2 RAJA-RAJA 13:21
Nas Ini
Sebuah rombongan pelayat sedang mengusung jenazah ketika mata mereka menangkap gerakan di kejauhan: gerombolan Moab, datang seperti tiap awal tahun, mencari jarahan. Tak ada waktu untuk upacara, tak ada waktu untuk ratapan. Kubur terdekat yang terbuka adalah kubur Elisa, dan ke sanalah mayat itu mereka lemparkan, lalu mereka lari. Namun tubuh yang jatuh itu menyentuh tulang-tulang nabi, dan yang terjadi berikutnya tidak dicatat dengan kalimat panjang atau penuh takjub: "dia hidup kembali dan berdiri di atas kedua kakinya." Satu kalimat, tanpa nama, tanpa saksi yang tinggal untuk melihat, tanpa penjelasan. Orang mati yang dibuang tergesa-gesa ke lubang kubur orang lain justru bangun berdiri, sementara para pengusungnya sudah menghilang di balik bukit karena takut pada Moab.
Inti
Perhatikan siapa yang tidak hadir dalam adegan ini. Elisa sudah mati dan dikuburkan; ia tidak berdoa, tidak menumpangkan tangan, tidak berkata "hiduplah". Yang tersisa hanyalah tulang. Dan justru di situ Allah bekerja. Inilah yang membuat ayat ini lebih dari sekadar keanehan: kuasa hidup itu tidak pernah milik sang nabi, melainkan milik Allah yang memakai sang nabi, dan kuasa itu tidak ikut mati ketika hamba-Nya mati. Israel baru saja kehilangan orang yang disebut Yoas "Bapakku! Bapakku! Kereta Israel dan pasukan berkudanya!" Mereka merasa perisainya lenyap. Allah menjawab kepanikan itu dengan tanda yang kasar dan tidak elegan: kematian bukan batas kekuasaan-Nya. Bahkan ketika manusia lari ketakutan dan hanya sanggup melempar jenazah ke lubang terdekat, Allah tetap sanggup membuat yang mati berdiri.
Benang Merah
Tulang yang memberi hidup adalah gambar yang aneh, dan justru keanehannya membuatnya berharga. Di Israel, mayat adalah sumber kenajisan; menyentuh tulang orang mati membuat seseorang tidak layak mendekat kepada Allah. Di sini arus itu berbalik. Yang najis tidak mencemari; yang mati justru menular hidup. Itulah pola yang kelak digenapi dengan cara yang jauh lebih dalam: bukan tulang seorang nabi yang tertinggal di kubur, melainkan kubur yang ditinggalkan kosong. Elisa tetap mati; tubuhnya tetap membusuk. Yesus bangkit dengan tubuh-Nya sendiri, dan sejak itu Ia tidak lagi menjadi saluran kuasa hidup melainkan sumbernya. Yang di sini terjadi sekali dan diam-diam, di Paskah menjadi janji terbuka bagi semua yang ada di dalam Dia. Ayat 23 memberi kunci: Allah berpaling kepada umat-Nya "oleh karena perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub". Kesetiaan itulah yang tidak pernah dikuburkan.
Cermin
Ada saat-saat ketika kita mengubur bukan hanya orang, melainkan juga harapan yang melekat padanya. Guru rohani yang meninggal dan meninggalkan jemaat merasa telanjang. Ayah yang doanya dahulu menopang seluruh keluarga, kini hanya nama di batu nisan. Pernikahan yang sudah lama tidak kita doakan lagi karena kita menganggapnya selesai. Pekerjaan yang kita tinggalkan dengan tergesa karena ancaman datang lebih cepat daripada keberanian kita. Kita, seperti para pengusung itu, sering bertindak dalam panik: melempar apa yang berat ke lubang terdekat lalu lari. Nas ini tidak memuji keberanian mereka, karena memang tidak ada. Nas ini hanya menunjukkan bahwa Allah bekerja di lubang tempat kita membuang sesuatu. Hari ini, sebutkan dengan suara keras nama satu hal atau satu orang yang sudah Anda anggap tamat, lalu katakan kepada Allah: "Engkau masih sanggup membuatnya berdiri."
Detail
Kata kerja "melemparkan" itu tidak sopan, dan memang tidak dimaksudkan sopan. Dalam budaya yang memandang penguburan sebagai kewajiban suci, membuang jenazah ke kubur orang lain tanpa ratapan adalah penghinaan. Tidak ada minyak, tidak ada kain, tidak ada keluarga yang berdiri diam. Hanya tangan-tangan yang gemetar dan langkah kaki yang menjauh. Dan justru lewat tindakan tanpa hormat itulah mukjizat terjadi. Perhatikan: tidak ada iman di sini. Tidak ada seorang pun yang berkata, "Mari kita taruh dia di dekat Elisa, siapa tahu." Anugerah datang bukan sebagai jawaban atas kesalehan, melainkan menyelinap masuk lewat kepanikan manusia. Itu menghibur dengan cara yang mengganggu: Allah tidak menunggu kita bertindak dengan benar sebelum Ia bertindak sama sekali.
Konteks
Kita berada di kerajaan utara pada masa yang suram. Dinasti Yehu sedang melemah, dan Aram di bawah Hazael sudah menggilas Israel sampai pasukan Yoahas tinggal "50 orang berkuda, 10 kereta, dan 10.000 pasukan yang berjalan kaki", diibaratkan "seperti debu di pengirikan". Negeri yang sedemikian lemah menjadi sasaran empuk. "Pergantian tahun" menunjuk musim semi, saat jalan-jalan kering dan gerombolan perampok dari Moab menyeberang untuk menjarah panen. Jadi rombongan pelayat itu bukan sedang paranoid; mereka tahu apa yang terjadi setiap tahun. Kubur pada masa itu umumnya gua batu dengan pintu yang bisa digeser, berisi tulang-tulang yang sudah dikumpulkan. Karena itu tubuh yang dilempar bisa langsung bersentuhan dengan sisa jasad Elisa. Sang nabi baru saja mati; kesedihan nasional masih segar.
Pertanyaan
Untuk apa mukjizat ini? Orang itu tidak disebut namanya, tidak berkata apa-apa, dan pasti mati lagi kemudian. Tidak ada penonton yang tinggal untuk bersaksi. Israel tidak bertobat sesudahnya; pasal ini justru ditutup dengan raja yang sama, dosa yang sama, dan kemenangan yang setengah-setengah karena tiga pukulan tongkat. Apakah Allah melakukan mukjizat yang tidak mengubah apa pun? Nas ini menolak menjelaskan diri. Mungkin justru itu intinya: tanda ini bukan pelajaran yang rapi melainkan letupan kuasa yang membuktikan bahwa Allah tidak bergantung pada penonton, pada iman kita, atau pada hasil yang terukur. Ia hidup, dan Ia membuat hidup, entah ada yang melihat atau tidak. Kita boleh merasa tidak puas dengan itu. Teks membiarkan kita begitu.
Refleksi
Apa yang sudah Anda kuburkan tergesa-gesa karena takut, dan berani tidakkah Anda menyebutkannya lagi di hadapan Allah?
Jika kuasa Allah tidak berhenti ketika hamba-Nya mati, apa artinya itu bagi cara Anda bergantung pada orang-orang rohani dalam hidup Anda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Kings 13:21
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 2 RAJA-RAJA 13:21?
Tentang apakah 2 RAJA-RAJA 13:21?
Apa konteks historis dari 2 RAJA-RAJA 13:21?
Apa yang 2 RAJA-RAJA 13:21 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 2 RAJA-RAJA 13:21 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 2 Kings 13
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Selebihnya dari perbuatan Yoahas, semua yang dilakukannya, dan kepahlawanannya, bukankah semuanya itu tertulis dalam kitab sejarah raja-raja Israel?" Kepahlawanan, katanya. Padahal pasukannya tinggal lima puluh orang berkuda. Catatan manusia menyimpan kehebatan, catatan Allah menyimpan hati. Buku mana yang sedang kau isi hari ini?
Kemudian, Elisa mati dan mereka menguburkannya." Sesederhana itu. Tidak ada kereta berapi seperti Elia. Nabi yang membelah Yordan dan membangkitkan anak perempuan Sunem itu pun akhirnya dibaringkan di tanah. Dan dunia terus berjalan, gerombolan Moab tetap datang tiap awal tahun. Kepergian orang benar tidak menghentikan kesulitan. Tetapi Allah yang dilayaninya tidak ikut terkubur bersamanya.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tetap menolong Israel walaupun mereka tidak berbalik dari dosa dan patung Asyera masih tetap tinggal di Samaria. Kesabaran seperti itu yang menopang aku juga. Tunjukkanlah berhala yang masih kubiarkan berdiri di hatiku, dan berilah aku keberanian merobohkannya.
Pada tahun ketiga puluh tujuh zaman Yoas, raja Yehuda, Yoas, anak Yoahas, menjadi raja atas Israel di Samaria selama enam belas tahun." Enam belas tahun diringkas dalam satu kalimat. Semua pagi, semua keputusan, semua kesempatan untuk berbalik, muat dalam satu baris. Kalau tahun-tahunmu diringkas begitu, kalimat apa yang tertulis?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi