KISAH PARA RASUL 2
Teksnya
Hari Pentakosta: suara seperti angin kencang memenuhi rumah, lidah-lidah seperti nyala api hinggap pada setiap orang, dan murid-murid mulai berbicara dalam bahasa-bahasa yang tidak mereka pelajari. Orang-orang Yahudi dari puluhan negeri mendengar "perbuatan-perbuatan besar Allah" dalam bahasa kelahiran mereka sendiri, sebagian takjub, sebagian menuduh mereka mabuk. Petrus berdiri, menjelaskan bahwa ini adalah penggenapan nubuat Yoel, lalu mengarahkan seluruh peristiwa itu kepada Yesus yang disalibkan, dibangkitkan, dan ditinggikan. Tiga ribu orang bertobat dan dibaptis, dan lahirlah sebuah persekutuan yang bertekun dalam pengajaran, doa, dan memecahkan roti.
Intinya
Perhatikan bagaimana Petrus menjelaskan mukjizat itu. Ia tidak berkata: lihatlah betapa dahsyat kuasa Roh. Ia berkata tentang Yesus, "Ia telah mencurahkan, baik apa yang kamu lihat maupun dengar." Yang dicurahkan itu bukan energi ilahi yang anonim, melainkan pemberian dari Seseorang yang baru saja duduk di takhta. Pentakosta adalah bukti kenaikan. Angin dan api di Yerusalem adalah tanda bahwa di surga sesuatu telah terjadi: Yesus dari Nazaret, yang mati sebagai terhukum, kini memerintah. Karena itu inti pasal ini bukanlah pengalaman rohani, melainkan penobatan. Roh Kudus adalah hadiah pelantikan seorang Raja yang berbagi kemenangan-Nya dengan orang-orang yang, beberapa minggu sebelumnya, ikut berseru "salibkan Dia."
Benang Merah
Petrus membaca Mazmur 16 dengan cara yang mengejutkan: kubur Daud masih ada, jadi kata-kata itu tidak mungkin tentang Daud. Nubuat itu menunggu keturunan yang dijanjikan dengan sumpah, yang "tidak akan ditinggalkan di dunia orang mati." Seluruh sejarah perjanjian, dari janji kepada Daud sampai keluhan para nabi tentang umat yang berhati batu, bermuara di sini. Yoel menjanjikan Roh atas semua manusia; janji itu tidak bisa ditepati sebelum ada satu Manusia yang layak menerimanya lebih dahulu dan membagikannya. Karena itu Kristus bukan sekadar tema khotbah Petrus, Ia adalah sebab peristiwanya. Tanpa salib tidak ada pengampunan, tanpa kebangkitan tidak ada Tuhan yang hidup, tanpa kenaikan tidak ada Roh yang dicurahkan. Pentakosta adalah buah, bukan akar.
Cermin
Ayat 37 mengganggu: "tertusuklah hati mereka." Bukan tersentuh, bukan terharu. Tertusuk. Yang membuat mereka luka bukan kabar bahwa Allah baik, melainkan kalimat "inilah Yesus yang telah kamu salibkan." Kita cenderung mencari khotbah yang menenangkan; teks ini menunjukkan bahwa jalan menuju sukacita ayat 46 melewati luka ayat 37. Dan luka itu selalu konkret. Bukan "aku manusia yang tidak sempurna," tetapi: aku ikut arus di kantor ketika seorang rekan dikorbankan; aku menyimpan uang seolah itu milikku sendiri sementara jemaat di sebelahku kekurangan; aku memakai nama Yesus sebagai identitas budaya tanpa tunduk pada kekuasaan-Nya. Petrus tidak menyuruh mereka memperbaiki diri. Ia berkata: bertobatlah, dibaptislah, terimalah. Yang tertusuk disembuhkan, bukan ditambal.
Detail
"Karena hari baru jam ketiga," kata Petrus, kira-kira jam sembilan pagi. Kalimat itu terdengar seperti lelucon pembela diri: terlalu pagi untuk mabuk. Tetapi ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya. Jam ketiga adalah waktu korban pagi di Bait Allah dan waktu doa. Justru pada jam ibadah resmi, Roh turun bukan di ruang mahakudus melainkan di sebuah rumah biasa, atas orang-orang Galilea yang beraksen kampung. Tuduhan "dimabukkan oleh anggur baru" pun tidak sepenuhnya salah sasaran: ada sukacita di sini yang tampak tidak sopan, tidak terkendali, tidak pantas menurut ukuran orang terhormat. Anugerah memang sering terlihat seperti kekacauan bagi mereka yang berdiri di luar.
Gema Kitab Suci
Di Kejadian 11 manusia membangun menara agar namanya besar, dan Allah mengacaukan bahasa mereka sehingga mereka tersebar. Di Yerusalem yang terjadi sebaliknya: bahasa-bahasa tetap berbeda, tetapi kini semuanya sanggup mengucapkan hal yang sama, "perbuatan-perbuatan besar Allah." Allah tidak menghapus keragaman bangsa, Ia menaklukkannya untuk memuji nama Kristus. Lalu ada Mazmur 110 yang dikutip Petrus, mazmur yang paling sering dipakai para rasul: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Aku membuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu." Ironinya tajam. Orang-orang yang mendengar Petrus adalah musuh-musuh itu, dan mereka tidak dijadikan tumpuan kaki melainkan dijadikan saudara. Begitulah cara Raja ini menundukkan lawan-Nya: dengan pengampunan.
Pertanyaannya
Ayat 23 tidak bisa dilunakkan: Yesus "diserahkan menurut rencana yang sudah ditentukan dan pengetahuan Allah sebelumnya, kamu bunuh dengan menyalibkan-Nya." Dua kebenaran berdiri berdampingan tanpa penjelasan. Allah merencanakan, dan mereka bersalah. Jika Allah sudah menetapkan, mengapa hati mereka harus tertusuk? Jika mereka benar-benar bersalah, apakah rencana Allah bergantung pada dosa manusia? Petrus tidak menyelesaikan ketegangan ini, dan kita sebaiknya tidak berpura-pura bisa. Yang jelas: kedaulatan Allah dalam teks ini tidak pernah dipakai untuk memaafkan, dan tanggung jawab manusia tidak pernah dipakai untuk membuat Allah gugup. Keduanya justru bertemu dalam satu seruan yang sama: bertobatlah. Misteri itu tidak menawarkan tempat berteduh untuk berdalih; ia menawarkan tanah yang cukup keras untuk berdiri di atasnya sambil bertobat.
Refleksi
Kapan terakhir kali sebuah kebenaran tentang Kristus benar-benar menusuk hati Anda, bukan hanya menghibur Anda, dan apa yang Anda lakukan dengan luka itu?
Persekutuan di ayat 44-46 lahir dari khotbah tentang Kristus yang ditinggikan. Di mana dalam hidup Anda kepercayaan pada kekuasaan Yesus seharusnya mengubah cara Anda memegang uang, waktu, atau rumah Anda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Acts 2
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KISAH PARA RASUL 2?
Tentang apakah KISAH PARA RASUL 2?
Apa konteks historis dari KISAH PARA RASUL 2?
Apa yang KISAH PARA RASUL 2 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KISAH PARA RASUL 2 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Acts 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Bapa, karena Yesus kini duduk di sebelah kanan-Mu, bukan tinggal di dalam kubur. Aku bersyukur untuk kepastian ini: Dia yang memerintah adalah Dia yang mengenal namaku, dan tidak ada satu pun keadaanku yang lepas dari tangan-Nya yang berkuasa.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
