun setia pada Alkitab, menolong Anda melihat bagaimana sejarah raja-raja Yehuda mengarahkan hati kepada ibadah yang murni dan kesetiaan Allah pada perjanjian-Nya.

Faith.network earns a small commission on Kobo purchases made through these links, at no extra cost to you. It helps keep the studies free.

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Chronicles 29:1

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti 2 TAWARIKH 29:1?
Satu ayat, dan hampir seluruhnya berupa angka dan nama. Hizkia naik takhta pada usia dua puluh lima tahun, memerintah dua puluh sembilan tahun di Yerusalem, dan ibunya bernama Abia, anak perempuan Zakharia. Tidak ada penilaian, belum ada pujian, belum ada kritik. Baru pada ayat berikutnya penulis Tawarikh membuka mulutnya soal karakter: "Dia melakukan apa yang benar di mata TUHAN.
Tentang apakah 2 TAWARIKH 29:1?
Yang membuat ayat ini bergetar adalah apa yang tidak tertulis di dalamnya. Hizkia berusia dua puluh lima, artinya ia lahir ketika ayahnya, Ahas, masih remaja, dan ia tumbuh besar justru di tahun-tahun ketika pintu-pintu Bait Allah ditutup dan pelita-pelita dipadamkan. Ia dibesarkan dalam rumah di mana ibadah kepada TUHAN sengaja dimatikan.
Apa konteks historis dari 2 TAWARIKH 29:1?
Ayat seperti ini gampang dilewati, padahal justru di sini kitab Tawarikh sedang menjaga sebuah garis. Setiap kali penulis menyebut usia raja, lama pemerintahannya, dan nama ibunya, ia sedang menandai satu mata rantai lagi dalam keturunan Daud, garis yang lewat tangan-tangan rapuh terus dijaga Allah sampai lahirlah Anak Daud yang sejati.
Apa yang 2 TAWARIKH 29:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Ada dua hal yang ayat ini sentuh dalam diri kita, dan keduanya terasa. Yang pertama: kita cenderung percaya bahwa masa lalu keluarga menentukan segalanya. Ayah yang tidak beriman, rumah yang dingin secara rohani, kebiasaan yang diwarisi tanpa pernah dipilih. Hizkia tumbuh di rumah Ahas dan tetap menjadi orang yang membuka pintu.
Bagaimana 2 TAWARIKH 29:1 masih relevan hari ini?
Nama ibu itu: Abia. Dalam bahasa Ibrani, Abiyah berarti "bapaku adalah YAHWEH". Bayangkan seorang perempuan dengan nama itu hidup sebagai istri Ahas, raja yang menutup pintu-pintu serambi Bait Allah dan memadamkan pelita-pelitanya. Namanya sendiri menjadi semacam protes yang ia bawa setiap hari.
Terwujud berkat para mitra kami

Yang dibagikan komunitas tentang 2 Chronicles 29

Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.

Syukur Editorial pada ayat 11

Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memilih aku untuk berdiri di hadapan-Mu dan melayani Engkau. Betapa besar kehormatan ini: bukan aku yang mencari, tetapi Engkau yang memanggil. Jagalah hatiku agar tidak lalai, melainkan setia dalam setiap tugas kecil yang Kaupercayakan.

Doa Editorial pada ayat 34

Tuhan, ada pekerjaan yang terlalu besar untuk dikerjakan sendiri. Terima kasih untuk mereka yang datang membantu tanpa diminta. Jadikan hatiku seperti itu juga: siap, bersih, dan tidak menunggu dipaksa. Pakai tanganku di tempat yang Kau tunjukkan hari ini.

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi