KISAH PARA RASUL 3:12
Teks
Orang banyak berlari berkerumun di Serambi Salomo, mata mereka terpaku pada dua nelayan Galilea yang masih dipegangi erat oleh bekas pengemis lumpuh itu. Petrus melihat tatapan itu, tatapan yang mulai berpindah dari mukjizat kepada si pembuat mukjizat, dan ia langsung memotongnya: "Hai orang-orang Israel, mengapa kamu heran akan hal ini atau mengapa kamu menatap kami seolah-olah dengan kuasa atau kesalehan kami sendiri, kami telah membuat orang ini berjalan?" Dua pertanyaan, dan keduanya menolak pujian sebelum pujian itu sempat diucapkan. Petrus tidak menunggu sampai orang banyak selesai mengagumi; ia menyela kekaguman itu di tengah jalan dan mengarahkan telunjuknya ke tempat lain. Ke mana, baru akan jelas pada ayat berikutnya: kepada Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.
Inti
Perhatikan dua kata yang Petrus tolak: kuasa dan kesalehan. Keduanya adalah dua jalan yang paling sering kita pakai untuk menjelaskan mengapa Allah bekerja melalui seseorang. Entah orang itu punya daya khusus, karunia yang hebat, kepribadian yang berwibawa; atau orang itu cukup suci, cukup tekun berdoa, cukup bersih hidupnya sehingga Allah "terpaksa" menjawab. Petrus menutup kedua pintu itu sekaligus. Dan ia berhak menutupnya dengan keras, sebab ia tahu persis seberapa jauh kesalehannya sendiri bertahan di halaman Imam Besar beberapa minggu sebelumnya. Inilah jantung kasih karunia dalam bentuknya yang paling praktis: pekerjaan Allah tidak mengalir melalui kualitas manusia, melainkan melalui nama Yesus yang dipercayai. Kalau mukjizat ini bergantung pada mutu rohani Petrus, kabar baik itu akan berhenti di Petrus. Karena tidak, kabar itu bisa sampai kepada kita.
Benang Merah
Petrus menolak tatapan itu bukan karena rendah hati secara umum, melainkan karena ia tahu tatapan itu salah alamat. Sejak Keluaran, umat ini punya kebiasaan lama: melihat tanda, lalu menyembah perantaranya atau benda yang dipakai Allah. Musa harus berkata berulang kali bahwa bukan tangannya yang membelah laut. Dan di sini, di serambi Bait Allah, pola itu muncul lagi dalam bentuk paling halus, yaitu kekaguman kepada rasul. Petrus memutus pola itu dengan menyebut nama yang baru saja mereka tolak. Orang lumpuh ini berjalan karena Yang mereka serahkan kepada Pilatus sekarang hidup dan memerintah. Jadi mukjizat ini bukan lampiran pada khotbah; mukjizat ini adalah tanda bahwa zaman pemulihan yang dijanjikan para nabi sudah mulai bergerak, dan pusatnya bukan Petrus.
Cermin
Pertanyaan Petrus menyakitkan karena kita jarang ditawari pujian yang begitu jelas sehingga perlu ditolak. Yang lebih sering terjadi adalah pujian kecil: pelajaran Anda di kelompok kecil itu "sangat memberkati", doa Anda "berkuasa", keputusan keluarga Anda dipuji orang lain sebagai buah kedewasaan rohani. Dan diam-diam Anda menyimpannya. Bukan untuk disombongkan, hanya untuk ditimbang sendiri saat Anda merasa tidak berharga. Di situlah kesalehan berubah menjadi modal. Bahayanya bukan Anda jadi angkuh, melainkan Anda jadi takut, sebab modal bisa habis, dan ketika gagal Anda merasa Allah tidak lagi punya alasan memakai Anda. Petrus membebaskan Anda dari neraca itu. Hari ini, ingat satu pujian terakhir yang Anda terima, sebut di hadapan Tuhan apa yang sebenarnya Dia kerjakan di situ, lalu ucapkan dengan suara terdengar: "Itu bukan kuasaku."
Profil
Pendengar Petrus adalah orang Yahudi yang saleh, datang ke Bait Allah pada jam doa, sebagian mungkin baru beberapa minggu lalu ada di Yerusalem saat Paskah. Mereka hidup di kota yang diatur oleh keluarga imam yang kaya dan diawasi Roma. Mereka terbiasa melihat tokoh rohani muncul, mengumpulkan pengikut, lalu dihabisi. Maka ketika Petrus berkata "Hai orang-orang Israel", ia tidak sedang menyapa orang asing; ia memanggil mereka dengan identitas perjanjian mereka. Mereka mendengar sesuatu yang mungkin luput dari kita: ini bukan sihir impor, ini bukan kuasa asing. Ini Allah nenek moyang mereka yang sedang bertindak, dan karena itu pertanyaannya bukan "siapa dua orang ini" melainkan "apa yang sedang Allah kerjakan di tengah kita".
Detail
Kata "menatap" muncul dua kali dalam cerita ini, dan itu bukan kebetulan. Pada ayat 4, Petruslah yang menatap si lumpuh dan berkata, "Lihat kami." Sekarang orang banyak menatap Petrus, dan ia menolaknya. Arah pandangan dalam kisah ini terus dikoreksi. Petrus pernah meminta perhatian, tetapi hanya sebagai jembatan, bukan sebagai tujuan. Begitu tatapan itu berhenti padanya, ia segera menggesernya. Di situ letak kejujuran seorang pelayan: ia harus cukup berani untuk berkata "lihat kami", dan cukup waspada untuk tahu kapan tatapan itu harus diteruskan. Banyak pelayanan runtuh bukan karena orangnya tidak berani tampil, melainkan karena ia lupa menggeser pandangan orang ketika pandangan itu akhirnya datang.
Konteks
Peristiwa ini terjadi tidak lama setelah Pentakosta, di pelataran Bait Allah pada jam kesembilan, sekitar pukul tiga sore, saat korban petang dipersembahkan dan pelataran penuh orang. Serambi Salomo adalah lorong bertiang di sisi timur, tempat orang berkumpul dan berdiskusi, tempat umum dengan telinga banyak, termasuk telinga para penjaga Bait Allah. Petrus berbicara di wilayah kekuasaan orang-orang yang beberapa bulan sebelumnya menyerahkan Yesus kepada Pilatus. Seorang lumpuh sejak lahir, yang setiap hari digotong ke Gerbang Indah, adalah bagian dari pemandangan tetap tempat itu; semua orang mengenalinya. Justru karena itu kesembuhannya tidak bisa disangkal, dan justru karena itu Petrus harus cepat menjelaskan siapa yang berhak menerima pujian.
Refleksi
Pujian mana yang diam-diam masih Anda simpan sebagai bukti bahwa Allah punya alasan memakai Anda?
Dalam pelayanan atau pekerjaan Anda, kapan terakhir kali Anda sengaja menggeser perhatian orang dari diri Anda kepada Kristus, dan apa yang membuat itu terasa mahal?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Acts 3:12
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KISAH PARA RASUL 3:12?
Tentang apakah KISAH PARA RASUL 3:12?
Apa konteks historis dari KISAH PARA RASUL 3:12?
Apa yang KISAH PARA RASUL 3:12 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KISAH PARA RASUL 3:12 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Acts 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, terima kasih karena Engkau mengirim Anak-Mu lebih dahulu kepada kami, bukan untuk menghukum, tetapi untuk memberkati. Balikkan hatiku dari jalan yang salah, meski itu terasa berat. Aku ingin hidup yang Kau pulihkan, bukan yang kupaksakan sendiri.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi