KISAH PARA RASUL 20:35
Teks
Paulus mengangkat tangannya di hadapan para penatua Efesus, tangan yang kasar karena bertahun-tahun menjahit kulit kemah, dan menjadikannya bukti. Ia baru saja berkata, "Aku tidak menginginkan perak, atau emas, atau pakaian siapa pun," lalu menunjuk pada apa yang mereka sendiri sudah lihat selama tiga tahun: ia membiayai dirinya dan rombongannya dengan kerja keras. Ayat 35 menarik kesimpulan dari semua itu. Pola hidup seperti ini, kata Paulus, bukan kebetulan pribadi melainkan teladan yang sengaja ia tunjukkan, supaya mereka menolong orang-orang lemah. Dan ia menutup dengan satu kalimat Yesus yang tidak tercatat di keempat Injil: "Lebih berbahagia memberi daripada menerima."
Inti
Di dunia Mediterania abad pertama, kalimat itu terdengar hampir terbalik. Kehormatan mengalir dari atas ke bawah: seorang pelindung memberi, dan yang menerima terikat utang budi seumur hidup. Memberi memang membahagiakan, tetapi karena memberi membuat Anda berkuasa. Paulus merobek logika itu. Ia memberi justru dengan menolak menjadi pelindung siapa pun; ia bekerja supaya tidak ada orang yang berutang padanya. Yang ia tuju adalah "yang lemah," orang-orang tanpa modal kehormatan untuk membalas. Di sinilah Injil anugerah menjadi kelihatan dalam bentuk ekonomi: Allah memberi kepada mereka yang tidak punya apa-apa untuk dibalas, dan kebahagiaan-Nya ada di situ. Gembala jemaat yang hidup dari pemberian tanpa memberi kembali, kata Paulus diam-diam, belum mengerti Injil yang ia khotbahkan.
Benang Merah
Paulus mengutip Yesus, dan kutipan itu tidak ada di Matius, Markus, Lukas, atau Yohanes. Jemaat Efesus rupanya sudah mengenalnya dari tradisi lisan yang beredar sebelum Injil tertulis mencapai mereka. Yang menarik: kalimat ini bukan ajaran moral yang melayang, melainkan ringkasan dari apa yang Yesus sendiri lakukan. Ia memberi nyawa-Nya kepada orang-orang yang tidak punya apa pun untuk dibalas. Paulus baru saja menyebutnya dengan kalimat yang nyaris mengejutkan di ayat 28: jemaat itu "telah Ia peroleh dengan darah-Nya sendiri." Harga sudah dibayar dari atas, bukan ditagih dari bawah. Maka seluruh pola hidup Paulus, tangan yang bekerja supaya orang lain tidak berutang, adalah salib yang diterjemahkan ke dalam jarum, kulit kemah, dan upah harian.
Cermin
Pertanyaannya bukan apakah Anda pernah memberi, melainkan kepada siapa. Kita cenderung memberi ke arah yang menghasilkan sesuatu: kolega yang bisa merekomendasikan, keluarga yang akan mengingat, jemaat yang akan memuji kemurahan hati kita dalam rapat berikutnya. Itu bukan kejahatan, itu hanya ekonomi kehormatan kuno yang masih hidup dalam bentuk modern. Paulus menunjuk ke arah lain: "yang lemah," yang tidak punya apa-apa untuk membalas, bahkan tidak punya nama yang pantas disebut. Dan ia menambahkan sesuatu yang mahal: ia bekerja lebih keras supaya bisa memberi lebih bebas. Memberi di sini berarti kehilangan jam, tenaga, tidur. Hari ini juga, kirimkan sejumlah uang kepada satu orang yang jelas tidak akan pernah bisa membalasnya, dan jangan ceritakan kepada siapa pun.
Konteks
Miletus, sebuah pelabuhan di pesisir Asia Kecil, kapal sudah menunggu, angin tidak bisa ditawar. Paulus sengaja melewati Efesus karena ia "bergegas sampai di Yerusalem, jika memungkinkan, pada hari Pentakosta." Maka ia menyuruh orang menempuh sekitar lima puluh kilometer untuk memanggil para penatua, dan mereka berjalan dua hari demi beberapa jam percakapan terakhir. Bayangkan baunya: tali, ter, ikan, keringat orang yang baru berjalan jauh. Efesus sendiri adalah kota kuil Artemis, kota tempat ekonomi dan agama saling membiayai, tempat tukang perak sempat merusuh karena pemberitaan Paulus mengancam penghasilan mereka. Para penatua ini tahu persis bagaimana uang dan ibadah bisa berkelindan. Justru di depan mereka Paulus mengangkat tangannya yang kapalan.
Tokoh Utama
Paulus di Miletus bukan pahlawan besi. Dua kali ia menyebut air mata, dan pidato ini ditutup dengan tangisan, pelukan, ciuman di leher. Ia tahu ia tidak akan kembali, dan ia tahu "serigala-serigala buas" akan datang. Dalam situasi seperti itu, orang biasanya membela warisannya. Paulus justru membela integritas keuangannya. Itu mengatakan sesuatu tentang dirinya: ia tahu bahwa yang paling cepat meruntuhkan pemberitaan Injil anugerah bukanlah ajaran sesat yang canggih, melainkan pemberita yang hidupnya diam-diam dibiayai oleh orang-orang yang ia layani. Lanskap batinnya adalah campuran keberanian dan kelelahan: seorang yang berkata hidupnya tidak berharga bagi dirinya sendiri, namun menangis saat berpisah dari orang-orang yang ia kasihi.
Pertanyaan
Lalu, apakah pelayan jemaat tidak boleh digaji? Paulus sendiri di tempat lain membela hak pemberita Injil untuk hidup dari pemberitaan itu. Jadi ini bukan aturan, melainkan pilihan yang ia ambil demi kebebasan Injil di satu kota tertentu. Tetapi jangan terlalu cepat memakai itu untuk melunakkan tekanannya. Pertanyaan yang lebih tajam tetap berdiri: siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh cara saya melayani? Dan masih ada satu lagi. Paulus berkata memberi itu lebih membahagiakan, padahal banyak orang yang memberi pulang dengan rasa terkuras, bukan bahagia. Mungkin "berbahagia" di sini bukan perasaan hangat melainkan posisi: berdiri di pihak Allah yang memberi. Itu tidak selalu terasa enak. Itu tetap benar.
Refleksi
Siapa dalam lingkaran hidup Anda yang benar-benar tidak bisa membalas apa pun, dan kapan terakhir kali Anda memberi kepadanya?
Jika para penatua Efesus menilai hidup Anda seperti mereka menilai hidup Paulus selama tiga tahun, apa yang akan mereka lihat tentang hubungan Anda dengan uang?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Acts 20:35
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KISAH PARA RASUL 20:35?
Tentang apakah KISAH PARA RASUL 20:35?
Apa konteks historis dari KISAH PARA RASUL 20:35?
Apa yang KISAH PARA RASUL 20:35 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KISAH PARA RASUL 20:35 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Acts 20
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Paulus tidak menunjuk pada gelarnya atau pada khotbah-khotbahnya. Ia mengangkat tangannya: "Kamu sendiri tahu bahwa tangan ini telah melayani keperluanku dan keperluan orang-orang yang bersamaku." Tangan yang kasar karena menjahit tenda. Ia memberi Injil tanpa membebani siapa pun. Pelayananmu hari ini, apakah menambah beban orang, atau meringankannya?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi