2 KORINTUS 1:19
Teks
Paulus baru saja dituduh plin-plan: ia berjanji datang ke Korintus, lalu mengubah rencananya. Tuduhannya halus tetapi mematikan, bahwa perkataannya adalah "ya, ya" dan "tidak, tidak" sekaligus, tergantung angin. Jawabannya tidak dimulai dari jadwal perjalanan, melainkan dari Kristus. "Sebab, Anak Allah, Yesus Kristus, yang diberitakan di antara kamu oleh kami, yaitu oleh aku, Silas, dan Timotius, bukanlah 'ya' dan 'tidak', melainkan 'ya' di dalam Dia." Dengan kata lain: nilailah pelayanan kami dari isi beritanya. Pribadi yang kami beritakan tidak pernah mendua, tidak pernah menarik kembali apa yang Ia katakan. Dan karena berita itu konsisten, para pemberitanya pun terikat pada konsistensi yang sama. Tiga nama disebut dengan sengaja; ada saksi, bukan hanya pembelaan diri seorang rasul yang tersinggung.
Inti
Yang dipertaruhkan di sini bukan reputasi Paulus, melainkan watak Allah. Dalam dunia kita, "ya" hampir selalu bersyarat: ya, asal keadaannya tidak berubah; ya, selama masih menguntungkan. Paulus menegaskan bahwa di dalam Yesus Kristus, Allah tidak pernah berkata dua hal sekaligus. Kristus bukan sekadar pembawa pesan yang setia; Ia sendiri adalah bentuk "ya" itu. Dalam Dia, Allah tidak sedang menawar, tidak sedang menunggu kita memenuhi syarat tambahan, tidak menyimpan klausul kecil di bawah janji-Nya. Inilah yang membuat Injil berbeda dari agama sebagai kontrak. Kalau Allah pernah berkata "mungkin", iman kita selalu menjadi perjudian. Tetapi karena Ia berkata "ya" dalam Kristus, iman menjadi istirahat. Ayat berikutnya menarik kesimpulannya dengan berani: "semua janji Allah adalah 'ya' di dalam Kristus."
Benang Merah
Perhatikan kata "semua" di ayat berikutnya. Paulus tidak berkata bahwa sebagian janji Allah digenapi dalam Kristus, melainkan seluruhnya. Itu pernyataan yang berani, sebab Perjanjian Lama penuh janji yang tampak menggantung: tanah bagi Abraham yang hanya sempat ia beli sepetak untuk kuburan, takhta Daud yang runtuh, pemulihan yang dinubuatkan para nabi sementara umat pulang ke reruntuhan. Selama berabad-abad umat Allah hidup di antara "sudah" dan "belum", dan selalu ada bisikan: mungkin Allah berubah pikiran. Paulus menjawab bisikan itu dengan satu nama. Dalam Kristus, semua utang janji itu dibayar lunas, bukan dicicil. Karena itu, salib bukan sekadar bukti kasih Allah; salib adalah tanda tangan Allah di bawah seluruh perjanjian-Nya, dan kebangkitan adalah cap yang mengesahkannya.
Cermin
Anda mungkin tidak kesulitan percaya bahwa Allah berkuasa. Yang sulit adalah percaya bahwa Ia tidak akan menarik kembali perkataan-Nya terhadap Anda. Di suatu tempat dalam hati Anda ada klausul kecil yang Anda tambahkan sendiri: Ia menerima saya, asal saya tidak jatuh lagi di dosa yang itu; Ia menyertai saya, selama saya masih berguna. Itu bukan iman, itu kontrak kerja. Dan kecurigaan itu biasanya lahir dari pengalaman: orang tua yang berjanji lalu lupa, atasan yang memuji di depan lalu diam saat Anda dipotong, sahabat yang berkata "nanti kita bicara" dan tidak pernah menelepon. Anda belajar bahwa "ya" selalu punya catatan kaki. Lalu Anda memperlakukan Allah seperti semua orang lain yang pernah mengecewakan Anda.
Hari ini juga: tulis di secarik kertas satu janji Allah yang diam-diam Anda ragukan berlaku untuk Anda, lalu ucapkan dengan suara keras, "Di dalam Kristus, ini 'ya'. Amin."
Profil
Jemaat Korintus hidup di kota pelabuhan yang sibuk, di mana reputasi adalah mata uang. Para pembicara keliling datang dan pergi, dinilai dari kefasihan, kehadiran yang mengesankan, dan kemampuan menepati janji. Seorang guru yang mengubah rencana perjalanan dianggap tidak dapat diandalkan, dan ketidakandalan berarti kehilangan muka. Di telinga mereka, tuduhan "ya dan tidak" bukan kritik kecil soal jadwal, melainkan serangan terhadap seluruh kredibilitas Paulus. Karena itu ia menyebut Silas dan Timotius: keduanya ikut mendirikan jemaat itu, dan jemaat masih mengingat wajah mereka. Yang didengar orang Korintus adalah ini, bahwa berita yang dulu mengubah hidup mereka tidak mungkin dipisahkan dari orang-orang yang membawanya, dan bahwa menolak Paulus berarti mencurigai Kristus yang ia beritakan.
Konteks
Surat ini ditulis sekitar dua puluh tahun setelah kebangkitan, saat Paulus berada di Makedonia, lega karena Titus membawa kabar baik dari Korintus setelah kunjungan yang menyakitkan dan sebuah surat yang ditulis dengan air mata. Hubungannya dengan jemaat itu retak. Ada guru-guru lain yang tampil lebih meyakinkan dan menyindir kelemahan fisik serta cara bicaranya. Di latar belakang ada pengumpulan dana untuk jemaat miskin di Yerusalem, yang membuat setiap perubahan rencana perjalanan Paulus mudah dicurigai bermotif uang. Tambahkan kenyataan bahwa perjalanan laut pada zaman itu bergantung pada musim, kapal, dan nyawa, lalu Anda mengerti mengapa pembelaan Paulus tidak berhenti pada alasan praktis, melainkan naik ke dasar yang tidak bisa digoyang: kesetiaan Allah.
Intertekstualitas
Yesus pernah mengajar agar ucapan murid-Nya cukup "ya" yang berarti ya dan "tidak" yang berarti tidak, tanpa sumpah penguat (Matius 5:37). Paulus hidup dari ajaran itu, tetapi ia membalikkan arahnya: sebelum menjadi tuntutan bagi kita, integritas itu lebih dahulu adalah watak Allah sendiri. Kita bisa berkata ya dengan jujur hanya karena Allah lebih dahulu berkata ya tanpa cadangan. Gema kedua terdengar di Wahyu 3:14, di mana Kristus yang bangkit memperkenalkan diri sebagai "Amin", saksi yang setia dan benar. Jadi "Amin" yang kita ucapkan di akhir doa bukan harapan yang kita lemparkan ke langit, melainkan pantulan dari "ya" yang sudah lebih dahulu diucapkan Allah dalam Anak-Nya.
Refleksi
Klausul kecil apa yang diam-diam Anda tambahkan pada janji Allah bagi diri Anda sendiri, dan dari pengalaman mana klausul itu lahir?
Di mana dalam hidup Anda minggu ini "ya" Anda sebenarnya berarti "mungkin", dan apa yang membuat Anda enggan berkata jelas?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Corinthians 1:19
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 2 KORINTUS 1:19?
Tentang apakah 2 KORINTUS 1:19?
Apa konteks historis dari 2 KORINTUS 1:19?
Apa yang 2 KORINTUS 1:19 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 2 KORINTUS 1:19 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 2 Corinthians 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Paulus berubah rencana, dan orang langsung menilai hatinya. "Atau, apakah aku merencanakan sesuatu menurut cara manusia, sehingga aku mengatakan 'Ya, ya' dan 'Tidak, tidak' pada saat yang sama?" Ia tidak membela gengsi, ia membela kepercayaan yang rapuh di antara mereka. Pernahkah kamu secepat itu menilai seseorang yang berubah pikiran, tanpa bertanya alasannya?
Paulus dituduh plin plan karena rencana kunjungannya berubah. Ia tidak sibuk membela diri, ia menunjuk kepada Kristus: "bukanlah 'Ya' dan 'Tidak', melainkan dalam Dia selalu ada 'Ya'."
Mungkin kamu pernah dikecewakan orang yang berkata ya lalu menghilang. Kamu sendiri mungkin pernah menjadi orang itu. Tetapi ada Satu yang tidak pernah menarik kembali kata-Nya padamu.
Bapa, Engkau menghibur aku saat hatiku remuk, dan aku bersyukur untuk itu. Ajar aku jangan menyimpan penghiburan itu sendirian. Pakai luka yang Kau sembuhkan untuk menguatkan orang lain yang sedang berjalan di jalan yang sama.
Bapa, terima kasih karena iman bukan sesuatu yang dipaksakan orang lain kepadaku, melainkan tempat aku berdiri di hadapan-Mu. Ajar aku menerima teman-teman yang menolongku bukan untuk menguasai, tapi untuk membuat hatiku bersukacita. Jagalah aku tetap teguh.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi