KISAH PARA RASUL 4:12
Teksnya
Petrus berdiri di hadapan mahkamah yang paling berkuasa di Yerusalem, ditanya dengan nada curiga: dengan kuasa siapa seorang lumpuh bisa berdiri. Jawabannya tidak berhenti pada penjelasan mukjizat. Ia menyebut nama yang baru saja disalibkan oleh orang-orang yang kini mengadilinya, lalu menutup dengan kalimat yang terdengar seperti pintu yang ditutup rapat: "Dan, tidak ada keselamatan di dalam siapa pun lainnya karena tidak ada nama lain di bawah langit diberikan di antara manusia yang oleh nama itu kita dapat diselamatkan."
Perhatikan bentuk kalimatnya. Bukan "kami memilih nama ini" melainkan sebuah kesaksian tentang kenyataan yang sudah ada sebelum Petrus membukanya. Nama itu diberikan. Dan yang berbicara bukan ahli Taurat, melainkan nelayan yang beberapa minggu sebelumnya menyangkal nama itu tiga kali di halaman rumah imam besar.
Intinya
Ada dua kata kerja yang saling mengunci di ayat ini: diselamatkan dan diberikan. Keduanya pasif. Manusia tidak menyelamatkan dirinya, dan manusia juga tidak menyediakan sarananya. Kata Yunani yang dipakai untuk "diselamatkan" di sini, sōzō, adalah kata yang sama yang dipakai di ayat 9 untuk "disembuhkan". Petrus sengaja tidak memisahkan keduanya. Kaki yang kembali berdiri dan jiwa yang dipulihkan berasal dari sumber yang satu.
Yang membuat pernyataan ini keras bukan sempitnya, melainkan arahnya. Petrus tidak sedang membandingkan agama-agama; ia sedang menyatakan bahwa keselamatan bukan prestasi yang bisa diusahakan dari bawah, melainkan pemberian yang turun "di bawah langit", ke tempat kita berada. Eksklusivitas itu adalah bayangan dari anugerah: kalau hanya satu nama yang menyelamatkan, maka tidak ada seorang pun yang terlalu jauh untuk menyebutnya.
Benang Merah
Satu ayat sebelumnya Petrus mengutip Mazmur 118: "Batu yang ditolak oleh kamu, tukang-tukang bangunan, yang telah menjadi Batu Penjuru." Itu bukan hiasan retoris. Petrus sedang menempatkan peristiwa penyaliban ke dalam pola yang sudah lama berjalan dalam cerita Allah: yang disingkirkan manusia justru dipakai Allah sebagai penopang. Saudara-saudara yang membuang Yusuf, raja-raja yang mengabaikan Daud bungsu, nabi-nabi yang diusir dari kota sendiri. Dan sekarang puncaknya, Seorang yang ditolak oleh pembangun resmi Bait Allah ternyata menjadi sendi bangunan yang sesungguhnya.
Maka kalimat tentang "tidak ada nama lain" bukan dogma baru yang tiba-tiba jatuh dari langit. Nabi Yoel sudah bernubuat bahwa setiap orang yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan, dan Petrus mengutipnya pada hari Pentakosta. Yang baru di sini hanyalah ini: nama itu kini punya wajah, punya luka, punya kuburan kosong.
Cermin
Kalimat Petrus membuat kita gelisah, dan sebaiknya memang begitu. Di kantor, di grup orang tua murid, di meja makan bersama keluarga besar yang beragam keyakinan, ayat ini terasa seperti barang tajam yang kita bungkus rapat-rapat sebelum dibawa keluar rumah. Kita takut dianggap sempit. Tetapi periksalah takut itu baik-baik: apakah itu kasih kepada sesama, atau keinginan agar diri kita sendiri tetap nyaman diterima?
Ada juga bahaya yang berlawanan arah. Orang bisa memegang nama itu seperti kartu anggota, bukti bahwa ia berada di pihak yang benar. Padahal ayat ini justru melucuti semua kebanggaan: kita diselamatkan, tidak menyelamatkan. Yang memegang kartu adalah orang yang tidak punya apa-apa selain tangan terbuka.
Hari ini, tuliskan satu nama orang yang kepadanya Anda selama ini ragu menyebut nama Yesus, lalu doakan dia dengan suara terdengar, menyebut namanya dan nama Yesus dalam satu kalimat.
Tokoh Utama
Petrus berdiri di gedung yang sama, di hadapan keluarga imam besar yang sama, tidak jauh dari halaman tempat ia dulu menghangatkan tangan dan berkata tiga kali bahwa ia tidak mengenal Orang itu. Lukas menyebut satu hal yang menjelaskan perbedaannya: "dipenuhi dengan Roh Kudus". Keberaniannya bukan watak yang akhirnya matang, bukan hasil pelatihan; para anggota Sanhedrin sendiri heran karena ia "tidak terpelajar dan awam".
Yang menarik, Petrus tidak membela diri. Ia ditanya soal kuasa, dan ia menjawab dengan nama. Ia tidak menyembunyikan bagian yang paling menyakitkan: "yang kamu salibkan". Lalu dalam napas yang sama ia menawarkan keselamatan kepada orang-orang itu juga, sebab ia memakai kata "kita", bukan "kamu". Orang yang pernah diampuni habis-habisan tidak bisa berkhotbah dengan nada menghakimi.
Detailnya
"Di bawah langit." Tiga kata yang mudah terlewat. Sanhedrin berpikir dalam ukuran Yerusalem, Bait Allah, bangsa Israel, batas-batas yang mereka jaga. Petrus menarik garis jauh lebih lebar: seluruh wilayah di bawah kubah langit, setiap tempat manusia bernapas.
Tetapi ungkapan itu juga menunjuk ke arah yang lain, ke atas. Nama itu tidak muncul dari bawah, tidak disusun oleh agama manusia, tidak ditemukan oleh pencarian spiritual yang tekun. Ia diberikan, diturunkan ke ruang tempat kita hidup dan mati. Keselamatan tidak menunggu kita naik; ia datang ke tempat orang lumpuh duduk mengemis di gerbang.
Renungkan itu sebentar: Anda tidak perlu naik ke mana-mana. Nama itu sudah berada di bawah langit yang sama dengan Anda, pagi ini.
Pertanyaannya
Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak pernah mendengar nama itu? Nenek moyang kita, tetangga di desa terpencil, anak yang mati sebelum sempat bicara. Pertanyaan ini sah, dan siapa pun yang menjawabnya dengan ringan sedang tidak serius mendengarkan.
Perhatikan: Petrus tidak sedang menjawab pertanyaan itu. Ia berbicara kepada orang-orang yang baru saja mendengar, yang melihat mukjizat dengan mata sendiri, yang "tidak dapat membantahnya". Kepada mereka ia berkata: tidak ada jalan lain. Itu pernyataan tentang satu-satunya pintu, bukan peta lengkap tentang siapa yang akan melewatinya.
Alkitab tidak memberi kita keterangan itu. Yang diberikan justru lebih berat: tugas memberitakan. Mungkin kita ingin kepastian tentang nasib orang lain supaya kita tidak perlu membuka mulut. Diam saja di depan ketidaktahuan ini. Lalu tanyakan kepada diri sendiri apakah yang Anda cari jawaban, atau alasan.
Refleksi
Kapan terakhir kali saya menyebut nama Yesus bukan sebagai bagian dari doa yang rutin, melainkan sebagai pengakuan yang berisiko di hadapan orang yang mungkin tidak menyukainya?
Jika keselamatan sungguh diberikan dan bukan diusahakan, bagian mana dari hidup rohani saya yang sebenarnya masih saya jalankan sebagai usaha untuk pantas diterima?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Acts 4:12
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KISAH PARA RASUL 4:12?
Tentang apakah KISAH PARA RASUL 4:12?
Apa konteks historis dari KISAH PARA RASUL 4:12?
Apa yang KISAH PARA RASUL 4:12 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KISAH PARA RASUL 4:12 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Acts 4
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Keesokan harinya, para pemimpin, tua-tua, dan ahli-ahli Taurat berkumpul di Yerusalem." Seluruh mesin kekuasaan dikerahkan, hanya untuk menghadapi dua nelayan yang tidak sekolah. Perhatikan siapa yang sesungguhnya gelisah di ruangan itu. Kadang orang berkumpul rapi melawanmu bukan karena kau kuat, tetapi karena kebenaran yang kau bawa mengusik mereka. Kau tidak sendirian di sana.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi